Posted in Langit Senja, Thoughts, Travel

Sekolah Anak di London

Sebagai orang yang punya cukup pengetahuan (dan ketertarikan) masalah sekolah dan pendidikan, satu tahun lebih di London ini membuka mata lebih lebar lagi tentang kedua hal tersebut.

Sebelumnya saya cukup yakin tentang apa yang saya mau untuk anak saya, (merasa) tau sekolah mana yang pas buat anak saya, dan sudah mempersiapkan hal-hal yang mendukung ke arah sana.

Tapi, beberapa tahun belakangan, dengan banyak hal yang terjadi, dengan kejutan-kejutan yang dikasih oleh yang punya hidup, baik dan buruk, saya seperti dipaksa untuk belajar lagi semua dari awal.

Setahun ini saya belajar banyak dari hal-hal yang saya alami di sini. Salah satunya dari sekolah anak saya.

Saya sudah pernah cerita betapa saya suka sekali dengan sekolah anak saya. September ini di tahun ajaran baru, anak saya mulai masuk ke year 1. Year 1 di sini masih lebih mirip TK B. Masih seperti perpanjangan dari Reception tahun lalu.

Sekolah negeri di sini, secara gamblang terlihat gratis. Padahal sebenarnya ngga. Semua dibayar oleh pajak. Seperti kebanyakan negara Eropa, pajaknya itu tinggi sekali, tapi semua dikembalikan untuk kepentingan umum. Makanya bisa ngga perlu khawatir bayar sekolah, biaya pengobatan kalo sakit, bisa nikmatin transportasi umum yang baik, taman-taman kota dengan playground yang bagus dimana-mana, dan masih banyak lagi.

Kami datang ke sini dengan visa kerja, jadi berlaku juga sebagai pembayar pajak. Kalo inget bedanya besar gaji (pak dokter) sebelum dan sesudah pajak, bisa sakit kepala dan nyeri dada. Maka itu jarang inget, jadinya alhamdulillah seneng-seneng aja. Justru yang lebih terasa enaknya. Seperti bisa periksa apapun gratis, kacamata dan periksa ke dokter gigi anak pun gratis.

Balik lagi ke masalah sekolah. Di sekolah Langit, setiap level hanya ada dua kelas, masing-masing kelas sekitar 25 anak. Dari Reception sampai Year 1, temen sekelasnya sama. Baru akan dicampur di Year 2. Dalam prakteknya dua kelas ini main sama-sama. Jadi, antara kelas A dan B kenal semua teman-temannya.

Kelas di sekolahnya ini menggunakan nama-nama dari alam seperti warna pelangi dan batu-batuan. Di Reception, Langit masuk ke kelas Magenta, di Year 1 kelas Indigo.

Selain ngga pusing masalah pembayaran sekolah (kecuali beli jumper dan jaket sekolah), di sekolah juga disediakan makan siang gratis. Selama di Reception, Langit bawa makanan sendiri, tapi setelah lockdown, ikut makan di sekolah. Makanannya pilih yang menu vegetarian atau paling ngga fish and chips plus sayur dan buah.

Sekolah ‘ngga bayar’, makan siang gratis, berikutnya : sekolahnya dekat. Di sini kita bisa tinggal di mana yang cocok baru cari sekolah. Karena sekolah negeri cukup banyak dengan kualitas yang sama. Jadi ngga perlu pusing dengan jarak antar rumah dan sekolah. Anak-anak ke sekolah naik scooter dan sepeda. Kami kadang-kadang naik bis, sekitar 15 menit.

Selain jarak, salah satu hal paling ideal buat saya adalah jam masuknya, jam 8.45. Buat anak-anak menurut saya pas. Salah satu alasan saya pilih TK yang sebelumnya di Jakarta adalah karena mereka masuk jam 8.30. Waktu masuk ini kasih ruang yang cukup buat anak dan orang tuanya supaya bisa melewati setiap pagi dengan waras.

Untuk ukuran sekolah Indonesia itu siang banget, tapi buat saya ideal karena dengan jam masuk seperti itu, sebelum sekolah, Langit di umur menuju enam tahun ini, bisa melakukan rutinitas paginya tanpa terburu-buru.

Setahun di sini, saya seperti memformat ulang semua kebiasaan dan bersyukur sekali untuk itu. Rutinitas pagi dalam setahun belakangan adalah :

1. Bangun pagi sekitar jam 5 lalu sarapan kecil (roti,buah, susu).

2. Solat subuh sama-sama dan hafalan qur’an surat pendek.

3. Waktu bebas 20 menit buat main. Biasanya main lego, main apa aja sesuka dia.

4. Latihan piano. Piano ini sekitar 30-40 menit.

5. Sarapan besar (nasi dan lauk) lalu siap-siap ke sekolah.

Semua rutinitas pagi ini dijalankan tiap hari, tujuh hari seminggu tanpa kecuali.

Jam belajar sekolah di sini cukup panjang, sampai jam 15.30. Dulu saya ngeri sekali dengan jam belajar sepanjang ini lima hari seminggu. Apalagi sebelumnya di Jakarta belajar cuma 3 jam 3 hari seminggu. Tapi ternyata, setelah dijalanin, biasa aja dan anaknya pun keliatan seneng aja tiap pulang sekolah.

Hal ini mungkin dikarenakan faktor senang selanjutnya : sekolahnya santai. Ngga ada itu PR-PR. PRnya cuma satu : baca buku. Baca bukunya pun bukan berarti anaknya harus sudah bisa baca, tapi dibiasakan suka membaca dengan didampingi orangtua.

Bukunya pun disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak. Bukan soal cepat-tidaknya bisa baca. Jadi, ngga ada yang peduli juga buat bandingin satu anak dan yang lain. Masing-masing anak diberikan dua buku untuk dibaca selama seminggu. Nanti di satu hari akan ada sesi baca satu lawan satu dengan gurunya atau diminta menceritakan kembali tentang isi buku tersebut. Semua aktivitas baca ini ditulis di satu buku : reading record.

Fokus utama di tahun-tahun awal ini hanya tiga pelajaran : reading, writing, dan basic math. Ada pelajaran lain seperti science, art, tapi bukan yang utama. Di sini ngga ada ulangan, ngga ada UTS, UAS, kecuali di akhir year 1 (atau 2 ya?) nanti ada tes spelling.

Di jam belajar sepanjang itu mereka juga punya waktu free flow di mana anak bebas nentuin mau ngapain. Main di luar, baca buku, atau apa aja yang tersedia.

Selain sistem yang berjalan, hal lain yang saya agak berat sekali ninggalin adalah lingkungan sekolah ini. Gurunya, teman-temannya, orangtua muridnya, semua bagian sekolah ini baik. Auranya positif.

Guru-gurunya encouraging sekali. Saya yang banyak khawatirnya tentang banyak hal, setelah parent teacher meeting, kaya menguap semua kekhawatirannya. Tau kalo anak saya yang semi berkebutuhan khusus baik-baik saja, ngga ada yang lebih disyukuri dari itu. Di sini, punya kebutuhan khusus, bukan masalah besar. Semua diperlakukan sama dan punya support sesuai kebutuhan.

Grup WA orang tua murid ada, tapi jauh dari annoying. Ngga ada yang spamming pesen atau forward WA ngga jelas, aktif kalo emang ada yang penting banget, ngga ada pressure apa-apa. Pas banget buat saya yang males basa basi. Perbedaannya jauh sekali sama grup wa sekolah di Jakarta dulu yang tiap hari ‘berisik’ sekali. Ada info yang bermanfaat, tapi lebih banyak yang ngga.

Kalo ditanya masalah teknis, sekolah ini udah punya semua yang saya perlu buat sekolah anak yang ideal.

Kecuali satu hal yang mana buat saya paling krusial.

Masalah solat.

Tantangan hidup di negara empat musim adalah waktu solat yang berubah sepanjang tahun dan ketika winter ini adalah yang paling sulit.

“Ah, anaknya kan masih kecil, belum wajib juga”.

Itu makanya saya selalu percaya timingnya Allah itu ngga pernah meleset. Dikasih ke London pas sekali umur Langit segini. Dalam segala hal. Termasuk solatnya. Kalo kesini lebih besar lagi, saya akan gelisah gimana dia akan solat kalo pas winter solat zuhur, asar, maghrib semua dihabiskan ketika masih di sekolah.

Tahun lalu dia hanya baru solat maghrib dan subuh. Tiga bulan lockdown, bisa lengkap solat lima waktu, dan saya ngga pengen mundur lagi ketika waktu untuk wajib solat mendekat.

Mungkin ini satu-satunya hal yang bikin hati bisa lebih ringan buat pulang.

Solat ini hanya satu bagian tapi buat saya yang menentukan semuanya karena solat bukan ‘cuma’.

Perjalanan mencari sekolah ke depan ngga akan mudah. Saya dan ayahnya banyak sekali diskusi dan revisi tentang pemilihan sekolah ini. Kami tau yang kami mau, tapi tentu banyak konsekuensi yang mengikuti dan ngga ada jalan lain selain kompromi.

Sekolah di London cukup banyak sekali membuka mata dan pandangan tentang apa yang kami mau dan perlu dari sebuah sekolah. Mau jadi apapun anak saya nanti, pada akhirnya seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, saya cuma mau anak saya jadi manusia yang baik.

Posted in Thoughts

Second Lockdown and Count Down

England has entered second lockdown since last week. It’s not as strict as the first one since school is still open. Keeping the school open is a vital decision and I am glad they chose to do so.

But somehow, this second lockdown seems a bit more confusing than the first one. Not that I want to go back to the first one, but it just a bit uncertain for many things. Playground is open, you can still meet with other household in outdoor. Then, it’s not much different than the previous phase.

Maybe the only significant thing is you cant eat out and travel for leisure anymore. Restaurant only open for take away and delivery.

Meanwhile, we also start counting down our time here. Welcoming boxes and messes once again in the house. The second lockdown somehow gives a sense of early farewell with those restrictions applied.

Compared to the time while I was writing waiting game, this time the heart is more ready, in spite of facing more uncertain things in the future back home. But, we’ve been dealing with those uncertainties for the past few years. Life has been unpredictably excited since 2016. One thing always leads to another.

We have plans of course, but life as we know it, always has something at the end. Something that is rarely included in our initial plan, yet they almost always turn to be the best one. For someone with lots of worries, I often wonder whether I should worry too much or not. But, without worrying, I won’t plan carefully and pray desperately just like I always do for many things. There are times when I feel like to explode because sometimes the worry takes over all the empty space in my brain.

Secret of Divine Love in one of its pages said :

Do not place a period where God has placed a comma, because God’s plan stretches beyond your moments of doubt and fear.

Although there’s no doubt about that, It still feels easier said than done.

The heart has also currently been working a bit hard due to recent circumstances. A sick friend who’s currently in ICU, a sad news of the sudden passing of an acquaintance long ago who left her two little daughters behind.

This year has been strangely bad and sad in on side, yet it gives so many uncountable blessings in another side. To be healthy and safely made it to this point is one of them, right? If there’s anything that we should take into account from this year is, never take this life for granted anymore.

Not when it’s extremely short and precious.

Well, maybe that’s all for now.

☹It’s been few weeks and still couldn’t upload any pictures from this app, from any devices.

Posted in Places, Travel

Brighton : Stone’s Throw from London

It took only less than two hours from we stepped out from our home in south east London until we arrived at Brighton Railway Station.

Brighton is just one hour away from London Bridge Station. Although it’s more popular and suitable for summer holiday destination since the city is located by the sea, but short visit during weekend in autumn was not a bad idea either.

I always have a specific idea inside my head when choosing a destination. Brighton chosen because of a stunning by a picture from BBC here.

It’s been called the greatest wildlife spectacle in Britain and the winter months are the best time to witness this. Brighton and Eastbourne are well known for their dramatic displays.The picture is called Murmurations.

Murmurations are huge groups of starlings that twist, turn, swoop and swirl across the sky in beautiful shape-shifting clouds. Just before dusk, small groups of starlings from the same area come together above a communal roasting.Then, to Brighton we went. Stayed at budget hotel three minutes from the station, booked a room without breakfast, no other specific itinerary than watching the show at the beach.

The beach is fifteen minutes from the hotel.The first day spent at the highlight of Brighton, The Palace Pier. It’s a fun fair by the sea. Opened in 1899 and has survived two world wars. Home to fairground, restaurants, and deckchairs to enjoy the sea view.

The place is perfect for a sunny bright day, but we happened to have a heavy rainy day during the visit. Cold, wet, with strong wind. No sunset view.Just like the wise words say, “If it rains on your parade, dance in it”, so we did.

The little girl enjoyed few rides in the fun fair, and I had my chance to witness the main show although it wasn’t as planned. Bought a pack of hot donuts and ate it by the sea, still with the strong wind and rain.

We went back to the hotel for short rest then having dinner with the doctor’s friend and her husband who lives in Brighton. Our dinner was classic indian food which I found pretty good.

The next day, we went out early to explore the city. Hove Beach Hut, rows of colorful houses by the beach, to Open Market which that time was still closed because we were quite early. From the market, we accidentally found a playground and let the little girl play for a while.

The Lanes is one of the famous spot in Brighton. Small local shops sell many kind of things from clothes to vintage items. Survived this place without a single purchase and stick to theme of the trip.

As the weather was getting dark, we went back to the hotel to have lunch in a small japanese resto nearby. Japanese food never failed to comfort the tummy in a rainy day.

It’s been a while since the last time we had short nap in between during traveling. We had short nap and woke up when it was almost sunset. Hurrily dressed up and off to the beach by walk to catch the sunset.

This Brighton trip might be the most plain that we have ever had so far. Maybe because it was kind of trip that should be done in one day like Oxford and Cambridge.But, the beach and the funfair for the little girl was worth the budget spent.

Been trying to put some pictures and all failed. Maybe later.

It feels slightly sad and glad knowing that Brighton might be our closing trip in this country. Sad for leaving luxurious things that we could never have in Jakarta yet, so glad to be given so many chances to explore the beauty of this country.

We have had more than we could ask for. And that’s enough. Alhamdulillah.

Posted in Favorite things, Places, Travel

Autumn in London

My favorite season and month of the year is here. The beautiful colors are everywhere and I couldn’t get enough of them.

These below taken from few locations like Kew Gardens, Stratford, Brockwell Park as well as my lovely neighbourhood.

Inspired by James Clear newsletter opening :
Autumn is in full swing here in Ohio (London) and the fall colors are starting to pop. Wherever you are today, I hope you’re enjoying some beauty as well.

Posted in Langit Senja, Maternité, Thoughts

Perkembangan Setelah Diagnosis DLD (Developmental Language Disorder)

Selain lega, perasaan lain yang juga muncul setelah mengetahui tentang DLD adalah bingung dan takut.

Ada waktu-waktu dimana saya benar-benar down karena ini dan ngga ada kata penghiburan yang saya perlukan untuk merasa lebih baik. Kata-kata seperti alhamdulillah tapi anaknya sehat, alhamdulillah ini ngga seserius itu, dan yang lain-lain. Buat saya ini lebih dari serius dan akan jadi perjalanan dan perjuangan panjang buat kami, terutama anak saya.

Satu-satunya yang paling menghibur adalah karena saya tau kami ngga pernah dibiarin sendiri.

Sebelum ke London, saya ngga ngerti apa ini kok belum berenti juga dari spesialis 5 tahun, WKDS 1 tahun di tempat yang jauh, tiba-tiba fellowship lagi 1 tahun di tempat yang lebih jauh. Ternyata, yang punya hidup sedang nunjukin jalan dan solusi buat masalah besar yang dihadapi, buat jawab semua doa yang diminta, buat mengabulkan cita-cita.

Makanya disiapkan juga setahun sebelumnya WKDS di tempat yang jauh, harus LDM, dan saya masih ingat betapa berat perasaan waktu itu. Ikut ngga memungkinkan, ngga ikut berarti harus berhadapan dengan banyak hal sendiri. Tapi pelan-pelan dijawab.

Betul jauh, tapi dikasih penempatan di RS yang baik. Rekan kerja dan waktu kerjanya sangat menyenangkan. Bisa hanya kerja 10-14 hari per bulan karena bergantian sehingga sisanya libur dan bisa pulang ke Jakarta.

Betul berat, tapi dikasih penempatan yang uangnya alhamdulillah tepat waktu dan sangat lebih dari cukup sehingga bisa bolak -balik sebulan sekali, menabung lumayan, bisa lebih leluasa juga membantu orang lain.

Dikasih WKDS ternyata memudahkan sekali buat mempersiapkan dokumen-dokumen buat kepindahan yang mana rasanya waktu itu kaya ngga selesai-selesai. Banyak dan ribet. Tanpa metode kerja 2 minggu libur 2 minggu, kami ngga akan ada waktu untuk bisa menyiapkan banyak hal dalam waktu enam bulan. Bahkan ayahnya harus terbang ke Medan khusus untuk ambil tes bahasa Inggris yang hanya ada di sana.

Sebelum berangkat, sudah puluhan rumah di daerah utara London ditandai dengan alasan lokasinya searah dengan RS tempat kerja. Kenyataannya kami ditunjukkan tempat tinggal di ujung lawannya di selatan. Dimana tempatnya ini beda sekali dengan utara yang rame, tapi justru pas sekali. Tenang, nyaman, sepi, dekat banyak hutan, di depan sungai Thames, dan ternyata karena mau didekatkan dengan sekolah dimana jawaban yang dicari ada di sana.

Sejak mengetahui tentang DLD, kami ngga berhenti mencari tau lebih banyak lagi seperti dengerin podcast, beli buku, bahkan saya daftar NAPLIC confrence di Sheffield, sebuah pertemuan yang membahas tentang DLD dari berbagai peneliti dan tokoh yang menyuarakan tentang DLD ini. Saya juga mendaftarkan diri sebagai RADLD ambassador di RADLD.com, yang sayangnya masih ditulis dari UK karena domisili saya saat ini masih di Inggris. Sedang mengirimkan permohonan supaya bisa diganti ke Indonesia karena TIDAK ADA SATU PUN perwakilan dari Indonesia, yang mana jadi kekhawatiran besar selanjutnya.

————————————

Bagaimana kelajutan tentang diagnosa DLD?

Laporan hasil screening diberikan minggu berikut setelah saya menemukan tentang DLD. Hasilnya adalah perlu screening lebih lanjut. Sampai ada jeda waktu yang cukup lama yang buat saya gelisah kenapa ngga ada kabar lagi.

Masa-masa antara satu screening ke berikutnya dan menunggu hasil adalah periode yang sangat ngga nyaman. Di satu sisi sedikit lega karena paling ngga ternyata kondisi ini ada labelnya, ada penelitiannya, dan ada lembaga supportnya. Di sisi lain dada juga sesak membayangkan anak ini harus menghadapinya seumur hidup. Hidup udah berat, dengan ini akan jadi lebih berat.

Setelah hasil screening resmi keluar dan dinyatakan jelas dia memang memerlukan terapi, kami sempat beberapa kali diundang ke sekolahnya. Kami bertemu dengan orang dari tim SLT dan dijelaskan dengan rinci dan detail dengan sangat hati-hati. Khas orang Inggris sekali bisa menyampaikan sesuatu dengan bahasa yang terbungkus rapi, dimana kadang dianggap bertele-tele.

Saya suka sekali cara mereka membantu kami. Kaya itu hal sudah seharusnya mereka lakukan dan terlihat tulus sekali. Saya mungkin yang agak culture shock dari dapet terapis ngasal yang dibayar malah main hp ke orang-orang profesional yang saya bahkan ngga bayar sepeser pun malah terus bantu bahkan ketika saya bilang terima kasih berkali-kali dijawab dengan : “No, it’s fine, really. That’s our job”.

😭😭😭

Satu semester berlalu dan kemajuan anak saya pesat sekali. Bisa benar-benar ceriwis. Masalah bicara dengan struktur yang benar pelan-pelan terlihat. Kalo sebelumnya bilang : I going to school, pelan-pelan berubah jadi I am going to school.

Dia juga mulai sering monolog panjang seperti cerita ke mainan-mainannya, cerita dengan antusias tentang hari di sekolahnya, semaksimal normalnya anak DLD.

Satu masalah anak DLD adalah masalah teman. Seperti di sekolahnya dulu, dia hampir ngga bisa berbaur dengan teman-temannya terutama yang perempuan, karena besar kemungkinan dia ngga ngerti apa yang mereka bicarakan dan juga ngga bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan. Dan, tanpa bermaksud apa-apa, anak-anak di sini beda dengan di Indonesia. Ketika pagi ketemu di gerbang atau di jalan, pulang sekolah atau ketemu di supermarket, semuanya menyapa walaupun sekedar Hi seperti yang saya tulis di The Last Day of the Happiest School Year dan This Cool School.

Di sekolah ini dia bener-bener punya teman yang mau main dengannya dan yang selalu dia sebut namanya di rumah. Kami sangat bersyukur sekali buat itu.

Berada di lingkungan yang berbicara dengan bahasa yang dia paling nyaman juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologis dan kemampuan berbahasa anak saya. Sekolah dan berteman dengan bahasa Inggris buat dia lebih nyaman, lebih happy, dan akibatnya dalam beberapa bulan di sini, kemajuannya jauh lebih banyak ketimbang 1,5 tahun sekolah dan terapi di Jakarta.

Meskipun di rumah kami banyak bicara bahasa Indonesia, dia hampir selalu menjawab dalam bahasa Inggris. Di sini terlihat bahwa dua bahasa sama sekali ngga ada hubungannya dengan DLD. Dia bisa mengerti keduanya dan tetap memiliki kesulitan di keduanya.

Selalu ada dua sisi dalam setiap masalah. Selain fokus di masalah bahasa, sejak pindah ke sini dia punya dua rutin yang saya ajarkan tiap hari. Salah satu keuntungan pindah ke sini adalah fokus dan energi saya lebih banyak buat dia. Kami mulai meneruskan pelajaran Iqro setiap abis maghrib dan hafalan Al-Quran setiap abis subuh. Di akhir tahun lalu, ayahnya beliin piano yang tujuan awalnya supaya saya bisa main sedangkan saya sudah lama kepikiran pengen beli buat ngajarin dia.

Pelajaran piano dimulai pertengahan Desember ketika satu hari Senin tiba-tiba sekolah diliburkan karena ada kebocoran gas. Hari itu saya mulai ngajarin dia dan ngga berhenti sampai hari ini.

Saya ngga sangka, di piano dan iqro ini dia cepat sekali belajar. Dari pandangan objektif saya sebagai guru, anak ini cepat sekali belajar not balok dan huruf hijaiyah. Dalam 7 bulan dia bisa selesai satu buku, baca not dasar dengan baik, main duet, dan bahkan sempat ikut lomba dengan belajar sebuah lagu dari awal, yang levelnya lebih tinggi. Di luar jam latihan wajib dengan saya, sering sekali dia latihan sendiri. Dia berhasil menghafal semua not di tangan kanan dan kiri juga lirik sepanjang delapan baris dalam waktu dua minggu dengan hasil seperti yang saya tulis di sini.

Di iqro pun juga progresnya cukup baik. Satu buku dihabiskan dalam dua bulan, bisa lewat halaman evaluasi tanpa salah, dan sekarang sudah ada di akhir buku empat.

Salah satu hal yang paling menghibur adalah anak ini suka belajar. Selama lockdown kami terus rutin belajar dengan jadwal sendiri dan antusiasmenya juga terlihat sekali. Baik di piano, iqro, membaca, matematika ataupun menulis. Laporan akhir tahun dari sekolahnya mengkonfirmasi hal ini.

Beberapa minggu belakangan ini juga, setidaknya ada tiga orang yang kata-katanya cukup memberikan penghiburan.

Waktu konsultasi dan observasi dengan dr Mustafa, kalimat yang saya paling inget dari beliau : “There’s nothing you should worry too much. She’s fine. She’s intelligent. Keep an eye, go to therapy, of course. But, there’s no need to feel so anxious about this. She’ll be ok”.

Lalu kemarin ayahnya cerita ngobrol dengan konsulennya di RS tentang ini. Dr Sally juga cerita tentang salah satu anaknya yang dyxpraxia/DCD. Gimana dulu bahkan ketika SD dia sempet mempertanyakan apa anaknya bisa lulus karena sampai 9th tulisannya jelek, ngga bisa mengarang cerita, dsb. Tapi ternyata, semua baik-baik aja sampai hari ini anaknya jadi dokter, straight A student selama kuliah, nulis jurnal ilmiah, dsb. Kalimatnya yang secara ngga langsung saya denger, “Every child will find their way. Something that we worry too much now could be irrelevant in the future”.

Suka sekali.

Terakhir, kemarin adalah jadwal Parent Teacher Meeting dengan guru kelasnya. Gurunya cerita kalau dalam tiga hal dasar kemampuannya cukup bagus.

” Her math and writing are on the track. She starts writing sentence on her own, which is so lovely. She’s having her SLT twice a week with Denise and her progress is really good. She’s working hard on it. She is really good at reading. She will go to the next level this week. She’s a strong reader”.

“Thank you. That’s very nice to hear. And thank you so much for helping her”.

“Ah no, no she’s a lovely girl and she’s a pleasure to have here”.

I really love her school😭😭😭.

Kami masih terus belajar tentang DLD maupun DCD. Rencana ke depan dan jangka panjang masih belum pasti. Sulit sekali membayangkan harus berjalan sendiri tanpa support yang kami terima di sini.

Tapi, untuk semua hal yang kami sudah didapat, dalam bentuk apapun, saya ngga punya cukup kata syukur buat semua yang terjadi selama setahun kota ini.

Kami salah satu kasus yang beruntung karena bisa dideteksi sejak dini. Banyak sekali anak dan orangtua selama bertahun-tahun harus terus merasa kebingungan dengan apa yang terjadi dan ngga pernah mendapatkan jawaban dan bantuan yang dibutuhkan.

Saya bersyukur untuk semua kesempatan belajar dan menyaksikan kemajuan sekecil apapun dari usaha yang dilakukan. Sebagai orangtua hal ini juga melatih empati. Mempersempit fokus dan menyalurkan kemana energi dan sumber daya dihabiskan untuk hal-hal yang penting. Menghargai hal-hal sederhana yang mungkin buat orang lain hal biasa dan bukan apa-apa. Menyadari bahwa progres sekecil apapun berharga. Tolak ukur dan pembanding yang kita perlukan adalah diri (anak) kita sendiri, bukan (anak) orang lain.

Saya percaya selalu ada maksud dibalik semua yang menjadi rejeki kita. Termasuk anak-anak yang dititipkan, seperti yang ditulis Dr Emily di salah satu tulisannya.

Semoga hati dan langkah selalu dikuatkan, diberikan kemudahan untuk menghadapi semua ketidakpastian, rintangan dan perjalanan yang ada di depan.

Semoga Allah selalu tunjukan yang terbaik, seperti selama ini selalu didekatkan dengan sekolah dan orang yang baik. Amin.

Motherhood is basically moving from one set of worries to another set of harder worries by years. To be a mother is truly one of the bravest things I have ever done.

Posted in Langit Senja, Maternité, Thoughts

Jalan Panjang Menemukan DLD (Developmental Language Disorder) Bagian III (selesai)

Baca Bagian I dan Bagian II.

Beberapa minggu pertama di London dihabiskan untuk mengurus semua hal untuk kehidupan di sini. Pencarian sekolah baru dilakukan setelah semua hal seperti tempat tinggal dan kelengkapannya beres. Setelah dua minggu menikmati liburan kaya turis, alhamdulillah ditunjukan satu sekolah negeri yang dekat rumah dan dari awal impresinya baik sekal

Anak saya mulai sekolah di akhir September. Semua berjalan lancar dan dia keliatan happy di sekolah meskipun jadwal belajar yang panjang lima hari seminggu jam 8.50-15.20. Sekolahnya juga terlihat menyenangkan dari segi guru dan teman-temannya. Satu bulan sekolah di sini jelas sekali dia lebih bahagia dibanding 1,5 tahun di sekolah lamanya.

Perkembangan bahasa ada sedikiit kemajuan, sudah bisa mulai cerita agak panjang, meskipun strukturnya masih tetap berantakan. Dalam hati, saya masih gelisah dan bertanya-tanya, tanpa intervensi apa semua akan tiba-tiba jadi normal. Saya sempat tanya ke ayahnya, kita perlu konsul ngga sih disini. Tapi ngga benar-benar dilakukan karena ngga tau juga kemana.

Seperti banyak hal di hidup saya, biasanya jalan akan terbuka ketika saya sudah benar-benar desperate. Seperti tadinya jalan di terowongan gelap yang panjaaang, kesandung sana sini, berenti istirahat, jalan lagi, dan lalu tiba-tiba aja ada cahaya di belokan ke jalan keluar.

Tanggal 14 Oktober 2019 ada pertemuan orang tua murid pertama di sekolahnya. Ini adalah sesi satu lawan satu antara orang tua murid dan guru selama 10 menit. Di pertemuan ini, gurunya membicarakan perkembangan selama di kelas. Di sini, masalah bicaranya diangkat yang mana mulai buat saya gelisah lagi. Tapi kali ini, saya pulang dengan solusi.

Ternyata hampir semua sekolah di UK punya tim khusus untuk masalah speech and language. Sehingga, apa yang saya cari sebelumnya ternyata ada di dekat saya. Saya diberikan form persetujuan untuk anak saya diizinkan melalui screening oleh Speech and Languange Therapist.

Di sini SLT adalah suatu profesi khusus yang ada pendidikan khususnya. Ada sekolah resminya dan memiliki gelar profesi khusus seperti psikolog. Bukan dokter anak atau sekedar terapis seperti di Indonesia yang saya juga kurang tahu dan jelas latar pendidikannya termasuk ke mana. Setelah form dikembalikan kami masih menunggu hasilnya.

Masih di minggu yang sama, tiga hari kemudian, saya ngga akan lupa hari itu.

Kamis, 17 Oktober 2019.

Pagi itu saya selesai anter sekolah, ketika melewati aula, saya berhenti di depannya dimana ada papan kecil dengan pamflet berwarna ungu. Saya dekati dan saya baca isinya.

Selama beberapa menit, jantung seperti mau copot. Tangan gemetar mau foto dan wa ayahnya.

Setelah semua yang dilalui dan dijalani, saya ngga nyangka hari itu akan datang. Hari dimana akhirnya saya mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan dan segala rasa frustasi bertahun-tahun ini.

Sebuah papan dengan poster sebagai berikut :

Meskipun saat itu sama sekali belum ada diagnosa resmi apapun, saya hampir 100% yakin ini adalah kondisi yang dialami anak saya, yang mana dikonfirmasi setelah beberapa bulan kemudian. Kenapa saya yakin? Semua tanda yang disebutkan sesuai sekali dengan anak saya.

Dengan perasaaan saya campur aduk, saya langsung wa ayahnya dan bicara ngga berhenti. Saya habiskan seharian dengan membaca semua tentang ini.

Semua typo diabaikan karena otak bekerja lebih cepat dari tangan

Sementara saya langsung yakin seyakin-yakinnya dalam beberapa menit, wajar sekali ayahnya ngga percaya. Setelah bertahun-tahun percaya bahwa ini hanya masalah delay dan soal waktu, dalam satu chat singkat, kondisi anaknya berubah jadi gangguan permanen yang akan berlangsung seumur hidup.

Seperti vonis.

Anak saya bukan sekedar speech delay atau late talker, tapi dia punya sebuah disorder/gangguan bernama DLD.

————————————————–

I. Jadi apa itu DEVELOPMENTAL LANGUAGE DISORDER atau DLD?

Poster di bawah ini bisa menjelaskan secara singkat :

Saya translate sebisanya di bawah ini :

1. DLD adalah sebuah diagnosis yang diberikan ketika seorang anak atau orang dewasa yang memiliki kesulitan untuk berbicara dan/atau memahami bahasa.

a. Meliputi kesulitan dalam bahasa ekspresif (ini menjelaskan kenapa dia bisa baca cepat sedangkan tidak dengan bicara. Karena gangguannya ada di bahasa ekspresif, bukan reseptif). Bahasa gampangnya seperti dyslexia, seperti yang di chat saya. Kalo dyslexia gangguan membaca, maka ini adalah gangguan bicara.

b. Mempengaruhi anak-anak dan akan berlanjut hingga dewasa. Iya, ini adalah kondisi seumur hidup. Bukan seperti penyakit yang bisa sembuh dengan minum obat dan seiring waktu.

c. Menimbulkan kesulitan sosialisasi

d. Tidak memiliki penyebab pasti, dan kemungkinan dari faktor genetik.

2. DLD adalah kondisi yang tersembunyi namun sangat umum. Dua anak dalam setiap kelas berisi 30 orang mengidap DLD yang mana hal ini mempengaruhi belajar, literasi, pertemanan dan kesehatan emosi.

a. Sering dianggap sebagai anak yang berkelakuan buruk, tidak mau mendengarkan dan tidak bisa memperhatikan.

b. Dalam studi terbaru, DLD ditemukan sebanyak 7% di anak usia 4-5 tahun.

c. Mempengaruhi proses belajar di sekolah.

d. Mempengaruhi kemampuan dasar seperti menulis dan membaca yang sering dikaitkan dengan dyslexia.

e. Menyebabkan perasaan terisolasi dari pertemenan karena kesulitan mengerti dan mengungkapkan dengan baik.

f. Meningkatkan resiko pencapaian akademik yang rendah.

g. Dapat menyebabkan gangguan perilaku, emosi dan mental serta kesulitan mencari pekerjaan

3. Dengan support, orang atau anak dengan DLD bisa mengikuti pembelajaran dengan baik.

Anak DLD ini sering ditemukan sama cerdasnya dengan anak biasa pada umumnya. Maka itu dari sebelumnya saya bilang, anak saya benar-benar terlihat baik dari luar. Dia bisa menghafal isi buku kamus anak-anak, cepet sekali menghafal sesuatu yang punya nada, selain lagu juga seperti doa atau suara ngaji. Kemampuan berpikirnya jalan. Kemampuan kognitifnya juga cukup baik. Ingatannya di atas rata-rata. Tapi kemampuan bicaranya akan selalu 1-2 tahun di bawah anak seusianya.

Di artikel ini dijelaskan dengan rinci tanda-tanda DLD sesuai umur dimana baru mulai terlihat jelas di masa umur pra sekolah, yaitu 3-5 tahun. Diagnosanya pun ngga bisa ditentukan lebih awal dari 5 tahun. Bedanya dengan speech delay atau late talker adalah, anak yang hanya mengidap speech delay akan bicara dengan normal dengan terapi setelah beberapa waktu. Anak dengan DLD akan selamanya memiliki gangguan ini.

II. Seperti apa ciri-ciri anak DLD?

Ini saya baca dari artikel PDF dari I CAN. Sebuah lembaga komunikasi untuk anak di UK :

Di artikel tersebut dijelaskan bahwa untuk melabeli seorang anak memiliki #DLD, ia harus memiliki kesulitan berbahasa yang terus muncul sampai usia sekolah. Oleh karena itu, ketika awal hanya akan didiagnosa sebagai speech delay. Tapi jika ini terus berlanjut sampai usia TK, bisa jadi itu adalah #DLD.

Tanda-tanda seorang anak memiliki #DLD bisa beragam tetapi hampir selalu memiliki kesulitan dalam memahami spoken language. Mereka juga memiliki kesulitan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan baik melalui bahasa.

Beberapa ciri DLD :

1. Kesulitan untuk mengatakan keinginan, meskipun mereka punya suatu ide di kepala.

2. Kesulitan untuk menemukan kata yang pas untuk digunakan.

3. Bisa bicara dalam kalimat, tapi sulit dimengerti orang lain (ini jelas ada di anak saya, sampai sekarang).

4. Bunyi suara yang tidak jelas sehingga orang lain sulit mengikuti yang mereka bicarakan. (Salah satu alasan kenapa anak saya sulit berteman).

5. Mengalami kesulitan untuk memahani instruksi yang panjang dan kompleks.

6. Mengalami kesulitan mengingat kembali kata-kata yang ingin mereka sampaikan.

7. Sulit untuk berbaur dan bermain bersama-sama di playground karena ia sulit untuk mengikuti percakapan yang terjadi, terutama jika itu sebuah grup besar.

Satu ciri utama yang tertulis di artikel di atas adalah anak DLD ini bukan bicara seperti anak kecil, tetapi bicara mereka umumnya terdengar tidak terorganisir dengan baik. Bahasa sederhananya : ngomongnya berantakan. Ini yang jelas terjadi pada kasus anak saya.

Di artikel lain dijelaskan mitos-mitos yang berhubungan dengan DLD. Mitos-mitos tersebut diantaranya adalah :

1. Ini akan sembuh jika sudah waktunya. Tidak.

2. Anak ini pemalas/nakal. Ketidakmampuan untuk mengerti dan mengungkapkan perasaan lewat bahasa verbal membuat anak DLD ini frustasi.

3. Hasil parenting yang buruk.

Dari artikel tadi :
In fact, we know that in most cases, DLD arises from genetic influences on early brain development. We don’t know enough about specific genes to have a biological test for language disorder, but we do know that parents rarely cause their child’s language difficulties.

Sama sekali tidak ada hubungannya dengan parenting.

4. DLD disebabkan karena dua bahasa.
The research evidence here is pretty clear – exposure to two languages does not cause or complicate language disorder. Children need high-quality language input, so parents should continue to talk with their children in whatever language they themselves feel most comfortable speaking.

Kalo dulu kami beranggapan dengan mengikuti kelas bahasa Inggris akan membuat dia lebih cepat bicara normal, itu salah. DLD ini mempengaruhi semua bahasa yang digunakan. Jadi baik dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris, atau bahasa apapun, kemampuan bahasanya akan sama terganggunya. Hanya di kasus anak saya, bahasa Inggris telah menjadi bahasa yang paling nyaman untuk komunikasinya.

Jika ada satu pertanyaan besar apakah DLD disebabkan karena dua bahasa? Jawaban dari penelitian ini : TIDAK.

Di sini ada satu kampanye berbunyi :

“Not all disabilities are visible”.

Developmental Language Disorder atau DLD, yang sebelummya dinamankan Speech Language Impairment atau SLI adalah salah satunya.

Ini adalah salah satu website yang menjelaskan DLD secara komprehensif. Terutama penjelasan lengkap mengapa DLD sulit dikenali dibanding kesulitan belajar lainnya : https://dldandme.org/recognizing-dld/.

______________________________________

Salah satu yang perlu dicermati, DLD ini umumnya ngga berdiri sendiri. Ada irisan dengan ganguan perkembangan lain seperti autis, ADHD, dyslexia atau dyspraxia (DCD). Penelitian tentang hal ini masih terus dilakukan.

Pada artikel ini dijelaskan bahwa autisme dan DLD ada di dalam satu rumpun ‘Neurodevelopmental disorder’ namun autisme biasanya memiliki kondisi medis yang lebih serius. Hanya ada 2% anak dengan autisme sedangkan presentase DLD tiga kali lipatnya sebanyak 7%, namun dikarenakan gejalanya yang tersembunyi, DLD lebih sulit dikenali.

Pertengahan bulan Agustus, kami melakukan video call asesmen dengan salah satu dokter anak rujukan NHS. Seharusnya asesmen langsung tapi dikarenakan situasi covid jadi hanya via video call. Langit diberikan beberapa pertanyaan dan orangtuanya juga diwawancara. Laporan resmi sepanjang enam halaman menyatakan bahwa perlu asesmen lebih lanjut dan tiba-tiba ide DLDnya berhubungan dengan ASD (Autism Spectrum Disorder) muncul.

Kalo ketika dinyatakan DLD saya lega.

Baca kemungkinan ASD hati saya patah.

Tapi, ngga ada gunanya lama-lama berkutat dengan patah hati, yg mana udah biasa juga. Besoknya langsung cari info untuk asesmen lanjutan. Ternyata kalo asesmen dengan NHS waktu tunggunya SATU TAHUN. Kami ngga punya waktu selama itu. Kekhawatiran kalo kami kembali tanpa diagnosa yang lebih jelas, kami harus kembali lagi dari awal.

Ada alternatif lain yaitu dengan asesmen privat yang mana harus bayar sendiri. Di sini kami udah ngga banyak kompromi lagi. Cari di google dan hampir sepuluh klinik privat dihubungi.

Hampir semuanya balas dengan kasih harga yang bikin hati berat. Tapi kata orang, buat anak apa yang ngga. Apalagi kalo emang uangnya (alhamdulillah) ada.

Ada dua klinik yang balas inquiry dan komunikasinya cukup baik. Harga klinik satu 5x harga yang lain. Harga klinik yang 5x lebih murah dikarenakan dokternya konsultasi privat di rumahnya di zona 5. Sedangkan klinik lain ada di tengah kota.

Harga mahal jelas lebih meyakinkan. Dari cara mereka balas email, sangat akomodatif, responsif, dan asesmen yang dilakukan terstruktur jelas. Sedangkan dokter yang satu, dari awal nelpon kurang meyakinkan, bales sms lama, dan sebagainya.

Tapi kami tetap menjajaki dua-duanya sampai detik terakhir. Dokter privat punya keunggulan harga dan tanggal assesmen sebulan lebih awal dibanding yang mahal.

Dalam dua minggu penjajakan semua seperti sudah hampir deal dengan klinik tengah kota meskipun tiap inget harganya hati kaya dicubit. Kami sudah diberikan tanggal dan setuju dengan semua asesmen. Sementara kami tetap keep tanggal yang disepakati dengan dokter zona 5.

Dalam waktu tunggu, saya sering sekali gelisah dan nanya ke diri sendiri, apa ini terlalu berlebihan, apa harus mengeluarkan uang sebanyak ini untuk sebuah jawaban, dan masih banyak lagi.

Tapi, sekali lagi, rejeki emang ghaib.

Beberapa hari sebelum tanggal perjanjian dengan dokter zona 5, klinik tengah kota menghubungi dan ganti jadwal yang mana jadi lebih lama. Ini jadi titik balik yang akhirnya kami putuskan untuk pilih dokter zona 5.

Kami bertemu langsung dengan dr Anis Mustafa di rumahnya. Beliau adalah dokter anak senior yang berpengalaman di bidang neurodevelopmental selama 40 tahun. Setelah asesmen selama sekitar 2 jam, beliau menyatakan bahwa ada kemungkinan ini mengarah ke DCD atau dyspraxia, lebih spesifik verbal dyspraxia, dan hampir pasti bukan ASD. Dyspraxia bukan hal yang baru kami dengar.

DCD atau dyspraxia secara singkat adalah disorder yang berhubungan koordinasi. Seperti kesimbangan yang kurang. Ini juga kondisi yang ada jelas di anak ini. Tapi saya ngga akan bahas tentang itu. Video tentang DCD di bawah ini mungkin bisa membantu : https://youtu.be/O0T1MKh2JiM.

____________________________________

Saya memutuskan menulis ini dalam bahasa Indonesia karena tidak seperti gangguan perkembangan lain sepetti autis, ADD, ADHD atau dyslexia, DLD ini istilah yang masih sangat eksklusif. Setelah melakukan banyak pencarian, akhirnya saya bisa menemukan SATU makalah yang ditulis oleh Dokter-dokter anak ahli RSCM yang menyebutkan DLD secara gamblang. Prof Hardiono memang terkenal sebagai salah satu ahli gangguan perkembangan anak, termasuk bahasa.

Ini sedikit cuplikan artikelnya :

Di sini saya benar-benar menyadari pentingnya label. Saya selalu ingat betapa frustasinya tahun-tahun sebelum ini ketika saya tau dan yakin anak saya sudah bukan lagi speech delay karena dia sudah sangat sering bicara tapi tidak seperti bicara normal, sedangkan saya benar-benar ngga tau ini apa, dan ngga ada bayangan bisa tanya ke siapa.

Dengan tau kondisi anak saya ini ada namanya, ada kriterianya, ada terapinya, membuat penerimaan ini lebih mudah sehingga bisa maju ke tahap berikutnya.

Perjalanan ini mengingatkan bahwa ngga pernah ada yang mudah.

Banyak sekali hal-hal di luar kendali yang terjadi tanpa bisa dicegah.

Di atas semua usaha kita, cuma satu yang bisa buat lebih tenang : bismillah dan berserah.

Perjuangan dari sini masih panjang.

Semoga tulisan ini bisa membantu siapapun yang sedang mencari jawaban.

Posted in Langit Senja, Maternité, Thoughts

Jalan Panjang Menemukan Jawaban Bagian II

Lanjut dari Bagian I

Di tahun 2018 adalah periode single carer kedua, setelah tahun 2014-2015 ayahnya sibuk dengan residensi. Kali ini karena ayahnya tugas di luar kota selama setahun. Hampir semua hal saya kerjakan sendiri dan itu sangat melelahkan juga menguras emosi. Saya memutuskan untuk memasukan ke daycare seminggu sekali setengah hari ketika saya bekerja.

Tahun itu juga mulai masuk preschool. Kami berharap semoga dengan makin luas sosialisasinya akan berbanding lurus dengan kemampuan bicaranya. Daycare, sekolah , dan terapi berjalan sekaligus. Lelahnya menjalani tiga hal dan banyak hal lain sendirian cuma bisa ditawar dengan harapan semua akan ada hasilnya di depan yang saya sendiri juga bertanya-tanya datang kapan.

Alhamdulillah kami ditemukan dengan sekolah yang baik dimana guru-gurunya bisa mengerti tentang masalah komunikasinya dan sangat membantu sehingga saya bisa dengan tenang menitipkan anak saya seminggu tiga kali selama beberapa jam. Kami mengatakan dari awal, bahwa kami ngga punya ekspektasi apapun. Cuma ingin dia senang ada di sekolah, ketemu dan main dengan teman-temannya, ngga perlu harus bisa baca, nulis, hitung. Bahkan dari awal saya bilang, ngga papa lambat, ngga papa ulang kelas sampai dia siap dari segi komunikasi untuk ke tingkat selanjutnya.

Anak ini cukup enjoy dengan sekolahnya. Meskipun hampir ngga punya teman yang benar-benar dekat, tapi dia sangat nyaman dengan guru-gurunya. Bukan hanya guru kelasnya, tapi juga semua guru di sekolah itu. Enaknya sekolah kecil. Sekolahnya juga punya space hijau yang cukup luas. Saya bersyukur sekali untuk itu.

Selama 1,5 tahun sekolah, perkembangan bahasanya ada peningkatan tapi ya masih ‘segitu-gitu’ aja. Pertanyaan singkat bisa dijawab, menyatakan keinginan bisa diutarakan, kosa kata sangat banyak, dan lagi-lagi meskipun semua tempat yang kami pilih murni berbahasa Indonesia, tetap saja hampir semua yang keluar dari mulut adalah bahasa Inggris. Dia ngerti bahasa Indonesia, tapi entah kenapa bahasa yang buat dia nyaman adalah bahasa Inggris. Di rumah, akhirnya, sadar atau tidak, kami mulai mengikuti dengan berbicara bahasa Inggris.

Awal tahun 2019, karena melihat anak ini jelas terlihat lebih nyaman dengan bahasa Inggris, kami memutuskan untuk memasukan ke les bahasa Inggris untuk anak-anak. Tujuan utamanya hanya satu : supaya bisa bicara dengan normal ngga peduli dalam bahasa apapun.

PR saya yang waktu itu masih jadi single fighter semakin banyak : daycare, sekolah, terapi, dan ditambah lagi les bahasa Inggris. Semakin banyak kegiatan, ngga mengurangi kegelisahan saya, yang ada malah makin frustasi meskipun ngga terlihat. Kegelisahan saya makin besar karena umurnya semakin bertambah sedangkan tanda-tanda normal masih belum kelihatan.

Semua kegiatan seabrek ini kadang lebih terasa kaya pelarian. Kaya nembak ke sasaran tanpa tau ini benar atau salah dari berbagai arah dengan harapan bisa sampai target. Saya rasa kami sudah melakukan semua yang kami bisa dan mampu. Doa saya makin panjang dan menuntut. Bukan menuntut ini selesai, tapi supaya ditunjukan jalannya. Harus apa dan bagaimana (lagi). Kadang kalo lagi bener-bener overthinking, banjir air mata ngga bisa dihindarkan.

Cuma pengen liat dia bicara normal sesuai umurnya. Bukan seperti anak 1-2 tahun di bawah umurnya.

Perasaan saya seperti yang dijelaskan oleh seorang psikologi anak yang juga ibu dari anak special needs di tulisan ini.

Di awal Desember 2018, kami mulai hidup baru dengan pindah tempat tinggal. Lelah dan excited semuanya bercampur. Pindahan itu benar-benar menguras fisik dan mental. Apalagi waktu itu masih LDM. Tapi setelah beberapa minggu, semuanya sudah lebih rapi, perasaan juga udah lebih baik.

Tapi, hidup itu kadang (sering) suka lempar becandaan yang saat itu rasanya ngga lucu banget. Dua hari sebelum 2018 selesai, dalam satu tengah malam semua rencana dan peta hidup tiba-tiba berubah total karena tawaran fellowship di London muncul dan kalo ingin benar-benar kesana harus diesksekusi dalam waktu enam bulan.

Waktu itu setengah mau nangis dengan berbagai pikiran di kepala :

“Udah bayar sewa setahunnnn”.(nangis).

“Baru banget pindahan. Belum sebulan. Capenya belom ilang gotong-gotong kesana kemari bolak balik, ini serius mau pindah lagi dalam 7 bulan?”(bayangin ngulang lelahnya pindahan aja udah capek).

“Pindah tempat masih deket aja repotnya subhanallah, ini lagi pindah benua, negara, yang jelas ngga ada siapa2, gimana mau survive?”

Rasanya seperti endless races dari jalanin spesialis 5 tahun, lalu tiba-tiba tahun 2018 muncul ketentuan 5 bagian dokter spesialis wajib WKDS di desa terpencil (yang mana kebijakan ini baru ada enam bulan sebelum lulus dan lebih lucunya, dihentikan tiga bulan sebelum periode WKDS ini berakhir). Waktu itu saya pikir, kok bisa ya ‘apes’ bener. Abis lulus wajib WKDS, udah selesai tau-tau diapus.

Baca :

A New Adventure Begins

Travel Babble : A Warm Welcome

Tapi, memang bener udah semua yang ditulis di Al-Quran. Bisa jadi kita anggap sesuatu buruk tapi ternyata bawa banyak kebaikan, dan sebaliknya. WKDS ini ternyata banyak bawa blessing in disguises karena kenyataannya banyak sekali kebaikan yang didapat melalui hal ini. RS yang baik, rekan kerja yang kooperatif, waktu libur yang banyak banget, penghasilan yang alhamdulillah sangat lebih dari cukup. Setahun WKDS di Tanah Bumbu salah satu periode yang paling ‘menyenangkan dan tanpa rejeki yang di dapat dan bisa ditabung dari WKDS ini, kami ngga akan bisa bertahan hidup sebulan pertama di London.

Di Maret 2019, periode single fighter berakhir dan saya mulai merasa perlu cari pendapat lain. Terapinya di tempat yang lama sudah terasa makin monoton. Value for moneynya semakin kecil. Terapisnya pun juga terasa setengah bingung karena harusnya sudah bisa dilepas. Saya cari lembaga-lembaga lain yang jaraknya lebih masuk akal dan hemat bensin. Sembari mempersiapkan urusan kepindahan, semua kegiatan tetap berjalan.

Setelah lebaran, saya memutuskan pindah tempat terapi ke tempat baru yang lebih dekat. Sudah tinggal sisa 2 bulan dari jadwal keberangkatan. Secara kualitas jauh di bawah yang sebelumnya. Baik tempat maupun terapis. Tapi, tempat ini menyediakan terapi berkelompok, sesuatu yang belum pernah dicoba.

Kepuasan saya sangat rendah di tempat ini tapi masih bertahan karena ngga punya pilihan lain. Tetap terapi bagaimanapun masih lebih baik daripada ngga melakukan apapun. Berhenti sama aja seperti menyerah pada keadaan, yang mana jarang ada di kamus saya.

Saking ngga puasnya, ada di satu hari yang mana orang semales dengan keributan kaya saya, ngobrol aja males, sampai bisa marah-marah terbuka karena melihat terapis yang sedang ada sesi dengan anak saya TIDAK MELAKUKAN APA-APA kecuali main hp di pojokan. Selama memantau dari CCTV, bener-bener menahan diri untuk ngga melabrak masuk ke kelasnya. Setelah kelas selesai dan terapisnya diskusi singkat, saya sampaikan ‘kemarahan’ saya dengan menunjukan barbuk screenshot cctv. Jarang-jarang saya bisa meledak kaya gitu.

Meledaknya saya juga tercampur frustasi karena semua makin terasa jauh. Tanda-tanda perjalanan ini selesai ngga keliatan, tempat terapi sekarang terasa ngga berguna, tapi ngga ada pilihan, semua usaha, tenaga, waktu, dan uang yang dikeluarkan kaya sia-sia.

Rasanya sudah buntu sekali.

Sama seperti yang saya rasakan di periode akhir di tempat terapi sebelumnya, dua bulan terapi di tempat baru ini, saya merasa apa yang dilakukan signifikansinya ngga sesuai harapan. Materi dan metodenya saya rasa sudah dikuasai anak ini. Ngga ada hal baru.

Mau tau apa yang makin membuat frustasi? Anak ini tiba-tiba sudah bisa baca. Kami, terutama saya, ngga punya cukup energi lagi ngajarin baca di waktu khusus. Dan memang buat saya belum perlu juga bisa baca. Udah ngomong dengan benar aja dulu deh. Tapi, memang di ipadnya dilengkapi dengan berbagai apps phonics dan sejenisnya dan dia suka sekali. Di rumah dia juga punya perpustakaan kecil buat buku-bukunya. Soal buku, alhamdulillah gennya menurun dengan baik. Dia selalu suka baca dan tiba-tiba tanpa sadar, anak ini mulai bisa baca sendiri.

Lalu kenapa jadi bikin frustasi? Karena saya makin yakin anak ini punya suatu masalah di hal bicaranya. Dia ngga ada gangguan pendengaran, bisa baca dengan cepat tanpa belajar khusus, tapi jelas terlambat di masalah bicara. Kalo sekedar telat bicara, harusnya sudah selesai dengan berbagai intervensi yang dilakukan.

Dia udah ngga terdengar seperti delay, bicaranya cukup banyak, cuma berantakan dan ngga seperti kaya anak-anak normal seusianya. Saya makin sering bilang ke ayahnya, ini sesuatu yang lain selain speech delay. Masalahnya adalah : kami tidak tau apa. Tidak tau juga harus cari kemana, nanya ke siapa dan harus gimana. Terapi-terapi yang dijalani sudah sama sekali hampir ngga ada gunanya karena saya rasa bukan itu lagi yang dibutuhkan.

Satu pertanyaan besar yang terus ada di kepala saya : Anak saya KENAPA?

Kami berangkat ke London awal September 2019.

Saya pergi dengan banyak kekhawatiran bagaimana anak ini bisa survive di tempat baru, yang mana saya juga sama sekali ngga tau harus bantu apa dan dimana untuk terapinya. Pindah ke tempat baru jauh dari keluarga, bukan cuma anaknya, orangtuanya juga harus menghadapi masalahnya sendiri.

Tapi, harapan kami cukup besar, karena akhirnya dia bisa berada di lingkungan yang berbicara dengan bahasa yang dia nyaman gunakan.

Little did we know that our moving to London was the beginning of a journey to get the answer of the big question.

Posted in Langit Senja, Maternité, Thoughts

Jalan Panjang Menemukan Jawaban Bagian I : DLD

Disclaimer : ini adalah sebuah tulisan panjang, sepanjang jalan yang harus dilewati untuk mendapatkan jawaban.

Tulisan ini akan terdiri dari 3 bagian, yang masing-masing bagiannya juga (cukup) panjang.

Tulisan ini sudah ditulis selama beberapa bulan, disunting berulang dan dibuat dalam rangka International DLD Awareness Day yang tahun ini jatuh pada tanggal 16 Oktober 2020.

————————————————–

Selama enam tahun jadi ibu, ada beberapa periode dimana saya seperti sedang menghadapi pergulatan yang ketika mengalaminya, saya merasa seperti berjalan di jalan yang saya ngga tau dimana ujungnya. Paling awal adalah menyusui dengan baik dan berimbas ke berat badan.

Tahun pertama dihabiskan dengan berhadapan dengan masalah berat badan. Kontrol bulanan seperti menghadapi ujian yang seringnya ngga peduli betapa keras ‘belajar’ (disiplin ngasih makan, susu, dan lain2), hasilnya lebih sering kaya saya ngga ngapa2in. Kalo dibilang angka ngga penting, buat bayi saya rasa penting. Kenaikan berat badan yang sesuai standar penting buat dicapai.

Tapi, seperti semua hal, pasti ada ujungnya. Perjuangan menaikan berat badan ini bisa dilepas setelah 1,5 tahun. Sebenarnya ngga ada masalah spesifik. Anaknya sehat, hampir ngga pernah sakit. Dua tahun pertamanya sama sekali ngga pernah minum obat sekalipun. Cuma kenaikan berat badannya saja yang ngga seperti kenaikan tinggi badan.

Setelah jadi ibu, sesimpel jadi normal semua sesuai standar, terasa cukup buat ketenangan batin dan jiwa.

Selesai dengan satu pergulatan, yang baru sudah menanti.

Sejak satu tahun atau sebelumnya, sudah terlihat anak ini kurang responsif dalam masalah bicara dan bahasa meskipun kebiasaan membacakan buku, diajak berbicara sudah dilalukan sejak dini. Anak ini jelas mengerti tentang instruksi, tapi ngga banyak mengeluarkan ekspresi lewat verbal. Kosa kata minim. Di usia 22 bulan pertama kali kami memutuskan untuk ke dokter spesialis tumbuh kembang seperti yang pernah ditulis di Konsul Tumbuh Kembang di Brawijaya Clinic Kemang.

Saat itu, dokter melihat masih dalam batas walaupun border line. Kami diminta menunggu sampai 2 tahun. Entah gimana, setelah pulang dari dokter, kosa katanya meningkat drastis. Hanya kata. Kebanyakan dari buku-buku yang sering dibacakan atau dari gambar benda-benda di sekitarnya.

Waktu itu saya bisa sedikit bernafas lega.

Tapi, kenyataannya perjalanan bicara dan bahasa ini (akan) jadi salah satu perjalanan panjang yang harus dihadapi. Bulan-bulan berikutnya, kemajuan ngga banyak terlihat. Sudah kebal kuping sama nasehat-nasehat “sering diajak ngomong”, ” Jangan pakai dua bahasa”, “jangan dikasih nonton” dan sebagainya.

Namun, ada dua hal terlihat jelas yang berhubungan dengan bicara dan bahasa yang saya juga kurang ngerti kenapa :

Pertama, sementara bicara susah, tapi tidak dengan lagu. Di umur 2 tahun lebih dikit, di meja makan, tiba-tiba keluar senandung dari mulutnya : “Moon River, wider than a mile”. Beberapa detik momen yang ngasih saya harapan tinggi kalo anak ini baik-baik saja.

Kedua, kosa kata yang keluar hampir semuanya dalam bahasa Inggris. Meskipun di rumah jelas yang dipakai sebagian besar adalah Bahasa Indonesia.

Saya sering bertanya-tanya, apakah sering denger ibunya ngajar piano dan bahasa Inggris sejak masih dalam perut seberpengaruh itu? Dinyanyikan lagu pengantar tidur evergreen song oleh ayahnya juga sengaruh itu? Ngga tau.

Kami juga sempat memasukan ke kelas bermain seminggu sekali untuk mengekspos lebih banyak suara. Selama 8 bulan, perubahan ngga terlalu signifikan. Kemampuan bicara dan bahasanya tetap mandek di kosa kata. Ngga seperti anak 2 tahunan yang ceriwis.

Periode 2-3 tahun dihabiskan dengan kegelisahan yang buat saya baca, baca dan baca buat cari jawabannya. Ini seperti mengalami rasa frustasi terselubung. Anaknya sehat, lincah, manis, cuma kurang banyak bicara. Kami jelas tau anak ini introvert, yang mana bukan hal aneh juga karena penyumbang gennya introvert semua.

Kami memutuskan kembali ke dokter tumbuh kembang di usia tiga tahun akhir tahun 2017. Diagnosa waktu itu hanya speech delay. Terapi sensori integrasi dimulai dan diikuti dengan terapi bicara empat bulan kemudian. Semua terapi dilakukan dalam bahasa Indonesia. Tentang terapi pernah saya tulis di Terapi Wicara dan Sensori Integrasi di Brawijaya Klinik Kemang.

Awal tahun 2018, terapi dimulai. Progres terapi selama lima bulan pertama sangat baik. Kami vakum sebulan pada bulan Ramadan karena masalah waktu dan jarak tempuh yang cukup jauh dari rumah. Di masa sebulan vakum itu, lagi-lagi ada hal yang ngasih harapan : anaknya mulai terdengar bicara beneran, tapi lagi-lagi, semua dalam bahasa Inggris dengan struktur yang ngga beraturan.

Tapi, buat orangtuanya itu kemajuan besar sekali.

Terapi terus berlanjut, semua stimulus juga terus berjalan. Apakah saya melarang gadget? Tidak. Ngga peduli apa orang bilang, dari apa yang saya lihat dan penelitian-penelitian yang saya baca, penggunaan gadget dalam batas yang wajar tidak menyebabkan gangguan bicara. Mengurus anak tanpa asisten, mengerjakan hampir semua sendiri, jadi orangtua tunggal secara geografis, saya juga perlu jeda buat bisa berfungsi. Di sekelilingnya saya jelas melihat anak-anak yang terkekspos gadget lebih intens tapi sama sekali ngga ada kesulitan tentang bicara. Bicara normal sesuai usianya.

Kurang lebih 8 bulan terapi, kemajuan terlihat, tapi saya merasa kami juga belum ‘sampai’. Sudah bisa jawab pertanyaan, bisa bicara dalam kalimat pendek 2-3 suku kata, yang mana masih di bawah standar seusianya. Pola yang jelas terlihat masih sama : musik dan lagu lebih maju dari bicaranya.

Setelah hampir setahun terapi, saya mulai gelisah lagi. Saya benar-benar merasa ada sesuatu yang lebih dari sekedar speech delay. Perjalanan Kalimalang-Kemang seminggu dua kali mulai jadi sesuatu yang melelahkan karena ini seperti menjalani rutin yang dampaknya ngga terbayar dengan lelahnya menyetir sejauh itu. Buat saya jauh. Review singkat dari terapis setiap kali selesai terapi mulai terasa seperti mendengarkan satu lagu yang diputar berulang-ulang. Semuanya oke, bagus. Oke yang terlihat di permukaan. Semua selalu terlihat baik dalam satu jam sesi. Bisa mengikuti instruksi, ngga pernah rewel, dan sebagainya.

Tapi, jauh di dalam, saya tau ini masih jauh sekali dari harapan. Ngga bisa berenti ngerasa lelah dan gelisah. Konsul reguler ke dokter tumbang buat memastikan apa ada hal lain selain speech delay seperti autis, ADHD, dan sejenisnya pun dijawab positif bahwa itu negatif, yang mana saya juga ngga melihat sama sekali tanda-tanda itu. Dari luar anak ini benar-benar normal. Untuk anak-anak seusianya cenderung matang, mandiri, dan tenang. Di rumah atau traveling kemanapun sangat menyenangkan karena ngga rewel soal makan, disiplin tidur dan moodnya jarang jelek.

Obat gelisah saya selain doa banyak dan panjang, minta berulang kali supaya dibukakan jalannya, minta jawaban, adalah baca. Saya ketemu dua buku yang membahas tentang Late Talking Children dari Stephen Camarata dan ayahnya juga kasih insight lain dari Thomas Orwell. Keduanya menjelaskan dan menenangkan sedikit kegelisahan dengan menyatakan dua hal :

  1. Hal ini bukan kesalahan orangtua.
  2. Anak-anak ini akan catch up pada waktunya.

Oke. Waktu itu saya pikir memang harus nunggu lebih lama. Saya ngga ada masalah nunggu. I am good at waiting.

Mengantar terapi seminggu dua kali dan banyak melihat anak-anak lain yang punya kebutuhan khusus membuat saya jadi melihat banyak perilaku khusus dari anak-anak tersebut. Hal ini di satu sisi jadi menambah kegelisahan tapi di sisi lain menambah keyakinan.

Gelisah karena anak ini hampir pasti tidak menunjukan gejala-gejala seperti disabilities yang saya tau (ini kata kuncinya) seperti autis, ADD, ADHD tapi di sisi lain dibandingkan anak normal seusianya, anak ini punya sesuatu yang berbeda. Seperti ada undefined disability di hal bahasa dan bicaranya yang mana hal ini juga ngga bisa dijelaskan baik oleh dua DSA dan terapis-terapisnya. Review harian dan kontrol per 2-3 bulan sama sekali ngga menghilangkan kegelisahan.

Jelas ada banyak kemajuan dan perkembangan.

Tapi, pertanyaan dan tujuan besar saya bukan itu.

Saya perlu jawaban : kapan ini selesai?

Itu yang buat saya agak putus asa.

Karena saya benar-benar ngga tau apa, tanya ke siapa dan harus bagaimana buat menjawabnya.

Posted in Favorite things, Places, Travel

Two Best Things of London

It is their parks and their integrated public transportations.

Two things that I envy the most once we return. Their parks are huge, clean and beautiful. You can have picnic during summer, reading book with beautiful autumn leaves view, having conversation while sipping a coffee and munching some snacks in their small square all over the city. The big ones usually have a proper playground. A chance to spend a year enjoying lots of playgrounds in this city is one of my daughter best privileges during her golden period. My heart is crying a lot whenever the thought of losing such things appear.

Below are some pictures about those two from my recent trips around the town.

1. Kensington Garden

Late Princess Diana most favorite royal parks.

Not far from the lake, there is Kensington Palace, currently the official London residence of the Duke and Duchess of Cambridge and their children, Princess Eugenie and her husband Jack Brooksbank and soon their little bundle of joy.

2. Green Park

The park leads to Buckingham Palace. Visited this park on the first day of autumn 2020.

Waiting for all the leaves show their beautiful autumn colors.

3. Primrose Hill Park and Playground

Their TFL services are not all excellent but, I couldnt ask any better. You can go everywhere for your daily activities with any means of transport available. Bus, underground,and my most favorite overground. It takes time yes, but a year using it everywhere, trying every underground line, getting off in some random stations, walking in small lanes without specific destinations and map help, then when the feet are tired, you can just find the nearest underground station then making stop in the line that will bring you home or the closest station where you can catch your bus.

One of this pandemic blessing in disguises is a more comfortable experience in riding underground and overground. I spent the last few weeks riding on underground, overground, or long bus ride to any random destinations with one purpose : reading and finishing a book. What could be better than reading a book while having an empty carriage all for yourself?

I have said this countless time yet never tired to repeat it :

Living in London, during this specific time, in good health and wealth, being allowed to experience things that I treasure a lot, is truly one of the best chapters of my life.

And I’ll always be forever grateful for this.

Posted in Thoughts

Seven Months After Life in the Time of Corona

“Days are long, years are short” described this new life situation perfectly.

It’s quite a mixed feeling to answer the question about how it feels to witness everything for the past seven months. Every single day feels like fighting a battle that we really don’t know what, yet months have passed in a blink of an eye.

Every morning waking up with certain amount of anxieties mixed with a bit of hope and at the end of the day, the heart filled with gratitude, for a chance to have passed one day safely. Because, you’ll just never know what tomorrow will bring. Surviving one day safely and sane matter.

From my eyes, the real life in reality is nowhere to get back to old normal. Little girl has been returning to school for a month with new procedures, she left the school few months ago without anything on her face then since few weeks ago, she now has a glasses to help her with her sight.

In some public places, every face covered with masks especially closed spaces like bus, tube, and supermarket. Face covering is slowly accepted as a part of daily fashion. Something that is out of picture months ago.

London has not returned to its real life. Without tourists flocking in famous landmarks and attractions, London feels like just another less famous city. It’s really something to live in London in this period. To be able enjoying Piccadily square, Buckingham Palace, Trafalgar Square without the crowd, it’s both weird and great.

Both pictures below taken last week in the first day of sunny autumn. More than three times visiting this place, it was hard to believe, there’s almost no group of tourists in such best weather and season in one of the most visited landmarks.

Personally, this year is too ‘okay’ to be described as hard yet too ‘crazy’ to say this easy. Maybe the right word is confusing. Sometimes the anxiety feels so torturing yet if the mind in the clear and calmest state, it’s been a year full of many obvious blessings and in disguise ones.

Hope everyone will get through this year and all their hardship safely and sanely.

Amin.