Posted in Places, Review, Travel

Memilih dan Pengalaman Menggunakan AirBnb di Luar Negeri

Beberapa waktu lalu sempat baca ada seseorang yang tanya pengalaman pake AirBnb karena sama sekali belum pernah dan bingung bagaimana cara memilihnya. Saya baru sadar kalau AirBnb masih kurang meyakinkan buat sebagian besar orang sebagai tempat menginap kalo bepergian. Memang hotel jelas lebih aman dan terpercaya, apalagi ke tempat yang kita pun ngga familiar. Lebih praktis dan ngga ribet juga. Kalo hotel yang udah punya nama, selama cocok harganya, beres.

Empat kali memakai jasa AirBnb di luar negeri dan belum pernah sekalipun di dalam negeri. Untuk liburan domestik, saya masih team hotel karena ya bisa disesuaikan sama budget dan ngga perlu banyak beres-beres, buat saya.

Sedangkan kalo ke luar negeri dengan budget ketat, hotel jelas di luar pilihan. Buat saya, AirBnb ini salah satu ide jenius. Liburan jauh dari rumah tapi seperti punya rumah untuk pulang setelah seharian jalan. Penting buat orang rumahan (kaya saya).

Pengalaman menggunakan AirBnb di Paris, London, Manchester, dan Tokyo, alhamdulillah semuanya aman, menyenangkan, dan sesuai budget. Ketika pencarian Airbnb dimulai, beberapa filter yang pasti saya tetapkan :

1. Seluruh apartemen (Entire place)

Karena selalu pergi sekeluarga, berbagi dengan hostnya ngga akan jadi pilihan. Pergi sendiri juga ngga bakal milih sharing sih😀.

Semua AirBnb yang pernah dipesan di Paris, London, Tokyo, dan Manchester adalah seluruh apartemen.

2. Harga per malam.

Kedua, jelas harga. Titik bulat yang menunjukkan range harga jelas langsung digeser sekiri mungkin buat traveler budget pas-pasan kaya saya sampai batas ketersediaan tempat. Kalo ngga dapat, terpaksa geser ke kanan. Sedikit.

Kita bisa set berapa harga per malam sesuai budget yang ditetapkan. Tentu dengan konsekuensi ya. Semakin murah, pilihan semakin terbatas dan jelas ada harga ada rupa. Biasanya kompensasi lain untuk harga adalah lokasi. Semakin dekat ke pusat kota biasanya semakin mahal. Begitu pun sebaliknya.

  • Pengalaman

Di Paris tinggal di daerah Boulevard Saint Germaine di 5th arrondisement, dekat dari Sorbonne dan bisa jalan kaki ke Pantheon, Notre Dame, lima belas menit dari Jardin des Luxembourg, studio mini 2 tempat tidur di lantai 6 disewa seharga Rp 850.000.

Di London tinggal agak jauh dari pusat kota karena nyerah nyari yang harganya di bawah sejuta/malam ngga dapet-dapet. Apartemen ini 2 kamar, bisa early check in, late check out, foto oke, host responsif.

Akhirnya dapet di harga Rp 1.600.000 per malem di daerah Angel Islington. Ada bis langsung ke King’s Cross dan London Bridge. Apartemennya nyaman sekali, lengkap dapurnya, bersih. View dari lantai 7 bisa liat The Shards dan kalo malam bagus banget.

Di Manchester seperti di London juga sewa flat 2 kamar yang letaknya di lantai dasar dan 15 menit dari Manchester Picadilly. Harganya Rp 1.000.000/malam.

Inggris emang mahal ya. Cuma kalo dibandingin hotel buat saya jadi ngga mahal. Karena ya itu, kenyamanan AirBnb yang punya dapur lengkap dan bisa masak sendiri hotel ngga punya.

Di Tokyo sewa studio kecil di daerah Bunkyo-ku tepat di depan Tokyo Dome. Bukan yang populer turis juga tapi buat kita oke karena deket ke subway, ke playground, supermarket, Tokyo Dome yang asik buat nongkrong, dan jalan utama. Harga sewa Rp 550.000/malam.

Oya, di AirBnb harga per malam juga dipengaruhi oleh banyaknya tamu yang nginep ya. Masukin 1 orang atau lebih harga per malamnya berbeda.

3. Peraturan Check in/Check Out

Salah satu hal yang mungkin buat orang lain ngga penting tapi buat saya sangat penting adalah fleksibikitas cek-in dan cek-out,bahkan lebih penting dari lokasi. Buat saya ini yang buat AirBnb punya keunggulan dibanding hotel yang hampir pasti strict dengan waktu masuk dan keluar.

Kalo bepergian ke luar negeri saya sebisa mungkin cari jam penerbangan bukan sesuai jam tidur Langit tapi justru yang waktu tiba di kota tersebut sesuai dengan jam cek in Airbnb yang dipesan. Tapi, karena seringnya agak sulit dan pasti berurusan juga sama harga tiket, saya lebih milih kirim pesan ke host untuk tanya apa mereka mengizinkan early check in atau late check out.

Setelah belasan jam di pesawat, hal yang paling kita butuh ya tempat istirahat yang bener. Badan lengket, mata ngantuk, laper, ga ada lagi tenaga buat luntang-lantung geret-geret kopet kesana kemari sambil nunggu jam cek in. Dan buat traveler rempong kaya saya yang selalu bawa makanan juga dari rumah, pengennya sesegera mungkin ketemu kulkas. Di hotel luar, ngga semuanya ada kulkas, tapi AirBnb pasti punya dan biasanya kulkas yang oke. Nah kan, jadi kemana-kemana.

Kembali lagi masalah cek-in dan cek-out. Selain early cek-in, atau sebaliknya, penerbangan pulang masih malam, tapi kita sudah harus keluar dari pagi. Bawa koper kesana kemari, atau nunggu di bandara berjam-jam itu salah satu yang paling saya hindari. Pergi sama anak kecil akan beda tantangannya. Orang dewasa aja bete kalo lelah apalagi anak-anak.

Makanya, filter waktu check in check out selalu saya set ketika pilih airbnb. Kalo hostnya bilang ngga bisa ya udah, cari lagi sampe dapet. Dan alhamdulillah, selalu dapet. Ngga perlu buru-buru. Tunggu.

  • Pengalaman

Di Paris kami rekues early check-in dan late check out karena sudah sampai Paris jam 10.00 dan pesawat pulang baru jam 18.30. Alhamdulillah dapet host yang baik tanpa biaya tambahan apapun. Di London rekues untuk early check in aja. Sedangkan di Tokyo dan Manchester kita ngga ada masalah.

Jangan salah ya, nemu yang bisa early cek-in dan cek out ini ngga gampang. Jadi harus ketemu paling ngga yang sehari sebelum kita dateng dan ditanggal kita cek out juga kosong. Jadi dapet yang bisa seperti ini pun setelah cari-cari sampe pusing dan setelah beberapa kali penolakan. Tapi ya itu, ngga apa-apa. Selama sabar dan usaha cari terus, percaya pasti ada. Kaya jodoh.

Di Paris dan London, check in dan check out dilakukan dengan host atau orang yang ditugaskan mengurus apartemen. Jadi beneran ketemu dengan orang langsung. Sedangkan di Manchester dan Tokyo dilakukan self-check in. Jadi setelah konfirm dan dua minggu sebelum kedatangan, kita dikirimkan buku panduan via email dan cara check innya. Host Tokyo detil sekali menjelaskan berbagai hal di buku panduan. Sampai cara memisahkan sampah pun ada!

4. Lokasi

Ini erat hubungannya sama poin ke dua. Semakin populer tempatnya biasanya semakin mahal. Kalopun ada yang murah biasanya ya apartemennya juga menyesuaikan.

Lokasi juga penting kalau ada atraksi atau yang memang ingin dikunjungi dan kemudahan akses transportasi. Misalnya dekat dengan halte bis atau stasiun subway/metro. Tapi buat saya lokasi itu bisa diatur. Yg penting sesuai sama budget dan bisa cek in fleksibel.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas :

  • Paris di Boulevard Saint Germaine (left bank, 5th arrondissement)
  • London di daerah Islington, di North kalo liat dari kodeposnya.
  • Manchester di Aquarius Street, 15 menit dari Picadilly, bisa jalan kaki ke University of Manchester.
  • Tokyo di daerah Bunkyo-ku dekat Tokyo Dome. Subway terdekat Korakuen Station.

5. Foto dan petunjuk praktis

Nah, ini juga penting. Saya hampir selalu pilih airbnb yang nyantumin foto lebih dari 10. Makin banyak dan detil yang dicantumkan semakin meyakinkan. Apalagi kalo foto apartemennya bagus, trus dikasih juga gambaran gimana cara sampe ke apartemen dari bandara berikut alat transportasi umum yang bisa digunakan selain taksi tentunya.

Foto memang terkadang beda dari aslinya. Tapi ngga mungkin beda 100% juga. Jadi, semakin banyak dan bagus fotonya menurut saya semakin aman karena berarti hostnya niat.

  • Paris mencantunkan 15 foto tapi sudah lebih dari cukup karena memang kecil
  • London mencantumkan 35 foto kalo saya ngga salah ingat.
  • Manchester hanya 12 tapi cukup jelas.
  • Tokyo mencantumkan 49 foto.

6. Review

Setelah harga cocok, lokasi oke, foto meyakinkan, sebelum akhirnya ke langkah ke tujuh, baca review rumah tersebut wajib dilakukan. Kalo hotel, hampir ngga pernah baca review, tapi kalo AirBnb wajib.

Oya, AirBnb punya badge Superhost buat rumah yang memang sudah banyak digunakan dan mendapat review bagus dari customernya. Empat kali saya pergi, ngga pernah pilih yang superhost karena biasanya ngga fleksibel cek-in. Mereka biasanya full booked, jadi ngga memungkinkan untuk kita cek in atau cek out lebih awal atau akhir.

Iya, sepenting itu fleksibel cek-in buat saya.

Empat kali di empat tempat yang berbeda reviewnya pun bukan yang sampe puluhan dan ratusan, hanya sekitar delapan, sebelas, paling banyak dua puluh. Satu hal yang jelas, semua reviewnya baik, dan sangat sedikit review yang ada “the host canceled this booking”. Host bisa membatalkan booking dengan atau tanpa persetujuan kita.

7. Mengirim pesan kepada host

Nah, kalo enam hal itu udah jelas, atau misalnya semuanya udah sreg, tapi fleksibel cek-in masih belum jelas, biasanya hal terakhir sebelum saya tekan ‘book’ adalah mengirim pesan kepada hostnya.

Meskipun bisa saja langsung pesan, tapi saya lebih suka dan pas kalo sebelumnya memperkenalkan diri dulu sekaligus ‘melihat’ respon hostnya. Biasanya di dalam pesan yang dikirimkan saya kenalkan nama, asal kota dan bilang kalo saya tertarik untuk memakai tempat mereka di tanggal yang ditentukan.

Saya juga menjelaskan dengan siapa saja saya akan datang. Oya, ngga semua rumah itu mengizinkan anak-anak ya, jadi kalau bawa anak terutama di bawah 12 tahun, sebaiknya dijelaskan.

Lalu kalo seandainya saya punya pertanyaan saya tanyakan dibawahnya sepertu ketersediaan alat dapur dan ya itu apakah memungkinkan untuk fleksibel cek-in. Bagusnya di AirBnb ini, mereka kasih respon rate buat setiap host. Jadi kita bisa kira-kira kecepatan pesan kita dibalas. Ada yang bahkan ngga balas sama sekali. Ada yang ketika tau bawa anak menolak. Dan ngga perlu sedih, cuma perlu cari lebih banyak. Setelah empat kali pakai, saya yakin, kita akan nemu sesuai dengan yang kita mau, jadi ngga perlu buru-buru.

8. Self-room service

Ngga bisa nemu kata yang pas buat artiin ini. Cuma di AirBnb karena kita menyewa rumah orang jadi memang sebaiknya kita bantu jaga kebersihan dan kerapihannya. Buat sebagian orang emang mungkin ngga pas karena liburan jauh-jauh musti beres-beres (alesan yang sama yang saya pake kalo liburan domestik pilih hotel).

Saya hampir selalu pilih yang studio supaya semakin kecil semakin sedikit area beres-beresnya dan saya ngga akan milih rumah yang banyak printilan kecil-kecil mengingat pergi sama anak. Pokoknya cukup yang basic ada. Selama ini kita selalu bagi tugas siapa ngerjain apa. Jadi soal beres-beres, cuci piring, dsb ngga ada masalah. Ngga banyak juga.

Buat tipe orang yang kebanyakan mikir dan pertimbangan kaya saya, pencarian AirBnb ini seperti kesenangan sekaligus penyiksaan terhadap diri sendiri. Cari dengan berbagai tempat, naikin filter budget dikit-dikit, karena berdasarkan pengalaman, dengan kata kunci tempat yang sama, rumah yang keluar di daftar bisa berbeda. Makanya memang ngga perlu buru-buru. Rumah yang menjadi kandidat pilihan bisa kita tandai dengan simbol ❤ dan otomatis akan masuk ke wish list. Harganya juga bisa berubah lho. Memang ngga sebanyak itu, tapi kalo bisa dapet beberapa dolar lebih murah kenapa ngga, hehe.

Semoga bisa bantu sebagai pertimbangan memakai AirBnb ya!

Tertanda,

Customer yang sangat puas menggunakan AirBnb.

Posted in Review, Travel

(Updated) Flight to and from Kuala Lumpur

I had this question quite often from close relatives who would like to go to Malaysia for the first time. Most of them think about Air Asia when it comes to cheap price, which is something I don’t (really) agree (at all).

During 1,5 years of master study there, I went back and forth from both Jakarta and Kuala Lumpur 10 times. The very first thing I did once I had the fix schedule of all lectures was searching for the cheapest flight back home. All tabs in my laptop were about all airlines websites. Did I buy it straightly?

Of course, NOT!

I brought those fare comparison to my dream first. Even for days. I rechecked them every day for few times because the fares changed depends the time you checked it. For a stingy student like me, it was sensitive. Being hesitate whether to buy now or later. Imagining it wherever I went. Then, cursed myself when I saw the second time the price was higher. Such a true masochist.

After so many times doing like that, I really found that some airlines were truly cheaper than Air Asia. In fact, Air Asia became my very last choice among other airlines. The ticket price only was maybe cheap, but, once you continued your booking, other cost kept piling up and at the end of your booking, voila! That will be very far from cheap.

So, here’s my preference from the most to the least :

1. Lion Air

SURPRISE!! When domestically Lion Air is known to be the master of delay, I didn’t find it for several times I fIew with them. I found Lion Air had a flight to Kuala Lumpur ( or Jakarta) accidentally. It had been a hard battle inside my mind when two airlines which I regularly used gave me an expensive total fares for my pocket. Even after several days, it didn’t change much.
I just read a tweet several days ago saying ‘Price is the only tool that is able to make people realize they have another choice or they have to find one’. It is very true. Those airlines fares which I think too expensive made me search for other options. Then, instead of one, I found two other options. Lion air is one of them.

The best thing about Lion Air, it shows you directly the total price and with that price comes 20 kg of baggage allowance. No need to pay additional cost. It was very agreeable for me. Even more, they were truly good value for your money. I often got as cheap as IDR 350.000 one way from Jakarta to Kuala Lumpur. It costs the same like you fly to some cities in Java.

The second best thing about Lion Air is they depart from KLIA, not LCCT. It has the price of Low Cost airline, but they depart from high cost airline airport.

Recently, as far as I know, LCCT does no longer exist. They replaced it with KLIA 2.

Third and the last, few times flying with them, I never once experienced any delays. It was very punctual and more, the aircraft was big and clean. Guess it was new.

So, for all those three reasons, Lion Air is on my top of list.

2. Malaysian Airlines

This one is one of the regular that I often use. Before knowing how much cheap the fare between two cities, I used to think MAS was very cheap. When we first went there with my mum and sister, I found IDR 750.000 was a very good deal. Only after that I found out, it became the most expensive fare I paid among all my trips.

But, surprisingly, if you are persistent enough to regulary check their website, you can find a very shocking price like I once had. I once got the ticket price from Jakarta to Kuala Lumpur at IDR 75.000. YEP, three zeros only. Not even reach 10 USD. As for the total fares, it became IDR 239.000. See, it was a very very good deal.

Of course, MAS departs from KLIA and it has a lot of check in counters. The aircraft might not as big as Lion as far as I remembered, the leg room was quite narrow too. One thing is an advantage from MAS, they have lots of schedules in a day. My mum once was late for check in for 7 am departure and she couldn’t fly with her originally booked flight. Then, the check in staff simply changed it to the next flight schedule at 9 am. No additional charge, no grumpy face scolding us for being late. A very good service. Overall, it’s good.

3. Air Asia

Here’s the cheap airline which often turns out to be not cheap at all. Even start from the ticket price only, it wasn’t that cheap. You have to pay more for baggage according how many kilos that suitable for your belongings. After that, you pay for your seat, which is something that I think it’s a bit ridiculous. Do they expect us to stand up during the flight?

The aircraft is far from spacious, the seat is not really comfortable, and they depart from LCCT. Unlike KLIA, LCCT was an airport who looks like a bus terminal. I don’t know about KLIA2 since I have never been there, but my experience with LCCT immigration is quite bad. Long queue and less friendly officer everywhere.

Even when I was a poor stingy student, Air Asia was the very last choice among other airlines.

But, maybe if you manage to get the ticket from BIG SALE or FREE SEAT and you’re pretty tight in budget then this one might be a good idea. My sister got Rp 1.000.000 to KL for 4 persons ticket only. She bought it 8 months before the trip and didn’t use it at all. Quite expensive, right?

4. Tiger Airways

I found this when I found Lion Air. It was pretty similar with Air Asia. You pay for your baggage and seat. The price was slightly cheaper. I only tried this once or twice maybe. I didn’t feel too comfortable with this although there was no problem at all during the flight. It also departed from LCCT.

Actually, there were other two airlines at that time, Garuda Indonesia and KLM. But, both were out of my league. Hence, I left them.

So, if anyone ever ask me which one to choose, you surely know the answer.

——————————————–

UPDATED

Our recent trip to Kuala Lumpur gave me a chance to try another new fiight from Kuala Lumpur. We went by my favorite Lion Air, it was as punctual as I remembered six to seven years ago, and for the return flight I chose KLM. It suited us for the schedule and I wanted to know what it looked like. I will put another two airlines I have experienced.

5. KLM

Like Lion Air, KLM departs from KLIA and also pretty punctual. The flight attendants like any other European or American airlines were not as young as those ones from Asia or Middle East ones. They were friendly enough for me. They greeted Langit nicely too. The legroom is perfect, it also comes with flight entertainment with good collections.

They also gave snack and drink during the two hours flight. The snack was dutch pastry and drink you can choose like water or juice. The seat formation is 3-4-3. I didn’t expect this before but it turned out that it arrived at new terminal 3 ultimate CGK. So, that was the very first time I set my foot in our new terminal too.

So, when you’re willing to pay a bit more than using budget airlines, KLM is quite nice. The only thing it lacks of is they only have one schedule for depart and return. So, no schedule option available.

6. Malindo Air

I took this one during our UK trip last year and wrote a review . Malindo is part of Lion group and it is similar to Batik Air only Malindo is operated by Malaysian. It uses the same aircraft like Lion Air but also distributes snack like any other full board one for two hours flight.

I only knew this airline because I was searching for the same baggage amount like Qatar Airways and I found Malindo was the only which offered 30kg baggage.

I wasn’t too impressed by the flight attendants, they were not so helpful and not that friendly too. But, other things were just ok. If I had another choice between KLM and Malindo, I obviously go for the former.

It always feels nice to go back to Kuala Lumpur. A piece of my heart surely left there.

Posted in Places, Travel

Kabur ke Kuala Lumpur

Tahun ini Alhamdulillah rejeki jalan-jalannya terbuka lebar. Kabar kalo Pak Dokter diminta untuk menjadi pembicara di forum anastesi nasional disusul disuruh ikut simposium di Kuala Lumpur dateng bulan lalu. Setelah ikut seminar di Surabaya bulan Mei lalu dan ngerasain enaknya nginep di Marriot 3 hari dan keliling kota Surabaya yang rapi dan bersih, rejekinya Langit buat liat Kuala Lumpur sekaligus pulang kampung buat saya setelah enam tahun.

Tiga hari di Kuala Lumpur, saya cukup terkesan perubahan-perubahan yang ada di kota ini sejak enam tahun lalu terakhir di sana. Pembangunan di KL Sentral sudah selesai dan terminalnya bahkan lebih bagus dari bandara di Indonesia dengan tenant-tenant yang menarik. Jadi, sekarang kalo mau naik Monorail dari KTM atau LRT ngga perlu lagi ngelewatin jalan raya. Semuanya terhubung dengan jembatan penghubung indoor. Nyaman buat geret-geret koper.

Saya kurang tau sejak kapan tapi sekarang Kuala Lumpur punya bis GRATIS GO KL buat warganya dan turis ke beberapa tempat atraksi di sekitar Kuala Lumpur. Bisnya ada empat line : hijau, biru, pink, ungu. Nyaman banget. Buat turis yang nginepnya biasanya sekitaran KL Sentral atau Bukit Bintang dan KLCC, bisa kemana-mana dengan bis ini. Saya sempat coba yang line hijau dan ungu. Satu ke Pasar Seni/Central Market dan satu lagi ke KLCC. Cukup jalan kaki 300m ke halte pemberhentiannya. Busnya pun cukup sering.

Sama seperti di Surabaya, karena pagi sampe sore saya hanya berdua Langit dan kita ngga bawa stroller, jadi jalan-jalannya hanya di sekitar pusat kota aja. Hari pertama setelah sampe dan cek in hotel, tujuan pertama langsung ke Medan Tuanku. Ini tempat saya singgahin pertama kali sama ibu saya waktu sekolah tujuh tahun lalu. Kebetulan di sini sekalian belanja buah dan keperluan sehari-hari dan oleh-oleh seperlunya. Sogo Medan Tuanku selalu jadi departemen store favorit saya. Buat makan malem, bayar kangen di Chicken Rice Shop.

Hari kedua setelah sarapan kita jalan kaki ke KLCC. Pak Dokter simpo di Convention Centrenya, saya dan Langit jalan-jalan sendiri dan tujuan kita adalah KLCC Park.

Saya iri sekali. KLCC Park bukan sekedar taman. Tapi kaya hutan kecil di tengah kota. Pohon rindang, arena playgroundnya bukan luas, tapi SUPER BESAR buat ukuran outdoor,mainannya banyak dengan alas karet di bawahnya, ada kolam renang kecil, sebenernya seperti tempat main air ya, jalan khusus buat yang mau jogging, kursi taman buat duduk, suara burung berkicau, dan matahari pagi. Langit main di sana 2 jam dan saya ngga keberatan nunggunya. Seneng banget.

Sebagian kecil dari mainan di KLCC Park
Bersih, rapi, asri
Jalan kaki karena ngga punya pilihan
Si Kembar

Sampai sempet bilang, tahun depan ada capres programnya bikin kaya gini di lokasi yang terjangkau, saya pilih. Ngga peduli siapa. Taman kota kaya gini cuma bisa ada kalo pemerintahnya mikirin rakyatnya bukan cuma soal uang. Tapi lagi, sepertinya mental orang Indonesia belum siap ya untuk punya taman sebagus ini. Ngga lama mungkin udah penuh sama orang jualan. Kecuali ada aparat tegas yang jaga seperti halnya di KLCC Park ini.

Hari kedua saya habiskan seharian bareng Siti dan keluarganya, mantan teman sekamar saya waktu kuliah. Langit juga bisa main sama Hawaa. Salah satu doa saya setiap kemanapun adalah semoga selalu dipertemukan sama orang yang baik. Siti salah satu jawaban atas doa saya. Bahkan lebih dari ekspektasi saya.

Hari ketiga kita udah punya jadwal mau ke Aquaria KLCC sorenya. Paginya saya dan Langit berenang dulu trus kita jalan pake bis GO KL ke KLCC janjian makan siang sama Pak Dokter dan main di air mancur depan Suria.

Dalam perjalanan salah satu bis GOKL seorang bapak India tua ngasih kita tempat duduk dan nyapa Langit, “you are a beautiful girl,”. Setelahnya dia berdiri sambil nyari sesuatu di buku yang dia bawa. Ternyata dia mau kasih buat Langit. Gambar di bawah ini dia gambar di masjid Jamek.

Di perjalanan bis GOKL dari KLCC ke hotel, ada seorang turis dari Jerman yang berdiri dekat Langit. Dia tiba-tiba ngeluarin sesuatu dari tasnya dan nunjukin ke Langit. Stiker gambar bintang yang dia suruh Langit pilih. Saya selalu percaya kalo manusia itu pada dasarnya baik. Setiap kami traveling, hampir selalu ketemu dengan orang-orang ngga dikenal yang menunjukkan kebaikan-kebailan kecil.

Mungkin ini kenapa traveling itu penting buat kami, untuk melihat banyak hal di luar tempurung sehari-hari supaya mata dan hati juga tidak terkungkung.

Hadiah kecil untuk Langit di bis
Elephant sticker from a stranger

Kami masuk ke Aquaria sekitar jam 17.30. Tiket sudah dibeli via travel apps favorit buatan anak bangsa lulusan Harvard. Buat saya yang belum pernah ke Sea World, Aquaria KLCC cukup oke. Sepadan dengan harga yang dibayar. Ngga terlalu besar tapi cukup menarik. Biota lautnya juga cukup lengkap buat saya.

Selesai dari Aquaria, karena masih agak terang, kita mampir lagi ke playgroundnya KLCC Park. Langit main disana sampai maghrib. Setelah adzan kita jalan kaki lagi buat makan malem di warung Thailand deket hotel yang rating zomatonya tinggi banget. Sampai di Thai Boat Noddle, bener aja penuh. Padahal ya kaya warung beneran. Kita dapet meja di luar. Kaya warung bakso aja. Ternyata rasanya emang sesuai dengan rating zomatonya. Langit juga makannya lahap banget.

Dari Thai Boat Noddle, saya jalan-jalan sendiri di Pavilion sementara dua temen jalan lainnya balik ke hotel.

Hari terakhir pagi-pagi sementara Pak Dokter masih ikut simpo, saya ajak Langit ke KL Sentral naik Monorail. Tujuan utamanya beli roti cane buat dibawa pulang. Keluarga saya semua penyuka roti cane dan karinya. Waktu kuliah saya pernah bawa pulang 20 porsi roti cane😀.

Alhamdulillah tiga hari di Kuala Lumpur lebih dari cukup buat saya. Kenapa judulnya kabur? Selain karena homofon sama lumpur, saya emang kabur sebentar dari lelahnya kerja dan berkutat sama urusan rumah ketika Mbak Wi kesayangan lagi cuti. Semoga cepet balik dan kehidupan normal bisa kembali berputar. Amin.

Tulisan lama tentang Kuala lumpur sebelumnya.

Posted in Places, Review, Travel

Airport Transfer Ramah Koper (Paris, London, Tokyo)

Ada satu hal yang terlihat sepele tapi dalam prakteknya penting ketika traveling ke luar negeri bersama anak dan keluarga, setidaknya buat saya. Kenapa saya cetak tebal yang bersama anak dan keluarga? Ya karena kalo sendiri ngga ada masalah dan karena belum yang review tentang ini, mungkin bisa bantu yang punya rencana ke tiga kota ini sama keluarga.

Kalau milih Airbnb sudah lebih terstruktur karena ada aplikasi khususnya beserta review dari pengguna langsungnya. Tapi kalo airport transfer ini harus dicari satu-satu.

Asumsi tulisan ini adalah keluarga yang bepergian minimal tiga orang dengan anak kecil, pergi dengan minimal dua koper bagasi dan stroller masih ditambah dengan hand carry cabin. Yang terpenting : mau tetap nyaman walaupun budget pas-pasan😁.

Bepergian dengan Langit membuat saya jadi semakin control freak. Selain tingkat kesabaran yang tipis yang berbanding terbalik dengan tingkat kegelisahan yang tinggi, selalu buat saya nyiapin sampe ke printilan yang kadang ngga penting. Prinsipnya mendingan repot tapi secure.

Salah satu yang jadi perhatian saya adalah kenyamanan pulang pergi ke airport. Pertama dateng ke kota yang kita ngga kenal, ngga ada bayangan dimana letak Airbnbnya, dengan kondisi yang harus geret-geret koper dan barang lain, airport transfer yang nyaman itu membantu sekali. Yang akan saya bahas bukan moda transportasi online ya. Karena kalo dari bandara hampir ngga bisa pesen semacam grab atau uber karena hampir semua punya servis resmi angkutan bandara, seperti di sini aja.

Ini jadi penting karena buat turis rempong tapi duit pas-pasan kaya saya, nyaman penting, uangnya bisa menyesuaikan selama masih logis. Jadi, ini bukan ngebahas dari bandara naik metro/tube/subway/japan rail dan sejenisnya. Itu jelas ngga nyaman, sekali lagi, JIKA kita pergi dengan anak kecil plus stroller dan koper.

Saya akan bahas masing-masing sesuai pengalaman saya ke tiga kota ini.

PARIS

Airport transfer Paris adalah taksi yang berwarna hitam resmi bandara yang sudah menunggu ketika keluar bandara. Tempatnya dimana silahkan ikuti petunjuk atau tanya. Di antara tiga kota ini, buat saya Paris paling juara. Objektif ya, bukan karena saya team Paris garis keras, hehe.

Kenapa saya bilang paling juara? Tarif ke dan dari airport pake taksi apapun di Paris, tarifnya TETAP. Jadi, ngga ada tawar-menawar dan deg-degan melototin argo taksi. Informasi ini sudah saya dapatkan sebelum berangkat dari internet, jadi budgetnya sudah disiapkan dengan pasti.

Paris terbagi dan terbelah dua oleh Sungai Seine dan dikelompokan jadi 20 arrondisement. Inilah yang menentukan tarifnya. Kalo Airbnb yang dipesan ada di right bank atau bagian atas yaitu arrondisement 1,2,3,4,8,9,10,11,12,17,18,19,20 maka tarif ke dan dari bandara adalah 50€. Sedangkan jika kita tinggal di left bank atau bagian bawah antara arrondisement 5,6,7,13,14,15, maka tarifnya adalah 55€.

Saya pergi ke Paris tahun 2016 dan pada saat itu kursnya sekitar Rp 14.500. Jadi kalo dihitung dalam rupiah adalah sekitar 700 ribu lebih.

Mahal?

Ngga sama sekali kalo pergi dengan kondisi yang saya sebutkan di atas.

Saya bandingkan waktu itu dengan naik bus yang tersedia dan berhenti di beberapa titik pusat kota. Tarifnya adalah 17€ per orang. Dikali dua sudah 34€ dan kita masih harus nyambung lagi sampe ke airbnb yang dipesan, entah dengan taksi atau metro atau bus sambil gendong bayi dan koper. Harganya udah berapa tuh keringet dan repotnya, bagus kalo ngga nyasar. Biarpun saya bicara bahasanya, tetap bingung juga kalo ngga ngerti yang dijelaskan.

Tapi, cukup dengan bayar 50€ atau 55€, keluar bandara udah ditunggu, koper masuk bagasi, duduk tenang dan lega sambil senyum-senyum liat pemandangan kota dari balik jendela dan dianter sampe depan pintu Airbnb. Kalo naik kereta bawah tanah mana bisa.

Jadi, kalo pergi sekeluarga atau pun bareng temen yang minimal tiga orang dan tinggal di satu tempat, ngga usah mikir pilih taksi bandaranya Charles de Gaulle. Pulangnya pun dengan taksi biasa tarifnya sama. Ngga usah pusing.

Hidup Paris!

London

Buat London, sepert visanya yang bikin pusing, airport transfernya pun ternyata juga bikin pusing, buat saya. Kenapa? Ya karena budgetnya pas-pasan dan waktu UK trip saya pergi bukan hanya dengan anak kecil tapi juga orang tua. Jadi makin rempong. Apalagi ayah saya tipe yang selalu pergi dengan full service travel. Dari airport ke airbnb naik bis atau tube jelas dicoret.

Taksi hitam London ngga bisa dimasukin ke list karena mahal dan pake argo yang bikin jantungan. Ngga jelas bayarnya brapa sampai di tujuan. Saya suka yang pasti-pasti. Akhirnya hampir berminggu-minggu saya browsing tentang airport transfer dari dan ke Heathrow. Pilihan banyak, tapi lagi-lagi yang sesuai budget saya dikit, hehehe.

Setelah sekian lama akhirnya ketemu satu servis yang masuk ke budget saya dan bisa bayar pake kartu kredit untuk booking. Saya lebih suka pake CC jadi tidak nghabisin cash yang dibawa. Bawa cashnya pas-pasan juga😁.

Waktu itu saya memesan dari Unicorn Airport Transfer. Bisa pesan dari websitenya http://unicorntransfers.co.uk/mobile/. Semua form diisi online dan mudah banget. Kenapa akhirnya milih ini? Karena dapet PP dari dan ke airport kurang dari £100. Kurs waktu itu sekitar 16.500 rupiah. Saya bayar untuk PP £95.

Bayar sekitar Rp 1.500.000 pulang pergi, untuk 4 orang, 6 koper, buat saya murah. Inget ya, ini di eropa yang ngga bisa disamain dengan disini. Harganya kurang lebih sama kan kaya Paris.

Oya, waktu pemesanan kita harus nulis dengan lengkap untuk berapa penumpang dan mereka punya batesan koper yang bisa diangkut. Karena kita ngga bisa milih mobil paling murah kalo kita isi penumpangnya semakin mahal. Jadi mereka sudah menentukan mobil yang sesuai ketika kita mengisi jumlah penumpang. Buat kenyamanan juga ya.

Servisnya oke buat saya. Ketika jemput sudah ditunggu dan ketika mau pulang setengah jam sebelum waktu yamg ditentukan sudah nunggu. Hati-hati dengan waktu yang kita tetapkan. Sekali lagi, ini bukan Indonesia dimana nungguin penumpang beberapa menit adalah hal yang biasa. Buat mereka, ketika kita tulis jam 12.00, bukan jam 12.00 baru sampe, tapi jam 12.00 kurang sudah jalan. Iya, jam 12 kurang. Terserah kurang berapa.

Oya, masalah tipping : Paris dan London saya kasih tip ke supirnya. Paris karena bayar cash jadi saya lebihin, London karena dengan kartu kredit jadi hanya tipnya dengan cash. Semua diterima dengan senyuman.

Tokyo

Pengalaman dua kali ke Paris dan London bikin saya mikir Tokyo pasti gampang. Tapi, emang ya semua itu pasti ada kurang lebih. Jepang yang visanya super simpel ngga kaya UK dan Schengen yang ribet, ternyata airport transfernya jauh lebih ngga nyaman, untuk kondisi yang saya sebutin di atas.

Berminggu-minggu saya ubek-ubek ngga ketemu satu pun airport transfer yang sesuai dengan kantong dan akal saya. Paling murah yang saya temukan adalah 22.000¥. Kurs 1 yen : 130 rupiah, kalo ditotal jadi sekitar dua juta lebih. Hanya SEKALI JALAN.

Ngga sehat kan? Masa ngabisin 4 juta buat taksi. Yang bener aja.

Saya tau Jepang terkenal dengan Japan Railnya. Ada Narita Express juga. Tapi ya itu, ngga bisa berenti depan Airbnb kaya Paris dan London, jelas harus nyambung lagi pake taksi. Iya kalo udah deket, kalo jauh yah, mahal bener dan buang waktu.

Akhirnya karena ngga ada pilihan airport transfer pribadi, mau ga mau ya naik yang bareng. Airport Limousine Bus adalah pilihan yang paling baik buat saya yang nginep di daerah Tokyo Dome. Airport Limousine ini punya rute yang lengkap seluruh Tokyo. Tinggal cari yang paling deket sama penginapan. Bus ini bahkan berhenti di beberapa hotel besar seperti Le Meriden, Tokyo Dome Hotel, Grand Palace, dsb.

Bus ini punya berbagai jurusan, yang satu jurusan itu ada beberapa pemberhentian. Sebagai contoh, saya saya pilih yang ke Ikebukuro. Rute ini berhenti di 7 tempat diantaranya Tokyo Station, Le Meriden, Grand Palace Hotel, sisanya ngga hafal. Bisa refer ke websitenya Airport Limousine Bus. Ini menurut saya paling nyaman karena kalo naik bis koper disimpen di bawah dan ada petugas khusus yang nyusun berdasarkan tujuan tempat kita turun. Ngga perlu ada gotong-gotong koper naik turun tangga subway atau lewat lift.

Tarifnya flat : ¥3100 buat dewasa. Anak di bawah 5 taun gratis tapi dipangku. Kita pilih pangku Langit biar bisa duduk bareng karena formasinya 2-2. (Alesan dari supaya ngga kluar uang lebih). Kalo dikurs harga tiket bis buat 2 orang PP ngga jauh dari kita nyewa mobil di Paris dan London PP. Buat kantong saya, Tokyo ‘mahal’, hehe.

Karena Airbnb yang dipesan dekat dari Tokyo Dome, dan pemberhentian terdekat adalah Tokyo Dome Hotel, jadilah kita dari Tokyo Dome geret-geret koper sambil dorong stroller sampe ke Airbnb. Naik taksi bisa tapi kita ragu-ragu karena kalo naik taksi deket banget. Tinggal nyebrang. Kalo jalan kaki yaa lumayan juga. Tapi, ya sudah dijalanin juga.

Pulangnya kita naik Aiport Limousine Bus lagi dari Tokyo Dome Hotel, tapi dari Airbnbnya kita peseb uber. Untuk jarak sedeket itu kita bayar ¥800.

Di Tokyo, kita ngga kasih tip. Ragu sama baiknya orang Jepang, takut tersinggung dan ngga yakin brapa yang pantes. Selain itu, dari yang saya baca tipping emang ngga lazim di sana.

————————————

Mungkin itu yang bisa dijabarkan. Ngga perlu antipati naik taksi dari dan ke airport kalo bepergian dengan keluarga. Semoga bermanfaat!

Posted in Places, Review, Travel

Dua Hari di Yats Colony

Sepanjang tahun lalu hotel ini sering sekali terpapar di media sosial. Saking terlalu seringnya, sampe berhasil ngeracunin otak saya buat buktiin sendiri rating 8.8 di salah satu situs pemesanan hotel.

Saya pesan 2 kamar tipe RA dan KA. Untuk yang RA dipesan duluan untuk 2 malam sedangkan yg KA menyusul hanya 1 malam karena full booked.

Perbedaan 2 tipe ini adalah viewnya. Harga beda tipis cuma selisih 50 ribu. Untuk KA pemandangannya koridor, sedangkan kamar RA ada di lantai 2 dengan pemandangan kolam renang. Meskipun harga RA lebih mahal sedikit, menurut saya kamar KAnya kok lebih enak ya.

Kamar KA yang di dapet ada di lantai 1 gedung yang belakang, letaknya di pojokan, jendelanya menghadap taman kecil, kamar mandi yang lebih luas, jadi kaya paviliun sendiri. Sedangkan kamar RA ada di lantai 2, betul menghadap kolam renang tapi jarak pandang ya lantai 2 gedung sebelah. Kamar mandi agak sempit, wastafel di luar. Dua kamar yang saya pesan tidak ada kulkas dan pemanas air. Tapi di masing-masing koridornya tersedia dispenser dengan pantry kecil yang menyediakan teh, kopi, gula sachet dan gelasnya.

Kolam renang kecil tersedia, buat anak-anak juga bisa. Buat berenang santai cukup lah. Langit berenang dua hari berturut-turut dan hepi. Airnya ngga terlalu terlihat jernih, buat saya.

Semua kamar setau saya sudah termasuk sarapan. Dua hari sarapan di sini menurut saya cukup oke. Hari pertama dan kedua beda kecuali pastry dan minuman jusnya mirip.

Hari pertama saya cuma makan nasi pake ikan asam manis sama sup kimlonya. Enak. Ayah saya coba lempernya juga bilang enak. Hari kedua saya coba hampir semua dengan porsi mini. Nasi pake beef curry, pom pom yang rasanya kaya onion ring, bihun, nasi goreng, bubur ayam, dua danish pastry, dan orange jus. Mereka juga nyediain jamu lho. Ada beras kencur sama apa ya satu lagi lupa. Menurut oke semua sih. Langit juga makan dengan enak di dua hari sarapan.

Selain sarapan, dua malem di sana saya juga nyoba makanan room servicenya dan a la cartenya. Malem pertama saya coba rice bowl chicken salted egg dan tante sama sepupu saya pesen nasi goreng seafood. Saya suka rasanya dan porsinya pas banget. Harga standar untuk ukuran room servis. Buat saya sih sebanding antara harga, rasa dan porsi.

Hari kedua ada tante, om dan sepupu yang tinggal di Jogja main ke hotel dan diajak makan di restorannya. Makanan yang dipesan rice bowl dori sambel matah, chicken salted egg lagi, mie ayam jamur bakso, saya pesen ande-ande lumut kaya puding ager pandan gitu, ayah saya pesen affogato. Semuanya tandas.

Baru kali ini kayanya nginep di hotel yang tiap malemnya lebih milih makan di hotel daripada keluar. Jogja macet. Males juga keluar.

Secara keseluruhan, buat saya hotel ini oke. Di pusat kota, 15 menit dari stasiun, konsepnya artsy dan emang bagus ya pemilihan interiornya. Menarik. Ngga standar hotel-hotel biasa. Harga yang ngga semurah hotel jogja biasa menurut saya sesuatu yang dibayar untuk ide desain yang dinikmati tamu hotelnya.

Dari interior, eksterior dan pemilihan barang-barang dan material propertinya menurut saya apik dan detil. Setiap sudutnya baik di outdoor dan indoor emang instagramable. Dengan lahan yang ngga seluas itu, hotel ini nawarin suasana yang alam banget di tengah kota. Cuma ada 2 lantai di hotel ini dan ngga ada lift. Kalo dibandingin dengan hotel bintang lainnya, Yats Colony ini cocok disebut ‘down to earth’ menurut saya.

Saya ngga punya komplen apa-apa tapi kalo buat ayah saya dengan harga yang sama dia lebih milih Alana. Emang bukan selera hotel orang tua juga kali ya😁.

Kalo ada yang tanya, bakal nyaranin ngga orang buat nginep di sini? Kalo saya iya.

Kalo ditanya ke jogja lagi nginep sini lagi ngga? Bisa iya bisa ngga.

Kalo ditanya 1-10, dari saya kasih 8.2 buat hotel ini.

Mungkin bisa lebih karena kalo ngga nginep di sini, saya mungkin ngga akan tau kalo Langit bisa berenang seperti ini, tanpa pengawasan pelatihnya (papanya) setelah lima bulan absen dari kolam renang.

Enjoying adult pool like a boss.

Posted in Thoughts, Travel

Alasan Panjang untuk Sebuah Trip Pendek

Buat seorang pemales kaya saya, liburan yang bener-bener disebut liburan itu adalah tinggal di rumah, ngga harus ngerjain apa-apa, ngurusin siapa-siapa, tidur-tiduran sepanjang hari atau justru pergi kemana-mana sendiri tanpa harus khawatir ninggalin sesuatu atau seseorang di rumah. Kaya satu hari di bulan Februari waktu Pak dokter dan Langit berangkat duluan ke Bali, dua member lainnya juga pas ke luar kota. Baru kali itu kayanya dalem sehari saya keluar rumah tiga kali dan super hepi.

Empat bulan berjalan di tahun ini sudah diisi dengan berbagai perjalanan ke berbagai tempat. Beberapa karena ‘harus’, satu karena disuruh sama tiket murah, dan yang kali ini karena ‘pengen buat orang lain’.

Beberapa trip yang dijalani dua tahun terakhir, sedikit diantaranya adalah karena pengen ajak orang. Trip ke UK April tahun lalu itu bisa ada karena motivasi yang kuat banget setelah ke Paris dan setengah sangkel karena ngga ajak Ayah saya. Makanya dengan alesan itu, plus adik saya juga pas lagi ambil master di London, setengah maksa saya bujuk Ayah saya supaya mau pergi (dan ngebayarin tiketnya)😁.

Perjanjian dibuat karena tiket ditanggung, semua biaya lain saya ambil alih, dari akomodasi, tiket ke luar kota, makan, transport selama di London, pokoknya semuanya, yang mana ya hampir seharga tiket juga buat 4 orang.

Selama kurang lebih sebulan saya berkutat dan muter otak buat cari tiket dengan harga yang bisa diterima, buat 4 orang. Dapet tiket JKT-KL-London dengan maskapai bintang lima timur tengah dan kasih kelas bisnis buat ayah saya dari KL-JKT dengan total harga yang ngga sampe 9jt per orang, salah satu prestasi yang bisa dibanggakan sama otak pas-pasan ini. Bukan sekedar untung itu, skill juga😎.

Ribetnya ngurusin semua tetek bengek trip UK buat 4 orang, sendiri, dengan segala dramanya dibayar sama hepinya wajah ayah saya waktu dia di Manchester ngeliat kampus lamanya, asrama mahasiswa tempat dia tinggal, apartemen yang pernah kita tempatin sebulan waktu ke sana, dan masih banyak lagi yang ngebuat semua kerepotan yang harus dijalanin jadi terasa worth the price.

Trip ke Jogja kali ini ada juga karena alesan yang kurang lebih sama untuk orang yang berbeda. Tiap saya pergi dan ayah saya ngga ikut, saya pasti ngerepotin tante saya dan keluarganya dengan minta untuk nginep di rumah supaya bisa ngurusin ayah saya. Tante ini adik almh ibu saya yang paling kecil, yang paling baik, yang paling ngga pernah nolak kalo diminta tolong, dan mungkin yang paling punya sedikit kesempatan untuk bepergian dengan segala keterbatasannya.

Setelah semua urusan trip ke Tokyo beres, saya udah niatin untuk bikin satu trip lagi dan kali ini akan ajak tante saya dan anaknya. Sering banget minta tolong kok ya ngga ada terima kasih yang lebih dari sekedar oleh-oleh dari tempat yang saya datengin.

Kebetulan pas banget ada sabtu merah lain di April ini yang mana saya ngga perlu hutang kelas dan saya punya satu hotel yang saya penasaran buat nyoba karena saking seringnya terpapar review di media sosial tentang hotel ini.

Awalnya saya ragu tante saya mau ikut karena takut sungkan dibayarin dan sebagainya. Orang lain mungkin dengan senang hati tanpa malu-malu akan bilang iya, tapi tante saya beda. Dengan hati-hati saya nanya apa dia mau ikut, jelasin naik apa dan durasinya juga ngga lama, yang penting refreshing aja sebentar berdua sama anaknya dan keluarga saya.

Di luar dugaan ternyata dia seneng banget ditawarin ini. Lega banget dengernya. Makin deket ke hari H, seneng banget denger betapa semangatnya mereka dengan trip ini. Puncaknya pas udah duduk di kereta dan tante saya bilang,

Dia (sambil nunjuk anaknya) ngga berenti bilang ‘ini baru bagus, mah, ini baru kereta bagus, ngga kaya dulu kita pergi sama kak iwan’.

Ikhlas banget rasanya bayar(in) semua pengeluaran di trip ini dengan denger komentar anak 10 tahun yang pemalu kaya gitu. Siapa bilang bahagia itu selalu dari diri sendiri?

Trip kali ini juga merupakan banyak hal pertama buat saya. Pertama kali pergi tanpa Pak dokter, travel partner andalan, pertama kali pergi tanpa bawa SATU PUN makanan berat favorit Langit (yang ini bener-bener agak nekat), dan pertama juga pergi dengan ninggalin toilet seat Langit di rumah. Ini seperti tes drive traveling ke level yang lebih tinggi. Sekali lagi, buat yang males kaya saya, pergi tanpa tiga hal tersebut itu sesuatu sekali.

Bismillah. Semoga semua dilancarkan dan kenyataan bisa mendekati harapan dan senantiasa dilimpahi kesabaran. Amin.

00:58, Taksaka 54 yang super dingin dan bikin ngga bisa tidur.

Posted in Past learning, Thoughts, Travel

Travel Babble : A Warm Welcome

I am writing this from 32sqm room in Tanah Bumbu Regency where the doctor will spend a year of compulsory service.

The battle between joined and sent him off first to this place was tough. Days in last week spent by non-stop googling about the ticket price, calculating benefit and risk, lots of conversation happened between head and heart. After long and hard battle inside, finding the best possible route with the least cost,two tickets bought just two days before the departure.

My travel history had never been this nekat. The tickets price might be quite scary for the saving, but regret of not buying them would surely be greater than the pain of paying them.

Unlike the other trips that had been meticulously planned, this one was almost zero, not because it’s a domestic one but more to limitation of information we got in our hand.

There things that are unggogleable no matter how hard you search for them. The only thing to do is just come and see, then let’s see what we can do about them on the spot.

This trip will be another huge challenge for me because I will travel back to home with the little girl only two of us. Two flights, if one doesn’t sound challenging enough. During traveling, I am so dependable with the doctor. He has more patience in dealing with this girl than me. As a lazy person, it takes something really important until I dare to take the risk to do this kind of thing.

I have my number one pray whenever we go places. For us to meet the kind ones to help whenever we are in need. So far, the prays always answered until the least important thing. Paris, London, Manchester, Liverpool, Tokyo, the trips were greatly enjoyable because of those strangers kindness that we could never payback. This Tanah Bumbu trip turned out to be the same.

We booked differently because the doctor didn’t need the return flight. So when we checked in we turned out to have separate seats. Seven rows differences. I had the thought in my mind to ask for switching the seat with the other person so the doctor could sit with us together.

We happened to seat with a man at the same age with my father, maybe, and when he saw we sat in different row, it didn’t take him long to walk to the back of the plane and asked the doctor if he would like to sit with us. That was very kind of him. I didn’t even say any words about switching the seat.

Arrived in Tanah Bumbu we drove with a fellow obgyn doctor. After some talk and believe it or not, in spite of his thick javanese accent, he is a Gorontalonese. You can meet javanese everywhere, padangnese is also pretty common, but it’s a very very rare chance to meet a Gorontalonese in the land of nowhere. I destined to met one here. In this tight schedule trip.

Another one that makes me shivering more, among thousands of remote areas in this country, this land of my dad’s birth land chosen, more spesifically it was where my late grandma’s spent her childhood.

Never, a single path of life, is a mere coincidence. Every thing happens for a reason.

No matter how overrated people think traveling is, but it’s never for me. I had my very first real traveling back in 1993, and its impact was greater and longer beyond a mere going to new places and showing it to others. It developed many things inside of me that I believe they were something that only could be done and got from traveling.

Traveling is always an eye opener to new things that we don’t know and to learn something new is only exciting by seeing something in other places than our comfort zone.

I don’t remember if London and Tokyo made this much babble within seven days of traveling. Tanah Bumbu made it this much only within few hours of arriving.

In spite of the nice words written above, the mess of having long distance marriage is waiting ahead.

Be kind, please, Life.

I am really looking forward to April….

2019.

Posted in Places, Thoughts, Travel

A New Adventure Begins

Safely finished five years of residency was surely one of the biggest blessings in this marriage jungle. Far from easy, shitty and stormy, yet, we made it to the end.

Some decent jobs in good places had been offered and one had been gladly accepted. Another blessing that no time needed to apply here and there, waiting for interviews, etc. Even the salary has been paid right after the interview. To call it a mere blessing is such an underrated word. We are extremely grateful for this.

The end of an adventure is always a door to the new one. Right after residency, the health ministry released a new policy : Compulsory service for five major specialist doctor to go to some remote area all over the country for a year.

WKDS is destined to be our new adventure. The waiting was pretty torturing and took some dramas. Some offered that too good to be true once made but then, if it’s too good to be true then it doesn’t exist. Prayer had been made to ask the best place appointed.

The announcement was out before we departed to Tokyo. A small regency in South Borneo become our destination. A small city with 30 minutes flight from Banjarmasin, the native land of my father. Maybe it’s so right to say we will always be back to our root. Among thousands of cities in Indonesia, my half hometown is destined for us.

Unlike previous traveling that planned thoroughly and had enough time to make preparations, this one is really stressful and high tension. Ticket had been booked just 2-3 days before departure, price was far from cheap, and it took two flights to arrive at the city. We’re pretty lucky because there is a flight with small plane so we don’t have to ride hours of trip by car.

Commuter and long distance marriage mode is on. It is not the first time we’ve dealt with this, yet, it doesn’t make it feel easier. I survived those endless shift schedules for five years, yet knowing it would take months until another meeting is truly scary for me. Hoping my patience will cooperate well this time.

I love traveling to new places. But this one is quite different. Who knows what one full year could bring? It scares me a lot.

But then, like every previous steps taken and destined for us, the helping hands were always there. Surely know that we’re never being left alone. What had been appointed is always the best plan more than we could expect.

So, the utmost trust placed to the One whose hold all affair and decision. May this new adventure brings lots of new learnings, bigger blessings, and we’ll be back safely after a year.

Amin.

To Tanah Bumbu we go!

Bismillah.

Posted in Places, Travel

Tempat Solat di Tokyo

1. Takashimaya Shinjuku lantai 11.

2. Neo Dougenzaka Shibuya lantai 11 (shibuyamosque.com)

3. Tokyo Mosque Turkish Culture

4. Gotemba Premium Outlet

5. Narita Airport Terminal 2, 1st Floor

Work hard.

Save much.

Travel far.

Pray sincerely.

Posted in Places, Travel

Eating in Tokyo

Dominique Ansel Bakery
Ayam Ya Halal Certified Ramen
Tokyo Milk Cheese Ice Cream
Gyukatsu Motomura Harajuku
Less known Halal Ramen : Mazilu_Tokyo
The only menu in Mazilu Tokyo
Sushi and Blueberry ice cream Tsukiji Fish Market
Snacking at Yoyogi Park

Outbound meal from Japan Airlines

Most favorite snack from JAL

Yoshinoya

Enjoying Chicken Ramen Ayam Ya