Author: arlanadya
Pelajaran dan Perjalanan Akhir Musim Dingin ke Edinburgh-Scottish Highlands (Bagian II)
Lanjut dari bagian 1
Besoknya Senin pagi, kita keluar airbnb jam 9.20 dan udah pesen uber buat ke rental mobilnya. Perut saya udah mendingan meskipun masih ngga nyaman. Kita sempat nunggu agak lama sampai mobilnya siap.
Mobil yang kita dapet adalah Nissan Juke yang ternyata oke dan nyaman. Dalam bayangan saya mobil rentalnya akan seperti mobil tua yang sudah agak lusuh. Tapi begitu liat bersih, nyaman, dan kaya mobil baru, seneng banget.
#3 : ketika jalan-jalan, ekspektasi penting buat kenyamanan hati.
Kita berangkat dari Edinburgh jam 10 lewat sedikit. Keluar sedikit dari kotanya, lanskap pemandangannya sudah langsung berubah. Setelah jalan sekitar 40 menit kita stop di pemberhentian pertama. Sebuah toko es krim home made dan produk peternakan di pinggir jalan.




Es krim habis kita lanjut lagi dan berhenti di Luss Loch Lomond. Loch Lomond memang ngga seterkenal Loch Ness, tapi ngga rugi berhenti. Di ujung jalan menuju danau, ada satu toko souvenir kecil yang barangnya lebih unik dengan harga yang sesuai. Di sini akhirnya kita beli sedikit oleh-oleh.
Loch Lomondnya sendiri waktu kita dateng hujan lumayan deras,tapi karena cuaca di Skotland ini moody sekali, dalam beberapa menit tiba-tiba cerah lagi.



Dari Loch Lomond kita masih berhenti di banyak tempat lagi buat pipis dan foto. Pemandangan di luar jendela terlalu bagus buat dilewatkan. Lanskap pemandangan menuju Glen Coe ini bergunung-gunung yang sebagian besar puncaknya masih tetutup es. Apa yang dilihat dari balik jendela ngga bisa sepenuhnya ditangkap kamera hp sederhana.




Kita sempat berhenti di rest area buat ke kamar mandi dan beli instan couscous dan tuna pedas di dalam cup. Buat makanan instan rasanya cukup lumayan. Setelah itu, langsung menuju penginapan karena sudah mulai gelap.
Kita sampai sekitar jam setengah enam. Strassynt guest house ini penginapan yang dijalankan oleh keluarga kecil. Kita dibukakan pintu langsung oleh Neil yang punya rumah. Meskipun kecil tapi kamarnya bersih, nyaman, kamar mandi juga cukup luas. Kita sempet numpang makan malem di ruang keluarganya. Selain bawa makanan, juga sempet beli makanan di Co-Op, minimarket yang ada di belakang guest house.
Sebelum kita naik, Neil minta kita buat pilih breakfast yang kita mau untuk besok pagi. Pilihannya ngga banyak dan standar. Tapi lebih baik daripada ngga ada sama sekali.
Salah satu hal yang mungkin beda sama orang lain adalah pergi kemanapun kita hampir ngga pernah keluar lagi abis maghrib, dan kita selalu bangun dan sarapan kecil sebelum subuh. Setidaknya beberapa kali trip keluar, kita selalu jalan paling lambat jam 8 dan maghrib udah di rumah. Jam 9 udah tidur. Lama-lama udah jadi kebiasaan.
Di sini pun sama dengan banyak alesan yang valid. Ini desa kecil, gelap, dingin, dan ngga ada apapun juga yang bisa diliat. Jadi setelah check in, ngga kemana-mana lagi selain makan malam di ruang keluarga sambil ngobrol sebentar dengan hostnya.Besok pagi sebelum jam 7, kita udah keluar dan jalan-jalan di sekitar penginapan. Udara dingin dan berangin ditahan-tahanin karena pemandangan di semua sisi susah buat dilewatkan. Setelah sejam, kita kembali ke penginapan buat sarapan.



Sarapan yang disediakan adalah menu yang sudah dipilih malamnya. Standar aja, tapi enak. Saya pesen omlet, pancake buat Langit, dan smoked salmon bagel buat Pak Dokter. Buah, yoghurt, dan sereal juga tersedia. Selesai sarapan, kita langsung mandi dan beres-beres untuk cek out dan lanjut jalan. Setelah cek out dan taro koper di mobil, kita lanjut jalan-jalan lagi di sekitar penginapan. Tujuan utama danau di sebrang jalan. Cuaca waktu itu hujan, angin lumayan, tangan beku. Semangat aja yang tetep 45 dengan dalih kapan lagi.
Setelah puas hujan-hujanan, kita kembali ke mobil dan itinerary hari kedua dimulai. Tujuan akhir hari kedua adalah Fort Augustus. Di Fort Augustus ada danau Loch Ness yang terkenal. Loch sendiri artinya lake. Sebelum Fort Augustus, kita sempat berhenti buat tracking sederhana di salah satu forest trail. Tracknya antara ringan-sedang. Lumayan juga buat olahraga dan suasananya juga tenang dan sepi.


Selesai tracking, kita terus ngga berhenti lagi sampai Fort Augustus. Sampai sana sekitar jam 2. Waktu sampai, ada cruise Loch Ness yang siap berangkat. Tadinya mau naik, tapi udah telat dan ternyata itu kapal terakhir. Ya sudah, jadi kita makan siang dulu dan jalan-jalan sambil nunggu waktunya check in jam 4 sore. Pemandangan sekitar Loch Ness waktu itu pas banget dengan cerita-cerita monster yang didenger. Kabut, mendung, hujan, bahkan pas makan siang sempet hujan dan salju sebentar.
Cukup salut sih sama negara ini yang bisa menjual pariwisatanya berdasarkan sesuatu yang fiktif dan absurd dan dibeli secara masif. Karena winter mungkin ngga terlalu rame, tapi pemandangan dari danau Loch Ness dan suasananya itu tenang dan relaxing sekali.



Ngga ada yang lebih moody dari cuaca Skotland selama road trip ini. Setelah jam 4 cek in, tiba-tiba cuaca jadi cerah lagi. Tapi saya udah terlalu lelah buat bungkus diri dengan semua jaket tebel, jadi waktu Pak Dokter mutusin jalan lagi, saya lebih pilih tinggal di penginapan.
Besok paginya, kita cek out jam 9 dan sempetin buat nengok Loch Ness sekali lagi. Cuaca pagi yang cerah bikin moodnya juga beda sekali. Seperti perbandingan pas monsternya laper dan sober.




Tujuan hari ketiga sekaligus hari terakhir adalah Urquhart Castle lalu akan balik ke Edinburgh. Sewa mobil kita sampai keesokan hari jam 10 pagi. Jadi kita lebih milih sudah di Edinburgh dari malam.
Dari Fort Augustus ke Urquhart Castle hanya sekitar 30 menit. Loch Ness dan Urquhart Castle itu biasanya satu paket kalo misalkan ikut one day tour. Urquhart Castle ini salah satu castle yang paling banyak dikunjungi di UK. Kastil di danau ini pemandangannya juga luar biasa cantiknya.







Dari Urquhart Castle rencananya kita akan lewat rute yang sama dengan pergi, tapi GPS di mobil menyarankan untuk ambil rute lain yang mana terus lanjut sampai ke Inverness, kota kecil yang merupakan akhir dari rute A82.
Karena yang nyupir sangat percaya dengan GPS, diikutilah saran mesin pintar tersebut.
Rencananya di Inverness mau makan siang. Tapi repotnya adalah cari parkir yang gratis yang aman. Karena ngga ketemu kita jalan lagi terus. Keluar dari aura kotanya dan jalan kecil di Inverness, kita kembali ke jalan besar seperti high way dan cari-cari tanda rest area yang ada restoran.
Cari rest area dan tempat makan ternyata ngga semudah itu. Kita jadi sempet muter-muter dan salah jalan yang ternyata adalah sebuah blessing in disguise. Setelah berbulan-bulan ngerasain winter yang hangat di London, akhirnya bisa lihat dan ngerasain aura dan warna winter yang sebenarnya. One of the most breath taking experiences in this trip was a chance to see and feel the “winter is white”.
Sepanjang jalan cuma bisa terkesima liat pemandangan di kanan kiri. Setelah berbulan-bulan Langit nanyain hal yang sama tentang winter, akhirnya pertanyaannya dijawab. Kita akhirnya bisa berhenti dan parkir di Aviemore buat makan siang dan berhenti di salah satu taman kecil buat main salju. Aviemore ini kayanya juga pegunungan dan resort tempat main ski karena banyak orang dengan snow suit dan sepanjang jalan banyak toko peralatan ski.



# 4 : selalu percaya, ada sesuatu yang lebih besar dari perhitungan akal manusia untuk segala hal yang terjadi di hidup kita. Sekecil apapun, semua yang jadi rejeki, akan sampai dari manapun dan bagaimanapun caranya. Sekecil ganti rute jalan, ternyata highlight tripnya ada di sana.
Setelah makan siang dan main salju sebentar, kita ngga berhenti lagi dan langsung gas ke Edinburgh karena kejar sebelum gelap. Sengeri-ngerinya nyetir di highway, lebih ribet nyetir di kota yang jalanya kecil dan lebih padet.
Hal yang paling menakjubkan dari Scottish Highland ini adalah gimana alamnya bisa berubah drastis dalam jeda waktu dan jaraknya yang sangat pendek. Dalam 1 jam bisa ngerasain hujan salju lalu berubah jadi panas terik meskipun tetap dingin. Dalam jeda beberapa menit pemandangan di luar jendela bisa menampilkan musim yang berbeda.

Kita sampai di Edinburgh sekitar jam 18.30 dan langsung cek-in. Kali ini pilih di apartemen hotel yang juga punya parkiran biarpun bayar. Pengalaman sewa mobil ini jadi belajar banyak hal. Seperti susahnya cari parkir gratis, atau masuk ke gedung parkir dengan kode, slot parkir juga ngga bisa liat asal kosong. Meskipun nyaman, saya mendingan naik bis kemana-mana.
Setelah Komodo tahun lalu, ini mungkin salah satu trip alam yang paling berkesan. Salah satu skill paling jago yang saya punya adalah bisa tidur dimana aja dalam waktu cepet. Apalagi di mobil. Bisa baru naik langsung tidur. Di road trip ini, hampir 90% mata saya kebuka. Dua pertiga karena ngga selesai-selesai ngerekam semua pemandangan depan mata, sisanya berdoa semoga selamat di jalan sampai kembali ke tujuan. Ngga baik buat jantung duduk di kursi penumpang selama road trip ini.
#5 : makin jauh pergi, makin sepi dan sunyi tempat yang dikunjungi, makin banyak lihat berbagai macam hal, makin jelas dan sadar kalo kita kecil sekali di dunia seluas ini.
Keesokan paginya kita cek out jam 9 dan langsung ke tempat rental mobil. Perjalanan yang harusnya hanya 12 menit berakhit jadi 40 menit karena selain GPSnya ngasih jalan yang ngga bisa dilaluin mobil, navigator di samping supir pun sama sekali ngga pinter buat baca peta. Combo lah.
Lega sekali rasanya waktu mobil sudah dikembalikan tanpa kurang satu apapun. Kereta kembali ke London masih jam 1an, kita nunggu dulu di Waverley Mall buat makan siang di Chopstix, fast food halal terenak di UK yang menyediakan makanan cina sederhana kaya mie dan nasi dengan ayam berbagai bumbu.
Sejauh-jauhnya pergi, setelah lima hari bertualang, ngga ada yang lebih nikmat dari kembali ke tempat paling nyaman di seluruh UK.
Alhamdulillah.
Pelajaran dan Perjalanan Akhir Musim Dingin ke Edinburgh-Scottish Highlands (Bagian I)
Buat pertama kali selama tinggal London, akhirnya keluar dari Inggris. Kebetulan waktunya pas libur tengah semester dan jadwal cuti yang sudah diajukan dan disetujui jauh-jauh hari.
Awalnya saya sudah bikin plan dan budget buat pergi ke dua kota : Edinburgh dan Glasgow. Berhubung saya emang tim liburan di kota, pilihannya kota semua. Tapi, di tengah perencanaan, Pak Dokter akhirnya buka suara mengubah itinerary dan rute trip menjadi half road trip. Bukan sekedar liat-liat naik bis lokal keliling kota, tapi sewa mobil buat liat sendiri, bagusnya Scottish Highlands yang orang-orang dan video-video di Youtube gambarin.
Setelah banyak diskusi antara waktu dan rute, akhirnya ditetapkan rencana rute perjalanan kami adalah Edinburgh 2 malam- Loch Lomond-Glencoe-Ballachulish (Nginep)- Fort William-Fort Augustus (Nginep)-Urquhart Castle-Edinburgh. Baru kali ini trip 6 hari 5 malam dihabiskan di 4 tempat yang berbeda.
Akomodasi baru dipesan setelah kami konfirm dengan penyewaan mobil. Sedikit info tentang sewa mobil dan nyetir di UK, mungkin bisa membantu kalo ada yang perlu. SIM A bisa digunakan untuk menyetir di UK, tapi untuk sewa mobil, diperlukan SIM yang berbahasa Inggris. Kami ngga punya SIM Internasional. Setelah cari info, Pak Dokter dapet salah satu travel di Jakarta yang bisa bantu buat bikin SIM Internasional dari sini. Jadi tinggal kirim semua data yang diperlukan via email lalu mereka bantu urus lalu sim akan dikirim via kurir. Biayanya sih lumayan ya. Harga asli SIM Internasional hanya 250 ribu.
Tapi, berhubung ngga ada pilihan lain dan memang perlu, jadi kita tetap urus. Travelnya cukup reliable, selalu bales wa, fast response juga ditanya-tanya, bahkan sampai terakhir SIMnya akhirnya sampai juga ke rumah di London, mereka masih cek apa kita udah terima. Setelah SIM Internasional konfirm, baru akomodasi mulai dipesan.
Di Edinburgh 2 malam pertama saya pilih Airbnb. Seperti biasa, soal milih AirBnb cuma dua : harga dan lokasi. Kebetulan dapet yang harganya masih sesuai budget, foto OK, jarak dari stasiun juga ok. Di Ballachulish dan Fort Augustus, pilihan ngga banyak, harga juga cukup mahal. Jadi terpaksa 2 malam nginep di akomodasi tanpa dapur. Di Ballachulish kami nginep di Strassynt Guest House, di Fort Augustus kami nginep di Lock Chamber Caledonian Canal, penginapan tanpa penerima tamu. Di malam terakhir kembali ke Edinburgh, nginep di Hotel-Apartment.
Kereta dari London ke Edinburgh Waverley berangkat dari Euston. Virgin Train yang biasanya menyediakan rute ini sudah ngga ada dan diganti oleh Avanti West Coast. Sebenernya sama aja sih, cuma seinget saya Virgin itu bisa milih bangku waktu pesen, sedangkan Avanti tau-tau udah dipilihin pas udah konfirmasi pembayaran. Sayangnya, kita ngga dapet yang table seats.
Trip ke Edinburgh ini rasanya seperti trip besar sebelumnya. Bedanya cuma berangkat dari London, bukan Jakarta. Apa yang rasanya sama? Dramanya.
Jumat malem jam 12 Langit kebangun dan bilang perutnya sakit, ngga berapa lama dia muntah dan non-stop sampai pagi. Buat yang hampir ngga pernah muntah kaya gini, timingnya pas banget kan. 2 jam sebelum berangkat masih pucet dan muntah ditambah juga mencret.
Kita berangkat dari rumah jam 7.20 sabtu pagi. Kereta berangkat jam 8.43. Perjalanan ke Euston cuma perlu 40 menit. Saya udah siap-siap plastik jaga-jaga dia muntah lagi. Tiap beberapa menit nanya apa dia mau muntah. Deket pemberhentian bis buat nyambung dengan underground, tiba-tiba yang ditakutin kejadian. Dia muntah lagi dan itu sebelum kita turun. Karena dia ga makan apa-apa, jadi yang keluar hanya sedikit air di lantai bis. Udah minta maaf terus ke supir bisnya, dan malah repot banget juga bawa koper dan backpack. Alhamdulillah supirnya masih cukup baik, meskipun ngeliatin dengan tatapan yang ga jelas antara kesian atau kesel, dia masih sempet nanya, ” Are you ok?”.
Kita sampai di Euston cuma beberapa menit sebelum kereta berangkat. Ngga pernah ngga mepet herannya. Ada aja. Di kereta, masih sempet muntah dua kali tapi aman. Semua tertampung dalam plastik. Perjalanan ke Edinburgh ini lumayan lama sekitar 4,5 jam. Di hari itu, Storm Dennis lagi dateng, jadi ada satu servis kereta yang dibatalkan dan semua dioper ke Avanti. Keretanya bukan cuma penuh tapi sesak. Bahkan ada yang harus berdiri. Kereta mahal rasa underground.
Tapi Alhamdulillahnya Langit udah berenti muntah dan lumayan bisa tidur. Meskipun dia tetep ngga mau makan apa-apa. Sampai di Edinburgh jam 14.30 dan hujan gede. Menimbang semua keadaan dan kerepotan, kita mutusin naik taksi ke Airbnb, ngga naik bis.
Di saat-saat kaya gini saya bersyukur sekali, kami tinggal di Inggris dengan visa kerja, bukan pelajar. Budget bisa lebih leluasa. Uang tidak dipungkiri, bisa membuat setiap keadaan lebih mudah.
#1 : dalam hal apapun di hidup, punya pilihan itu kemewahan dan salah satu privilege yang paling berharga.
Jarak ke Airbnb cuma 15 menit. Hostnya sendiri yang bantu kita buat check in. Alhamdulilah ketika sampe rumah, Langit udah bisa makan biarpun sedikit dan ngga muntah. Mode cerewetnya juga udah naik pelan-pelan,meskipun masih buang air. Setelah dia makan, saya ngerengek mau pergi karena ngerasa sayang kalo sisa hari ngga dipake kemana-mana. Nekatlah siap-siap pergi sendiri. Langit jelas ga bisa diajak jalan, Pak Dokter mau nonton bola.
Baru nutup pintu depan, ternyata hujannya deres dengan angin yang kencang sekali. Sampe payung hostnya rusak. Alhasil saya mutusin balik lagi. Apesnya, saya ngga bawa kunci karena pikir ya nanti bisa tinggal telpon kalo udah mau pulang. Lebih apesnya lagi, hp Pak Dokter lagi dicharge, dan itu di kamar sedangkan dia dan Langit di ruang tengah. Dua puluh menit saya telp dan wa di depan pintu ngga diangkat. Udah basah kuyup. Kesel banget.
Tiba-tiba ada satu cewe menuju pintu apartemen dan ternyata dia mau masuk. Alhamdulillah sekali dan saya bisa langsung masuk tinggal kedor pintu kamar. Untung yang ini langsung dibukain. Alhasil, malam pertama di Edinburgh, dihabiskan dengan marathon drama korea. Sulit emang kalo pergi ngga direstuin.
Besoknya, menurut prakiraan cuaca, Denis masih akan berlangsung dan kemungkinan hujan cukup tinggi. Kita udah siap jalan dari jam 8. Ternyata hampir sepanjang hari cukup cerah jadi memungkinkan buat keliling-keliling. Kita naik bis ke Victoria Street lalu terus lanjut jalan kaki ke Royal Mile, Edinburgh Castle (tutup karena Denis), Grassmarket, sempet stop dulu buat angetin perut minum teh sama scone, anginnya bener-bener kenceng. Lanjut ke Museum Context Harry Potter. Setelah makan di Yo Sushi, kita lanjut lagi jalan ke tempat rental mobil, supaya besoknya ngga nyari sambil geret-geret koper. Destinasi terakhir ke Edinburgh Central Mosque.
Cantiknya Edinburgh ini agak terganggu dengan angin kencang yang nusuk sampe ke tulang plus Langit juga yang masih ngga fit. Kali ini kita ngga bawa skuter karena akan naik mobil. Kita jalan santai, pelan, sesekali berhenti, foto-foto. Langit sempet buang air abis makan, yang alhamdulillahnya masih di Yo Sushi, jadi aman. Abis makan dan jalan lagi, ngga berapa lama, tiba-tiba dia bilang mau buang air lagi. Bener-bener panik harus kemana. Liat ada Joe the Juice yang antri rame sampe keluar dan pikir pasti ada toilet, masuklah kesana.
Gara-gara rame dan spacenya cukup sempit, saya dan Langit jadi cukup ngga terlihat dan bisa langsung ke toiletnya. Alhamdulillah kosong dan selamat juga dari insiden yang mengerikan.
Dari setelah makan, saya ngerasa ada yang ngga enak juga di perut. Tapi masih tetap terus jalan. Makin lama makin ngga enak dan pengen muntah. Angin kenceng bikin badan beku, kaki pegel, punggung rasanya sakit semua, perut mual, dan konturnya Edinburgh ini nanjak, lengkap sudah. Tadinya sempat mau batal ke Central Mosque. Cuma ya udah sampe sini, akhirnya diputuskan buat naik taksi sekali lagi.
#2 : Sehat selama perjalanan
sampai kembali ke tujuan,
bisa menikmati semua pemandangan dan pengalaman ketika liburan,
doa yang selalu harus dipanjatkan sebelum jalan-jalan.
Ini entah saya yang agak bias karena kondisinya kurang enak dari cuaca dan badan, tapi soal kotanya, Edinburgh ini lebih sedikit point of interestnya dibanding kota-kota lain yang pernah didatengin. Konturnya yang nanjak dan banyak kastil-kastil memang keliatan cantik, tapi ngga ada tempat yang bener-bener wow. Baru kali ini saya ngga bikin list tempat yang musti didatengin karena emang cuma sedikit, seperti Edinburgh Castle, Royal Mile, Victoria Street, Museum Context Harry Potter, Grassmarket, St Giles Cathedral. Saya emang turis standar sih, mungkin kurang banyak riset juga
Satu lagi, UK itu ngga punya makanan yang khas banget juga. Jadi dimana-mana pilihannya untuk makan cuma antara middle east, asian atau thai food. Fish and Chips itu hambar buat lidah kita. Rugi juga. Tapi, kita sempet mampir ke Scottish Kitchen dan coba cheese sconenya. Enak. Beda lah sama scone yang biasa saya saya beli di Lidl, hehe. Atau ini bias juga ya karena saya penggemar bakery dan pastry.
Hal lainnya adalah toko souvenirnya pun ngga ada yg menonjol. Semua hampir menjual hal yang sama. Produknya Harris Tweed yang dari segi kualitas dan harga kurang pas, (atau ya ngga sesuai sama daya beli mungkin?😄). Jadi, ngga ada satupun yang dibeli pas di Edinburgh.







Selesai seharian keliling Edinburgh, udah mau naik taksi lagi, ternyata susah. Jadinya pulang naik bis.
Sampai rumah, ngga kaya biasa pasti langsung beres-beres atau nyiapin sesuatu, saya langsung ganti baju dan masuk selimut. Setelah berselang beberapa lama, muntah ngga berenti. Saya jarang sekali masuk angin karena dimanapun kita hampir ngga pernah keluar abis maghrib. Tapi seharian kemasukan angin Denis, udah ngga tahan dan muntah semaleman.
Kabar baiknya, Langit udah sehat. Udah ceriwis lagi dan itu sangat melegakan karena besoknya kita akan mulai road trip. Bagian road trip ini ngga ada satupun yang saya rencanain, semua Pak Dokter. Hal ini yang buat saya juga setengah hati. Bukan penggemar road trip dan agak ngeri aja ngebayangin nyetir di tempat yang ngga familiar dengan peraturan yang super ketat. Biarpun udah di briefing berkali-kali, saya terus nanya hal yang sama. Buat orang yang selalu banyak baca sebelum pergi, saya sama sekali ngga baca apapun tentang Highlands. Jadi tulalit banget😁
Lanjut di bagian kedua tentang Highlands. Mari liat apa Highlandsnya bisa mengubah setengah hati jadi sepenuh hati.
This Cool School

If there’s one place in London which I could pour all my gratitude, it would be this ‘small’ public school in the south east London.
Normally, the school registration in London (or UK) should be done through the council website where you live. But,right after we found a place,we spent a whole Friday to visit all nearby schools asking if there was a place. Two out of three said they had no place for Langit’s age, one said they had but would still have to confirm it first.The school wasn’t that interesting and pretty far from our place.
We found another one by maps and decided to give it a try on the next Monday. It was only me and the little girl that day since the doctor had started his new work.
It felt like coming to a nice place from the beginning. The reception staffs were so kind. They confirmed instantly a place for her. Set up an appointment with school enrollment staff on that afternoon, told us she could start school the next Wednesday.
We happened to be not only coming to a nice place, but it turns out to be the right one too. Not only the teachers, Langit meets great friends too.
I observed how the kids were nicer. I couldn’t help making comparison when I remembered about what happened to her first day at school 2 years ago. It was on the school playground when she rode a tricycle and another bigger girl was aiming at her by continiously bumping her bike with hers.
It’s really nice to see that she has friends who call her name when they see her at the street and shout, “HI LENJIT!” ,friends who say goodbye to her when the school is over, “GOODBYE, LENJIT!”,friends who are giggling with her while waiting their name called on school pick up. Small things that were absence in her previous place,due to many reasons, other than herself.

I attended a workshop in the school last week when one of the staffs approached me and said,
“Are you perhaps, Langit’s mom?”
Yes, I am.
“Hi, nice to meet you! I am Hannah, I am working with Langit in speech and language session”.
“Ah, really? Nice to meet you too and thanks a lot for helping her. Is she doing okay?”
“Yes, she is doing great! We’re really happy with her progress”.
“Thank you. It’s really nice to hear that”.
“She’s doing well and, you know, she is so nice and lovely”.
It warmed my heart hearing the last words said by a very kind stranger.
I really love this school’s kindness. Almost all the staff I encountered with, they work as if they owe me something, ask us to take as many as we can from them. It’s not the best school with sophisticated facilities, but few months going to this school, my little girl has been so happy more than 1,5 years she spent in her previous school. Not that the previous was not good, it was a decent one as I wrote in School is (finally) Cool.
In Jakarta, she only went to school three times a week from 8.30-11.00. Here, she stays at school from 8.50-15.20 Monday to Friday. In spite such long hours and whole week of school, the fact that she has to ride her scooter in cold weather every morning, she seems so happy to go every day and being in as happy mood too whenever we pick her up in the afternoon.

The support given from the staff (been talking to some), the kindness, the knowledge they share, all little help that really matter for Langit and us make me pray for them to be granted in heaven.
How I wish to have this kind of school when we return later.
Stuck
There are times when I feel so stuck and hopeless about things. No matter how hard, how long, how much energy, time, and money spent, the progress craved for is not signifcant enough. As if we would never be there.
It wasn’t the first time this feeling came of course. Knowing I had been in this stuck feeling before, once or twice is quite soothing. Knowing I once survived that, and finally got ‘there’, gives the slightest hope that I will be there too one day. God only knows when.
I have learned since a long ago that we don’t have to ask why we’re given this and that, because some parts of life happened are never under our control. No matter how often people glorify we always have choice, some things don’t offer one. You can’t quit, get rid or leave but to keep going with it.
Still, the heavy heart is here.
The frustration won’t go.
The anxiety keeps following.
The things to be grateful for are there, but it doesn’t make the problems dissappear.
There are times that I don’t feel like counting the blessings. There are times I don’t want to hear any consolation words.
There are times I just want to say it’s hard.
Lurking
Received two grief news within a week of the passing of two women who were known through mutual acquaintances. Both were on my age, leaving their two little children behind. Although I didn’t know them personally, but still, the thought of the children who lost their mother in such young age is painful.
It’s a heart-wrenching reminder that life is actually the most fragile thing in the world. One tiny single thing could turn your life upside down. One single unmeaningful thing could lead to the broken of long-kept trust, no-turn-back separation, and the end of happy days you thought would last forever.
One ‘kun fayakun’ from the owner of this life could make you jump from the top of the world to the bottom of the earth core.
The scariest thing is that you have no control about this. Death and misfortunes are always lurking around, waiting for the exact time to appear after it’s being commanded from the owner of the whole life. No single second of negotiation, no matter how much effort you have done to anticipate any miscalculations.
Death should always be a constant and strong reminder to live kind of life which deserves to be granted a good ending. That is far from easy and not just everyone is granted with such good ending. What is a good ending? It’s up to us to choose what kind of things we aim to measure our life.
Watching my closest families died few times makes me believe one thing : the way we die determined by the way we live. We can’t choose our start, but we really can work hard for our ending. In the end, we only get the ending we deserve to have. Just like the future shaped from what we do today, the next life would be also the result of the deeds we have done in previous life.
Shouldn’t we then live the life like the famous line from Imam Ali Bin Abi Thalib RA?
Work for this world as if you will live forever and work for the here-after as if you will die tomorrow.
I pray that both families given the strength they need to go through everything, may those little children would be always protected, and may the mothers rest well.
Ready or not, finish or unfinish,
when it’s time to go, we go.
When it’s time to let go, we just have to let go.
Nerdy Cambridge
The last day trip before spring term starts or we can say the first out of London trip this year.
Cambridge is only less than an hour from London. We took 9.12 train from Euston and arrived exactly at 10am at Cambridge station. The first impression told that this city is a quiet one.
The first stop was the Eagle pub. It is the place where Watson and Crick for the first time published and discussed their finding about double helix DNA.
Not far from the pub, there is the iconic place from the famous university. King’s College is the most famous college among 31 colleges in Cambridge university. The entrance ticket for two adults cost £18. The college was huge, quiet, and tranquil. Inside the college there’s Kings College Chapel. On the way out, we passed the river where visitors can go punting at certain price. Going around the college by the boat with a guide who rows the boat. We passed the punting.
We continued walking to the Cambridge Market. Unlike Oxford, the market is only an open market and the tenants are not that interesting. Nothing special about the market. We also had lunch there before heading to city centre.
The city centre is pretty lovely. The small alleys are really charming. It has the ambience like an old town. Along the way, we met climate change parade like one we saw in Oxford street in October. We just kept walking around, passed St John College and the famous Newton Apple tree.
We stopped by at few shops that drew our interest like the flagship store of Cambridge Satchel Company, the famous bags made in UK bag from Cambridge (this one was once a trend few years ago in Jakarta), Ryder and Amies, the 120 years university store in Cambridge, and Children at Heffers, a hidden book store which we coincidentally passed, which has great collections. If I were tourist who would comeback to my own home where my own mini library were there, I would definitely bought all those my favorite children books series!
As we only had seven hours in Cambridge, we didn’t enter any other colleges. Instead we went straight to our last destination which was Cambridge Central Mosque. We did zuhur-asr prayer and waited for maghrib there.
Cambridge central mosque is beautiful. Located in Mill Road, the mosque is one of the best that we have ever visited. It’s huge, bright, and well designed. The ablution room is so large and sparkling clean. Even the toilet has the mini shower which is very rare in this country. More, the abaya for prayer is also available! I was greatly impressed.
We did maghrib prayer in jamaat and it had been a long time since I heard a proper adzan. How I miss it a lot. From the mosque, we took a walk to the station. It wasn’t that close, but waiting for the bus was longer. It was just 4.30 pm but it was dark already, but the area was quite safe for walking.
After having three one day trips to the most visited places in UK, I could do some description about these cities.
Bath has an old people ambiance. Tea shop are everywhere. It’s just like visiting an old English lady who loves afternoon tea and enjoys scones and bun.
Oxford is the stylish, popular, out-going guy. The lively vibe, the crowd. It suits an extrovert personality.
While Cambridge is the opposite of Oxford. It’s quiet, tranquil, and obviously fit the description of a nerd introvert guy, which is totally my type😃.
Seven hours spent in Cambridge was a good start before heading to the new spring term tomorrow, resuming work next week and the exam at the end of the month.













Shall we aim this place for your future school perhaps?
Tahun Baru, Lagu Lama
Hari pertama di tahun yang baru dibuka dengan berita banjir di Jakarta. Daerah rumah di Jakarta sudah sekitar 7 tahun ke belakang absen banjir. Dulu tiap siklus 5 tahun salah satu perumahan yang paling parah dan sering masuk tv. Udah pernah ngerasain di evakuasi pake perahu karet dari atap rumah di tahun 2007 kalo ngga salah.
Dapat kabar kalo kemarin perumahan kembali banjir, mobil sempat kemasukan air, dan beberapa rumah tetangga yang rendah, airnya sampai masuk ke rumah. Bahkan beberapa area yang dulunya bebas banjir kemarin jadi banjir, lebih buruknya ada korban jiwa.
Selain simpati, sedih, terus terang lebih banyak putus asa dan apatisnya.
Setelah mengira kita sudah maju cukup jauh, ternyata kembali ke titik yang sama. Salah satu hubungan tersulit adalah hubungan dengan negara dan kota tempat saya tinggal. Sulit sekali bisa bener-bener sayang. Saya percaya banyak orang baik, tapi kenyataannya orang-orang yang punya kesempatan, tanggung jawab lebih dan kekuatan signifikan untuk membangun, memperbaiki negara dan ibukota ini, pernah ngga sih benar-benar punya itikad itu?
Pernyataan kaya gini ngga perlu dipelintir jadi mulai aja dari diri sendiri, jangan semua mengharap pemerintah. Bukan itu poinnya. Sudah tugas pemerintah sebagai yang punya kuasa dan sumber daya untuk melakukan, membangun hal-hal yang sifatnya untuk kepentingan bersama. Tipikal sekali kalau negara/kota kita itu setiap ada bencana tindakannya selalu hanya kuratif. Tapi jaraaaaaanggg sekali yang preventif.
Waktu bencana terjadi semua sibuk turun tangan kasih bantuan. Buat yang swadaya dari masyarakat, perlu dikasih apresiasi. Tapi, yang dari pemerintah, kecuali yang berwenang sudah melakukan semua cara dengan kekuasaan dan kekuatan yang mereka punya untuk mencegah atau paling tidak meminimalisir kerugian yang ditimbulkan dari bencana, bantuan pada saat bencana itu omong kosong.
Setelah bencananya selesai, lupa lagi. Ngga pernah benar-benar dipikirkan harus apa sih supaya ngga terulang. Orang pinterya banyak tapi ngga ada yang benar-benar peduli. Ngga ngerti saya apa yang dipikirin. Sudah jelas ada siklusnya kapan curah hujan paling tinggi terjadi tiap tahun, sudah ada historinya kejadian di tahun 1997, 2002, 2007, Jakarta berubah jadi lautan. Kok bisa masih take it for granted juga? Gemes sampe pengen nangis saking frustasinya.
Pas bencana terjadi semua bantuan didatangkan. Tapi setelah bencana, keberlanjutan hidup harus dipikirkan sendiri lagi. Saya merasa kita ini punya negara auto pilot. Hampir semua harus diusahakan sendiri. Secara individu yang tangguh banyak, tapi secara karakter bangsa keseluruhan, jauh. Kebijakan yang berubah-ubah dalam segala hal, satu hal baik dari yang sebelumnya jarang sekali diteruskan dan lebih pilih jalankan yang baru atau malah ngga ada yang dikerjakan.
Sampai saya percaya, bahwa kemungkinan sampai seratus tahun ke depan, kita ngga akan pernah bisa maju.
Ini bukan hanya berlaku di soal banjir. Tapi di banyak hal seperti di pendidikan, kesehatan, dan fasilitas publik lain yang seharusnya sudah sewajarnya disediakan oleh negara untuk warganya. Tiga bulan di London, saya baca banyak sekali buku yang buat saya iri sekali dengan penulis-penulis yang cerita tentang keadaan negara yang ada di buku itu. Saya pengen sekali nulis dan bahas beberapa buku yang bikin saya iri ini. Nanti mungkin.
Saya inget pernah nulis ini waktu Indonesia ultah ke 73 kalo ngga salah,
Loving you is not easy.
Leaving you is not a choice.
Giving up on you would never be an option.
Happy birthday, Indonesia.
Please, grow up.
Mungkin ngga ya bisa terkabul, suatu saat entah kapan?
Back to Liverpool
The last weekend playground of the year spent in a city where the doctor heart has always been longing the most.
Liverpool was set once the annual leave approved and a home hospitality ticket was available for some quite pricey number. Yet, the chance to be able to watch the Reds in Anfield might not come twice, so secured it was better than regret. Alhamdulillah the ability to pay for it was also granted.
We once had been in Liverpool in 2017 but only for day trip doing the stadium tour. It’s beyond imagination that going back here to watch a live match granted two years later. I am not a fan at all, and I didnt watch the match with him too (I am not insane). But, since I knew the doctor from day one, his love for Liverpool is somewhat beyond a mere fan. So, it’s a pleasure to witness something that means so much for him.
We also stopped by Albert Dock, Museum of Liverpool, and the iconic statues of The Beatles for the first day itinerary. The second day agenda was going to The Beatles museum and Liverpool mosque.
The Beatles Story is one of paid museums that worths the pound spent, for us. The audio guide, the interior, the feel, they all make good combinations for an enjoyable visit. Ticket price is £17 for adult and £10. Langit is borderline and most of the time, some kind British staffs don’t count her so we often only pay for two adults.
For such big city, when you type Liverpool Central Mosque in search engine, you will only find one mosque called Al Rahma Mosque. I am not sure whether this one central or not, but the mosque located in a quiet residential area and quite far from city centre. Central mosque in one city is usually identic with halal food around. London, Oxford, Seoul, Tokyo, Bath, all located quite central surrounded by halal food restaurant. But in Liverpool, there is none.
In my opinion, Liverpool is more lively than Manchester. The city centre and the town are more charming. Although compared to London, the people are less friendly. Listening to the doctor’s explanation about Liverpool history, it is understandable that the people smile less than Londoners.
Another thing, I can safely say, the local seems really love their city. A taxi driver asked us where we came from and when he heard the answer that we live in London, he said something about pitying us and he started telling us about how good life in Liverpool is. Instead of annoyed, I found it so heart-warming listening to his story about places and felt the big love and pride he has for his hometown.
He gave us his number, told us to give him a call when we come back and he promised to give us a tour to the places less traveled by tourist in this city.
Then, there could be the third time, maybe?
I dont mind.




















Midnight Rant
Woke up an hour before midnight, finished the cold spaghetti in the kitchen and one full circle of donut, without second thought. Brave woman, I know.
There’s always something about December that makes you want to reflect back about what life has brought to you for the whole year. Time when you can either feel everything runs too fast or such a great year it has been.
Everything related to raising Langit, it seems running too fast. I love rewatching her old pictures and videos and couldn’t help having that sudden anxiety feeling that she has grown up a lot. I have very little regret in raising her the way I do, at least until now. For the first time in five years of motherhood, this year might be the best report card I have ever received in this jungle.
To say such statement from my own point of view sounds so subjective, right? How can you measure such statement? What evidence to support such thing?
Among many other things I am clueless and incapable about, one thing that I know for sure is I want to give all my effort, time, and energy to raise my child by my own hand. Although I am lack in many things, but at least I am her mother. The least role model she could get and see at home are only from me and her father. Up until five years, she lives by the examples of her parents. Not strangers.
Saying I have received the best report card this year because some things I have seen in her daily life that seems to be already being part of her. Nothing like prizes, measurable achievements like winning a race or anything.
They are some intangible things like the way she apologizes when she feels doing something wrong, taking care and dealing with her own school stuff in the morning and knowing that we have to be hurry or we can be late, the way she tries to make the bed before going to school, sleeping by 8 pm every day without exception, go pee and brush her teeth by herself before sleeping, offer herself to wash her own lunch boxes.
The way she is coping up with the long hours of school five days a week, scootering to school in unfriendly weather happily, the way she loves reading and writing, keep practising often on her own, the way she hold herself from something that she is not allowed to, like eating chips other than weekend and always ask permission when she wants to do that, the way she always says thank you to the bus driver after getting off from the bus, the way she deals with a long day trip by scootering in freezing weather, which surely was totally uncomfortable, the way she eats properly with any kind of food served on her plate. We had Thai food for lunch and Libanais for the dinner on our Oxford trip, and she did them all without any signs of dislike. Raising a non-picky eater is one of my motherhood highlight so far.
It seems like a long list of small unimportant things right? But, it matters a lot for me because those are things that I consider important and want my child to master in her early age. Small things that mean a lot for the future years to come.
I believe we could never master big things when we never be able to accomplish the small ones. It’s the small habits in daily life that become our character. It’s those things you get from home since the very beginning. Things that can only be nurtured by the primary caregiver on early years of life at home. You can pay others to teach reading, writing, counting or any other skills by having twice a week lesson. But, no amount of money could do and any places to be to plant and grow such small habits other than at home.
Like the content in my bussiness development subject, to produce the product that you desire to have and to be, it’s strongly suggested that you go through all the process on your own. You decide the raw materials, the tools needed, the way to make it, and production timeline. Like four POAC steps in management, from planning, organizing, actuating and controlling, it’s you that should be fully in charged. You can outsource some parts, it’s unavoidable, no bussiness can survive alone, but, make sure you follow through the whole process. Even by doing all of that, it doesnt mean your product would be accepted by the market right away. It takes error and trial also a long journey to finally make a succesful product. You can define the characteristics of your own succesful product.
I guess that goes the same in raising a child.