Posted in Thoughts

Eid and Lost Traditions

Eid has been identical with some traditions hold in each family. When the original team were all here, mine would be massive cleanings and changing new sheets in each corner of the house before the D-day, then early morning breakfast with black forest and our home made cookies before heading to the mosque. Right after Eid pray, we went straightly to both grandma’s houses.

As life changed drastically in 2012, so did this Eid traditions. Some (are) still (trying hard to be) kept, but it is surely unavoidable to let go some. More,with Langit arrival in 2014, even more to let go. At first, it’s hard to let go those rituals that have been kept for years. After all, that’s what makes Eid special. Such traditions wouldn’t be available in the other day. Those brought and created special warmth too in our home.

This year marked some major traditions that should be let go due to certain circumstances. No gathering at home and we have a restaurant instead. Last year was my father’s turn to hold family gathering at this house and this year is the second child’s turn.

Not because she doesn’t have a house, but more of she can’t and doesn’t want to do it at her home. Thinking about the hassles to host thirty something people at home, preparing here and there then taking care all the mess after all guests return. So, a decent restaurant is a more logical choice. Paying those expensive food is much better choice than dealing with the mess at home.

It’s absolutely unimaginable in the past year to celebrate Eid in a restaurant as if all family members have no home to hold once-a-year gathering. But, there’s nothing we can do about that. After my grandma passed away last year, a strong reason to gather all members has been loosen much. By this year, my father only sibling who stays out of town and comes to Jakarta every Eid, decides to stay at her home this year. Who will push her to come? None. It truly takes a strong figure to gather people.

It was quite sad previous years, but this year, I take it more lightly and just accept those unevitable changes. Having the doctor at home for Eid is good enough for me. The rest is just complementary.

I couldn’t help wondering what changes next Eid will bring for next year, if my time will arrive by God’s will.

Eid Mubarak à vous tous!

Posted in Places, Review, Travel

Airport Transfer Ramah Koper (Paris, London, Tokyo)

Ada satu hal yang terlihat sepele tapi dalam prakteknya penting ketika traveling ke luar negeri bersama anak dan keluarga, setidaknya buat saya. Kenapa saya cetak tebal yang bersama anak dan keluarga? Ya karena kalo sendiri ngga ada masalah dan karena belum yang review tentang ini, mungkin bisa bantu yang punya rencana ke tiga kota ini sama keluarga.

Kalau milih Airbnb sudah lebih terstruktur karena ada aplikasi khususnya beserta review dari pengguna langsungnya. Tapi kalo airport transfer ini harus dicari satu-satu.

Asumsi tulisan ini adalah keluarga yang bepergian minimal tiga orang dengan anak kecil, pergi dengan minimal dua koper bagasi dan stroller masih ditambah dengan hand carry cabin. Yang terpenting : mau tetap nyaman walaupun budget pas-pasan😁.

Bepergian dengan Langit membuat saya jadi semakin control freak. Selain tingkat kesabaran yang tipis yang berbanding terbalik dengan tingkat kegelisahan yang tinggi, selalu buat saya nyiapin sampe ke printilan yang kadang ngga penting. Prinsipnya mendingan repot tapi secure.

Salah satu yang jadi perhatian saya adalah kenyamanan pulang pergi ke airport. Pertama dateng ke kota yang kita ngga kenal, ngga ada bayangan dimana letak Airbnbnya, dengan kondisi yang harus geret-geret koper dan barang lain, airport transfer yang nyaman itu membantu sekali. Yang akan saya bahas bukan moda transportasi online ya. Karena kalo dari bandara hampir ngga bisa pesen semacam grab atau uber karena hampir semua punya servis resmi angkutan bandara, seperti di sini aja.

Ini jadi penting karena buat turis rempong tapi duit pas-pasan kaya saya, nyaman penting, uangnya bisa menyesuaikan selama masih logis. Jadi, ini bukan ngebahas dari bandara naik metro/tube/subway/japan rail dan sejenisnya. Itu jelas ngga nyaman, sekali lagi, JIKA kita pergi dengan anak kecil plus stroller dan koper.

Saya akan bahas masing-masing sesuai pengalaman saya ke tiga kota ini.

PARIS

Airport transfer Paris adalah taksi yang berwarna hitam resmi bandara yang sudah menunggu ketika keluar bandara. Tempatnya dimana silahkan ikuti petunjuk atau tanya. Di antara tiga kota ini, buat saya Paris paling juara. Objektif ya, bukan karena saya team Paris garis keras, hehe.

Kenapa saya bilang paling juara? Tarif ke dan dari airport pake taksi apapun di Paris, tarifnya TETAP. Jadi, ngga ada tawar-menawar dan deg-degan melototin argo taksi. Informasi ini sudah saya dapatkan sebelum berangkat dari internet, jadi budgetnya sudah disiapkan dengan pasti.

Paris terbagi dan terbelah dua oleh Sungai Seine dan dikelompokan jadi 20 arrondisement. Inilah yang menentukan tarifnya. Kalo Airbnb yang dipesan ada di right bank atau bagian atas yaitu arrondisement 1,2,3,4,8,9,10,11,12,17,18,19,20 maka tarif ke dan dari bandara adalah 50€. Sedangkan jika kita tinggal di left bank atau bagian bawah antara arrondisement 5,6,7,13,14,15, maka tarifnya adalah 55€.

Saya pergi ke Paris tahun 2016 dan pada saat itu kursnya sekitar Rp 14.500. Jadi kalo dihitung dalam rupiah adalah sekitar 700 ribu lebih.

Mahal?

Ngga sama sekali kalo pergi dengan kondisi yang saya sebutkan di atas.

Saya bandingkan waktu itu dengan naik bus yang tersedia dan berhenti di beberapa titik pusat kota. Tarifnya adalah 17€ per orang. Dikali dua sudah 34€ dan kita masih harus nyambung lagi sampe ke airbnb yang dipesan, entah dengan taksi atau metro atau bus sambil gendong bayi dan koper. Harganya udah berapa tuh keringet dan repotnya, bagus kalo ngga nyasar. Biarpun saya bicara bahasanya, tetap bingung juga kalo ngga ngerti yang dijelaskan.

Tapi, cukup dengan bayar 50€ atau 55€, keluar bandara udah ditunggu, koper masuk bagasi, duduk tenang dan lega sambil senyum-senyum liat pemandangan kota dari balik jendela dan dianter sampe depan pintu Airbnb. Kalo naik kereta bawah tanah mana bisa.

Jadi, kalo pergi sekeluarga atau pun bareng temen yang minimal tiga orang dan tinggal di satu tempat, ngga usah mikir pilih taksi bandaranya Charles de Gaulle. Pulangnya pun dengan taksi biasa tarifnya sama. Ngga usah pusing.

Hidup Paris!

London

Buat London, sepert visanya yang bikin pusing, airport transfernya pun ternyata juga bikin pusing, buat saya. Kenapa? Ya karena budgetnya pas-pasan dan waktu UK trip saya pergi bukan hanya dengan anak kecil tapi juga orang tua. Jadi makin rempong. Apalagi ayah saya tipe yang selalu pergi dengan full service travel. Dari airport ke airbnb naik bis atau tube jelas dicoret.

Taksi hitam London ngga bisa dimasukin ke list karena mahal dan pake argo yang bikin jantungan. Ngga jelas bayarnya brapa sampai di tujuan. Saya suka yang pasti-pasti. Akhirnya hampir berminggu-minggu saya browsing tentang airport transfer dari dan ke Heathrow. Pilihan banyak, tapi lagi-lagi yang sesuai budget saya dikit, hehehe.

Setelah sekian lama akhirnya ketemu satu servis yang masuk ke budget saya dan bisa bayar pake kartu kredit untuk booking. Saya lebih suka pake CC jadi tidak nghabisin cash yang dibawa. Bawa cashnya pas-pasan juga😁.

Waktu itu saya memesan dari Unicorn Airport Transfer. Bisa pesan dari websitenya http://unicorntransfers.co.uk/mobile/. Semua form diisi online dan mudah banget. Kenapa akhirnya milih ini? Karena dapet PP dari dan ke airport kurang dari £100. Kurs waktu itu sekitar 16.500 rupiah. Saya bayar untuk PP £95.

Bayar sekitar Rp 1.500.000 pulang pergi, untuk 4 orang, 6 koper, buat saya murah. Inget ya, ini di eropa yang ngga bisa disamain dengan disini. Harganya kurang lebih sama kan kaya Paris.

Oya, waktu pemesanan kita harus nulis dengan lengkap untuk berapa penumpang dan mereka punya batesan koper yang bisa diangkut. Karena kita ngga bisa milih mobil paling murah kalo kita isi penumpangnya semakin mahal. Jadi mereka sudah menentukan mobil yang sesuai ketika kita mengisi jumlah penumpang. Buat kenyamanan juga ya.

Servisnya oke buat saya. Ketika jemput sudah ditunggu dan ketika mau pulang setengah jam sebelum waktu yamg ditentukan sudah nunggu. Hati-hati dengan waktu yang kita tetapkan. Sekali lagi, ini bukan Indonesia dimana nungguin penumpang beberapa menit adalah hal yang biasa. Buat mereka, ketika kita tulis jam 12.00, bukan jam 12.00 baru sampe, tapi jam 12.00 kurang sudah jalan. Iya, jam 12 kurang. Terserah kurang berapa.

Oya, masalah tipping : Paris dan London saya kasih tip ke supirnya. Paris karena bayar cash jadi saya lebihin, London karena dengan kartu kredit jadi hanya tipnya dengan cash. Semua diterima dengan senyuman.

Tokyo

Pengalaman dua kali ke Paris dan London bikin saya mikir Tokyo pasti gampang. Tapi, emang ya semua itu pasti ada kurang lebih. Jepang yang visanya super simpel ngga kaya UK dan Schengen yang ribet, ternyata airport transfernya jauh lebih ngga nyaman, untuk kondisi yang saya sebutin di atas.

Berminggu-minggu saya ubek-ubek ngga ketemu satu pun airport transfer yang sesuai dengan kantong dan akal saya. Paling murah yang saya temukan adalah 22.000¥. Kurs 1 yen : 130 rupiah, kalo ditotal jadi sekitar dua juta lebih. Hanya SEKALI JALAN.

Ngga sehat kan? Masa ngabisin 4 juta buat taksi. Yang bener aja.

Saya tau Jepang terkenal dengan Japan Railnya. Ada Narita Express juga. Tapi ya itu, ngga bisa berenti depan Airbnb kaya Paris dan London, jelas harus nyambung lagi pake taksi. Iya kalo udah deket, kalo jauh yah, mahal bener dan buang waktu.

Akhirnya karena ngga ada pilihan airport transfer pribadi, mau ga mau ya naik yang bareng. Airport Limousine Bus adalah pilihan yang paling baik buat saya yang nginep di daerah Tokyo Dome. Airport Limousine ini punya rute yang lengkap seluruh Tokyo. Tinggal cari yang paling deket sama penginapan. Bus ini bahkan berhenti di beberapa hotel besar seperti Le Meriden, Tokyo Dome Hotel, Grand Palace, dsb.

Bus ini punya berbagai jurusan, yang satu jurusan itu ada beberapa pemberhentian. Sebagai contoh, saya saya pilih yang ke Ikebukuro. Rute ini berhenti di 7 tempat diantaranya Tokyo Station, Le Meriden, Grand Palace Hotel, sisanya ngga hafal. Bisa refer ke websitenya Airport Limousine Bus. Ini menurut saya paling nyaman karena kalo naik bis koper disimpen di bawah dan ada petugas khusus yang nyusun berdasarkan tujuan tempat kita turun. Ngga perlu ada gotong-gotong koper naik turun tangga subway atau lewat lift.

Tarifnya flat : ¥3100 buat dewasa. Anak di bawah 5 taun gratis tapi dipangku. Kita pilih pangku Langit biar bisa duduk bareng karena formasinya 2-2. (Alesan dari supaya ngga kluar uang lebih). Kalo dikurs harga tiket bis buat 2 orang PP ngga jauh dari kita nyewa mobil di Paris dan London PP. Buat kantong saya, Tokyo ‘mahal’, hehe.

Karena Airbnb yang dipesan dekat dari Tokyo Dome, dan pemberhentian terdekat adalah Tokyo Dome Hotel, jadilah kita dari Tokyo Dome geret-geret koper sambil dorong stroller sampe ke Airbnb. Naik taksi bisa tapi kita ragu-ragu karena kalo naik taksi deket banget. Tinggal nyebrang. Kalo jalan kaki yaa lumayan juga. Tapi, ya sudah dijalanin juga.

Pulangnya kita naik Aiport Limousine Bus lagi dari Tokyo Dome Hotel, tapi dari Airbnbnya kita peseb uber. Untuk jarak sedeket itu kita bayar ¥800.

Di Tokyo, kita ngga kasih tip. Ragu sama baiknya orang Jepang, takut tersinggung dan ngga yakin brapa yang pantes. Selain itu, dari yang saya baca tipping emang ngga lazim di sana.

————————————

Mungkin itu yang bisa dijabarkan. Ngga perlu antipati naik taksi dari dan ke airport kalo bepergian dengan keluarga. Semoga bermanfaat!

Posted in Thoughts

Life Battles : A Patern

After some times, I realized that life mostly really happens in an even year more than the odd one. Looking back to previous years, lots of big events, life-changing ones, turn-table twists, they were mostly happened in even years.

To name several :

  • Meeting the doctor for the first time in 2002 as well as the end of my 13 years of piano education.
  • The first job secured in 2004 during the first year of college.
  • Survived two months in a small village with the best strangers as well as the ‘loudest’ year of proposals in 2006
  • The worst and longest broken heart in 2008. This year marked the second hardest year in my twenties. The first goes to next foyr years.
  • The reunited, long distance, and resuming in 2010. Talking about the relationship here.
  • Finally, 2012 turned out to be a year with three earthquakes in my world, as well as the life-changing year. The end of an era. The end of my comfort zone. Life has never been the same after 2012. It was just like the Mayans prophecy predicted that world would end in 2012. At least, mine did.

Langit Senja came in 2014. A whole new beginning to the jungle of motherhood. Entering the fourth year, this jungle is truly wild, scary emotionally and energy draining, physically taxing, and no one is close to a winning. Really, there’s no better mother than another. You win some, yet you couldn’t help losing in another game.

Fast forward to 2016. A year that thought to be another mundane year yet, it was wrong. Went through first semester safely, then two big presents sent from the universe. Broken relationship and unlocked third biggest twenties dream.

Now, it’s 2018 and the pattern repeats. Currently dealing with medium long distance relationship which airline ticket price costs us a lot. Two flights needed that make the saving screams a lot and this one will last for a year. One might say years are short, but they really forget that days can be so long. Days in this April feel exactly like that.

The advice of count your blessing is not really applicable during this state. I do count mine, yet it doesn’t make this feel any easier. This is not our first encounter with distance yet, again, having previous experiences is not necessarily make you stronger. Being away from one of the sanity keepers is hard enough.

Other circumstances also happen until I have to have another long distance with my other sanity keeper called dramaland. It’s been six months already that I totally cut the tie with those fellows from dramaland. No matter how much and want to return, the mood is really gone. Current affairs in works and other tasks have eaten all my energy and mood.

There’s nothing I hope for other than this April will soon meet its end. At least, passing through April safely means the big part of these shits is gone.

Breathe in, breathe out.

When life throws shits to your face, wipe it cleanly and keep going slowly.

You’ll get there.

Posted in Places, Review, Travel

Dua Hari di Yats Colony

Sepanjang tahun lalu hotel ini sering sekali terpapar di media sosial. Saking terlalu seringnya, sampe berhasil ngeracunin otak saya buat buktiin sendiri rating 8.8 di salah satu situs pemesanan hotel.

Saya pesan 2 kamar tipe RA dan KA. Untuk yang RA dipesan duluan untuk 2 malam sedangkan yg KA menyusul hanya 1 malam karena full booked.

Perbedaan 2 tipe ini adalah viewnya. Harga beda tipis cuma selisih 50 ribu. Untuk KA pemandangannya koridor, sedangkan kamar RA ada di lantai 2 dengan pemandangan kolam renang. Meskipun harga RA lebih mahal sedikit, menurut saya kamar KAnya kok lebih enak ya.

Kamar KA yang di dapet ada di lantai 1 gedung yang belakang, letaknya di pojokan, jendelanya menghadap taman kecil, kamar mandi yang lebih luas, jadi kaya paviliun sendiri. Sedangkan kamar RA ada di lantai 2, betul menghadap kolam renang tapi jarak pandang ya lantai 2 gedung sebelah. Kamar mandi agak sempit, wastafel di luar. Dua kamar yang saya pesan tidak ada kulkas dan pemanas air. Tapi di masing-masing koridornya tersedia dispenser dengan pantry kecil yang menyediakan teh, kopi, gula sachet dan gelasnya.

Kolam renang kecil tersedia, buat anak-anak juga bisa. Buat berenang santai cukup lah. Langit berenang dua hari berturut-turut dan hepi. Airnya ngga terlalu terlihat jernih, buat saya.

Semua kamar setau saya sudah termasuk sarapan. Dua hari sarapan di sini menurut saya cukup oke. Hari pertama dan kedua beda kecuali pastry dan minuman jusnya mirip.

Hari pertama saya cuma makan nasi pake ikan asam manis sama sup kimlonya. Enak. Ayah saya coba lempernya juga bilang enak. Hari kedua saya coba hampir semua dengan porsi mini. Nasi pake beef curry, pom pom yang rasanya kaya onion ring, bihun, nasi goreng, bubur ayam, dua danish pastry, dan orange jus. Mereka juga nyediain jamu lho. Ada beras kencur sama apa ya satu lagi lupa. Menurut oke semua sih. Langit juga makan dengan enak di dua hari sarapan.

Selain sarapan, dua malem di sana saya juga nyoba makanan room servicenya dan a la cartenya. Malem pertama saya coba rice bowl chicken salted egg dan tante sama sepupu saya pesen nasi goreng seafood. Saya suka rasanya dan porsinya pas banget. Harga standar untuk ukuran room servis. Buat saya sih sebanding antara harga, rasa dan porsi.

Hari kedua ada tante, om dan sepupu yang tinggal di Jogja main ke hotel dan diajak makan di restorannya. Makanan yang dipesan rice bowl dori sambel matah, chicken salted egg lagi, mie ayam jamur bakso, saya pesen ande-ande lumut kaya puding ager pandan gitu, ayah saya pesen affogato. Semuanya tandas.

Baru kali ini kayanya nginep di hotel yang tiap malemnya lebih milih makan di hotel daripada keluar. Jogja macet. Males juga keluar.

Secara keseluruhan, buat saya hotel ini oke. Di pusat kota, 15 menit dari stasiun, konsepnya artsy dan emang bagus ya pemilihan interiornya. Menarik. Ngga standar hotel-hotel biasa. Harga yang ngga semurah hotel jogja biasa menurut saya sesuatu yang dibayar untuk ide desain yang dinikmati tamu hotelnya.

Dari interior, eksterior dan pemilihan barang-barang dan material propertinya menurut saya apik dan detil. Setiap sudutnya baik di outdoor dan indoor emang instagramable. Dengan lahan yang ngga seluas itu, hotel ini nawarin suasana yang alam banget di tengah kota. Cuma ada 2 lantai di hotel ini dan ngga ada lift. Kalo dibandingin dengan hotel bintang lainnya, Yats Colony ini cocok disebut ‘down to earth’ menurut saya.

Saya ngga punya komplen apa-apa tapi kalo buat ayah saya dengan harga yang sama dia lebih milih Alana. Emang bukan selera hotel orang tua juga kali ya😁.

Kalo ada yang tanya, bakal nyaranin ngga orang buat nginep di sini? Kalo saya iya.

Kalo ditanya ke jogja lagi nginep sini lagi ngga? Bisa iya bisa ngga.

Kalo ditanya 1-10, dari saya kasih 8.2 buat hotel ini.

Mungkin bisa lebih karena kalo ngga nginep di sini, saya mungkin ngga akan tau kalo Langit bisa berenang seperti ini, tanpa pengawasan pelatihnya (papanya) setelah lima bulan absen dari kolam renang.

Enjoying adult pool like a boss.

Posted in Thoughts, Travel

Alasan Panjang untuk Sebuah Trip Pendek

Buat seorang pemales kaya saya, liburan yang bener-bener disebut liburan itu adalah tinggal di rumah, ngga harus ngerjain apa-apa, ngurusin siapa-siapa, tidur-tiduran sepanjang hari atau justru pergi kemana-mana sendiri tanpa harus khawatir ninggalin sesuatu atau seseorang di rumah. Kaya satu hari di bulan Februari waktu Pak dokter dan Langit berangkat duluan ke Bali, dua member lainnya juga pas ke luar kota. Baru kali itu kayanya dalem sehari saya keluar rumah tiga kali dan super hepi.

Empat bulan berjalan di tahun ini sudah diisi dengan berbagai perjalanan ke berbagai tempat. Beberapa karena ‘harus’, satu karena disuruh sama tiket murah, dan yang kali ini karena ‘pengen buat orang lain’.

Beberapa trip yang dijalani dua tahun terakhir, sedikit diantaranya adalah karena pengen ajak orang. Trip ke UK April tahun lalu itu bisa ada karena motivasi yang kuat banget setelah ke Paris dan setengah sangkel karena ngga ajak Ayah saya. Makanya dengan alesan itu, plus adik saya juga pas lagi ambil master di London, setengah maksa saya bujuk Ayah saya supaya mau pergi (dan ngebayarin tiketnya)😁.

Perjanjian dibuat karena tiket ditanggung, semua biaya lain saya ambil alih, dari akomodasi, tiket ke luar kota, makan, transport selama di London, pokoknya semuanya, yang mana ya hampir seharga tiket juga buat 4 orang.

Selama kurang lebih sebulan saya berkutat dan muter otak buat cari tiket dengan harga yang bisa diterima, buat 4 orang. Dapet tiket JKT-KL-London dengan maskapai bintang lima timur tengah dan kasih kelas bisnis buat ayah saya dari KL-JKT dengan total harga yang ngga sampe 9jt per orang, salah satu prestasi yang bisa dibanggakan sama otak pas-pasan ini. Bukan sekedar untung itu, skill juga😎.

Ribetnya ngurusin semua tetek bengek trip UK buat 4 orang, sendiri, dengan segala dramanya dibayar sama hepinya wajah ayah saya waktu dia di Manchester ngeliat kampus lamanya, asrama mahasiswa tempat dia tinggal, apartemen yang pernah kita tempatin sebulan waktu ke sana, dan masih banyak lagi yang ngebuat semua kerepotan yang harus dijalanin jadi terasa worth the price.

Trip ke Jogja kali ini ada juga karena alesan yang kurang lebih sama untuk orang yang berbeda. Tiap saya pergi dan ayah saya ngga ikut, saya pasti ngerepotin tante saya dan keluarganya dengan minta untuk nginep di rumah supaya bisa ngurusin ayah saya. Tante ini adik almh ibu saya yang paling kecil, yang paling baik, yang paling ngga pernah nolak kalo diminta tolong, dan mungkin yang paling punya sedikit kesempatan untuk bepergian dengan segala keterbatasannya.

Setelah semua urusan trip ke Tokyo beres, saya udah niatin untuk bikin satu trip lagi dan kali ini akan ajak tante saya dan anaknya. Sering banget minta tolong kok ya ngga ada terima kasih yang lebih dari sekedar oleh-oleh dari tempat yang saya datengin.

Kebetulan pas banget ada sabtu merah lain di April ini yang mana saya ngga perlu hutang kelas dan saya punya satu hotel yang saya penasaran buat nyoba karena saking seringnya terpapar review di media sosial tentang hotel ini.

Awalnya saya ragu tante saya mau ikut karena takut sungkan dibayarin dan sebagainya. Orang lain mungkin dengan senang hati tanpa malu-malu akan bilang iya, tapi tante saya beda. Dengan hati-hati saya nanya apa dia mau ikut, jelasin naik apa dan durasinya juga ngga lama, yang penting refreshing aja sebentar berdua sama anaknya dan keluarga saya.

Di luar dugaan ternyata dia seneng banget ditawarin ini. Lega banget dengernya. Makin deket ke hari H, seneng banget denger betapa semangatnya mereka dengan trip ini. Puncaknya pas udah duduk di kereta dan tante saya bilang,

Dia (sambil nunjuk anaknya) ngga berenti bilang ‘ini baru bagus, mah, ini baru kereta bagus, ngga kaya dulu kita pergi sama kak iwan’.

Ikhlas banget rasanya bayar(in) semua pengeluaran di trip ini dengan denger komentar anak 10 tahun yang pemalu kaya gitu. Siapa bilang bahagia itu selalu dari diri sendiri?

Trip kali ini juga merupakan banyak hal pertama buat saya. Pertama kali pergi tanpa Pak dokter, travel partner andalan, pertama kali pergi tanpa bawa SATU PUN makanan berat favorit Langit (yang ini bener-bener agak nekat), dan pertama juga pergi dengan ninggalin toilet seat Langit di rumah. Ini seperti tes drive traveling ke level yang lebih tinggi. Sekali lagi, buat yang males kaya saya, pergi tanpa tiga hal tersebut itu sesuatu sekali.

Bismillah. Semoga semua dilancarkan dan kenyataan bisa mendekati harapan dan senantiasa dilimpahi kesabaran. Amin.

00:58, Taksaka 54 yang super dingin dan bikin ngga bisa tidur.

Posted in Past learning, Thoughts, Travel

Travel Babble : A Warm Welcome

I am writing this from 32sqm room in Tanah Bumbu Regency where the doctor will spend a year of compulsory service.

The battle between joined and sent him off first to this place was tough. Days in last week spent by non-stop googling about the ticket price, calculating benefit and risk, lots of conversation happened between head and heart. After long and hard battle inside, finding the best possible route with the least cost,two tickets bought just two days before the departure.

My travel history had never been this nekat. The tickets price might be quite scary for the saving, but regret of not buying them would surely be greater than the pain of paying them.

Unlike the other trips that had been meticulously planned, this one was almost zero, not because it’s a domestic one but more to limitation of information we got in our hand.

There things that are unggogleable no matter how hard you search for them. The only thing to do is just come and see, then let’s see what we can do about them on the spot.

This trip will be another huge challenge for me because I will travel back to home with the little girl only two of us. Two flights, if one doesn’t sound challenging enough. During traveling, I am so dependable with the doctor. He has more patience in dealing with this girl than me. As a lazy person, it takes something really important until I dare to take the risk to do this kind of thing.

I have my number one pray whenever we go places. For us to meet the kind ones to help whenever we are in need. So far, the prays always answered until the least important thing. Paris, London, Manchester, Liverpool, Tokyo, the trips were greatly enjoyable because of those strangers kindness that we could never payback. This Tanah Bumbu trip turned out to be the same.

We booked differently because the doctor didn’t need the return flight. So when we checked in we turned out to have separate seats. Seven rows differences. I had the thought in my mind to ask for switching the seat with the other person so the doctor could sit with us together.

We happened to seat with a man at the same age with my father, maybe, and when he saw we sat in different row, it didn’t take him long to walk to the back of the plane and asked the doctor if he would like to sit with us. That was very kind of him. I didn’t even say any words about switching the seat.

Arrived in Tanah Bumbu we drove with a fellow obgyn doctor. After some talk and believe it or not, in spite of his thick javanese accent, he is a Gorontalonese. You can meet javanese everywhere, padangnese is also pretty common, but it’s a very very rare chance to meet a Gorontalonese in the land of nowhere. I destined to met one here. In this tight schedule trip.

Another one that makes me shivering more, among thousands of remote areas in this country, this land of my dad’s birth land chosen, more spesifically it was where my late grandma’s spent her childhood.

Never, a single path of life, is a mere coincidence. Every thing happens for a reason.

No matter how overrated people think traveling is, but it’s never for me. I had my very first real traveling back in 1993, and its impact was greater and longer beyond a mere going to new places and showing it to others. It developed many things inside of me that I believe they were something that only could be done and got from traveling.

Traveling is always an eye opener to new things that we don’t know and to learn something new is only exciting by seeing something in other places than our comfort zone.

I don’t remember if London and Tokyo made this much babble within seven days of traveling. Tanah Bumbu made it this much only within few hours of arriving.

In spite of the nice words written above, the mess of having long distance marriage is waiting ahead.

Be kind, please, Life.

I am really looking forward to April….

2019.

Posted in Places, Thoughts, Travel

A New Adventure Begins

Safely finished five years of residency was surely one of the biggest blessings in this marriage jungle. Far from easy, shitty and stormy, yet, we made it to the end.

Some decent jobs in good places had been offered and one had been gladly accepted. Another blessing that no time needed to apply here and there, waiting for interviews, etc. Even the salary has been paid right after the interview. To call it a mere blessing is such an underrated word. We are extremely grateful for this.

The end of an adventure is always a door to the new one. Right after residency, the health ministry released a new policy : Compulsory service for five major specialist doctor to go to some remote area all over the country for a year.

WKDS is destined to be our new adventure. The waiting was pretty torturing and took some dramas. Some offered that too good to be true once made but then, if it’s too good to be true then it doesn’t exist. Prayer had been made to ask the best place appointed.

The announcement was out before we departed to Tokyo. A small regency in South Borneo become our destination. A small city with 30 minutes flight from Banjarmasin, the native land of my father. Maybe it’s so right to say we will always be back to our root. Among thousands of cities in Indonesia, my half hometown is destined for us.

Unlike previous traveling that planned thoroughly and had enough time to make preparations, this one is really stressful and high tension. Ticket had been booked just 2-3 days before departure, price was far from cheap, and it took two flights to arrive at the city. We’re pretty lucky because there is a flight with small plane so we don’t have to ride hours of trip by car.

Commuter and long distance marriage mode is on. It is not the first time we’ve dealt with this, yet, it doesn’t make it feel easier. I survived those endless shift schedules for five years, yet knowing it would take months until another meeting is truly scary for me. Hoping my patience will cooperate well this time.

I love traveling to new places. But this one is quite different. Who knows what one full year could bring? It scares me a lot.

But then, like every previous steps taken and destined for us, the helping hands were always there. Surely know that we’re never being left alone. What had been appointed is always the best plan more than we could expect.

So, the utmost trust placed to the One whose hold all affair and decision. May this new adventure brings lots of new learnings, bigger blessings, and we’ll be back safely after a year.

Amin.

To Tanah Bumbu we go!

Bismillah.

Posted in Places, Travel

Tempat Solat di Tokyo

1. Takashimaya Shinjuku lantai 11.

2. Neo Dougenzaka Shibuya lantai 11 (shibuyamosque.com)

3. Tokyo Mosque Turkish Culture

4. Gotemba Premium Outlet

5. Narita Airport Terminal 2, 1st Floor

Work hard.

Save much.

Travel far.

Pray sincerely.

Posted in Places, Travel

Eating in Tokyo

Dominique Ansel Bakery
Ayam Ya Halal Certified Ramen
Tokyo Milk Cheese Ice Cream
Gyukatsu Motomura Harajuku
Less known Halal Ramen : Mazilu_Tokyo
The only menu in Mazilu Tokyo
Sushi and Blueberry ice cream Tsukiji Fish Market
Snacking at Yoyogi Park

Outbound meal from Japan Airlines

Most favorite snack from JAL

Yoshinoya

Enjoying Chicken Ramen Ayam Ya

Posted in Langit Senja, Places, Travel

Langit Senja in Tokyo

When Autumn in Paris was the hardest since it was the first time, Spring in London were bearable and manageable in spite those hours of transits, we could say Winter in Tokyo was very much easier.

Knowing Langit had survived Paris and London, we were pretty confident with Tokyo and she turned out really nailed it. She enjoyed the food a lot, survived all day being outdoor with very little crankiness. We decided not to go to Disneyland because it was too expensive for her age. In spite of Disneyland, we decided to let her having a dose of playground everyday which we found a lot in Tokyo, unlike in London. We let her play for an hour, mingled with those Japanese toddlers. We even visited a large indoor playground near our apartment, not free of course and it was only for an hour.

Unlike Paris and London where buses were available for our itinerary, Tokyo has very limited choice. Not even once we took bus to go anywhere. So subway was the only choice and way to reach the train were very long with lots of stairs. We made her walk down the stairs on her own. It was slowing us down for sure, but that was fine. She enjoyed doing it alone. When the passage was too far, we let her to hop on her stroller again.

At this age, she had been to place I could never think of when I was her age. The hope that her steps could go further than her parents could take her to is surely high. Amin.

Tokyo dome
Ueno Park
Meji Jingu Shrine
Yoyogi Park
Tokyo Tower
Shinjuku Station
Korakuen Station Playground