Posted in Langit Senja, Maternité, Thoughts

Perkembangan Setelah Diagnosis DLD (Developmental Language Disorder)

Selain lega, perasaan lain yang juga muncul setelah mengetahui tentang DLD adalah bingung dan takut.

Ada waktu-waktu dimana saya benar-benar down karena ini dan ngga ada kata penghiburan yang saya perlukan untuk merasa lebih baik. Kata-kata seperti alhamdulillah tapi anaknya sehat, alhamdulillah ini ngga seserius itu, dan yang lain-lain. Buat saya ini lebih dari serius dan akan jadi perjalanan dan perjuangan panjang buat kami, terutama anak saya.

Satu-satunya yang paling menghibur adalah karena saya tau kami ngga pernah dibiarin sendiri.

Sebelum ke London, saya ngga ngerti apa ini kok belum berenti juga dari spesialis 5 tahun, WKDS 1 tahun di tempat yang jauh, tiba-tiba fellowship lagi 1 tahun di tempat yang lebih jauh. Ternyata, yang punya hidup sedang nunjukin jalan dan solusi buat masalah besar yang dihadapi, buat jawab semua doa yang diminta, buat mengabulkan cita-cita.

Makanya disiapkan juga setahun sebelumnya WKDS di tempat yang jauh, harus LDM, dan saya masih ingat betapa berat perasaan waktu itu. Ikut ngga memungkinkan, ngga ikut berarti harus berhadapan dengan banyak hal sendiri. Tapi pelan-pelan dijawab.

Betul jauh, tapi dikasih penempatan di RS yang baik. Rekan kerja dan waktu kerjanya sangat menyenangkan. Bisa hanya kerja 10-14 hari per bulan karena bergantian sehingga sisanya libur dan bisa pulang ke Jakarta.

Betul berat, tapi dikasih penempatan yang uangnya alhamdulillah tepat waktu dan sangat lebih dari cukup sehingga bisa bolak -balik sebulan sekali, menabung lumayan, bisa lebih leluasa juga membantu orang lain.

Dikasih WKDS ternyata memudahkan sekali buat mempersiapkan dokumen-dokumen buat kepindahan yang mana rasanya waktu itu kaya ngga selesai-selesai. Banyak dan ribet. Tanpa metode kerja 2 minggu libur 2 minggu, kami ngga akan ada waktu untuk bisa menyiapkan banyak hal dalam waktu enam bulan. Bahkan ayahnya harus terbang ke Medan khusus untuk ambil tes bahasa Inggris yang hanya ada di sana.

Sebelum berangkat, sudah puluhan rumah di daerah utara London ditandai dengan alasan lokasinya searah dengan RS tempat kerja. Kenyataannya kami ditunjukkan tempat tinggal di ujung lawannya di selatan. Dimana tempatnya ini beda sekali dengan utara yang rame, tapi justru pas sekali. Tenang, nyaman, sepi, dekat banyak hutan, di depan sungai Thames, dan ternyata karena mau didekatkan dengan sekolah dimana jawaban yang dicari ada di sana.

Sejak mengetahui tentang DLD, kami ngga berhenti mencari tau lebih banyak lagi seperti dengerin podcast, beli buku, bahkan saya daftar NAPLIC confrence di Sheffield, sebuah pertemuan yang membahas tentang DLD dari berbagai peneliti dan tokoh yang menyuarakan tentang DLD ini. Saya juga mendaftarkan diri sebagai RADLD ambassador di RADLD.com, yang sayangnya masih ditulis dari UK karena domisili saya saat ini masih di Inggris. Sedang mengirimkan permohonan supaya bisa diganti ke Indonesia karena TIDAK ADA SATU PUN perwakilan dari Indonesia, yang mana jadi kekhawatiran besar selanjutnya.

————————————

Bagaimana kelajutan tentang diagnosa DLD?

Laporan hasil screening diberikan minggu berikut setelah saya menemukan tentang DLD. Hasilnya adalah perlu screening lebih lanjut. Sampai ada jeda waktu yang cukup lama yang buat saya gelisah kenapa ngga ada kabar lagi.

Masa-masa antara satu screening ke berikutnya dan menunggu hasil adalah periode yang sangat ngga nyaman. Di satu sisi sedikit lega karena paling ngga ternyata kondisi ini ada labelnya, ada penelitiannya, dan ada lembaga supportnya. Di sisi lain dada juga sesak membayangkan anak ini harus menghadapinya seumur hidup. Hidup udah berat, dengan ini akan jadi lebih berat.

Setelah hasil screening resmi keluar dan dinyatakan jelas dia memang memerlukan terapi, kami sempat beberapa kali diundang ke sekolahnya. Kami bertemu dengan orang dari tim SLT dan dijelaskan dengan rinci dan detail dengan sangat hati-hati. Khas orang Inggris sekali bisa menyampaikan sesuatu dengan bahasa yang terbungkus rapi, dimana kadang dianggap bertele-tele.

Saya suka sekali cara mereka membantu kami. Kaya itu hal sudah seharusnya mereka lakukan dan terlihat tulus sekali. Saya mungkin yang agak culture shock dari dapet terapis ngasal yang dibayar malah main hp ke orang-orang profesional yang saya bahkan ngga bayar sepeser pun malah terus bantu bahkan ketika saya bilang terima kasih berkali-kali dijawab dengan : “No, it’s fine, really. That’s our job”.

😭😭😭

Satu semester berlalu dan kemajuan anak saya pesat sekali. Bisa benar-benar ceriwis. Masalah bicara dengan struktur yang benar pelan-pelan terlihat. Kalo sebelumnya bilang : I going to school, pelan-pelan berubah jadi I am going to school.

Dia juga mulai sering monolog panjang seperti cerita ke mainan-mainannya, cerita dengan antusias tentang hari di sekolahnya, semaksimal normalnya anak DLD.

Satu masalah anak DLD adalah masalah teman. Seperti di sekolahnya dulu, dia hampir ngga bisa berbaur dengan teman-temannya terutama yang perempuan, karena besar kemungkinan dia ngga ngerti apa yang mereka bicarakan dan juga ngga bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan. Dan, tanpa bermaksud apa-apa, anak-anak di sini beda dengan di Indonesia. Ketika pagi ketemu di gerbang atau di jalan, pulang sekolah atau ketemu di supermarket, semuanya menyapa walaupun sekedar Hi seperti yang saya tulis di The Last Day of the Happiest School Year dan This Cool School.

Di sekolah ini dia bener-bener punya teman yang mau main dengannya dan yang selalu dia sebut namanya di rumah. Kami sangat bersyukur sekali buat itu.

Berada di lingkungan yang berbicara dengan bahasa yang dia paling nyaman juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologis dan kemampuan berbahasa anak saya. Sekolah dan berteman dengan bahasa Inggris buat dia lebih nyaman, lebih happy, dan akibatnya dalam beberapa bulan di sini, kemajuannya jauh lebih banyak ketimbang 1,5 tahun sekolah dan terapi di Jakarta.

Meskipun di rumah kami banyak bicara bahasa Indonesia, dia hampir selalu menjawab dalam bahasa Inggris. Di sini terlihat bahwa dua bahasa sama sekali ngga ada hubungannya dengan DLD. Dia bisa mengerti keduanya dan tetap memiliki kesulitan di keduanya.

Selalu ada dua sisi dalam setiap masalah. Selain fokus di masalah bahasa, sejak pindah ke sini dia punya dua rutin yang saya ajarkan tiap hari. Salah satu keuntungan pindah ke sini adalah fokus dan energi saya lebih banyak buat dia. Kami mulai meneruskan pelajaran Iqro setiap abis maghrib dan hafalan Al-Quran setiap abis subuh. Di akhir tahun lalu, ayahnya beliin piano yang tujuan awalnya supaya saya bisa main sedangkan saya sudah lama kepikiran pengen beli buat ngajarin dia.

Pelajaran piano dimulai pertengahan Desember ketika satu hari Senin tiba-tiba sekolah diliburkan karena ada kebocoran gas. Hari itu saya mulai ngajarin dia dan ngga berhenti sampai hari ini.

Saya ngga sangka, di piano dan iqro ini dia cepat sekali belajar. Dari pandangan objektif saya sebagai guru, anak ini cepat sekali belajar not balok dan huruf hijaiyah. Dalam 7 bulan dia bisa selesai satu buku, baca not dasar dengan baik, main duet, dan bahkan sempat ikut lomba dengan belajar sebuah lagu dari awal, yang levelnya lebih tinggi. Di luar jam latihan wajib dengan saya, sering sekali dia latihan sendiri. Dia berhasil menghafal semua not di tangan kanan dan kiri juga lirik sepanjang delapan baris dalam waktu dua minggu dengan hasil seperti yang saya tulis di sini.

Di iqro pun juga progresnya cukup baik. Satu buku dihabiskan dalam dua bulan, bisa lewat halaman evaluasi tanpa salah, dan sekarang sudah ada di akhir buku empat.

Salah satu hal yang paling menghibur adalah anak ini suka belajar. Selama lockdown kami terus rutin belajar dengan jadwal sendiri dan antusiasmenya juga terlihat sekali. Baik di piano, iqro, membaca, matematika ataupun menulis. Laporan akhir tahun dari sekolahnya mengkonfirmasi hal ini.

Beberapa minggu belakangan ini juga, setidaknya ada tiga orang yang kata-katanya cukup memberikan penghiburan.

Waktu konsultasi dan observasi dengan dr Mustafa, kalimat yang saya paling inget dari beliau : “There’s nothing you should worry too much. She’s fine. She’s intelligent. Keep an eye, go to therapy, of course. But, there’s no need to feel so anxious about this. She’ll be ok”.

Lalu kemarin ayahnya cerita ngobrol dengan konsulennya di RS tentang ini. Dr Sally juga cerita tentang salah satu anaknya yang dyxpraxia/DCD. Gimana dulu bahkan ketika SD dia sempet mempertanyakan apa anaknya bisa lulus karena sampai 9th tulisannya jelek, ngga bisa mengarang cerita, dsb. Tapi ternyata, semua baik-baik aja sampai hari ini anaknya jadi dokter, straight A student selama kuliah, nulis jurnal ilmiah, dsb. Kalimatnya yang secara ngga langsung saya denger, “Every child will find their way. Something that we worry too much now could be irrelevant in the future”.

Suka sekali.

Terakhir, kemarin adalah jadwal Parent Teacher Meeting dengan guru kelasnya. Gurunya cerita kalau dalam tiga hal dasar kemampuannya cukup bagus.

” Her math and writing are on the track. She starts writing sentence on her own, which is so lovely. She’s having her SLT twice a week with Denise and her progress is really good. She’s working hard on it. She is really good at reading. She will go to the next level this week. She’s a strong reader”.

“Thank you. That’s very nice to hear. And thank you so much for helping her”.

“Ah no, no she’s a lovely girl and she’s a pleasure to have here”.

I really love her school😭😭😭.

Kami masih terus belajar tentang DLD maupun DCD. Rencana ke depan dan jangka panjang masih belum pasti. Sulit sekali membayangkan harus berjalan sendiri tanpa support yang kami terima di sini.

Tapi, untuk semua hal yang kami sudah didapat, dalam bentuk apapun, saya ngga punya cukup kata syukur buat semua yang terjadi selama setahun kota ini.

Kami salah satu kasus yang beruntung karena bisa dideteksi sejak dini. Banyak sekali anak dan orangtua selama bertahun-tahun harus terus merasa kebingungan dengan apa yang terjadi dan ngga pernah mendapatkan jawaban dan bantuan yang dibutuhkan.

Saya bersyukur untuk semua kesempatan belajar dan menyaksikan kemajuan sekecil apapun dari usaha yang dilakukan. Sebagai orangtua hal ini juga melatih empati. Mempersempit fokus dan menyalurkan kemana energi dan sumber daya dihabiskan untuk hal-hal yang penting. Menghargai hal-hal sederhana yang mungkin buat orang lain hal biasa dan bukan apa-apa. Menyadari bahwa progres sekecil apapun berharga. Tolak ukur dan pembanding yang kita perlukan adalah diri (anak) kita sendiri, bukan (anak) orang lain.

Saya percaya selalu ada maksud dibalik semua yang menjadi rejeki kita. Termasuk anak-anak yang dititipkan, seperti yang ditulis Dr Emily di salah satu tulisannya.

Semoga hati dan langkah selalu dikuatkan, diberikan kemudahan untuk menghadapi semua ketidakpastian, rintangan dan perjalanan yang ada di depan.

Semoga Allah selalu tunjukan yang terbaik, seperti selama ini selalu didekatkan dengan sekolah dan orang yang baik. Amin.

Motherhood is basically moving from one set of worries to another set of harder worries by years. To be a mother is truly one of the bravest things I have ever done.

Posted in Langit Senja, Maternité, Thoughts

Jalan Panjang Menemukan DLD (Developmental Language Disorder) Bagian III (selesai)

Baca Bagian I dan Bagian II.

Beberapa minggu pertama di London dihabiskan untuk mengurus semua hal untuk kehidupan di sini. Pencarian sekolah baru dilakukan setelah semua hal seperti tempat tinggal dan kelengkapannya beres. Setelah dua minggu menikmati liburan kaya turis, alhamdulillah ditunjukan satu sekolah negeri yang dekat rumah dan dari awal impresinya baik sekal

Anak saya mulai sekolah di akhir September. Semua berjalan lancar dan dia keliatan happy di sekolah meskipun jadwal belajar yang panjang lima hari seminggu jam 8.50-15.20. Sekolahnya juga terlihat menyenangkan dari segi guru dan teman-temannya. Satu bulan sekolah di sini jelas sekali dia lebih bahagia dibanding 1,5 tahun di sekolah lamanya.

Perkembangan bahasa ada sedikiit kemajuan, sudah bisa mulai cerita agak panjang, meskipun strukturnya masih tetap berantakan. Dalam hati, saya masih gelisah dan bertanya-tanya, tanpa intervensi apa semua akan tiba-tiba jadi normal. Saya sempat tanya ke ayahnya, kita perlu konsul ngga sih disini. Tapi ngga benar-benar dilakukan karena ngga tau juga kemana.

Seperti banyak hal di hidup saya, biasanya jalan akan terbuka ketika saya sudah benar-benar desperate. Seperti tadinya jalan di terowongan gelap yang panjaaang, kesandung sana sini, berenti istirahat, jalan lagi, dan lalu tiba-tiba aja ada cahaya di belokan ke jalan keluar.

Tanggal 14 Oktober 2019 ada pertemuan orang tua murid pertama di sekolahnya. Ini adalah sesi satu lawan satu antara orang tua murid dan guru selama 10 menit. Di pertemuan ini, gurunya membicarakan perkembangan selama di kelas. Di sini, masalah bicaranya diangkat yang mana mulai buat saya gelisah lagi. Tapi kali ini, saya pulang dengan solusi.

Ternyata hampir semua sekolah di UK punya tim khusus untuk masalah speech and language. Sehingga, apa yang saya cari sebelumnya ternyata ada di dekat saya. Saya diberikan form persetujuan untuk anak saya diizinkan melalui screening oleh Speech and Languange Therapist.

Di sini SLT adalah suatu profesi khusus yang ada pendidikan khususnya. Ada sekolah resminya dan memiliki gelar profesi khusus seperti psikolog. Bukan dokter anak atau sekedar terapis seperti di Indonesia yang saya juga kurang tahu dan jelas latar pendidikannya termasuk ke mana. Setelah form dikembalikan kami masih menunggu hasilnya.

Masih di minggu yang sama, tiga hari kemudian, saya ngga akan lupa hari itu.

Kamis, 17 Oktober 2019.

Pagi itu saya selesai anter sekolah, ketika melewati aula, saya berhenti di depannya dimana ada papan kecil dengan pamflet berwarna ungu. Saya dekati dan saya baca isinya.

Selama beberapa menit, jantung seperti mau copot. Tangan gemetar mau foto dan wa ayahnya.

Setelah semua yang dilalui dan dijalani, saya ngga nyangka hari itu akan datang. Hari dimana akhirnya saya mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan dan segala rasa frustasi bertahun-tahun ini.

Sebuah papan dengan poster sebagai berikut :

Meskipun saat itu sama sekali belum ada diagnosa resmi apapun, saya hampir 100% yakin ini adalah kondisi yang dialami anak saya, yang mana dikonfirmasi setelah beberapa bulan kemudian. Kenapa saya yakin? Semua tanda yang disebutkan sesuai sekali dengan anak saya.

Dengan perasaaan saya campur aduk, saya langsung wa ayahnya dan bicara ngga berhenti. Saya habiskan seharian dengan membaca semua tentang ini.

Semua typo diabaikan karena otak bekerja lebih cepat dari tangan

Sementara saya langsung yakin seyakin-yakinnya dalam beberapa menit, wajar sekali ayahnya ngga percaya. Setelah bertahun-tahun percaya bahwa ini hanya masalah delay dan soal waktu, dalam satu chat singkat, kondisi anaknya berubah jadi gangguan permanen yang akan berlangsung seumur hidup.

Seperti vonis.

Anak saya bukan sekedar speech delay atau late talker, tapi dia punya sebuah disorder/gangguan bernama DLD.

————————————————–

I. Jadi apa itu DEVELOPMENTAL LANGUAGE DISORDER atau DLD?

Poster di bawah ini bisa menjelaskan secara singkat :

Saya translate sebisanya di bawah ini :

1. DLD adalah sebuah diagnosis yang diberikan ketika seorang anak atau orang dewasa yang memiliki kesulitan untuk berbicara dan/atau memahami bahasa.

a. Meliputi kesulitan dalam bahasa ekspresif (ini menjelaskan kenapa dia bisa baca cepat sedangkan tidak dengan bicara. Karena gangguannya ada di bahasa ekspresif, bukan reseptif). Bahasa gampangnya seperti dyslexia, seperti yang di chat saya. Kalo dyslexia gangguan membaca, maka ini adalah gangguan bicara.

b. Mempengaruhi anak-anak dan akan berlanjut hingga dewasa. Iya, ini adalah kondisi seumur hidup. Bukan seperti penyakit yang bisa sembuh dengan minum obat dan seiring waktu.

c. Menimbulkan kesulitan sosialisasi

d. Tidak memiliki penyebab pasti, dan kemungkinan dari faktor genetik.

2. DLD adalah kondisi yang tersembunyi namun sangat umum. Dua anak dalam setiap kelas berisi 30 orang mengidap DLD yang mana hal ini mempengaruhi belajar, literasi, pertemanan dan kesehatan emosi.

a. Sering dianggap sebagai anak yang berkelakuan buruk, tidak mau mendengarkan dan tidak bisa memperhatikan.

b. Dalam studi terbaru, DLD ditemukan sebanyak 7% di anak usia 4-5 tahun.

c. Mempengaruhi proses belajar di sekolah.

d. Mempengaruhi kemampuan dasar seperti menulis dan membaca yang sering dikaitkan dengan dyslexia.

e. Menyebabkan perasaan terisolasi dari pertemenan karena kesulitan mengerti dan mengungkapkan dengan baik.

f. Meningkatkan resiko pencapaian akademik yang rendah.

g. Dapat menyebabkan gangguan perilaku, emosi dan mental serta kesulitan mencari pekerjaan

3. Dengan support, orang atau anak dengan DLD bisa mengikuti pembelajaran dengan baik.

Anak DLD ini sering ditemukan sama cerdasnya dengan anak biasa pada umumnya. Maka itu dari sebelumnya saya bilang, anak saya benar-benar terlihat baik dari luar. Dia bisa menghafal isi buku kamus anak-anak, cepet sekali menghafal sesuatu yang punya nada, selain lagu juga seperti doa atau suara ngaji. Kemampuan berpikirnya jalan. Kemampuan kognitifnya juga cukup baik. Ingatannya di atas rata-rata. Tapi kemampuan bicaranya akan selalu 1-2 tahun di bawah anak seusianya.

Di artikel ini dijelaskan dengan rinci tanda-tanda DLD sesuai umur dimana baru mulai terlihat jelas di masa umur pra sekolah, yaitu 3-5 tahun. Diagnosanya pun ngga bisa ditentukan lebih awal dari 5 tahun. Bedanya dengan speech delay atau late talker adalah, anak yang hanya mengidap speech delay akan bicara dengan normal dengan terapi setelah beberapa waktu. Anak dengan DLD akan selamanya memiliki gangguan ini.

II. Seperti apa ciri-ciri anak DLD?

Ini saya baca dari artikel PDF dari I CAN. Sebuah lembaga komunikasi untuk anak di UK :

Di artikel tersebut dijelaskan bahwa untuk melabeli seorang anak memiliki #DLD, ia harus memiliki kesulitan berbahasa yang terus muncul sampai usia sekolah. Oleh karena itu, ketika awal hanya akan didiagnosa sebagai speech delay. Tapi jika ini terus berlanjut sampai usia TK, bisa jadi itu adalah #DLD.

Tanda-tanda seorang anak memiliki #DLD bisa beragam tetapi hampir selalu memiliki kesulitan dalam memahami spoken language. Mereka juga memiliki kesulitan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan baik melalui bahasa.

Beberapa ciri DLD :

1. Kesulitan untuk mengatakan keinginan, meskipun mereka punya suatu ide di kepala.

2. Kesulitan untuk menemukan kata yang pas untuk digunakan.

3. Bisa bicara dalam kalimat, tapi sulit dimengerti orang lain (ini jelas ada di anak saya, sampai sekarang).

4. Bunyi suara yang tidak jelas sehingga orang lain sulit mengikuti yang mereka bicarakan. (Salah satu alasan kenapa anak saya sulit berteman).

5. Mengalami kesulitan untuk memahani instruksi yang panjang dan kompleks.

6. Mengalami kesulitan mengingat kembali kata-kata yang ingin mereka sampaikan.

7. Sulit untuk berbaur dan bermain bersama-sama di playground karena ia sulit untuk mengikuti percakapan yang terjadi, terutama jika itu sebuah grup besar.

Satu ciri utama yang tertulis di artikel di atas adalah anak DLD ini bukan bicara seperti anak kecil, tetapi bicara mereka umumnya terdengar tidak terorganisir dengan baik. Bahasa sederhananya : ngomongnya berantakan. Ini yang jelas terjadi pada kasus anak saya.

Di artikel lain dijelaskan mitos-mitos yang berhubungan dengan DLD. Mitos-mitos tersebut diantaranya adalah :

1. Ini akan sembuh jika sudah waktunya. Tidak.

2. Anak ini pemalas/nakal. Ketidakmampuan untuk mengerti dan mengungkapkan perasaan lewat bahasa verbal membuat anak DLD ini frustasi.

3. Hasil parenting yang buruk.

Dari artikel tadi :
In fact, we know that in most cases, DLD arises from genetic influences on early brain development. We don’t know enough about specific genes to have a biological test for language disorder, but we do know that parents rarely cause their child’s language difficulties.

Sama sekali tidak ada hubungannya dengan parenting.

4. DLD disebabkan karena dua bahasa.
The research evidence here is pretty clear – exposure to two languages does not cause or complicate language disorder. Children need high-quality language input, so parents should continue to talk with their children in whatever language they themselves feel most comfortable speaking.

Kalo dulu kami beranggapan dengan mengikuti kelas bahasa Inggris akan membuat dia lebih cepat bicara normal, itu salah. DLD ini mempengaruhi semua bahasa yang digunakan. Jadi baik dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris, atau bahasa apapun, kemampuan bahasanya akan sama terganggunya. Hanya di kasus anak saya, bahasa Inggris telah menjadi bahasa yang paling nyaman untuk komunikasinya.

Jika ada satu pertanyaan besar apakah DLD disebabkan karena dua bahasa? Jawaban dari penelitian ini : TIDAK.

Di sini ada satu kampanye berbunyi :

“Not all disabilities are visible”.

Developmental Language Disorder atau DLD, yang sebelummya dinamankan Speech Language Impairment atau SLI adalah salah satunya.

Ini adalah salah satu website yang menjelaskan DLD secara komprehensif. Terutama penjelasan lengkap mengapa DLD sulit dikenali dibanding kesulitan belajar lainnya : https://dldandme.org/recognizing-dld/.

______________________________________

Salah satu yang perlu dicermati, DLD ini umumnya ngga berdiri sendiri. Ada irisan dengan ganguan perkembangan lain seperti autis, ADHD, dyslexia atau dyspraxia (DCD). Penelitian tentang hal ini masih terus dilakukan.

Pada artikel ini dijelaskan bahwa autisme dan DLD ada di dalam satu rumpun ‘Neurodevelopmental disorder’ namun autisme biasanya memiliki kondisi medis yang lebih serius. Hanya ada 2% anak dengan autisme sedangkan presentase DLD tiga kali lipatnya sebanyak 7%, namun dikarenakan gejalanya yang tersembunyi, DLD lebih sulit dikenali.

Pertengahan bulan Agustus, kami melakukan video call asesmen dengan salah satu dokter anak rujukan NHS. Seharusnya asesmen langsung tapi dikarenakan situasi covid jadi hanya via video call. Langit diberikan beberapa pertanyaan dan orangtuanya juga diwawancara. Laporan resmi sepanjang enam halaman menyatakan bahwa perlu asesmen lebih lanjut dan tiba-tiba ide DLDnya berhubungan dengan ASD (Autism Spectrum Disorder) muncul.

Kalo ketika dinyatakan DLD saya lega.

Baca kemungkinan ASD hati saya patah.

Tapi, ngga ada gunanya lama-lama berkutat dengan patah hati, yg mana udah biasa juga. Besoknya langsung cari info untuk asesmen lanjutan. Ternyata kalo asesmen dengan NHS waktu tunggunya SATU TAHUN. Kami ngga punya waktu selama itu. Kekhawatiran kalo kami kembali tanpa diagnosa yang lebih jelas, kami harus kembali lagi dari awal.

Ada alternatif lain yaitu dengan asesmen privat yang mana harus bayar sendiri. Di sini kami udah ngga banyak kompromi lagi. Cari di google dan hampir sepuluh klinik privat dihubungi.

Hampir semuanya balas dengan kasih harga yang bikin hati berat. Tapi kata orang, buat anak apa yang ngga. Apalagi kalo emang uangnya (alhamdulillah) ada.

Ada dua klinik yang balas inquiry dan komunikasinya cukup baik. Harga klinik satu 5x harga yang lain. Harga klinik yang 5x lebih murah dikarenakan dokternya konsultasi privat di rumahnya di zona 5. Sedangkan klinik lain ada di tengah kota.

Harga mahal jelas lebih meyakinkan. Dari cara mereka balas email, sangat akomodatif, responsif, dan asesmen yang dilakukan terstruktur jelas. Sedangkan dokter yang satu, dari awal nelpon kurang meyakinkan, bales sms lama, dan sebagainya.

Tapi kami tetap menjajaki dua-duanya sampai detik terakhir. Dokter privat punya keunggulan harga dan tanggal assesmen sebulan lebih awal dibanding yang mahal.

Dalam dua minggu penjajakan semua seperti sudah hampir deal dengan klinik tengah kota meskipun tiap inget harganya hati kaya dicubit. Kami sudah diberikan tanggal dan setuju dengan semua asesmen. Sementara kami tetap keep tanggal yang disepakati dengan dokter zona 5.

Dalam waktu tunggu, saya sering sekali gelisah dan nanya ke diri sendiri, apa ini terlalu berlebihan, apa harus mengeluarkan uang sebanyak ini untuk sebuah jawaban, dan masih banyak lagi.

Tapi, sekali lagi, rejeki emang ghaib.

Beberapa hari sebelum tanggal perjanjian dengan dokter zona 5, klinik tengah kota menghubungi dan ganti jadwal yang mana jadi lebih lama. Ini jadi titik balik yang akhirnya kami putuskan untuk pilih dokter zona 5.

Kami bertemu langsung dengan dr Anis Mustafa di rumahnya. Beliau adalah dokter anak senior yang berpengalaman di bidang neurodevelopmental selama 40 tahun. Setelah asesmen selama sekitar 2 jam, beliau menyatakan bahwa ada kemungkinan ini mengarah ke DCD atau dyspraxia, lebih spesifik verbal dyspraxia, dan hampir pasti bukan ASD. Dyspraxia bukan hal yang baru kami dengar.

DCD atau dyspraxia secara singkat adalah disorder yang berhubungan koordinasi. Seperti kesimbangan yang kurang. Ini juga kondisi yang ada jelas di anak ini. Tapi saya ngga akan bahas tentang itu. Video tentang DCD di bawah ini mungkin bisa membantu : https://youtu.be/O0T1MKh2JiM.

____________________________________

Saya memutuskan menulis ini dalam bahasa Indonesia karena tidak seperti gangguan perkembangan lain sepetti autis, ADD, ADHD atau dyslexia, DLD ini istilah yang masih sangat eksklusif. Setelah melakukan banyak pencarian, akhirnya saya bisa menemukan SATU makalah yang ditulis oleh Dokter-dokter anak ahli RSCM yang menyebutkan DLD secara gamblang. Prof Hardiono memang terkenal sebagai salah satu ahli gangguan perkembangan anak, termasuk bahasa.

Ini sedikit cuplikan artikelnya :

Di sini saya benar-benar menyadari pentingnya label. Saya selalu ingat betapa frustasinya tahun-tahun sebelum ini ketika saya tau dan yakin anak saya sudah bukan lagi speech delay karena dia sudah sangat sering bicara tapi tidak seperti bicara normal, sedangkan saya benar-benar ngga tau ini apa, dan ngga ada bayangan bisa tanya ke siapa.

Dengan tau kondisi anak saya ini ada namanya, ada kriterianya, ada terapinya, membuat penerimaan ini lebih mudah sehingga bisa maju ke tahap berikutnya.

Perjalanan ini mengingatkan bahwa ngga pernah ada yang mudah.

Banyak sekali hal-hal di luar kendali yang terjadi tanpa bisa dicegah.

Di atas semua usaha kita, cuma satu yang bisa buat lebih tenang : bismillah dan berserah.

Perjuangan dari sini masih panjang.

Semoga tulisan ini bisa membantu siapapun yang sedang mencari jawaban.

Posted in Langit Senja, Maternité, Thoughts

Jalan Panjang Menemukan Jawaban Bagian II

Lanjut dari Bagian I

Di tahun 2018 adalah periode single carer kedua, setelah tahun 2014-2015 ayahnya sibuk dengan residensi. Kali ini karena ayahnya tugas di luar kota selama setahun. Hampir semua hal saya kerjakan sendiri dan itu sangat melelahkan juga menguras emosi. Saya memutuskan untuk memasukan ke daycare seminggu sekali setengah hari ketika saya bekerja.

Tahun itu juga mulai masuk preschool. Kami berharap semoga dengan makin luas sosialisasinya akan berbanding lurus dengan kemampuan bicaranya. Daycare, sekolah , dan terapi berjalan sekaligus. Lelahnya menjalani tiga hal dan banyak hal lain sendirian cuma bisa ditawar dengan harapan semua akan ada hasilnya di depan yang saya sendiri juga bertanya-tanya datang kapan.

Alhamdulillah kami ditemukan dengan sekolah yang baik dimana guru-gurunya bisa mengerti tentang masalah komunikasinya dan sangat membantu sehingga saya bisa dengan tenang menitipkan anak saya seminggu tiga kali selama beberapa jam. Kami mengatakan dari awal, bahwa kami ngga punya ekspektasi apapun. Cuma ingin dia senang ada di sekolah, ketemu dan main dengan teman-temannya, ngga perlu harus bisa baca, nulis, hitung. Bahkan dari awal saya bilang, ngga papa lambat, ngga papa ulang kelas sampai dia siap dari segi komunikasi untuk ke tingkat selanjutnya.

Anak ini cukup enjoy dengan sekolahnya. Meskipun hampir ngga punya teman yang benar-benar dekat, tapi dia sangat nyaman dengan guru-gurunya. Bukan hanya guru kelasnya, tapi juga semua guru di sekolah itu. Enaknya sekolah kecil. Sekolahnya juga punya space hijau yang cukup luas. Saya bersyukur sekali untuk itu.

Selama 1,5 tahun sekolah, perkembangan bahasanya ada peningkatan tapi ya masih ‘segitu-gitu’ aja. Pertanyaan singkat bisa dijawab, menyatakan keinginan bisa diutarakan, kosa kata sangat banyak, dan lagi-lagi meskipun semua tempat yang kami pilih murni berbahasa Indonesia, tetap saja hampir semua yang keluar dari mulut adalah bahasa Inggris. Dia ngerti bahasa Indonesia, tapi entah kenapa bahasa yang buat dia nyaman adalah bahasa Inggris. Di rumah, akhirnya, sadar atau tidak, kami mulai mengikuti dengan berbicara bahasa Inggris.

Awal tahun 2019, karena melihat anak ini jelas terlihat lebih nyaman dengan bahasa Inggris, kami memutuskan untuk memasukan ke les bahasa Inggris untuk anak-anak. Tujuan utamanya hanya satu : supaya bisa bicara dengan normal ngga peduli dalam bahasa apapun.

PR saya yang waktu itu masih jadi single fighter semakin banyak : daycare, sekolah, terapi, dan ditambah lagi les bahasa Inggris. Semakin banyak kegiatan, ngga mengurangi kegelisahan saya, yang ada malah makin frustasi meskipun ngga terlihat. Kegelisahan saya makin besar karena umurnya semakin bertambah sedangkan tanda-tanda normal masih belum kelihatan.

Semua kegiatan seabrek ini kadang lebih terasa kaya pelarian. Kaya nembak ke sasaran tanpa tau ini benar atau salah dari berbagai arah dengan harapan bisa sampai target. Saya rasa kami sudah melakukan semua yang kami bisa dan mampu. Doa saya makin panjang dan menuntut. Bukan menuntut ini selesai, tapi supaya ditunjukan jalannya. Harus apa dan bagaimana (lagi). Kadang kalo lagi bener-bener overthinking, banjir air mata ngga bisa dihindarkan.

Cuma pengen liat dia bicara normal sesuai umurnya. Bukan seperti anak 1-2 tahun di bawah umurnya.

Perasaan saya seperti yang dijelaskan oleh seorang psikologi anak yang juga ibu dari anak special needs di tulisan ini.

Di awal Desember 2018, kami mulai hidup baru dengan pindah tempat tinggal. Lelah dan excited semuanya bercampur. Pindahan itu benar-benar menguras fisik dan mental. Apalagi waktu itu masih LDM. Tapi setelah beberapa minggu, semuanya sudah lebih rapi, perasaan juga udah lebih baik.

Tapi, hidup itu kadang (sering) suka lempar becandaan yang saat itu rasanya ngga lucu banget. Dua hari sebelum 2018 selesai, dalam satu tengah malam semua rencana dan peta hidup tiba-tiba berubah total karena tawaran fellowship di London muncul dan kalo ingin benar-benar kesana harus diesksekusi dalam waktu enam bulan.

Waktu itu setengah mau nangis dengan berbagai pikiran di kepala :

“Udah bayar sewa setahunnnn”.(nangis).

“Baru banget pindahan. Belum sebulan. Capenya belom ilang gotong-gotong kesana kemari bolak balik, ini serius mau pindah lagi dalam 7 bulan?”(bayangin ngulang lelahnya pindahan aja udah capek).

“Pindah tempat masih deket aja repotnya subhanallah, ini lagi pindah benua, negara, yang jelas ngga ada siapa2, gimana mau survive?”

Rasanya seperti endless races dari jalanin spesialis 5 tahun, lalu tiba-tiba tahun 2018 muncul ketentuan 5 bagian dokter spesialis wajib WKDS di desa terpencil (yang mana kebijakan ini baru ada enam bulan sebelum lulus dan lebih lucunya, dihentikan tiga bulan sebelum periode WKDS ini berakhir). Waktu itu saya pikir, kok bisa ya ‘apes’ bener. Abis lulus wajib WKDS, udah selesai tau-tau diapus.

Baca :

A New Adventure Begins

Travel Babble : A Warm Welcome

Tapi, memang bener udah semua yang ditulis di Al-Quran. Bisa jadi kita anggap sesuatu buruk tapi ternyata bawa banyak kebaikan, dan sebaliknya. WKDS ini ternyata banyak bawa blessing in disguises karena kenyataannya banyak sekali kebaikan yang didapat melalui hal ini. RS yang baik, rekan kerja yang kooperatif, waktu libur yang banyak banget, penghasilan yang alhamdulillah sangat lebih dari cukup. Setahun WKDS di Tanah Bumbu salah satu periode yang paling ‘menyenangkan dan tanpa rejeki yang di dapat dan bisa ditabung dari WKDS ini, kami ngga akan bisa bertahan hidup sebulan pertama di London.

Di Maret 2019, periode single fighter berakhir dan saya mulai merasa perlu cari pendapat lain. Terapinya di tempat yang lama sudah terasa makin monoton. Value for moneynya semakin kecil. Terapisnya pun juga terasa setengah bingung karena harusnya sudah bisa dilepas. Saya cari lembaga-lembaga lain yang jaraknya lebih masuk akal dan hemat bensin. Sembari mempersiapkan urusan kepindahan, semua kegiatan tetap berjalan.

Setelah lebaran, saya memutuskan pindah tempat terapi ke tempat baru yang lebih dekat. Sudah tinggal sisa 2 bulan dari jadwal keberangkatan. Secara kualitas jauh di bawah yang sebelumnya. Baik tempat maupun terapis. Tapi, tempat ini menyediakan terapi berkelompok, sesuatu yang belum pernah dicoba.

Kepuasan saya sangat rendah di tempat ini tapi masih bertahan karena ngga punya pilihan lain. Tetap terapi bagaimanapun masih lebih baik daripada ngga melakukan apapun. Berhenti sama aja seperti menyerah pada keadaan, yang mana jarang ada di kamus saya.

Saking ngga puasnya, ada di satu hari yang mana orang semales dengan keributan kaya saya, ngobrol aja males, sampai bisa marah-marah terbuka karena melihat terapis yang sedang ada sesi dengan anak saya TIDAK MELAKUKAN APA-APA kecuali main hp di pojokan. Selama memantau dari CCTV, bener-bener menahan diri untuk ngga melabrak masuk ke kelasnya. Setelah kelas selesai dan terapisnya diskusi singkat, saya sampaikan ‘kemarahan’ saya dengan menunjukan barbuk screenshot cctv. Jarang-jarang saya bisa meledak kaya gitu.

Meledaknya saya juga tercampur frustasi karena semua makin terasa jauh. Tanda-tanda perjalanan ini selesai ngga keliatan, tempat terapi sekarang terasa ngga berguna, tapi ngga ada pilihan, semua usaha, tenaga, waktu, dan uang yang dikeluarkan kaya sia-sia.

Rasanya sudah buntu sekali.

Sama seperti yang saya rasakan di periode akhir di tempat terapi sebelumnya, dua bulan terapi di tempat baru ini, saya merasa apa yang dilakukan signifikansinya ngga sesuai harapan. Materi dan metodenya saya rasa sudah dikuasai anak ini. Ngga ada hal baru.

Mau tau apa yang makin membuat frustasi? Anak ini tiba-tiba sudah bisa baca. Kami, terutama saya, ngga punya cukup energi lagi ngajarin baca di waktu khusus. Dan memang buat saya belum perlu juga bisa baca. Udah ngomong dengan benar aja dulu deh. Tapi, memang di ipadnya dilengkapi dengan berbagai apps phonics dan sejenisnya dan dia suka sekali. Di rumah dia juga punya perpustakaan kecil buat buku-bukunya. Soal buku, alhamdulillah gennya menurun dengan baik. Dia selalu suka baca dan tiba-tiba tanpa sadar, anak ini mulai bisa baca sendiri.

Lalu kenapa jadi bikin frustasi? Karena saya makin yakin anak ini punya suatu masalah di hal bicaranya. Dia ngga ada gangguan pendengaran, bisa baca dengan cepat tanpa belajar khusus, tapi jelas terlambat di masalah bicara. Kalo sekedar telat bicara, harusnya sudah selesai dengan berbagai intervensi yang dilakukan.

Dia udah ngga terdengar seperti delay, bicaranya cukup banyak, cuma berantakan dan ngga seperti kaya anak-anak normal seusianya. Saya makin sering bilang ke ayahnya, ini sesuatu yang lain selain speech delay. Masalahnya adalah : kami tidak tau apa. Tidak tau juga harus cari kemana, nanya ke siapa dan harus gimana. Terapi-terapi yang dijalani sudah sama sekali hampir ngga ada gunanya karena saya rasa bukan itu lagi yang dibutuhkan.

Satu pertanyaan besar yang terus ada di kepala saya : Anak saya KENAPA?

Kami berangkat ke London awal September 2019.

Saya pergi dengan banyak kekhawatiran bagaimana anak ini bisa survive di tempat baru, yang mana saya juga sama sekali ngga tau harus bantu apa dan dimana untuk terapinya. Pindah ke tempat baru jauh dari keluarga, bukan cuma anaknya, orangtuanya juga harus menghadapi masalahnya sendiri.

Tapi, harapan kami cukup besar, karena akhirnya dia bisa berada di lingkungan yang berbicara dengan bahasa yang dia nyaman gunakan.

Little did we know that our moving to London was the beginning of a journey to get the answer of the big question.

Posted in Langit Senja, Maternité, Thoughts

Jalan Panjang Menemukan Jawaban Bagian I : DLD

Disclaimer : ini adalah sebuah tulisan panjang, sepanjang jalan yang harus dilewati untuk mendapatkan jawaban.

Tulisan ini akan terdiri dari 3 bagian, yang masing-masing bagiannya juga (cukup) panjang.

Tulisan ini sudah ditulis selama beberapa bulan, disunting berulang dan dibuat dalam rangka International DLD Awareness Day yang tahun ini jatuh pada tanggal 16 Oktober 2020.

————————————————–

Selama enam tahun jadi ibu, ada beberapa periode dimana saya seperti sedang menghadapi pergulatan yang ketika mengalaminya, saya merasa seperti berjalan di jalan yang saya ngga tau dimana ujungnya. Paling awal adalah menyusui dengan baik dan berimbas ke berat badan.

Tahun pertama dihabiskan dengan berhadapan dengan masalah berat badan. Kontrol bulanan seperti menghadapi ujian yang seringnya ngga peduli betapa keras ‘belajar’ (disiplin ngasih makan, susu, dan lain2), hasilnya lebih sering kaya saya ngga ngapa2in. Kalo dibilang angka ngga penting, buat bayi saya rasa penting. Kenaikan berat badan yang sesuai standar penting buat dicapai.

Tapi, seperti semua hal, pasti ada ujungnya. Perjuangan menaikan berat badan ini bisa dilepas setelah 1,5 tahun. Sebenarnya ngga ada masalah spesifik. Anaknya sehat, hampir ngga pernah sakit. Dua tahun pertamanya sama sekali ngga pernah minum obat sekalipun. Cuma kenaikan berat badannya saja yang ngga seperti kenaikan tinggi badan.

Setelah jadi ibu, sesimpel jadi normal semua sesuai standar, terasa cukup buat ketenangan batin dan jiwa.

Selesai dengan satu pergulatan, yang baru sudah menanti.

Sejak satu tahun atau sebelumnya, sudah terlihat anak ini kurang responsif dalam masalah bicara dan bahasa meskipun kebiasaan membacakan buku, diajak berbicara sudah dilalukan sejak dini. Anak ini jelas mengerti tentang instruksi, tapi ngga banyak mengeluarkan ekspresi lewat verbal. Kosa kata minim. Di usia 22 bulan pertama kali kami memutuskan untuk ke dokter spesialis tumbuh kembang seperti yang pernah ditulis di Konsul Tumbuh Kembang di Brawijaya Clinic Kemang.

Saat itu, dokter melihat masih dalam batas walaupun border line. Kami diminta menunggu sampai 2 tahun. Entah gimana, setelah pulang dari dokter, kosa katanya meningkat drastis. Hanya kata. Kebanyakan dari buku-buku yang sering dibacakan atau dari gambar benda-benda di sekitarnya.

Waktu itu saya bisa sedikit bernafas lega.

Tapi, kenyataannya perjalanan bicara dan bahasa ini (akan) jadi salah satu perjalanan panjang yang harus dihadapi. Bulan-bulan berikutnya, kemajuan ngga banyak terlihat. Sudah kebal kuping sama nasehat-nasehat “sering diajak ngomong”, ” Jangan pakai dua bahasa”, “jangan dikasih nonton” dan sebagainya.

Namun, ada dua hal terlihat jelas yang berhubungan dengan bicara dan bahasa yang saya juga kurang ngerti kenapa :

Pertama, sementara bicara susah, tapi tidak dengan lagu. Di umur 2 tahun lebih dikit, di meja makan, tiba-tiba keluar senandung dari mulutnya : “Moon River, wider than a mile”. Beberapa detik momen yang ngasih saya harapan tinggi kalo anak ini baik-baik saja.

Kedua, kosa kata yang keluar hampir semuanya dalam bahasa Inggris. Meskipun di rumah jelas yang dipakai sebagian besar adalah Bahasa Indonesia.

Saya sering bertanya-tanya, apakah sering denger ibunya ngajar piano dan bahasa Inggris sejak masih dalam perut seberpengaruh itu? Dinyanyikan lagu pengantar tidur evergreen song oleh ayahnya juga sengaruh itu? Ngga tau.

Kami juga sempat memasukan ke kelas bermain seminggu sekali untuk mengekspos lebih banyak suara. Selama 8 bulan, perubahan ngga terlalu signifikan. Kemampuan bicara dan bahasanya tetap mandek di kosa kata. Ngga seperti anak 2 tahunan yang ceriwis.

Periode 2-3 tahun dihabiskan dengan kegelisahan yang buat saya baca, baca dan baca buat cari jawabannya. Ini seperti mengalami rasa frustasi terselubung. Anaknya sehat, lincah, manis, cuma kurang banyak bicara. Kami jelas tau anak ini introvert, yang mana bukan hal aneh juga karena penyumbang gennya introvert semua.

Kami memutuskan kembali ke dokter tumbuh kembang di usia tiga tahun akhir tahun 2017. Diagnosa waktu itu hanya speech delay. Terapi sensori integrasi dimulai dan diikuti dengan terapi bicara empat bulan kemudian. Semua terapi dilakukan dalam bahasa Indonesia. Tentang terapi pernah saya tulis di Terapi Wicara dan Sensori Integrasi di Brawijaya Klinik Kemang.

Awal tahun 2018, terapi dimulai. Progres terapi selama lima bulan pertama sangat baik. Kami vakum sebulan pada bulan Ramadan karena masalah waktu dan jarak tempuh yang cukup jauh dari rumah. Di masa sebulan vakum itu, lagi-lagi ada hal yang ngasih harapan : anaknya mulai terdengar bicara beneran, tapi lagi-lagi, semua dalam bahasa Inggris dengan struktur yang ngga beraturan.

Tapi, buat orangtuanya itu kemajuan besar sekali.

Terapi terus berlanjut, semua stimulus juga terus berjalan. Apakah saya melarang gadget? Tidak. Ngga peduli apa orang bilang, dari apa yang saya lihat dan penelitian-penelitian yang saya baca, penggunaan gadget dalam batas yang wajar tidak menyebabkan gangguan bicara. Mengurus anak tanpa asisten, mengerjakan hampir semua sendiri, jadi orangtua tunggal secara geografis, saya juga perlu jeda buat bisa berfungsi. Di sekelilingnya saya jelas melihat anak-anak yang terkekspos gadget lebih intens tapi sama sekali ngga ada kesulitan tentang bicara. Bicara normal sesuai usianya.

Kurang lebih 8 bulan terapi, kemajuan terlihat, tapi saya merasa kami juga belum ‘sampai’. Sudah bisa jawab pertanyaan, bisa bicara dalam kalimat pendek 2-3 suku kata, yang mana masih di bawah standar seusianya. Pola yang jelas terlihat masih sama : musik dan lagu lebih maju dari bicaranya.

Setelah hampir setahun terapi, saya mulai gelisah lagi. Saya benar-benar merasa ada sesuatu yang lebih dari sekedar speech delay. Perjalanan Kalimalang-Kemang seminggu dua kali mulai jadi sesuatu yang melelahkan karena ini seperti menjalani rutin yang dampaknya ngga terbayar dengan lelahnya menyetir sejauh itu. Buat saya jauh. Review singkat dari terapis setiap kali selesai terapi mulai terasa seperti mendengarkan satu lagu yang diputar berulang-ulang. Semuanya oke, bagus. Oke yang terlihat di permukaan. Semua selalu terlihat baik dalam satu jam sesi. Bisa mengikuti instruksi, ngga pernah rewel, dan sebagainya.

Tapi, jauh di dalam, saya tau ini masih jauh sekali dari harapan. Ngga bisa berenti ngerasa lelah dan gelisah. Konsul reguler ke dokter tumbang buat memastikan apa ada hal lain selain speech delay seperti autis, ADHD, dan sejenisnya pun dijawab positif bahwa itu negatif, yang mana saya juga ngga melihat sama sekali tanda-tanda itu. Dari luar anak ini benar-benar normal. Untuk anak-anak seusianya cenderung matang, mandiri, dan tenang. Di rumah atau traveling kemanapun sangat menyenangkan karena ngga rewel soal makan, disiplin tidur dan moodnya jarang jelek.

Obat gelisah saya selain doa banyak dan panjang, minta berulang kali supaya dibukakan jalannya, minta jawaban, adalah baca. Saya ketemu dua buku yang membahas tentang Late Talking Children dari Stephen Camarata dan ayahnya juga kasih insight lain dari Thomas Orwell. Keduanya menjelaskan dan menenangkan sedikit kegelisahan dengan menyatakan dua hal :

  1. Hal ini bukan kesalahan orangtua.
  2. Anak-anak ini akan catch up pada waktunya.

Oke. Waktu itu saya pikir memang harus nunggu lebih lama. Saya ngga ada masalah nunggu. I am good at waiting.

Mengantar terapi seminggu dua kali dan banyak melihat anak-anak lain yang punya kebutuhan khusus membuat saya jadi melihat banyak perilaku khusus dari anak-anak tersebut. Hal ini di satu sisi jadi menambah kegelisahan tapi di sisi lain menambah keyakinan.

Gelisah karena anak ini hampir pasti tidak menunjukan gejala-gejala seperti disabilities yang saya tau (ini kata kuncinya) seperti autis, ADD, ADHD tapi di sisi lain dibandingkan anak normal seusianya, anak ini punya sesuatu yang berbeda. Seperti ada undefined disability di hal bahasa dan bicaranya yang mana hal ini juga ngga bisa dijelaskan baik oleh dua DSA dan terapis-terapisnya. Review harian dan kontrol per 2-3 bulan sama sekali ngga menghilangkan kegelisahan.

Jelas ada banyak kemajuan dan perkembangan.

Tapi, pertanyaan dan tujuan besar saya bukan itu.

Saya perlu jawaban : kapan ini selesai?

Itu yang buat saya agak putus asa.

Karena saya benar-benar ngga tau apa, tanya ke siapa dan harus bagaimana buat menjawabnya.

Posted in Thoughts

Seven Months After Life in the Time of Corona

“Days are long, years are short” described this new life situation perfectly.

It’s quite a mixed feeling to answer the question about how it feels to witness everything for the past seven months. Every single day feels like fighting a battle that we really don’t know what, yet months have passed in a blink of an eye.

Every morning waking up with certain amount of anxieties mixed with a bit of hope and at the end of the day, the heart filled with gratitude, for a chance to have passed one day safely. Because, you’ll just never know what tomorrow will bring. Surviving one day safely and sane matter.

From my eyes, the real life in reality is nowhere to get back to old normal. Little girl has been returning to school for a month with new procedures, she left the school few months ago without anything on her face then since few weeks ago, she now has a glasses to help her with her sight.

In some public places, every face covered with masks especially closed spaces like bus, tube, and supermarket. Face covering is slowly accepted as a part of daily fashion. Something that is out of picture months ago.

London has not returned to its real life. Without tourists flocking in famous landmarks and attractions, London feels like just another less famous city. It’s really something to live in London in this period. To be able enjoying Piccadily square, Buckingham Palace, Trafalgar Square without the crowd, it’s both weird and great.

Both pictures below taken last week in the first day of sunny autumn. More than three times visiting this place, it was hard to believe, there’s almost no group of tourists in such best weather and season in one of the most visited landmarks.

Personally, this year is too ‘okay’ to be described as hard yet too ‘crazy’ to say this easy. Maybe the right word is confusing. Sometimes the anxiety feels so torturing yet if the mind in the clear and calmest state, it’s been a year full of many obvious blessings and in disguise ones.

Hope everyone will get through this year and all their hardship safely and sanely.

Amin.

Posted in Thoughts

Random Thoughts (Again)

This September is tough inside although everything seems so fine outside. Waiting game is still on. Every waking day feels like facing unknown battle. One day it could bring so much hope and positivity while the other day it drained the energy until the last drop because of frustrating events that boggled the mind.

There were times when I could feel calm and felt so sure that everything would be okay but suddenly, the thought jumped to any possible worst things could happen. Sometimes I crave to be settled yet another time the thought of not moving scared me.

At times like this, I always run to reading and searching. Although it won’t solve nor give the answer of all those questions inside, at least it’s distracting enough. But then, the more I read, I end up with more questions. Not sure it’s silly or funny.

No matter how much I understand things almost always (never say never right?) turn out fine, at least way much better than I thought, it doesn’t prevent me from overthinking. No matter how much I have witnessed many things in my life where there were none so far, none, when I was being left alone, still I am scared.

Sometimes I think I am too afraid because life has been really good to me, to us, for the whole year back. No matter how much I understand there’s nothing lasts forever, things will change with or without my approval, yet, I still act the opposite way.

Maybe I just love making myself suffer for no reason.

If there’s anything that I want, maybe I want the ability to be not being and feel entitled to everything. What I have now belongs to the present. Things I might lose in the future, starting all over again from the scratch, failing again, and feel no burden about that. I just need to deal with what I have to deal at that moment.

In my head, it seems doable. I fully understand that life (sometimes) sucks, but that is okay.

I had been there. Many times.

There’s nothing to be scared of, theoretically.

But, somehow, it’s totally different story when you’re facing the reality.

Writing this on the bench near the little girl’s school. I am usually late, today, I am on the first row of the queue.

Doing something unusual is a sign of troubling mind and heart which desperates for an answer.

Posted in Thoughts

Waiting Game

There are times when days go faster than Shinkansen, yet, certain time it feels like moving slower than a snail.

Time flies when you’re having fun.

It crawls when you’re in a waiting game.

Just like these days.

Been so many times doing or being in such situation of mental game, knowing it’s absolutely bad for the heart, but couldn’t help repeating it.

But, the risk of not whole-heartedly asking and finding some ways to things we really want is too big.

I couldn’t handle the price of not trying.

Broken heart and feeling the pain are still much better than doing nothing.

Because, regret has no cure.

Posted in Favorite things, Life happens, Places, Thoughts

(W)One(derful) Year in London

Today, a year ago was the beginning of an adventure that I never imagined would be (really and finally) given in my cards.

Among all my three big 20s dreams, master degree abroad was my number one for the sake of living abroad, in Europe to be exact. Not really have to be a master degree. Whatever that could make it, but master degree seemed to be the most reasonable one. The memory of living in Manchester back in 1994 for two months was too strong until it became my fuel for the next twenty years, even until now.

Master degree abroad was fulfilled, although it wasn’t exactly as the heart wanted. Since more than ten years ago, reading all those women’s living abroad blogs always make me excited. Reading and looking at those pictures while dealing with the situation during the first years of marriage and motherhood made me buried (half of) the wishful thinking about having such dream.

Let alone to live abroad, even visiting Paris seemed to be so impossible.

During those years, it felt even harder when watching the very closest relatives got and lived my dream so ‘easily’. Few times wondered, how could they get it and I was still stuck here after years of trying, praying and daydreaming until it became my constant stomachache? The heart was wrenching when the two brothers went off to this country for master degree. Happy for them and a big sigh for me.

When Paris was unlocked in 2016, that was when the doors started opening for many adventures to come. Seven days of autumn in Paris was exactly the childhood dream that had been longing for a long time. It was unbelievable that my turn finally came after so many years.

After Paris, the ball seemed rolling faster than I could ever think of. It feels like receiving continous pleasant surprises from life, although they always come together with twists and more twists. London, Tokyo, Seoul, and many more places were totally unthinkable to almost impossible for our situation at that time. When it finally came true, all those times really made the long wait worth every second of it.

Spending a week in a new city once a year started giving so much strength and became new fuel to work hard for the whole year.

Traveling as tourists is already big for us. But, nothing prepared me to receive another huge surprise from life as big as London for the third time. This time, it was exactly as I had been longing.

London was never in the first option for the doctor’s study destinations. Inquiries sent randomly to many places, without satisfying answer.

An email in the spam folder suddenly came and changed the whole game in just one night. An email that we could just miss. But we didn’t. After all the rejections, in one night everything suddenly worked. Just like that.

I remembered having sleepless night after talked for an hour with the doctor once he finished his online interview and received the offical offer letter within an hour after the interview. We didnt even have to wait for a single day.

I couldnt help keep asking at that time: is this even real?

It scares me sometimes about the way our prayers granted. It’s beyond what we ask and often feel too good to be true.

A graphic from @visualizevalue described this well

This one year in London was the answer of many prayers sent for years. Many in quantites and qualities. The prayers of the doctor to pursue some trainings abroad, the desperate prayers of a mother who kept asking about her daughter conditions (and her forgotten dream of living in Europe), and maybe deep down inside, the desire of the little girl who was craving for a place where she could feel accepted.

This one year in London feels like receiving compound interest of the saving from three people. We couldn’t get here on our own and without each other’s ‘savings and investment’.

That became clear why I would never made it during my 20s.

I couldn’t be more grateful to live the dream than any other time but now. Allah knows but He waits is the truest phrase. He let me enjoyed living the dream more than what I had asked. I often imagined the conversation inside my head :

“I really want to go (and live) there,”.

“Be patient. You’ll be there even before you realize it. Just keep going,”.

And yes, years from there, here I am.

All those prayers were safely stored until the right time came. Allah saved it for the time when I and we needed this most. He knows I wouldnt survive living here as a student, instead He sent me here as a partner and a mother. It came to my mind that He prepared me first through many years in between until He knew I was ready. Just like every single thing that happened in my life. When it happens, then He knows I am ready.

Ready living the dream with all the bonuses. Something that is truly beyond my calculations.

He sent me here when I could use my time freely, enjoying day to day life without worry about money (unlike the master degree abroad days nine years ago), exploring the city, visiting many places in my bucket list, learning about things that I want to learn.

He sent us together once the doctor finished all his duties, from five years of PPDS to another year of WKDS. He sent us when the time this pandemic started. He sent us right when the things related to little girl’s situation was getting so frustrating.

I left my 15 years job, my comfort zone, the company of friends and family, I should do many things that previously done through others’ help by myself, taking care things that normally being outsourced to other people, dealing with the weather that sometimes unbearable, conversing in language that I often couldn’t even understand (It is so true), it’s far from easy, yet I never felt as sufficient as before.

I love the fresh air, wide green spaces everywhere, proper playgrounds are easily accessible, good public transportation, range of products in grocery shopping, the smell of fresh baked pastries with great price in supermarket, free attractions to visit, the weekend markets all over the city, a library with great collections, and so many more.

I love our flat, the neighbourhood by the Thames river. I enjoy spending most time at home. Reading, cleaning, doing things in kitchen, like found a new love for baking, being a teacher to the little girl for many things, something that made me realize how much it takes and needed to raise a child (without helps). No wonder I felt more tired previously because combining works outside and child raising truly sucked the energy.

I don’t have to wait for weekend nor avoid Monday, I set my daily routine to stay sane and so far it works well. I really have proper time to do things that are important for me, I have time to entertain my curiosity in particular subject, to get lost in the city by trying new bus routes in between school time, to join a volunteer of my interest and meet lovely people there, or even just as simple as reading book samples in my google play.

After years of long hours daily work, even on the weekend, we know there’s a situation in some place where work-life balance does exist. Generous leaves allow us to travel on weekdays, had a date in the middle of the week, spent few days every two weeks to prepare the food for the following week, how I love having stay at home father and husband.

The list is long and I can keep going until tomorrow.

In short, here, in London, I am living this definition of rich below. The kind of rich that is beyond money.

From a chapter of Psychology of Money book from @alexandbooks page

Like I wrote previously, sometimes, it feels scary to receive so many. But it would be scarier to forget that we have receieved so much more than our plea.

Hopefully not and never.

This one year in London is truly a big plate of sweet dessert at the end of one tough decade.

And I will be forever grateful for this.

Posted in Books, Thoughts

Sistem Pendidikan, Skor PISA dan Status Pandemi : 75 Tahun (belum) Merdeka

Sudah ngga perlu intro lagi betapa berat tahun ini untuk semua. Tidak ada gunanya membandingkan tingkat kesusahan antara satu dan yang lain karena kita masing-masing pasti punya sesuatu yang mungkin tidak ditampilkan di luar.

Selain berat, tahun ini pun harusnya banyak memberi kesempatan untuk memperbaiki banyak hal. Buat saya salah satunya adalah tentang sekolah. Dalam beberapa bulan, tanpa benar-benar direncanakan dan diinginkan, revolusi pendidikan telah terjadi.

Mulai dari sistem sampai implementasi. Dari organisasi sekolah itu sendiri, semua guru, murid dan orangtuanya dipaksa untuk berubah dan beradaptasi. Situasi ini harusnya jadi pembuka mata untuk semua. Membuka mata tentang apa yang penting untuk dipersiapkan dan diajarkan.

Melihat semua yang terjadi di luar sana, memilih subjek yang perlu diajarkan di dalam (rumah) menjadi sangat penting. Sebelumnya saya pernah tulis pendapat pribadi di sini. Saya sebagai orang tua (dan guru), di atas keinginan anak bisa menguasai pelajaran sekolah, jadi anak yang cerdas, memiliki skill yang baik, atau hal-hal yang bisa terlihat dari luar, lebih dari kapan pun sebelum tahun ini, hal yang paling saya inginkan adalah anak saya belajar menjadi manusia yang baik.

Terlalu sulit karena abstrak. Perlu didefinisikan dengan jelas manusia yang baik seperti apa. Tentu saya punya konsep pribadi. Tapi, yang lebih penting adalah konsep universal yang berlaku untuk semua.

Sayangnya, berpuluh tahun negara ini merdeka dari penjajah literal, tapi belum juga merdeka dari banyak hal. Sepenting tujuan pendidikan dan pengasuhan yang jelas dan bisa menjadi kompas buat semua orang pun tidak tersedia.

Kenapa bisa ada buku parenting seperti dari Prancis, German, Belanda, Swedia, Finland, Cina, Denmark, Jepang? Karena mereka punya tujuan yang jelas MANUSIA dengan karakter seperti apa yang mereka inginkan.

Hal ini dijelaskan dengan gamblang oleh negara dan diaplikasikan oleh seluruh warganya. Semua bekerja sama untuk tujuan besar yang sama.

Buku ini menjelaskan tentang negara-negara dengan sistem pendidikan yang baik. Jepang dan Finlandia salah duanya.

Dijelaskan bahwa sejak kecil, anak-anak Jepang dididik dalam kelompok kecil dan selalu dibiasakan untuk mengutamakan kepentingan kelompok di atas kepentingan pribadi. Keberhasilan kelompok merupakan yang utama. Semua bekerja untuk mencapai keberhasilan bersama. Menjalankan sesuatu sesuai aturan dan tidak banyak komplain, disiplin yang tinggi, merawat kelas yang mereka tempati seperti rumah. Makanya sering kita lihat di drama atau film Jepang, anak-anaknya menyapu dan mengepel kelas, menyiram tanaman, membuang sampah, merapikan kelas dan semua hal yang mereka lakukan seperti di rumah sendiri.

Seorang kepala sekolah Jepang mengatakan :”Ruang kelas di Jepang bukan sekedar tempat belajar, tapi adalah tempat di mana mereka tinggal. Guru-guru di jepang tidak hanya mengajarkan tentang akademik tapi juga tentang moral dan hal – hal penting lainnya. Hal ini tercantum dalam undang-undang bahwa tujuan pendidikan adalah untuk membangung kepribadian murid-muridnya dan saya setuju dengan hal tersebut”.

Di paragraf terakhir :

“Pada rapat guru di awal tahun ajaran, mereka menghabiskan waktu selama dua jam untuk mendiskusikan satu hal : murid-murid dengan KARAKTER SEPERTI APA yang mereka inginkan”.

Bukan tentang hal akademis.

Hasil dari pendidikan dengan tujuan yang jelas ini bisa kita rasakan di setiap sudut jika berkunjung di negara ini. Tiap sudut kota yang bersih, transportasi umum yang tepat waktu hingga ke satuan menit. Warga yang ramah. Tidak heran semua orang yang pernah ke Jepang sepakat kalo orang Jepang itu baiknya luar biasa.

Mereka menaruh kepentingan orang lain di atas diri mereka sendiri. Mereka menghormati orang lain seperti subwaynya yang penuh namun sunyi, mereka membantu turis yang kebingungan tanpa ragu-ragu, bukan sekedar menunjukan jalan, tapi seringnya mengantar sampai ke tempat tujuan. Meninggalkan barang di atas meja ketika di restoran buat sekedar ke kamar mandi atau memesan minuman lain bukan masalah besar. Semua sadar untuk tidak menyentuh apapun yang bukan miliknya. Setiap masuk atau keluar toko, restoran, semua mengucapkan salam dan membungkuk sebagai penghargaan kepada sesama manusia, siapapun dia.

Hal-hal tersebut tidak dibangun dalam satu malam, satu bulan, atau satu tahun. Karakter orang Jepang yang kita kenal adalah hasil dari pendidikan usia dini hingga tingkat tinggi yang hasilnya baru terlihat saat mereka menjadi bagian dari masyarakat.

Hal-hal yang kita kagumi itu merupakan hasil proses belajar bertahun-tahun yang dijalankan oleh semua orang.

Waktu ke Jepang tahun 2018, pak dokter bertemu dengan temannya yang sedang mengambil Phd dan sudah hidup beberapa tahun di Tokyo. Dia bilang sejak umur 3 tahun sampai kelas 4 SD, porsi utama yang diajarkan di sekolah-sekolah Jepang adalah pembentukan karakter. Bukan hal-hal akademis.

Sejak dini, fokus pendidikannya adalah untuk menjadi manusia yang baik. Ngga heran hasilnya seperti itu.

Selain Jepang, salah satu contoh lain adalah Finlandia. Di Finlandia, salah satu way of life yang diterapkan bernama Sisu. Sisu adalah kemampuan untuk menghadapi kesulitan dan mengubahnya menjadi kesempatan.

Di dalamnya terdapat kekuatan mental, resiliensi, dan keberanian untuk menghadapi apapun yang terjadi. Sisu ini mencakup semua hal. Akarnya ada di kesehatan badan yang baik. Karena tanpa kesehatan fisik yang baik, akan sulit untuk seseorang memiliki kesehatan mental yang baik.

Sisu ini ditanamkan sejak kanak-kanak dan usia pra-sekolah. Jadi bukan tiba-tiba ketika dewasa dituntut untuk memiliki Sisu.

Pembangunan karakter ini dilakukan serentak baik di rumah dan di sekolah. Semua elemen bekerja sama dengan satu tujuan besar di kepala. Penerapannya pun dijabarkan dengan jelas konkritnya seperti apa.Salah satu untuk melatih kekuatan mental adalah berenang pada musim dingin. Berdasarkan penelitian, winter swimming mempengaruhi manusia dalam berbagai hal seperti meredakan stres, meningkatkan toleransi terhadap dingin yang mana sekaligus meningkatkan imunitas. Ketika dijalankan rutin, dapat menurunkan tekanan darah, sebagai pain relief untuk arthritis dan meningkatkan fungsi pernapasan untuk penderita asma.

Hidup sehat dan sederhana ala negara Nordic juga dijalankan sejak dini. Dibanding mobil, jalan kaki atau bersepeda lebih banyak dilakukan. Sarapan yang mengandung serat dibanding karbohidrat. Tidak peduli cuaca seperti apapun, tidak ada alasan untuk anak-anaknya untuk tidak bermain di luar. Tidak ada cuaca buruk, cuma ada salah kostum.

Sejak pendidikan dasar, anak-anak diajarkan untuk memiliki sikap untuk tidak menyerah ketika menghadapi kesulitan.Tujuan pendidikan mereka jelas, seperti yang dijelaskan di bawah ini :

“Pre school di Finlandia tidak berfokus untuk menyiapkan anak-anak untuk hal akademis. Melainkan, tujuan utamanya adalah memastikan semua anak bahagia dan menjadi individu yang bertanggung jawab”.

Mencapainya lewat apa? Seperti berhadapan dengan pekerjaan sehari-hari, menghadapi masalah dengan teman, membereskan peralatan makan dan memakai baju sendiri dan hal lainnya.Tujuan yang abstrak yang gamblang dengan implementasi yang konkrit.Lagi-lagi, sejak awal tujuan utama di atas kertas dan implementasi di lapangan adalah membentuk manusia yang baik.

Itu hanya sebagian kecil contoh yang dijabarkan dalam buku ini.Dari contoh dua negara di atas, ada perasaan iri ngga sih? Saya sih iya banget🙁.

Belum selesai.

Bakal makin iri ketika liat hasil dalam jangka panjang. Efek dari memiliki tujuan pendidikan yang jelas dan impelementasi yang baik oleh seluruh elemen sejak usia dini, dalam jangka panjang semua hal tersebut berimbas langsung ke hasil pencapaian akademik.

Hasil PISA atau The Programme for International Student Assessment yang dilakukan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) dengan mengevaluasi sistem pendidikan di berbagai negara dunia, mengukur performa murid-murid 15 tahun dalam tiga bidang : matematika, sains, dan pemahaman membaca, menunjukan korelasi yang positif antara tujuan pendidikan yang jelas, pembangunan karakter yang dilakukan sejak dini dengan hasil akademis jangka panjang.

Dari tahun ke tahun, negara-negara seperti Jepang dan Finlandia ini selalu berada di peringkat atas dengan skor di atas rata-rata di semua bagian.

(Baca daftar ini).

Kesimpulannya : Karakter kuat didapat. Hasil akademik terbaik.

Sedangkan Indonesia? Bisa dilihat di bawah ini dari tahun ke tahun seperti apa hasilnya.

Sudahlah jauh di bawah rata-rata. Ada di jajaran peringkat terbawah. Tiap tahun mengalami penurunan lagi.

Lihat hasil seperti ini, sedih ngga sih?Saya sih iya banget☹.

Sedih saja memang ngga akan membawa perubahan apa-apa. Salah satu yang bisa dilakukan adalah memulai dari rumah. Tapi itu ngga cukup. Perlu sekali kerangka besar yang ditetapkan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan dan pembuat kebijakan kemudian menjadi panduan untuk dijalankan semua pihak hingga dapat membuat perubahan.

Pendidikan usia dini sangat penting. Namun bukan tentang akademis. Di 5 negara dengan sistem pendidikan terbaik tersebut, anak-anak sekolah usia dini tidak perlu menunjukan hasil akademis seperti baca atau matematika, begitupun gurunya yang tidak perlu memaksakan mereka ke arah tersebut. Ketika tiba saatnya, kebanyakan mereka akan memiliki cukup pengetahuan dan attitude yang baik untuk menguasai skill tersebut.

Sementara yang terjadi di sini, pendidikan usia dini di Indonesia kebanyakan berfokus ke persiapan akademik untuk memenuhi tuntutan tes masuk SD. Semua dipaksa harus bisa baca. Bahkan sampai ada bimbel baca! Padahal yang perlu ditanamkan adalah minat baca. Kalo baca aja ngga suka dan dibacakan buku aja jarang, lalu dipaksa suruh bisa baca, apa ngga sakit kepala?

Hasilnya pun bisa kita lihat dalam kehidupan sehari hal-hal paling sederhana di sekitar kita. Membuang sampah pada tempatnya pun kita belum bisa. Penyediaan trotoar buat pejalan kaki, di seluruh jalan, dan angkutan umum yang memadai tidak tersedia. Bahkan di ibukota. Sikap pengendara kendaraan bermotor lebih mengutamakan pejalan kaki pun sangat langka.

Kadang ngga habis pikir, kok bisa ya 75 tahun merdeka, hal-hal sesimpel di atas pun kita ngga punya?

Di pandemi ini makin terlihat jelas sekali ‘kegagalan’ pendidikan kita selama berpuluh tahun dari atas hingga ke bawah. Korupsi dianggap biasa. Sudah berbulan-bulan pandemi, pemimpin di atas ngga ada sedikit pun strategi konkrit untuk mengatasi masalah dan malah fokus ke hal-hal lain selain menyelamatkan nyawa. Sementara di bawah, rakyatnya malah masih sibuk mempertanyakan apakah virus ini benar-benar ada dan sulit sekali mengikuti aturan.

Semakin ke sini juga semakin terlihat betapa rendah empati di masyarakat. Sejak dulu saya melihat bahwa sesimpel kata maaf dan terima kasih itu kelu sekali diucapkan oleh masyarakat kita. Seperti beberapa kali mobil ditabrak, yang saya tunggu hanya permintaaan maaf, ngga perlu ganti rugi apapun, tapi yang SELALU keluar pertama kali adalah apa?Excuses.

“Duh kena ya? Perasaan tadi jauh”.

“Duh ngantuk banget lagi buru-buru jadi ngga sengaja”. dan masih banyak lagi.Frustasi ngga sih? Semakin kesini, saya sih iya😭.

Ada salah satu konsep pendidikan Indonesia yang pernah ditulis dan dijabarkan oleh Romo Mangun di tulisan ini.

Konsepnya sudah jelas dan terukur. Sayang, hanya tersimpan di laci.Hampir semua tujuan pendidikan di Indonesia yang memiliki berbagai jenis sekolah, bermuara untuk mendapatkan hasil ujian di atas kertas selama tiga hari.Target akademik masih jadi satu-satunya tujuan akhir belajar dan tolak ukur keberhasilan sekolah. Belajar menjadi manusia selalu ada di dalam visi misi tapi masih sangat sangat terbatas dalam implementasi.

Mungkin, karena bagian ini membutuhkan banyak energi tanpa pemberian yang wajar di bagian kompensasi. Hasilnya pun masih harus menunggu waktu yang lama dan tidak pasti. Hasil dari pendidikan bertujuan sukses ujian yang kita tanam jelas terlihat beberapa bulan ini.

Semua strategi fokus menyelamatkan ekonomi, bukan menyelamatkan sebanyak-banyaknya nyawa ketika pandemi. Nyawa satu orang dianggap tidak berarti. Bertanya-tanya, manusia-manusia seperti apa yang menjalankan negara ini?

Di pendidikan hanya fokus mengejar akademik, bukan hal-hal dasar seperti karakter yang baik. Apa hasilnya?Ekonomi (menuju) resesi. Jumlah kasus dan kematian sangat tinggi. Hasil akademik rendah, pembentukan karakter yang baik pun setengah-setengah.

Di semua hal kita kalah dan payah.

Sebuah grafik dari bloomberg menjabarkan 5 negara yang memiliki resiliensi terbaik dalam pandemi ini :

1. New Zealand

2. Jepang

3. Taiwan

4. Korea Selatan

5. Finlandia

Bisa ditengok kembali ke tabel peringkat PISA.

Jelas ditunjukan bahwa negara-negara yang hasil skor PISAnya di peringkat atas adalah negara yang (rakyatnya) paling resilien dalam menghapi pandemi. Negara yang mengutamakan kesehatan rakyatnya dalam pandemi ini yang juga berhasil menyelamatkan ekonominya.

Kesimpulannya : Betapa besar dampak pembentukan karakter sejak dini ke pencapaian hasil akademik jangka panjang, hasil kehidupan sehari-hari dan dalam situasi krisis seperti pada pandemi ini.

Setelah 75 tahun, masih banyak sekali PR (yang belum dikerjakan) negeri ini. Tapi, harapan dan doa masih (harus terus) dijaga. Sambil terus bertanya-tanya : bisa bantu apa?

Mungkin bisa dimulai dari menetapkan dan membangun tiga karakter besar yang ingin dibentuk? Menetapkan target skor minimum yang ingin dicapai di tiga skill yang diukur oleh PISA?

Tiga hal yang buat saya pribadi penting seperti di tulisan ini. Hal ini ngga akan mudah karena dibutuhkan kerja sama dari semua. Anak usia dini masih punya banyak kesempatan untuk dibentuk, tapi bagaimana dengan orang tua dan para gurunya yang sudah terbentuk oleh sistem yang sudah ada berpuluh-puluh tahun? Mengubah sistem perlu dimulai dari perubahan mindset.

Mindset bahwa kita memiliki sistem pendidikan dan pengasuhan yang menghasilkan anak-anak yang berkarakter baik, jujur, disiplin, dan berempati sehingga masyarakat bisa menghargai hal-hal tersebut di atas hasil ujian di atas kertas.

Tolak ukur kesuksesan bukan lagi oleh yang terlihat di depan mata seperti hanya sekedar berapa banyak uang yang dihasilkan, jenis pekerjaan apa yang dilakukan, dan berapa banyak harta yang dipunya.

Sukses seorang manusia diukur dari banyak hal yang tidak terlihat seperti bagaimana dia memperlakukan orang lain dan sebahagia apa seseorang menurut definisi pribadinya.

Pandemi ini seharusnya bisa jadi titik awal dari perubahan besar pendidikan di Indonesia karena tanpa kualitas yang baik dari manusianya, (saya rasa) Indonesia tidak akan pernah benar-benar merdeka.

Posted in Thoughts

A Capricious Year and Occlumency

This year has been giving non-stop hard works for every part of our senses. A lot of things happened in these few past months have been eye-opening, leave us speechless, make the ears listen more to what’s important, literally and unliterally, and surely break the heart for countless times.

It’s overwhelming yet unavoidable. Witnessing how fast the world change, from the smallest habit to the biggest policy. Before this, washing hand was some ordinary mundane thing to do and now it could become a matter of life and death. Wearing mask once only belonged to certain ethnics or people, now, it becomes a world wide compulsory fashion item. Shake hands and kiss were once considered as normal greetings, now it becomes a crime if we do that. Sardened in subway once considered as a daily thing to deal. But now, don’t even think to get close to anyone less than 2 meters apart.

In the smaller circle, witnessing how a person’s life could turn upside down in one night is also confusing and surprising, no matter how much understanding the mind has that life is always about clear and dark weather taking turn. It feels like being continously warned to not to get too excited and fly too high when the weather is nice and keep being patient when the dark weather comes.

The problem is it’s so easy to lose control when everything is going well. Thinking it will last forever. Doing whatever with so little conciousness. Forgetting that bad things never come alone and attack when we’re least prepared.

We plan things to the smallest detail, thinking how well we prepare for everything but often forget that we have totally no control about the end result. We see someone whose talk, appearance and achievements look amazing for public but then, it crumbled into pieces in one night. Suddenly all the talk becomes total nonsense and those achievements feel nothing but some bullshit trash.

Since social media era, we’re really dealing with too much noise, and this year is especially loud. It becomes important to be able to narrow our focus to the things, what and who that we consider really matter. It reminds me of one lesson that Harry Potter did with Snape : Occlumency.

It showed how important for someone to be able to control the mind, to prevent unwanted action from the influence of uncontrolled mind. In the book or movie we could see that Harry couldn’t master Occlumency because he couldn’t shut down emotion, he was hot-headed, ready to spring into action, unable to stop himself biting back. Draco Malfoy, on the other hand, was well able to control himself according to the circumstances.

Self control is the key word and how it is truly applicable in this current situation. We truly can choose what goes inside our mind, things that we allow to enter our mind then could influence our action. Because what we see and consume daily will unconciously make some influence to our choice and action.

It is similar to doing a diet about food. We choose carefully what kind of food we consume to keep our weight on the track. Even according to some articles, what we eat also have some impact to how we act. It’s true that healthy food makes healthy mind. With the same analogy, we can choose what kind of people we follow in social media, what kind of books we read, what kind of debate we should ignore, and everything that we give permission to influence our life.

Setting up daily schedule, rearrange the priotities, set our own standard, choose things to where the energy flows, all those become things that one should better give some spare time for self-training, even for little kids. More than ever, children urgently need help in dealing with so many distractions outside. Without having our own definiton of happiness and sufficiency, it would be too draining to keep up with everything that have been shown out there.

If Arkarna says “so little time so much to do”, for me it’s been “so little energy so much to handle”.

Choose what kind of battle we want to fight carefully.

Practice occlumency.

A closing statement taken from this article.