Posted in Places, Travel

A Must Visit in London : Greenwich

Yesterday was the doctor’s day off and suddenly the idea of going to Greenwich came up. After sending Langit to the school, Greenwich market turned out to be only few bus stops away from where we are. What I mean with few means less than 15 bus stops riding.

It was still too early and the market opens at 10am. So we decided to walk around and it was so easy to fall for this borough. It feels like being in a small village although Greenwich is still in zone 2/3. There are National Maritime Museum, Greenwich Park, University of Greenwich and those charming little shops that sell unique things.

Greenwich point zero located inside Greenwich Park. We did some hiking but decided not to buy the ticket. Non-free museum in London is quite pricey for our wallet. Greenwich Market has more charm for the things but not with the food. For this one, Shoreditch still has the best street food market.

I won’t write long and let the pictures do the talk. Although it was cloudy, but the heart was indeed happy.

Posted in Places, Travel

What to Visit in London I

1. The famous detective museum in Baker Street.

Ticket price : £15

2. Harry Potter’s filming site

The entrance of Diagon Alley

Millenium Bridge which destroyed by the Death Eaters
Borough Market, secret passage to Diagon Alley and Leaky Cauldron
Gringotts Wizarding Bank

3. Beatles store at Baker Street

Guess the quote below is so true.

Posted in Thoughts

What’s next?

I didn’t know or maybe I rarely thought, there would be a day when I really have to let go almost all things that have been staying with me for a long time. Even worse, after letting go all those things, I don’t know where to go.

I have been always one with to-do list since I was little. Always come with a day to day schedule or long term plan,it’s all on my head.

Two first paragraphs were written before arrived in London and I just got stuck. Gonna try to finish this in one shot now. Hopefully.

It’s been three weeks since we arrived yet it feels as if it’s been few months. They say time flies when you’re having fun. But, saying that this new life has no fun too is pretty unfair. It’s far from easy yet it’s still survivable. We’re having enough food, money is quite tight, yet still on the level that I could accept, and proper good night sleep. Three basic things are secured. For now.

While the other two have started their own ‘pleasant’ daily routines, it’s still a luxury thing for me. ‘What’s Next’ has been continously questioned for some time before the departure and still no definite answer available. I have several things in mind, but none seem to be fitted well with the situation.

This week was the first week of Langit’s school days. School pick up and delivery become one of the new routines to be dealt with. She got into reception class, one level above nursery just before primary, just like kindergarten. The long school hours, from 9.00 am -15.30 pm also left me with long hours of leisure time.

The only daily routines available for now are doing houseworks, groceries and still playing tourists in between. Houseworks were still manageable. Tried to finish everything before sending Langit to school. Six hours of leisure time is too precious to be used for doing mere houseworks.

Grocery time has been always my favorite. Finally found the place which offered the most pleasant price for the wallet after comparing several stores.

Playing tourist is too unavoidable. London has a lot to be explored and I don’t even do much. I set one day in a week for me playing, just like today. Been planning to visit Harry Potter’s Diagon Alley since it’s only a bus riding from Langit’s school. It was raining but, it was very nice to be among the crowd where I didn’t feel like a stranger. Haha.

Professional work has still need to be working on. Found something yet it’s still on discussion. But, at least having something to be looked forward to feels soothing.

Maybe the answer from the question above is not meant to be discovered instantly. Just like many whys that I have been continously asking to the One who decides all affairs, the answer of my questions usually take a long time until they arrive at the right time. Never too soon, never too late.

Our moving to London is one of the answers from one of the whys asked long ago.

Posted in Life happens, Places, Travel

(Ngga) Enaknya Pindah ke London Bagian II

Sehari setelah sampe London, kami langsung ambil BRP di kantor pos yang sudah ditentukan. BRP ini seperti kartu identitas sementara. Jadi, paspor aja ngga cukup buat yang akan tinggal lebih dari 30 hari seperti buat belajar atau kerja. Maksimal 10 hr dari tanggal kedatangan di UK, sudah harus ambil BRP.

Sampe kantor pos di Great Portland street, punya saya dan Pak dokter bisa diambil tanpa masalah tapi tidak dengan punya Langit. Alesannya karena di paspor utama ngga disebutin nama Langit sebagai anak, yang mana dia ngga bisa ambil sendiri dan harus ada wali karena dia masih di bawah 18 tahun. Jadi kami harus kirim email lagi ke Home Office UK supaya bisa ambil BRP Langit.

Hal yang bikin elus dada, beberapa hari setelahnya, kami baru liat dengan jelas, kalo yang nunjukin Langit adalah anak dari paspor utama itu adanya di Paspor Langit, bukan paspor papanya. Bahkan di paspor saya pun ada tertulis kalo saya dependant paspor utama. Sedangkan, waktu di kantor pos itu, yang sibuk dicek adalah paspor Pak Dokter.

See, bener kan, adaaa aja.

Akhirnya email dibales dan BRP Langit bisa diambil di tanggal yang ditentukan.

Lebih lucunya lagi, waktu ambil BRP Langit yang kedua setelah kami terima surat dari Home Office, petugas yang melayani kami bilang kalo kita ngga perlu surat kaya gitu. Nama papanya pasti jelas ada di paspor yang tertanggung. Petugasnya (yang sebelumnya) harusnya udah tau.

Emang kayanya prinsip hidup kami kalo bisa susah, kenapa harus mudah.

Hal kedua yang mendesak adalah rumah. Hari kami sampe, langsung hubungin puluhan rumah yang sudah disimpen di aplikasi Zoopla dan Rightmove buat bikin janji viewing. Ngga seperti kalo liburan tinggal pesen airbnb atau hotel, sewa rumah kita harus viewing. Bisa diwakilkan. Tapi karena kita ngga ada siapa2, jadi dikerjain sendiri.

Dibayangan saya karena segitu banyaknya rumah yang kami tandain dan hubungin, paling ngga akan lihat beberapa pilihan rumah. Ternyata saya salah. Dari sekian banyak, yang nghubungin balik itu, bukan cuma sedikit. Tapi hampir ngga ada, kalo dibandingin sama banyaknya rekues yang dikirim.

Saya hanya pesan airbnb buat 7 hari karena pikir akan pindah rumah sesegera mungkin. Tujuh hari aja udah mahal bener kan.

Kami akhirnya dapet janji viewing di satu rumah yang pada kenyataannya sangat ngga nyaman. Dari semua hal. Agak lesu sebenernya. Dari segi jarak ke rs dan transport cukup oke. Tapi rumahnya ngga oke.

Rekues viewing terus dikirim dan besoknya ada 2 janji dibuat yang mana jaraknya dari ujung ke ujung. Airbnb kami di utata, viewing jam 4 di selatan, yang mana perlu 4x ganti transport umum. Viewing jam 5 di north lagi tapi yang lebih jauh.

Viewing rumah yang di South cukup oke. Kondisi rumahnya bagus, lengkap, lingkungan bagus, kurangnya di lantai 3 tanpa lift. Ngebayangin akan gotong koper ke lantai 3 udah lesu duluan.

Saya selalu nerapin dua filter utama selain harga tentunya, kalo cari airbnb : entire place dan elevator. Makanya airbnb yang saya pilih kebanyakan ngga di pusat kota. Karena udahlah mau murah, trus mau yang ada lift. Itu jarang banget. Jadi, waktu pesen airbnb yang kami sewa sekarang ini, cuma ada 1 pilihan rumah dengan filter yang saya cari. Harga masih 60 dolaran semalem dan punya lift, akses bis dan tube ada dengan jarak yang memadai, ngga masalah ke pusat kota agak lama.

Selesai viewing, langsung buru-buru buat ke tempat viewing kedua. Tiba-tiba plot twist menyerang lagi. Di kereta saya baca lagi dengan seksama deskripsi rumahnya, dan ternyata itu ditawarkan unfurnished.

Langsung melorot jantungnya.

Janji ngga mungkin dibatalin. Jadi kita tetep datengin biarpun ya kaya liat harepan kosong aja.

Jadi, sebenernya yang tersisa adalah cuma 1 pilihan yang mana seperti ngga ada pilihan. Terpaksa pilih yang itu.

Agen satu rumah itu juga langsung hubungin kami dan minta data buat diajuin ke yang punya rumah. Jadi, di sini bukan kaya waktu kami sewa apartemen di Jakarta yang liat, suka, bisa langsung bayar sewa via agen. Di sini pemiliknya juga harus setuju dulu dengan profil kita. Jadi biarpun kita udah suka, pemiliknya ngga setuju ya ngga jadi.

Alhamdulillah ngga nunggu lama pemiliknya juga setuju. Saya pikir udah kan, alhamdulillah bisa pindah sebelum sewa airbnb selesai.

Hoho, seperti biasa, tidak semudah itu.

Jalan masih panjang. Jadi, setelah kedua belah pihak setuju, akan ada proses seperti validasi kontrak yang mana kita perlu memberikan data lengkap, pekerjaan, surat kontrak kerja, dan dokumen-dokumen pendukung lain. Sementara ini diproses, kami sudah harus bayar guarantee fee sebesar harga sewa 1 minggu. Dengan dibayarnya fee ini, iklannya ditarik dari peredaran.

Satu hal yang harus diterima dengan lapang dada adalah kami terpaksa harus extend airbnb karena jadwal kepindahan itu paling cepet dua hari setelah sewa airbnb kami selesai. Jadi, saya kirim pesan ke host dan minta perpanjangan dua hari. Perpanjangan sewa artinya makin banyak (uang) yang harus dikeluarkan.

Mungkin kata ini saya udah tulis berulang-ulang, tapi sekali lagi, Alhamdulillah sekali ditunjukin tempat ini buat sewa airbnb. Setelah kami, dia ngga punya penyewa baru sampe beberapa bulan ke depan. Ngga kebayang kalo di hari kita cek out, udah ada yang baru. Musti cari tempat baru dengan semua bawaan koper ini.

Kami hanya extend 2 hari di Airbnb karena dari agent bilang secepet-cepetnya kami bisa pindah hari Kamis. Di hari Selasa, masih kesana kemari untuk registrasi dan buka akun bank.

Sulitnya, untuk registrasi penuh di tempat kerja dan finalisasi kontrak rumah, perlu akun bank, sedangkan untuk akun bank pun perlu dua lainnya. Buka akun bank ngga bisa langsung buka kaya di Indonesia. Harus dengan perjanjian. Jadi kita dateng ke cabang yang di Euston tapi perjanjiannya yang di High Holborn. Tercepat yang ada slotnya.

Setelah urusan bank selesai, balik lagi ke kantor rekrutmen. Buat registrasi penuh, hanya tinggal serahin surat pembukaan bank. Pak Dokter naik sendiri ke atas sementara saya nunggu di bawah. Ngga berapa lama turun lagi dan bilang kalo suratnya ditolak.

Istighfar ngga berenti saking frustasinya.

Petugas rekrutmennya bilang mereka perlu surat yang ada account statement atau balance. Agak absurd juga mengingat orang juga baru bener-bener buka. What balance? Tapi mereka tetep ga mau terima. Waktu itu udah jam 3, langsung lari lagi ke cabang terdekat, minta tolong print apa yang diminta.

Orang banknya agak bingung karena biasanya surat yang kita punya pun udah cukup banget. Sampe kita telpon langsung petugas rekrutmennya supaya bicara jelas sama petugas bank apa yang mereka perlu.

Alhamdulillah 15 menit selesai semua dan langsung naik bis balik ke kantor rekrutmen buat kejar sebelum mereka tutup jam 4.

Waktu di bis, ada dua email masuk. Satu dari Dr Wilson yang wawancara dari awal nanya apa ada kesulitan dalam prosesnya karena mungkin dapet laporan dari koordinator jadwalnya kalo Pak Dokter belum bisa mulai shift juga.

Email kedua dari agen rumah yang lagi-lagi bikin jantungan. Dia bilang bahwa surat kontrak kerja yang kita submit kurang dari setahun, ngga sesuai sama ketentuan sewa rumah. Jadi memang seharusnya mulai kerja awal Agustus, tapi karena masalah surat sponsor dan pengurusan visa, jadi mundur. Baru bisa mulai September. Agen rumahnya minta bisa ngga ada surat baru yang cantumin periode setahun di dalam waktu sewa rumah.

Bener kan motto hidup yang di atas. Adaa aja.

Tapi, motto hidup yang di atas itu ada frase lanjutan. Memang kalo bisa susah, kenapa mudah. Tapi, selalu juga dikasih jalan keluarnya. Pas banget agen rumah email ketika Dr Wilson email. Padahal sebelumnya sama sekali ngga pernah lagi.

Waktu itu langsung bales email Dr Wilson nanya mungkin ngga dia buatin surat yang diminta sebelum jadwal hari kita pindah. Tanpa lama, suratnya langsung dibikinin dan dikirim hari itu juga.

Fiuh.

Hari Rabu dihabiskan dengan beberapa keperluan sambil nunggu kabar dari agen rumah. Setelah surat yang diminta kita submit, masih harus nunggu kabar dari lembaga sew rumah buat finalisasi surat kontrak. Sampe jam 3 sore belom ada kabar. Betul-betul ngga sehat buat jantung. Serba salah mau apa. Beres-beres belum jelas. Mau extend airbnb juga bikin lemes.

Karena tetep ngga ada telpon atau email masuk, kita telpon agen rumahnya jam 16.30. Ternyata kontraknya baru selesai dan dia baru akan email. Alhamdulillah akhirnya jelas juga kalo bisa pindah besok.

Kami pindah menggunakan jasa removal karena biarpun ngga ada furniture, tapi koper-koper raksasa dan berat ini ngga mungkin dibawa pake uber. Setelah nyari beberapa dan dapet harga yang agak kurang masuk akal, Alhamdulillah dapet satu removal servis pribadi yang harganya masih masuk akal dan masuk dompet.

Satu hal lagi yang buat bersyukur milih Airbnb ini, kita bisa cek out sesuai yang kita bisa karena ngga ada tamu lain sesudahnya. Jadi kita leluasa beres-beres dan sempet pergi dulu paginya lalu cek out jam 2.30.

Semua saya pastikan rapi dan pamit ke yang punya dan orang yang bantu cek-in. Alhamdulillah ga ada masalah selama kita tinggal. Di akhir WA, Mina bales WA saya bilang : “thank you for leaving everything tidy”.

Jam 2.15 proses nurunin koper dimulai dan jam 2.30 van berangkat sedangkan kami naik uber. Sampe rumah PR lain sudah menunggu karena rumah yang sekarang ada di lantai 3 tanpa lift.

Dengan dibantu orang dari removal servis, Pak Dokter berhasil naikin semua koper dengan selamat. Saya waktu itu berurusan sama orang dari Key Inventory. Tapi, tugas saya juga ngga kalah berat meskipun ngga pake keringetan : bongkar semua koper dan taro semua isinya di tempat masing-masing. Udah cukup (lelah) liat koper bertebaran.

Setelah 10 hari dalam mode turis tanpa itinerary ke atraksi wisata, Akhirnya kami pulang juga ke ‘rumah’.

Alhamdulillah.

Posted in Life happens, Places, Thoughts, Travel

(Ngga) Enaknya Pindah ke London Bagian I

Hampir semua orang yang dipamitin dan bilang kalo kita akan pindah ke London, pasti bereaksi antara kaget dan excited. Cukup wajar kalo inget London memang terdengar menyenangkan dan keren (mungkin). Saya juga setengah excited awalnya, sisanya galau😀.

Proses pindah ini makan waktu hampir setahun. Ngga akan jabarin detil prosesnya, tapi mungkin gambaran besar tentang hal-hal yang dilalui (dan bikin sakit kepala) sebelum pindahan dan setelah berada di sini.

Seperti pengurusan visanya yang juga sama ribetnya, jauh sebelum visa, kami melewati banyak sekali tahapan yang kalo dipikir sekarang, subhanallah semua bener-bener emang dilewatin satu-satu.

Semuanya berawal dari pertama kali email Dr Wilson masuk akhir tahun lalu, setelah semua email penolakan atau tanpa respon dari berbagai universitas. Berlanjut ke awal Januari, Pak Dokter dapet jadwal interview via Whatsapp video call waktu masih di Tanah Bumbu. Ngga lama abis interview, satu email langsung masuk yang bilang kalo dia ditawarin posisi fellowship tersebut.

Agak tercengang juga waktu itu. Peta hidup langsung berubah dalam semalem karena satu wawancara sejam.

Hal yang bikin lebih ngga percaya lagi,setelah kirim dan coba kesana kemari, di berbagai universitas yang ngga terlalu familiar tapi punya program yang dimau, pada akhirnya kita diarahkan ke tempat yang begitu familiar di universitas yang ngga asing.

Tahun 2017 ke London buat nengok adik saya yang kuliah di UCL, tahun ini balik ke kota yang sama, buat kerja di universitas yang sama.

Setelah surat resmi keluar dan menyatakan kalo Pak Dokter ditawarkan posisi tersebut dengan gaji sekian mulai bulan Agustus tahun ini, dimulai lah semua proses panjang yang harus dipenuhi buat syarat layak kerja di Inggris.

Saya ngga tau dengan orang lain, tapi saya selalu punya pattern hidup yang sama dari dulu buat semua hal. Yang mana entah gimana kebawa juga sampe nikah. Atau mungkin Pak Dokter pun kayanya punya pattern yang sama, jadinya combo, yaitu, kami ngga pernah berhasil dalam hal apapun pada percobaan pertama, ngga peduli udah usaha kaya apa. Seperti kita selalu disuruh mikir lagi cara supaya bisa sampe ke tujuan.

Kabar baiknya, alhamdulillah setelah semua yang dilewatin, kita hampir selalu disampaikan ke tujuan.

Hal pertama yang harus dipenuhi adalah punya sertifikat kemampuan bahasa Inggris. Sebelum apply, Pak Dokter baru aja selesai tes IELTS yang skor totalnya telah memenuhi syarat. Tapi, pas udah mulai proses aplikasi, ternyata angka setinggi itu ngga bisa dipakai. Karena apa? Karena ada satu bagian yang angkanya kurang dari standar.

Jadi, buat kerja ini, IELTS minimal 7 dan setiap bagian dari 4 bagian yang ada juga TIDAK BOLEH kurang dari 7. Jadi, hasil IELTS sebelummya terpaksa disimpen lagi.

Pilihannya adalah ngulang IELTS atau ikut tes lain bernama OET (Occupational English Test). Ini adalah tes kemampuan bahasa Inggris buat kerja. Jadi akan ada sesuai bidang pekerjaan. Kabar baiknya, tes ini lebih gampang dari IELTS. Skor yang diminta minimal B. Lebih mudah ambil ini dibanding ulang IELTS. Harga jelas lebih mahal. Kalo IELTs sekitar $200, OET sekitar dua setengah kalinya.

Kabar kurang enaknya, tes ini HANYA ada di Medan. Iya, cuma di Medan dan tidak setiap minggu kaya IELTS. Jadi, dari tanggal wawancara, hanya ada sebulan buat belajar, dan atur jadwal cuti dari Tanah Bumbu.

Di hari tesnya, ternyata cuma satu orang yang ikut. Rejekinya lagi, dapet penguji yang baik. Liat Pak Dokter kurang dimana waktu IELTS, dia berbaik hati jadi sparring partner dan nyemangatin dengan kasih tips buat naikin skor. Pak Dokter kurang skor di speaking. Jadi itu yang didrill terus.

Tidak seperti IELTS, hasil OET hanya bisa dilihat online. Nantinya employer pun hanya kita kasih nomer peserta Mereka yang akan cek hasilnya sendiri.

Alhamdulillah hasilnya bisa sesuai target. Satu hal berhasil dilewati.

Proses-proses selanjutnya saya kurang hafal urutannya. Saya akan coba tulis yang bisa diinget tanpa berurutan.

Kalo ngga salah ada beberapa proses yang berjalan paralel. Untuk hal ini, karena akan bekerja di bidang kedokteran, maka yang diperlukan adalah surat sponsor dari General Medical Council (GMC) UK. Lalu, karena bagiannya adalah Anastesi, sebelum naik ke GMC, harus ada approval dari Royal College of Anasthesia.

Untuk dapet approval itu, Pak Dokter harus kirim semua ijazah dan dokumen-dokumen anastesi yang berkaitan yang semuanya harus dalam bahasa Inggris. Setelah semua dokumen tersebut dikasih, ngga cukup buat mereka. Rekues buku kurikulum dalam bahasa Inggris yang bikin dahi berkerut.

Tapi ya itu, selalu ada kabar baik alhamdulillahnya.

Kami cukup beruntung karena Pak Dokter adalah staf di rumah sakit pendidikan. Jadi, buat minta buku kurikulum, ngga terlalu susah. Tapi, buat translasi ke bahasa Inggris, itu harus dicari sendiri, termasuk bayar sendiri. Pak dokter mutusin akan bayar semua sendiri dulu buat seluruh prosesnya dan akan ajuin proposal ke departemennya ketika seluruh proses selesai dan jelas akan jadi berangkat. Alhamdulillah kita udah ada translator yang reliable dari segi waktu dan kerjaan. Harga cukup fair.

Selama proses dengan RCOA, beberapa proses paralel juga dilakukan seperti cek identitas. Jadi, ada satu badan yang ditunjuk buat identity check ini namanyaa FCMG kalo ngga salah. Jadi prosesnya seperti interview singkat via video call sesuai waktu yang ditentukan dimana kita akan diminta untuk nunjukin identitas seperti paspor. Kalo ngga salah ngga sampe 10 menit. Hasil identity check akan langsung diberikan ke lembaga yang minta. Jadi bukan ke kita. Bayar ngga ini? Tentunya.

Ada beberapa proses juga di RCOA yang mengharuskan kita bayar beberapa hal yang semuanya dalam kurs dollar. Saya ngga inget apa aja dan ngga berniat jabarin teknisnya di sini juga. Yang jelas sampai akhirnya surat layak kerja sebagai anastesi di UK dikeluarkan oleh RCOA, perlu waktu dari Januari-Juni.

Di bulan Juni, prosesnya sudah pindah ke GMC buat mengeluarkan surat sponsorship yang diperlukan buat urus visa. Kalo liat apa yang udah dikerjakan selama 6 bulan, kirain yang ini bisa lebih cepet karena ya apalagi. Semua sudah dipenuhi.

Seperti biasa, mottonya adalah, kalo gampang, berarti ada yang salah. Kaya besarin anak aja.

Diperlukan waktu 2 bulan sampai akhirnya surat sakti itu terbit. Adaaa aja hal-hal yang sebenernya sepele banget tapi tetep menghambat proses. Sesimpel adaa satu kolom yang isinya ngga sesuai prosedur dan minta diperbaiki. Kenapa sampe 2 bulan? Orang yang berwenang kepotong cuti, orang yang biasa diminta tolong juga cuti, ada aja lah pokoknya.

Setelah surat sakti akhirnya keluar hari Senin, tanggal 6 Agustus, pas saya lagi cek email di laptop jam 5 sore, itu seperti titik dimana akhirnya saya bisa yakin kalo kami memang betul-betul akan pindah.

Ada beberapa level ship dalam kedokteran : observership dan fellowship. Kalo observership sudah cukup umum dan prosesnya juga ngga seribet ini. Jangka waktunya pun hanya sekitar 3 bulan dan kegiatan yang dilakukan hanya observe, tidak pegang pasien atau praktek, dan tidak dibayar, justru harus bayar. Jadi seperti ikut short course aja. Bisa dianggep kaya jalan-jalan selama 3 bulan juga. Sedangkan buat fellowship ini statusnya adalah pekerja. Persis seperti praktek di RS Indonesia. Ada jadwal jaganya, ada gajinya, ada bayar pajaknya dsb. Jadi, buat dapet fellowship ini juga lebih sulit karena prosesnya panjang dan berlapis-lapis.

——————————————–

Hari-hari setelah visa dikabulkan terasa cepet banget. Non-stop packing sampe tengah malem berhari-hari. Hal yang nambah kerjaan adalah kami packing bukan cuma buat pindah ke London tapi juga pindahin barang-barang yang ngga dibawa dari apartemen ke rumah ayah saya. Berhari-hari nyicil bawa barang, gotong lemari sendiri dan masih banyak lagi. Apartemen udah kaya gudang sampah besar.

Kita baru bener-bener keluar apartemen di hari keberangkatan. Berangkat tengah malem, keluar dari apartemen kosong abis asar. Sambil nunggu keberangkatan, masih ada final packing yang paling ngga menyenangkan. Kami juga beli timbangan digital buat cek berat koper yang ternyata sangat overweight jauh dari jatah yang dipunya.

Terpaksa bongkar lagi.

Keluarin yang bisa dikeluarin.

Sampe azan isya masih belom berenti packing. Akhirnya jam 8 nyerah dan mutusin buat bawa aja dulu.

Sampe bandara, counter check in Qatar lumayan penuh. Biarpun yang udah web check in pun penuh. Sampe giliran kita, ditimbang di counter lebihnya sampe 30kg.

Lemes. Padahal di rumah nimbang lebihnya juga segitu dan udah ngeluarin banyak banget. Ngga mungkin kami bayar 30kg, akhirnya di bandara, buka lagi hampir semua koper kecuali satu yang udah masuk duluan.

Boarding jam 23.40, masih bongkar koper sampe jam 23.10. Alhamdulillah sekali kita dianter sama keluarga Pak Dokter dan adik saya. Ngga kebayang kalo ngga dianterin mau diapain barang-barang yang dikeluarin☹.

Akhirnya kami cek in dan berakhir dengan overbaggage 13kg.

Waktu boarding tinggal 20 menit, sudah lelah dan ngantuk.

Saya masuk ke imigrasi dan ruang boarding setengah sedih dan lega.

Semoga semua yang sudah dikeluarkan akan kembali bawa banyak keberkahan.

Posted in Life happens, Places, Travel

Hello (again) from London

It’s been four days since we set the foot in this gloomy and windy city. Four days spent by taking care major things here and there.

Been searching for permanent home and never imagined it would be this hard. Plenty available, contact several, yet, very few returned the call for viewing. In the end, we ended up with almost zero choices. We even extend our stay at the airbnb since the process took some time. Luckily the house didn’t have next booking yet. Unless, we really had no idea where we should stay and move with all these luggages.

It still feels like a tourist mode these days. Breakfast at home, lunch outside and dinner at home. Visited places were mostly for the doctor’s registration, but it’s nice enough visiting some places I haven’t seen during my previous visit.

England’s weather is still the same as always. Although it’s still considered last summer, but it’s been cold, windy, and rainy. I couldn’t imagine how this old body would survive colder weather later. Even we didn’t have AC back at home in Jakarta.

Hopefully, things will get better by next week. What I mean by get better is we could start having a normal life, keep these luggages out of sight, more clear daily routine and stop playing tourist.

Some pictures from the neighbourhood we lived in and eye candies from the city central.

Finsbury Park
Finsbury Park Playground
Arsenal Store
Sunset from the window
Accidentally meet this spot
Euston Road sunbathing spot while waiting for the doctor
Posted in Travel, Visa

(Frustasinya) Mengurus Visa UK Tier 5 Government Exchange (PBS Partner+Child)

Sepertinya Inggris punya jodoh yang panjang dengan kami. Terutama London. Saya, setelah pertama kali ke sana tahun 1994 selama tiga hari, kembali tahun 2017 selama seminggu, tahun ini dikasih rejeki lagi untuk kembali. Kali ini selama setahun.

Pak Dokter yang dua tahun lalu ke London buat nengok adik saya yang lagi S2 di sana, tahun ini dapet rezeki buat kembali ke London dan bekerja di rumah sakit universitas yang sama dengan adik saya.

Perjalanan menuju London kali ini agak berbeda. Proses yang panjang, materi yang tidak sedikit, dan sesi menunggu yang terus menerus. Setelah dua tahun lalu Pusing urus visa turis, kali ini London bukan lagi sebagai destinasi wisata, tapi rumah untuk setahun ke depan dan sekarang visa yang harus diurus adalah visa tier 5.

Visa tier 5 bukan visa yang umum buat diurus. Ngga satupun saya ketemu entry tentang ini. UK punya banyak sekali tipe visa. Selain visa turis, ada yang populer juga visa tier 4 buat yang mau sekolah. Ini sudah banyak sekali yang nulis. Visa Tier 5 termasuk ke dalam visa kerja dan ini sendiri punya beberapa kategori. Dalam hal ini, yang kami urus adalah Tier 5 Government Exchange.

Ini adalah visa untuk kerja yang mana sponsornya adalah salah satu lembaga pemerintah Inggris. Berhubung Pak dokter ya dokter, lembaga yang mensponsori adalah General Medical Council. Saya ngga akan menjelaskan proses panjang yang dilewati sampai akhirnya bisa tembus birokrasi Inggris yang subhanallah ribet dan mahalnya, tapi saya cuma akan nulis tentang mengurus visa tier 5 Government Exchange yang ngga kalah ribet, menguji kesabaran dan mahal. Saya ngga tahan buat mengulang kata mahal berkali-kali.

Website pengurusan visa UK sekarang pindah ke visas-immigration.service.gov.uk. Berlaku buat semua jenis visa. Setelah masuk kita bisa ikutin aja sampai nanti ada pilihan jenis visa apa yang akan kita apply.

Visa tier 5 ini tidak bisa diurus dalam satu aplikasi seperti terakhir kali saya mengurus visa turis. Jadi, kami mengurus 3 visa terpisah yang berhubungan, dalam tiga akun yang terpisah :

  1. Pak Dokter mengurus visa tier 5 Government Exchange.
  2. Saya di kategori PBS (point based system) tier 5 Dependant Partner Visa.
  3. Langit PBS tier 5 dependant child visa.

Tiga aplikasi ini kurang lebih sama untuk daftar pertanyaannya. Lebih jelas dan bagus juga tampilan webnya dibanding yang lama. Setelah pertanyaan standar yang berlaku juga buat turis selesai diisi, karena ini visa kerja dan tinggal, kami harus mencantumkan lokasi pengambilan Biometric Residence Permit (BRP).

BRP diambil sesampainya di kota tujuan di kantor pos terdekat. Kita cuma perlu input kode pos tempat tinggal kita selama di sana. Karena belum ada tempat tinggal, kita bisa masukan kodepos penginapan. Nanti akan muncul alamat kantor post terdekat untuk pengambilan BRP ini.

Setelah sesi ini, kita akan langsung diarahkan ke website Immigration Health Surcharge buat bayar asuransi kesehatan. Isi kembali beberapa data standar lalu secara otomatis akan keluar berapa biaya yang harus dibayarkan.

Sebelumny, kami sudah baca perkiraan biaya yang dibayarkan. Tapi, kenyataanya, jumlah yang harus dibayarkan jauuhhhhh LEBIH BESAR dari yang tercantum di guidelines. Punya pak dokter sedikit lebih besar, punya saya dan langit 2x lebih mahal dari pak dokter.

Kami sudah sempat membayar dulu punya Pak Dokter karena berpikir bedanya hanya sedikit dan berasumsi mungkin ada kenaikan. Biarpun hati berat, punya saya pun sudah dibayar, dengan berasumsi ini sekalian Langit. Tapi, ketika masuk ke aplikasi Langit dan ternyata harus bayar jumlah yang sama seperti yang saya bayar, barulah kita berinisiatif untuk kirim email dan menanyakan hal ini.

Update : sampai di sini, kami mengirim email lagi perihal mahalnya asuransi ini. Ditunjukan bukti pembayaran dan bukti ketentuan jumlah yang seharusnya dibayarkan, dan setelah 2 minggu, kelebihan pembayaran kami dikembalikan. Fair ya. Jadi, kalau dirasa memang ada yang ngga sesuai, boleh banget ditanyakan.

Jangan salah, untuk pertanyaan via email ini juga ada biaya. Visa UK ini mengeksploitasi semua hal terkecil. Buat satu email, kami harus membayar lagi £5.48. Bener-bener.

Email dijanjikan akan direspon dalam dua hari kerja. Jika tidak ada respon kita disuruh telpon langsung. Absurd. Tapi, dalam 2 hari sudah dijawab yang mana jawabannya pun ngga terlalu membantu. Jawaban standar CS aja. Pada akhirnya kami tetap harus bayar harga asuransi kesehatan yang muncul otomatis di layar, kalo mau aplikasi visanya dilanjutkan. Kalo ngga, ya udah. Semua prosesnya tidak bisa paralel, harus selesai di satu hal baru lanjut ke step berikutnya.

Selesai dengan asuransi kesehatan, akan diarahkan kembali ke website visa. Kali ini untuk bayar visa itu sendiri. Dikasih dua piihan yang standar atau yang ekspress. Standar selesai diproses dalam 15 hari kerja, ekspress dalam 5 hari kerja dengan biaya dua kali lipatnya. Kami tetap pilih yang standar biarpun secara waktu ketat sekali kalo hitung 15 hari kerja.

Selesai pembayaran, seluruh aplikasi sudah lengkap dan bisa diunduh untuk kemudian dicetak dan dibawa pada saat perjanjian. Tapi, tunggu dulu. Masih ada drama-drama selanjutnya.

Aplikasi visa beres kita diarahkan ke website VFS untuk upload dokumen dan perjanjian. Ada tujuh step yang mana tahap 1-4 masih lancar. Di tahap 4 dijembreng servis-servis yang ditawarkan untuk membuat pengurusan visa lebih menyenangkan dengan membayar sejumlah uang. Kami skip semua. Di tahap 5 ada sesi document upload. Di sini mereka kasih pilihan lagi, bisa upload sendiri gratis atau pakai upload servis berbayar mereka.

Ini pentingnya punya semua dokumen penting yang tersimpan di dalam komputer atau apapun itu. Karena semua dokumen sudah ada, kami jelas pilih upload sendiri. Gampang kan mustinya selama semua tersedia? You wish.

Berkali-kali coba upload semua dokumen dari awal sampai akhir, setelah nunggu lama berakhir dengan Ooops Something Went Wrong. Try again later. Akhirnya setelah dua jam ngga berhasil, nyerah. Lanjut besok pagi lagi. Mungkin lagi penuh juga antriannya.

Sebelum subuh udah kembali duduk di depan laptop dan coba lagi. Masih gagal juga sampai akhirnya pak dokter nemu cara dan berhasil, pas upload di bagian aplikasi saya.

Jadi, pada saat upload dokumen, MASING-MASING HARUS DIUPLOAD SATU PERSATU, bukan sekaligus. Ini berlaku buat visa turis juga. Karena ini sudah di website VFS untuk appointment. Sebelumnya sudah ada yang bilang juga bahwa sekarang dokumen visa UK turis harus diupload di website VFS.

Misal kita upload dokumen bukti finansial, jadi kita upload dulu, kemudian ke bawah untuk centang box ‘I have read bla bla’ lalu klik upload. Tunggu beberapa saat kalo dokumennya berhasil diupload, ada tulisan successfully upload dan di bagian samping akan muncul list dengan nama dokumen tersebut. Ulang proses tersebut untuk dokumen-dokumen selanjutnya sampai semua lengkap.

Setelah semua selesai, bisa pilih continue untuk booking tanggal appointment. Di sini kembali kita dipaksa untuk membayar sesuatu yang seharusnya menurut saya gratis. Slot standard appointment yang gratis sudah penuh sampai 10 hari ke depan dari tanggal saat itu. Slot yang tersisa hanya yang premium lounge, premium servis, atau premium servis di prime time. Ckckckckck. Tobat.

Kecuali uang bukan masalah, sangat disarankan mengurus visa UK, apapun jenisnya sesegera mungkin. Sudah bisa mulai diurus 90 hari dari tanggal keberangkatan.

Kami ngga punya pilihan dan bukan kemauan sendiri juga buat urus mepet-mepet. Karena visa tier 5 ini panjang sekali prosesnya dan perlu nunggu berbagai dokumen dari berbagai institusi yang berhubungan untuk urus visa, belum tiba-tiba ada dokumen yang ngga sesuai dsb, ini sudah yang tercepat yang bisa diusahakan.

Akhirnya pilih tambahan servis paling murah di tanggal tercepat dan waktu paling pagi yang tersedia. Berkali-kali saya rapal doa dalam hati, semoga semuanya berkah. Takut kalo hitung semua yang sudah dikeluarkan dan niat ngga lurus sehingga ngga jadi apa-apa.

Dokumen sudah diupload, tanggal sudah dibooking, tinggal tahap ke tujuh yang terakhir buat bayar. Tapi, kesabaran masih diperlukan ternyata. Berkali-kali teken confirm payment ngga bisa-bisa. Logout dan masuk lagi, diarahkan ke tahap dua dan jalanin lagi sampe tahap tujuh, box confirm paymentnya ngga juga bisa. Betul-betul bikin frustasi.

Switch ke aplikasi pak dokter yang tadinya upload dokumen masih terus ngga bisa, tapi di satu titik tiba-tiba bisa dan berhasil semua diupload, sampai pilih tanggal dan mau bayar, box konfirmasi pembayaran tetep ngga bisa diteken. Entah mau apalagi ini.

Nyerah dengan aplikasi saya dan pak dokter, saya pindah ke aplikasi Langit yang masih dalam tahap bayar asuransi. Kalo kemarin-kemarin masih banyak pertimbangan sama bayar ini itu, di aplikasi Langit ini saya ngga mau berenti selagi masih bisa. Saya semakin belajar kalo yang lebih berharga itu waktu dan kesempatan bukan uang. (Halah).

Selesai bayar asuransi super mahal, balik ke aplikasi buat bayar visa, berhasil, lanjut ke webiste VFS buat upload dokumen, berhasil dalam sekali coba, lanjut ke booking appointment, tanpa ragu bayar yang paling murah, pesen paling pagi di tanggal paling deket, klik konfirmasi pembayaran, BERHASIL, lanjut terus sampai akhirnya bukti pembayaran dikirim ke email dan berakhir pula seluruh rangkaian proses njelimet ini. Aplikasi langit yang tadinya masih jauh dari komplit, tiba-tiba jadi yang pertama selesai semua. Mungkin karena anak kecil belum banyak dosa?

Dalam satu tarikan nafas, tiga kali pembayaran dibuat. Saya yakin limit kartu kredit Pak Dokter akan diberi kenaikan drastis bulan depan .

Keberhasilan di aplikasi Langit buat saya penasaran. Saya coba lagi punya saya, beberapa kali tetap ngga berhasil. Box konfirmasi pembayaran tetap ngga bisa diklik. Saya logout buat seratus kalinya dan pindah ke aplikasi Pak dokter. Waktu di halaman konfirmasi pembayaran, saya coba klik lagi di bagian servis yang diambil. Hal ini akan membawa kita kembali ke tahap kedua. Saya coba ikuti terus tanpa ada penambahan apa-apa seperti semula dan waktu sampe di halaman konfirmasi pembayaran lagi, saya teken boxnya dan akhirnya, keluar lah halaman selanjutnya buat input kartu pembayaran. Sisanya semua berhasil sampai bukti pembayaran diamankan.

Tinggal punya saya yang belum.

Saya coba sekali lagi pakai cara yang sebelumnya tetap ngga berhasil. Kedua kali saya coba cara yang saya pakai di aplikasi Pak Dokter. Saya ngga ngerti ini kebetulan atau gimana, tapi ternyata berhasil juga.

Jadi, kalo waktu konfirmasi pembayaran kotaknya ngga bisa diceklis, coba klik kotak kecil yang dekat daftar servis. Dengan menekan ini, akan dibawa kembali tahap pemilihan servis tambahan. Ikuti terus aja sampai balik ke konfirmasi pembayaran, klik kotaknya. Voila.

Sekian dulu. Bagian kedua akan diadakan setelah aplikasi diserahkan dan visa dikabulkan. Amiin.

Posted in Travel, Visa

(Frustasinya) Menunggu Visa UK Tier 5 Government Exchange (PBS Partner+Child) Bagian II

Lanjut dari bagian pertama

Kalo sebelumnya mengurus. Sekarang bagian keduanya yang sama menyiksa.

Setelah drama aplikasi online yang melelahkan, ternyata masih banyak episode-episode baru dalam mengurus visa kali ini.

Tanggal perjanjian sudah dipesan, ambil yang premium lounge, karena yang slot standar tersedia jauh sekali dari tanggal kita isi aplikasi onlinenya. Saya masih berpendapat ngga perlu ambil servis prioritas dengan menghitung dan asumsi waktunya masih cukup. Dijelaskan di website maksimal waktu proses 15 hari kerja. Saya memakai asumsi, biasanya jarang sekali yang sampai 15 hari kerja, bayangannya kaya visa turis waktu itu. Sekitar 7-8 hari kerja sudah keluar. Sedikit nekat karena kalo hitung 15 hari kerja itu, persis di tanggal kita berangkat. Tapi, bayar lagi sekian belas juta juga ngga terdengar menyenangkan.

Di hari perjanjian, kita masuk ke premium lounge yang ada ruang tersendiri. Tempat duduk di ruang tunggunya pake sofa, ada meja di depannya yang tersedia air mineral botol dan cemilan biskuit dan coklat. Boleh dimakan dan diminum sambil nunggu. Kalo yang standar counternya ada delapan, yang premium hanya dua.

Proses dan waktu tunggunya cukup cepat, tapi, perdebatan setelahnya yang cukup lama. Sementara saya masih bersikeras tetap di visa standar, Pak Dokter bersikeras buat bayar servis prioritas yang menjanjikan visa selesai dalam 5 hari kerja. Pada akhirnya, emang yang paling mahal itu waktu (dan belakangan, ketenangan jiwa). Dibayar juga harga servis prioritas sebelum kami dipanggil untuk biometric. Ruang biometric buat premium lounge ternyata juga terpisah dari yang standar. Jadi ngga perlu keluar dari lounge tersebut.

Setelah semua selesai, pulanglah dengan hati setengah ringan. Berat sebelah karena pada akhirnya visa UK ini benar-benar memeras seluruh energi dan dompet.

Saya pernah bikin rencana dalam hati, begitu visa diproses, akan mulai packing. Dulu mau pergi tujuh hari aja, udah packing dari dua bulan sebelumnya. Ini mau pergi setaun, bukan sekedar jalan-jalan, tapi juga pindah tempat tinggal, kurang dari sebulan sama sekali belum ada yang dikerjain.

Tapi, rencana tinggal rencana. Dulu bisa packing dua bulan sebelumnya karena tau visanya sudah terjamin. Sekarang, mungkin perpaduan dari banyak hal. Visa belum pasti, tau ini bukan sekedar jalan tujuh hari, dan ngga tau kapan tanggal pasti tiket kembali bisa dibeli.

Visa disubmit hari Selasa. Hari Rabu dapat email kalo sudah dalam proses di decision making centre. Hari Kamis dapat email lagi khusus saya kalo ada dokumen yang sudah diupload tapi mungkin mereka ngga bisa buka dan harus dikirim ulang karena mereka ngga bisa bikin keputusan tanpa itu. Langsung saya kirim saat itu juga dengan perasaan lega karena tau ini harga yang dibayar beli servis prioritas.

Harapan saya hari Senin harusnya email yang mengabarkan visa selesai sudah ada. Tapi ternyata ngga ada. Waktu kita submit, petugasnya bilang, kalo ga ada email, 5 hari kerja tetep kesini aja. Biasanya udah ada.

Biarpun agak kurang valid, tapi kami tetap ke VFS dengan berpegang pada omongan petugasnya. Antri cukup lama dan bener aja, ternyata memang belum ada. Setelah minta dicek, petugasnya bilang cuma punya Pak Dokter yang udah ada statusnya, dalam pengiriman. Sedangkan punya saya dan Langit masih tanpa status.

Pulang dengan berat hati.

Besoknya email masuk ngabarin kalo punya Pak Dokter udah bisa diambil. Alhamdulillah dapet. Tapi, setelahnya hari jadi terasa panjang sekali. Tiap notifikasi email muncul, perasaan jadi ngga enak sendiri. Semua jenis email saya unsubscribe.

Kami ke VFS hari Selasa. Rabu punya Pak Dokter diambil. Kamis saya lewatkan dengan uring-uringan sambil beratus-ratus kali ngerefresh email. Jumat pagi berusaha menenangkan diri sambil terus berpikir apa yang buat punya saya dan Langit belum selesai.

Jumat setelah zuhur saya masih berpikir buat nunggu sampai Selasa dan melewatkan weekend dengan bertanya-tanya. Tapi, setelah ngga tahan nunggu, saya mutusin buat dateng dan minta info lebih. Ngga papa ngga ada, tapi harusnya udah lebih jelas sampe mana karena sudah 8 hari kerja.

Dalam perjalanan masih juga terus refresh email sambil terus minta sama yang punya segala urusan. Sampai VFS agak rame dan antrian pengambilan cukup panjang. Di kursi tunggu masih terus refresh email sambil dibacain. Ngebayangin lewatin weekend masih tanpa visa sedangkan waktu brangkat tinggal seminggu lagi, kayanya mau apa-apa serba salah.

Waktu liat di monitor antrian masih 18 nomer lagi, saya coba refresh email sekali lagi (ini padahal pake push mail juga, saking ga sabarnya), dan alhamdulillah, email yang sangat diharapkan AKHIRNYA muncul di inbox.

Baru bisa nafas lega.

Alhamdulillah punya Langit juga ada.

Alhamdulillah lagi dua-duanya sesuai harapan biarpun fotonya jauh sekali dari ekspektasi. Tapi, siapa peduli?

Jadi, sepertinya, kalau untuk visa yang long stay baik untuk kuliah atau kerja, meskipun kita bayar servis prioritas yang bilang 5 hari kerja visa selesai, ekspektasinya harus lebih diturunkan. Karena mungkin pertimbangannya lebih banyak, dokumen juga lebih ribet, dan sebagainya. Mungkin 8-10 hari cukup ideal. Sebenernya kalo dari awal jelas 8-10 hari kerja kaya visa standar, ngga akan jadi uring2an, tapi karena taunya 5 hari plus udah bayar lebih yang jumlahnya juga ngga sedikit, jadi sisa waktu tunggunya jadi tersiksa bener🙁.

Dengan distempelnya visa UK tier 5 ini, satu langkah besar sudah selesai. Tapi, perjalanan masih panjang (dan melelahkan). Semoga semua selalu dimudahkan, diberi kelancaran, dan akhirnya semua yang sudah dilewati dan dikeluarkan bisa bawa banyak keberkahan.

Amin.