Posted in Langit Senja, Maternité

Bedak di Kasur

Hari Minggu lalu, jam lima pagi, tiba-tiba ada suara dari kamar mandi yang buat saya bangun.

Tenang, bukan (cerita) hantu kok.

Suara shower dari kamar mandi agak lama baru berhenti, disusul suara flush toilet. Setelahnya ada suara laci baju dibuka. Nunggu beberapa lama, ngga ada yang dateng ke kamar saya. Tapi ya sudah, karena lagi ngga solat, lanjut tiduran lagi bentar.

Beberapa menit kemudian bangun dan nengok ke kamar sebelah. Liat yang punya kamar udah bangun dan langsung duduk begitu liat saya dengan mata yang awas.

Saya mendekat ke tempat tidurnya dan liat ada pulau yang sudah ditaburi bedak di atasnya,

“Ngompol ya?”

“Iya, ga papa ya,ya, ya?”

Kalo ketauan reaksi pertama pasti ngomel. Ya gimana, orang selalu disuruh pipis dulu sebelum tidur dan anak ini selalu males buat pipis😔

Tapi, liat semua yang sudah dia lakukan sendiri buat mengatasi masalah yang dia buat, rasa pengen ngomel jadi kalah sama bangga (dan kasian).

Dalam keadaan seluruh rumah gelap, dia berusaha lawan rasa takutnya ke kamar mandi, ganti piyama nya dan piyama lama di taro di baskom rendeman. Setelahnya spot basahnya dia taburin bedak kaya yang biasa saya lakukan sebelum dijemur atau diganti spreinya.

Sesuatu yang saya ngga nyangka anak 4 tahun bisa kerjakan sendiri.

Ngga ada yang susah sebenernya, tapi inisiatif dia buat bertanggung jawab untuk merapikan ‘chaos’ yang sudah dia kerjakan, semampunya dia, itu priceless sekali.

Clean up our own mess is something that everyone should do. Literal mess or unliteral one.

Semoga hal kecil ini jadi modal yang baik buat hal-hal yang lebih besar di depan.

Semoga di atas semua kekurangan kecil di atas kertasnya, saya bisa menghargai kelebihan – kelebihan besar yang kasat mata.

Posted in Langit Senja, Maternité, Thoughts

Sekolah Banyak PR

Tumben (lagi) sering nulis.

Iya lagi pengen.

Empat tahun sekolah di bidang orang tua dan ibu, semakin sadar kalo jadi keduanya itu banyak sekali pra syarat yang sebaiknya terpenuhi sebelum ‘daftar’. Ngga bilang harus tapi sebaiknya.

Di sekolah ini, PRnya banyak dan ngga semuanya bisa dikerjakan (sendiri). African proverb yang bilang it takes a village to raise a child benar sekali.

Buat ngerjain semua PR di sekolah ini, akan lebih mudah kalo pra-syarat yang dibutuhkan sudah tersedia. Baik dalam bentuk mental, skill atau materi. Tanpa ada gabungan ketiganya bisa ngga PRnya selesai?

Bisa, dengan standar yang beda-beda. Tapi, seperti di sekolah pada umumnya, harus ada standar minimum yang harus terpenuhi, berlaku sama buat setiap anak. Standar kelulusan minimal 70 atau C. Menurut saya, ini yang juga harus dicapai di sekolah (jadi) orang tua.

Di buku Raising a Bébénya Pamela Druckerman, orang tua Prancis punya standar tertentu yang hal tersebut bahkan sudah dianggap seperti kurikulum nasional, yaitu menyapa orang dengan Bonjour. Itu hal wajib yang harus diajarkan dan dilakukan. Kalo anak tidak melakukan hal tersebut, itu tolak ukur yang jelas untuk mencap bahwa dia tidak mengerti sopan santun. Kasta bonjour ini jauh sekali di atas mengucapkan terima kasih dan maaf, atau tolong. Hal kecil dan sesederhana ini, ketika semua orang melakukan dan ditekankan betapa pentingnya hal tersebut, akhirnya jadi karakter bangsa. Dan, menurut saya, dari hal kebiasaan kecil ini, tumbuh juga karakter-karakter lain yang lebih besar.

Setiap rumah pasti punya hal-hal baik yang ditekankan dan saya percaya, setiap orangtua berusaha untuk ngajarin itu. Cuma memang membiasakan sesuatu itu sulit sekali. Butuh komitmen dan kesabaran yang tinggi karena hasilnya ngga pernah instan dan kadang ngga semua hal yang seharusnya diajarkan dan dicapai oleh seorang anak bisa kepegang. Bahkan untuk hal paling basic sekalipun. Setidaknya yang orang pada umumnya menganggap hal tersebut sudah seharusnya ada. Kalo itu absen dari seorang anak, jelas PR orang tua dan lingkungannya, kecuali, memang ada keterbatasan dari segi fisik atau mental dari segi medis. Tapi disini asumsinya adalah anak normal pada umumnya.

Ketika satu hal absen dari anak, hal yang ngga bisa dihindari adalah penilaian dari orang-orang. Kita semua pasti ada di dua belah pihak. Menghakimi dan dihakimi. Oke, mungkin diperhalus, menilai dan dinilai.

Seperti saya menilai anak yang sifatnya kurang menyenangkan, yang mana dampaknya bukan cuma ke dirinya sendiri tapi sampai taraf menggangu kenyamanan orang lain. Di satu titik, bahkan cenderung jahat.

Saya ngga bisa tidak menghakimi orang tuanya bahwa PR mereka cukup banyak untuk memperbaiki hal tersebut. Apalagi ketika itu sudah bersinggungan dengan dan menggangu orang lain. Saya ngga bisa tidak nanya dalam hati, emang ngga diajarin ya, emang ngga tau kalo itu salah dan sebagainya. Masa hal basic kaya gitu bisa ngga ditekankan pentingnya. Tapi, sebagai orangtua, menerima kalo kita salah, apalagi dikritik tentang cara didik anak sendiri, juga ngga kalah sulitnya.

Saya pun merasa jadi pihak yang dihakimi ketika seorang guru di kelas bilang selama di kelas, anak saya cenderung suka sibuk sendiri, susah fokus meskipun ketika ditanya dia selalu bisa jawab. Juga tentang kemampuan bersosialisasinya yang kurang. Saya ngga menyangkal semua hal tersebut karena memang benar. Gurunya mungkin juga berasumsi hal-hal tersebut ngga cukup dilatih di rumah.

Tapi, untuk hal ini saya merasa perlu menjelaskan kenapa dan apa yang sudah dilakukan tanpa bermaksud membela diri. Soal fokus saya jelaskan tentang masalah Langit dan usaha yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut dengan harapan meskipun agak sulit, tapi setidaknya gurunya tau cerita dibaliknya sehingga pemahaman tentang anak bisa lebih baik. Saya juga minta maaf karena ‘menggangu’ kenyamanan gurunya.

Saya pernah beberapa kali ada di posisi Langit dan ibu saya ngga pernah diem kalo soal ini. Salah satu yang paling saya inget ini.

Guru piano di tingkat 6 saya super galak dan saya juga bukan murid yang pinter untuk standar sekolah musik itu. Kalo orang tua lain, tiap anaknya les pasti jauh-jauh supaya ngga denger anaknya dimarahin, ibu saya milih untuk dengerin di bawah jendela. Sampai di satu titik guru saya udah ngga tahan kali ya kok saya ngga bisa-bisa menurut standarnya dia, dan bilang dengan lugas ke ibu saya,

“Saya ngga pernah punya murid sebodoh dan semalas ini”.

Lugas dan tegas. Guru itu bilang saya bodoh. Males. Kurang apa coba.

Hahahaha, pas jadi anak sih saya biasa aja ya. Ya emang ngga bisa. Udah kenyang juga dimarahin. Tapi, abis jadi ibu, saya baru kebayang gimana perasaan ibu saya diomongin gitu di depan mukanya.

Biasanya abis dimarahin guru, trus lanjut dimarahin ibu saya. Tapi di hari itu, ibu saya jawab dengan lugas,

“Ibu mungkin bener kalo bilang anak saya bodoh. Tapi, saya keberatan kalo dia dibilang malas”.

Ibu saya jelasin panjang lebar apa yang sudah dilakukan. Gimana dia setiap hari bangunin saya jam tiga pagi, bikinin susu supaya saya bisa latihan sebelum subuh dan berangkat sekolah dan saya pun emang latihan setiap hari sepagi itu karena sore abis pulang sekolah udah capek. Malem kadang latihan juga sebentar.

Ibu saya ngerasa perlu melakukan itu bukan untuk membela saya (apalagi kalo emang ga pantes dibela), tapi orang perlu tau kalo kita juga melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah tersebut dan penting sekali buat meluruskan kesalahpahaman. Dia juga minta maaf kalo saya ngerepotin.

Guru saya punya tiga murid kelas 6 yang nasibnya ditentukan di satu hari ujian, lulus lanjut atau keluar. Dia sering bilang dengan jelas, dari tiga murid kelas enamnya, cuma dua yang akan lulus. Gopas pasti lulus tanpa ke tingkat pra, Dini lulus ke tingkat pra, dan yang satu kemungkinan ngga bisa lulus dan tau siapa yang dimaksud dengan yang terakhir.

Tapi, sejak hari ibu saya bicara panjang lebar ke guru saya, sikapnya berubah. ‘Mindsetnya’ pun saya rasa berubah.

Saya masih inget itu bulan april 1998, kalo ngga salah tanggal 24 hari sabtu. Hari pengumuman kelulusan, saya ngga ikut karena sekolah siang, ibu saya pulang, dari dia di mobil muka saya udah tegang nanya gimana. Tapi dia bilang ntar tunggu masukin mobil dulu. Abis turun langsung nangis meluk saya bilang saya lulus.

Prediksi guru saya dua pertiga benar, yaitu cuma dua yang lulus dan Gopas langsung lulus tanpa lewat tingkat pra. Sepertiganya ibu saya yang menang. Karena yang lulus ke tingkat Pra bukan Dini, tapi saya.

Sampai saya lulus tingkat akhir empat tahun kemudian, meskipun udah ngga ngajar saya lagi, guru saya selalu ada di balik pintu setiap saya ujian akhir. Dia dengerin dari awal sampe akhir.

Hal kecil yang ibu saya lakukan dampaknya besar sekali. Itu yang menurut saya ngga semua orang tua punya skill dan mentalnya. Termasuk saya mungkin. Bahkan ngga semuanya tau hal-hal (penting) tersebut. Tau aja ngga, apalagi mencapai hal tersebut.

Dan itulah PR yang harus terus dikerjain. Males sih emang kadang, abis susah, hahaha.

Tapi, kalo liat taruhannya di masa depan, tetap ngerjain PR adalah hal yang paling gampang dilakukan di saat ini.

Semoga selalu diberi kesabaran dan waktu yang cukup. Amin.

Al fatihah buat ibu saya yang karena dia, saya jadi tau harus (berusaha) jadi ibu seperti apa.

Posted in Thoughts

Jittery June

It’s been only eleven days in June yet things seem escalated so quickly about the new adventure. I always remember June as the new beginning of this little family. The time when those return tickets bravely bought in June 2016, I didn’t really know that some tiny courage to click the pay button could make a big change for many years ahead.

Today seemed to be an ordinary day until, as usual, the flight radar inside my head spotted a good deal that we have been waiting for some time. We are quite tight about budget. Extremely tight until I agree to sacrifice certain important things for few million differences.

But then, it’s never been a coincidence for everything happen in this life. At least, ours. One thing always leads to another. One closed door is another way to a better opportunity. One closed door is always one way to tell us to try harder or to prevent us from the smallest misfortune.

Then, this afternoon, after some discussion and careful consideration, once again, the courage to click the pay button came and it was done. This time, the most frightening part is, it’s one way ticket without the return one.

It’s scary and crazy.

Have I said one thing always leads to another?

Done with the tickets, the next would always be about accomodation. Location choosen according to some stuff we have to take care on the first days of arrival. Again, with such tight-budget people like us, price will always be the limit. Certain features couldn’t be compromised though. After applying most important filters, it only left us with two options of accomodation. Two strict options.

I contacted the most suitable one and the reply was pretty quick. At the second reply when I explained our purpose of visit, the next reply from the host gave me a chill.

The sudden change of mood was in the air when she knew yobo is on the same field with her husband. How many certain specialist MD you could meet while searching for a place to stay in other part of the world?

The probability should be almost none. It felt exactly the same when the first time we came to Tanah Bumbu and knew that a house mate doctor who picked us was a Gorontalonese.

You just dont meet gorontalonese everywhere like you meet javanese or any other popular race.

Hope any opened doors would always be the one that leads us to the kind strangers whose help surely be needed during such time.

Posted in Thoughts

All New Cards on the Table

Ramadan and Eid have ended for days. I always love the laid back ambience of this month. After having the same pattern for years, something is different for this year Ramadan and Eid.

For the first time after more than thirty years, spending the holy month in a new place other than the old home. I thought it would be a disaster, miserable, and unsurvivable. But, since 2012, it has never been this liberating.

Everything is much simpler, less hassles, and more time to enjoy the silence. Spending most of Ramadan only with this little family suits me most. Simple dishes for sahur and minimalist style for ifthar. I have stopped coming from any ifthar gatherings other than close family since nine years ago. The only thing I crave after a whole day of fasting is a proper silence and wrapped with the comfortable sleep suit. Looked-delicious various food and chit-chat with people are the least things I need for iftar.

It surprised me I didn’t miss what I had back home that much. Maybe because it doesn’t feel that homey anymore? I thought I would be pretty sad. Fact, I feel more than fine and sufficed.

I didn’t miss the hecticness in making dishes schedule for iftar and sahur (it’s a total headache), I didn’t miss taking care of so many people with their own preference, like and dislike and schedule. Although some things taken care by Mbak Wi in the past should be done alone now, but it is still bearable enough.

Eid prayer was never spent other than at the nearby mosque at home, but this year we did the prayer at the airport mosque to catch 9 am flight to Solo. So many things changed on my plate his year.

The rest of this year probably is going to be more bumpy since another new big adventure has waited ahead. Too soon to reveal, yet it’s almost confirmed that the next few months would be physically and emotionally draining.

It’s funny how things are always scarier when they’re getting closer, although those are things that we have been praying for.

It’s always been funny everytime we are waiting the invisible hand shakes the cards and throw them on our table. The only things to do is play along and try our best to make the most of them.

So far, the cards have been pretty fair. We might not get the best cards often. We lost some rounds and manage to win in another. Losing makes the heart stronger and grateful for small winnings given.

The upcoming new cards might be one of the greatest sets that we could ever have and we hope to be able to play them well and turn those cards into more meaningful things. Hopefully.

Wise words can’t do justice of how scary the new jungle we have to face ahead.

Posted in Places, Review, Travel

Tiga Restoran Halal (yang dicoba) di Seoul

Dari beberapa kali pergi, nyusun itinerary itu buat saya paling enak berdasarkan tempat di mana kita akan makan, termasuk di Seoul. Dari lima hari, kita sempet makan di tiga restoran halal. Sebenernya rencananya empat, tapi yang terakhir pas kita kesana tutup. Padahal udah jalan jauh-jauh.

Di Seoul perlu diperhatikan juga bahwa masing2 restoran punya jam buka dan hari tutup yang berbeda. Ada yang tutup hari Senin, Selasa, Rabu atau Minggu. Ada yang baru buka jam 12, jam 11 atau bahkan jam 4 sore. Selain waktu, perlu diketahui juga, restoran korea itu ngga suka kalo kita pesen buat bareng-bareng, meskipun emang porsinya gede banget. Seperti kami, dimanapun harus pesen buat dua orang. Anak ngga dihitung tentu. Tapi ngga bisa tuh sekeluarga mesen satu doang dibagi rame-rame. Akibatnya, budget yang harus disiapin buat makan ini juga perlu diperhatikan. Karena di resto halal ini harga yang dipatok ya cukup mahal. Buat kita.

Oya, dari awal Paris sampe Seoul, kita hanya makan di luar untuk makan siang. Sarapan dan makan malem pasti di airbnb.

1. Halal Kitchen

Kalo mau ke Gyeongbokgung Palace, maka bisa sekalian ke Bukchon Hanok Village. Pas banget abis cape nanjak di Bukchon Hanok Village, bisa mampir makan siang di Halal Kitchen. Jalan di sepanjang Halal Kitchen ini suasananya enak banget. Samcheong-dong ni mirip di eropa. Banyak toko-toko, cafe dan restoran yang menarik.

Kalo berdasarkan baca-baca sebelumnya, di sini nyediain pilihan makanan khas korea kaya japchae, tteoboki, dsb. Tapi pas kita dateng, di Halal Kitchen cuma ada 2 pilihan makanan yang harganya persis sama. Bulgogi set sama samgetyang. Satu set bulgogi harganya 17.000 KRW, sedangkan samgetyang satu ekor ayam harganya 34.000 KRW.

Kenapa saya bilang sama?

Karena kalo samgetyang bisa pesen 1 porsi karena besar sedangkan kalo bulgogi set minimal 2 porsi. Jadi intinya sama aja. Di sini kita pesen bulgogi set 2 porsi. Itu besar sekali dan dimasak langsung di kompor portable di meja.

Karena kemana2 saya selalu bawa snack dalam tupperware, pasnya makan di resto gini, sisanya bisa dibawa di tempat roti langsung. Bisa buat makan malem atau sarapan. Porsi bulgoginya banyak banget. Alhamdulillah enak. (Iyalahh, mahal).

Satu porsi kalikan dua

2. Busan Jib

Restoran kedua ini letaknya di Myeongdong. Di salah satu lorong-lorong kecilnya. Yang ini terlihat lebih sederhana dan banyak pilihan mulai dari harga 8000 KRW. Tapi, yang sejenis nasi gorengnya. Berhubung udah jalan dan dateng jauh-jauh, kita selalu pilih yang bener aja. Di sini kita pilih samgetyang dan japchae.

Harganya agak aneh. Samgetyang ayam seekor dikasih harga 15.000KRW, japchae yang kaya bihun doang harganya 20.000KRW. Tetep dibeli sih, karena susah nyari japchae yang ngga sebelahan sama babi di sana. Jatohnya harga yang kita bayar sama kaya di Halal Kitchen, bahkan lebih mahal. Tapi ya sudah, yang penting berkah (dan kenyang trus bisa dibawa pulang).

Enak? Alhamdulillah enak.

3. Eid

Nah, ini salah satu yang paling populer kalo cari resto halal. Tempatnya di Itaewon. Itaewon ini pusat Islamnya di Seoul. Seoul central mosque ada di sini. Cari makanan halal di sini banyak sekali. Jadi bisa dijadiin salah satu alternatif daerah nginep. Kami ngga pilih di sini. Karena prioritas bukan gampangnya cari makan tapi fleksibilitas check in dan fasilitas.

Eid secara harga di bawah dua sebelummya, begitupun dengan rasa. Bulgoginya kalah sama Halal Kitchen. Tapi ayam yang kita pesen enak. Tersedia dalam set juga. Dapet miso soup dan side dish seperti biasa. Di sini kami bayar 23.000KRW buat semua. Masih ada sisa buat bawa pulang juga. Porsinya gede-gede buat perut kecil (saya).

Porsi nasi di ketiga tempat ini terlalu kecil buat Pak dokter tapi cukup buat saya. Selalu nambah satu porsi nasi lagi. Harga seporsi nasi juga beda-beda. Dari 1000-3000 KRW.

Hal lain yang kami perhatiin juga, di semua resto halal ini yang makan selalu orang Malaysia. Selalu ada. Di eid bahkan dari lima meja, empatnya semua orang Malaysia. Kalo di Jepang kaya ayam-ya masih banyak ketemu orang indo. Tapi di Seoul ini, hampir ngga pernah ketemu. Mungkin karena terlalu mahal? Hehe.

Di satu sisi, halal travel ini memang menjual ya. Pasarnya ada dan saya rasa akan selalu ada. Harga yang di atas rata-rata pun akan tetap bisa jualan. Jadi, tinggal rasa makanannya dan servis yang oke aja yang perlu terus dipertahankan.

Kami juga beli gimpab segitiga di sevel dan GS 25. Enak buat ganjel dengan ukuran yang pas. Biasanya pilih tuna mayo yang paling aman. Harganya antara 1000-1200 KRW.

Ternyata di Seoul kita lebih cocok sama makanannya dibanding orang-orangnya.

Posted in Places, Thoughts, Travel

Tentang Seoul : (Tidak) Seramah Senyum Oppa di Drama

Sedikit uneg-uneg tentang Seoul.

Membandingkan Seoul dengan kota besar lain yang dikunjungi tahun-tahun sebelumnya adalah sesuatu hal yang tidak bisa dihindari. Dan hasilnya seperti empat buku tetralogi Ilana Tan yang menjadi tema trip ini, Summer in Seoul resmi menjadi buku dan trip yang paling kurang disukai dibandingkan yang lain.

Banyak kenyataan di lapangan selama 6 hari ini yang buat kami merasa sedikit tidak nyaman, tapi wajar. Lagi bertamu ke rumah orang lain. Tapi lagi-lagi, karena punya pembanding, jadi tolak ukur kenyamanannya seperti yang dirasakan di kota lain.

Soal makanan ngga seburuk itu tapi juga ngga semudah itu. Tiga tempat halal yang kami coba enak semua meskipun dengan harga yang buat kita yaa mahal. Soal tiga restoran akan dibahas lain kali.

Uneg-uneg ini lebih ke tentang orang-orangnya.

Baru di Seoul ini, bawa Langit ngga berdampak signifikan dalam hal-hal sederhana seperti dapet duduk di bis atau jadi ice breaker with stranger. Hampir tiap kali kami naik bis, jarang sekali ada yang menawarkan tempat duduk seperti di Paris, London, apalagi Tokyo. Ini bukannya maksudnya minta juga ya, tapi membandingkan tingkat ‘kepedulian’. Awal-awal agak kaget juga tapi lama-lama ya udah. Berdiri pun ga papa.

Bukan sekedar tentang menawarkan tempat duduk, tapi orang-orangnya jauh dari ramah. Kami yang biasanya semangat banget naik bis, di Seoul ini jadi insecure. Cara orang-orang ngeliat itu entah apa ya definisinya, tapi jauh dari kata ramah dan nerima. Bahkan di bis kalo ada tempat duduk dua dan saya milih duduk di satu yang kosong sambil pangku Langit, mereka ngga terlihat suka dan terganggu. Agak bingung sih. Entah apa karena saya pake jilbab atau memang terganggu dengan anak kecil.

Hal ini bukan cuma di anak mudanya, orangtuanya pun seperti itu. Cara mereka melihat kita itu bukan seperti yang pengen nyapa tapi kaya lagi mengamati aja dan itu kadang ngga nyaman sekali. Ngga tau dengan pengalaman orang lain gimana ya.

Bahkan Paris yang saya pikir lebih tidak ramah, karena banyaknya orang yang bilang gitu, sangat jauh lebih ramah dibandingkan Seoul. Nenek-neneknya yang selalu ajak main cilukba, petugas yang cukup ramah dsb. Setidaknya gini deh, liat saya tatapan mungkin agak mendelik, tapi begitu liat Langit, senyum hampir selalu cair. Sesuatu yang di Seoul jarang sekali kita rasain. Beberapa kali bahkan suka nengok ke dalem strollernya Langit kaya buat ngecek ni apaan. Trus ngeliatin saya/Pak Dokter lagi. Tanpa ekspresi yang berniat senyum atau apa. It feels like we annoy them quite much.

Penjual-penjualnya pun juga sebagian besar jauh dari ramah. Bahkan ada sekali yang kita pengen banget beli karena barangnya bagus dan harganya masuk akal, ahgassi penjualnya dengan terang-terangan nunjukin gesture kalo dia ngga mau kita beli apapun. Biarpun ada label harganya. Agak aneh memang.

Di playgroundnya pun anak-anaknya pun ngga setertib anak-anak Jepang. Kalo di playground Tokyo anak-anaknya malah nyuruh Langit maju duluan, di Seoul Forest misalnya, justru dia kebanyakan diselak. Bahkan sama orangtuanya. Waktu itu kami biarin Langit antri sendiri.

Tapi lagi, untuk bilang sepenuhnya ngga ramah pun juga ngga adil. Waktu pertama kali dateng, kita bayar tiga tiket buat naik airport transfer. Waktu dicek sama petugasnya di bis mereka marah kenapa Langit juga disuruh bayar. Tanpa basa basi, supirnya langsung ngeluarin uang 8000 won dari dompetnya sendiri buat ganti harga tiket Langit. Kita udah tolak tapi dia tetep maksa ngasih. Jadi kita ambil. (Alhamdulillah..).

Beberapa ahjumma dan ahjussi di Insadong, Gwangjang Market, dan rumah makan halal juga nunjukin kebaikan dengan Langit yang selalu dapet sesuatu. Tempat pinsil gratis, crackers, sampe es krim setelah makan. We’re grateful for them. Tapi memang levelnya cukup jauh dibandingkan kota lain. Jauh sekali dari Tokyo yang saya sampe binggung kok bisa ya satu negara orang-orangnya (yang kita temuin dan ada kontak) sebaik itu sama orang asing. Ketika nolong tuh beneran sampe tuntas. Bahkan ketika mereka pun ngga ngerti bahasa Inggris.

Lorong-lorong kecil Seoul pun tidak semenyenangkan dan seteratur Tokyo. Efek bagusnya, lebih aman buat dompet. Tokyo dengan toko di jalan-jalan kecil yang bahkan di tempat yang bukan buat turis itu bahaya sekali. Barang yang kita pikir ngga perlu bisa mereka buat jadi perlu dan harus beli saking lucunya.

Balik ke Seoul.

Soal bersihnya pun masih kalah ya. Masih banyak orang ngeludah juga biarpun jarang. WC pun ngga sekering, sewangi dan sebersih Tokyo. Selain itu yang paling penting, wcnya persis wc eropa aja. Ngga ada tombol-tombol canggih yang bisa pakai air kaya di Tokyo. Saya selalu bawa botol Aqua kosong.

Jelas pendapat ini sangat subyektif. Mungkin kasus saya hanya sebagian kecil aja. Kaya kasus saya dan Paris yang menyenangkan. Mungkin sebenarnya memang kami aja yang kurang cocok dengan Seoul. Hal lain juga mungkin karena faktor bahasa. Tapi, secara keseluruhan memang ramah dan menyenangkan bukan kata yang tepat untuk menggambarkan orang korea secara general.

Keputusan untuk tinggal hanya lima hari di Seoul ternyata tepat sekali. Ternyata oppa tidak seramah di drama.

Posted in Places, Travel

The Loveliest Day in Seoul

After four days, yesterday was the most enjoyable day in this city. We got off early to go to Namsan Tower and it turned a visit with hiking which I disliked. But, after arrived at top, it paid off. Enjoyed the view of Seoul from above.

We continued to Itaewon. This is a moslem friendly area where almost restaurants put halal sign on their banner. We stopped by at one of the most reviewed one then went to Seoul Central Mosque for prayer.

Gangnam was the next destination. There’s nothing much to see there but we stopped by Starfield Coex Library. At the end of the day, we visited Seoul Forest. It is truly large forest between those big and tall buildings. I am so envy with these cities☹.

It was the first time we stayed late. It was a lovely day for those beautiful sceneries and good food with reasonable price.

Posted in Places, Travel

Another Day in Seoul

It took us longer to feel excited about this city. Other than few ‘less than Tokyo’ mentioned before, two that we miss the most are playground and ice cream.

Until the third day, the number of ice cream Langit finished is zero. So does playground session.

We decided to put Seoul Children’s Grand Park earlier because of this. So, after a visit to Namdaemun Market and Myeongdong, we went there.

It was quite nice one. Better because it’s free entry. Large park with picnic spots, proper playground, mini zoo, and small theme park with major ridings in small size like carousel and its friends.

Food court, mini market restaurant, and some small stallz like cotton candy and ice coffee are available. Doing some walk would be nice too while watching colorful beautiful spring colors.

So far, it’s one of the best spots in our itinerary. Or maybe because it’s one that suits us the most.

Posted in Places, Travel

Hello From Seoul

How’s Seoul so far?

Hm, slightly less than Tokyo in everything except their excellent bus service. No subway hassles.

The people are less friendly and helpful.

The attractions are less interesting and well-maintained.

The rare playground.

The map navigation is quite bad.

The food is less mouth-watering (for us).

It feels like having a less mature Tokyo.

And if I may say, Seoul is so girly. When it is a gender, it’s obviously a girl.

Cheonggyechong Stream
Insadong

Changdeokdung Palace
Gyeongbukdong Palace (view from the bus)

We also visited Bukchon Hanok Village but no proper pictures available because we were busy climbing and finding the way to the only halal food in that area.

Below are : The famous Yeuido Hangang Park

But still, been playing in dramaland for nineteen years, it’s nice to finally able to live a little part of the life from those characters on screen such as able to say ‘Anneyong Haseyo’ and ‘Khamsa Hamnida’ with the right tone to its people.

Posted in Travel

Naik Garuda Lewat Terminal Tiga (Domestik&Internasional)

Setelah 19 tahun lebih tidak menggunakan Garuda, baru di tahun ini ada kesempatan lagi naik Garuda. Alasannya pas naik tahun 2000 trauma. Selain turbulensi parah, landing take offnya ngga enak, pelayanan juga ngga segitu impresifnya

Kembalinya ke Garuda ini jelas ada pemicu yang kuat, tiket murah ke tujuan yang bukan krusial. Paling ngga buat saya. Tiket ke Bajo dan Korea semua didapat ketika GoTF 2018. Satu kerja sama dengan CIMB, satunya dengan BNI. Dua-duanya harganya cukup oke jika dibandingkan dengan maskapai lain. Ke Bajo bisa naik Lion, Batik atau Citilink, naik Garuda jelas lebih enak. Apalagi dengan harga GoTF kemarin.

Buat Seoul, sebenarnya tiket sudah beberapa kali dicari. Dulu pernah liat SQ yang menurut saya buat level SQ oke banget, cuma sayang buat ukuran jarak 7 jam penerbangan musti transit segala. Makanya ngga dibeli. Setelahnya beberapa kali pernah cek harga dengan maskapai lain lebih rendah, tapi tetap ngga dibeli juga dengan alesan yang sama, pakai transit. Kalo dulu masih suka nawar dengan harga sebagai kompromi, abis ngerasain pas ke UK dengan 2 kali transit yang melelahkan, kalo jarak pendek seperti Asia Timur dan Australia, udah paling bener adalah cari yang penerbangan langsung (dan murah tentunya).

Sebenarnya murah mahal itu tergantung value for money ya. Dengan harga yang sama, naik satu maskapai biss berarti mahal atau murah. Dan untuk tau mahal atau murah juga perlu tau berapa harga standarnya. Untuk Seoul, Garuda ini dengan harga yang saya dapat dan apa yang saya terima, udah cukup oke.

Terminal 3 domestik secara aura lebih humble dibanding internasional. Hal yang jelas sama adalah dua duanya perlu cukup waktu untuk jalan antara setelah cek in bagasi (dan imigrasi) ke gate yang ditentukan. Ada sih mobil, tapi tetap harus nunggu dan antri juga. Jadi, kalo pesawatnya berangkat dari terminal 3, jangan pernah dateng mepet. Pelan-pelan semua penerbangan internasional akan berangkat dari terminal 3 katanya.

Antara sedih dan senang karena saya suka simplenya terminal dua. Hawa tua dan sederhananya. Cuma memang begitu dibandingkan sama terminal 3, dia jadi terlihat lusuh, hehehe. Di satu sisi juga senang karena ya ini seharusnya wajah bandara utama dari ibukota Negara. Belum sekeren Changi, tapi setidaknya bisa dibandingkan dengan KLIA. Akhirnya.

Tenants di terminal intermasionalnya pun cukup oke buat saya. Setelah imigrasi akan ketemu sama Bally, Aigner, Longchamp, TUMI, cukup oke dan masih ada ruang buat peningkatan. Satu-satunya memang masalah jarak antar gate ke gate yang bisa dianggap sebagai olahraga. Apalagi kalo dateng mepet dan ngga delay. Selamat menikmati.

Waktu ke Seoul, kami dapat di gate 1 yang berarti adalah gate paling ujung sekali. Sebelummya kami sempet nunggu di lounge dulu yang ada gate 7. Kalo di terminal 2 antara gate 1-5 cuma perlu waktu 10 menit maksimal dengan kecepatan jalan normal, dari gate 7 ke 1 di terminal 3 perlu waktu hampir 2,5 kali lipatnya. Dan perubahan aura itu terjadi setelah gate, saya lupa antara 6 ke 5 atai 4 ke 3 ya.

Dibandingkan gate 10 sampai 6 (atau 3), aura gate 1 dan 2 kembali sederhana dibandingkan gate angka besar. Dari aura luxurious begitu masuk ke gate 1 dan 2 auranya jadi kaya low cost yang rapi dan sederhana. Aura high endnya berubah drastis.

Oya, di area keberangkatan yang internasional ada stroller yang bisa disewa dan dipakai sampe gate keberangkatan. Waktu itu saya pinjam sebelum gate 7 di informasi. Bisa langsung pake ngga perlu apa-apa. Playground anak yang bagus ada di gate 8 dan ada lagi yang lebih sederhana di gate 6. Lumayan buat nunggu.

Sedikit informasi ini semoga bisa membantu kalo ada yang sedang cari tahu😊