Posted in Thoughts

What’s next?

I didn’t know or maybe I rarely thought, there would be a day when I really have to let go almost all things that have been staying with me for a long time. Even worse, after letting go all those things, I don’t know where to go.

I have been always one with to-do list since I was little. Always come with a day to day schedule or long term plan,it’s all on my head.

Two first paragraphs were written before arrived in London and I just got stuck. Gonna try to finish this in one shot now. Hopefully.

It’s been three weeks since we arrived yet it feels as if it’s been few months. They say time flies when you’re having fun. But, saying that this new life has no fun too is pretty unfair. It’s far from easy yet it’s still survivable. We’re having enough food, money is quite tight, yet still on the level that I could accept, and proper good night sleep. Three basic things are secured. For now.

While the other two have started their own ‘pleasant’ daily routines, it’s still a luxury thing for me. ‘What’s Next’ has been continously questioned for some time before the departure and still no definite answer available. I have several things in mind, but none seem to be fitted well with the situation.

This week was the first week of Langit’s school days. School pick up and delivery become one of the new routines to be dealt with. She got into reception class, one level above nursery just before primary, just like kindergarten. The long school hours, from 9.00 am -15.30 pm also left me with long hours of leisure time.

The only daily routines available for now are doing houseworks, groceries and still playing tourists in between. Houseworks were still manageable. Tried to finish everything before sending Langit to school. Six hours of leisure time is too precious to be used for doing mere houseworks.

Grocery time has been always my favorite. Finally found the place which offered the most pleasant price for the wallet after comparing several stores.

Playing tourist is too unavoidable. London has a lot to be explored and I don’t even do much. I set one day in a week for me playing, just like today. Been planning to visit Harry Potter’s Diagon Alley since it’s only a bus riding from Langit’s school. It was raining but, it was very nice to be among the crowd where I didn’t feel like a stranger. Haha.

Professional work has still need to be working on. Found something yet it’s still on discussion. But, at least having something to be looked forward to feels soothing.

Maybe the answer from the question above is not meant to be discovered instantly. Just like many whys that I have been continously asking to the One who decides all affairs, the answer of my questions usually take a long time until they arrive at the right time. Never too soon, never too late.

Our moving to London is one of the answers from one of the whys asked long ago.

Posted in Life happens, Places, Thoughts, Travel

(Ngga) Enaknya Pindah ke London Bagian I

Hampir semua orang yang dipamitin dan bilang kalo kita akan pindah ke London, pasti bereaksi antara kaget dan excited. Cukup wajar kalo inget London memang terdengar menyenangkan dan keren (mungkin). Saya juga setengah excited awalnya, sisanya galau😀.

Proses pindah ini makan waktu hampir setahun. Ngga akan jabarin detil prosesnya, tapi mungkin gambaran besar tentang hal-hal yang dilalui (dan bikin sakit kepala) sebelum pindahan dan setelah berada di sini.

Seperti pengurusan visanya yang juga sama ribetnya, jauh sebelum visa, kami melewati banyak sekali tahapan yang kalo dipikir sekarang, subhanallah semua bener-bener emang dilewatin satu-satu.

Semuanya berawal dari pertama kali email Dr Wilson masuk akhir tahun lalu, setelah semua email penolakan atau tanpa respon dari berbagai universitas. Berlanjut ke awal Januari, Pak Dokter dapet jadwal interview via Whatsapp video call waktu masih di Tanah Bumbu. Ngga lama abis interview, satu email langsung masuk yang bilang kalo dia ditawarin posisi fellowship tersebut.

Agak tercengang juga waktu itu. Peta hidup langsung berubah dalam semalem karena satu wawancara sejam.

Hal yang bikin lebih ngga percaya lagi,setelah kirim dan coba kesana kemari, di berbagai universitas yang ngga terlalu familiar tapi punya program yang dimau, pada akhirnya kita diarahkan ke tempat yang begitu familiar di universitas yang ngga asing.

Tahun 2017 ke London buat nengok adik saya yang kuliah di UCL, tahun ini balik ke kota yang sama, buat kerja di universitas yang sama.

Setelah surat resmi keluar dan menyatakan kalo Pak Dokter ditawarkan posisi tersebut dengan gaji sekian mulai bulan Agustus tahun ini, dimulai lah semua proses panjang yang harus dipenuhi buat syarat layak kerja di Inggris.

Saya ngga tau dengan orang lain, tapi saya selalu punya pattern hidup yang sama dari dulu buat semua hal. Yang mana entah gimana kebawa juga sampe nikah. Atau mungkin Pak Dokter pun kayanya punya pattern yang sama, jadinya combo, yaitu, kami ngga pernah berhasil dalam hal apapun pada percobaan pertama, ngga peduli udah usaha kaya apa. Seperti kita selalu disuruh mikir lagi cara supaya bisa sampe ke tujuan.

Kabar baiknya, alhamdulillah setelah semua yang dilewatin, kita hampir selalu disampaikan ke tujuan.

Hal pertama yang harus dipenuhi adalah punya sertifikat kemampuan bahasa Inggris. Sebelum apply, Pak Dokter baru aja selesai tes IELTS yang skor totalnya telah memenuhi syarat. Tapi, pas udah mulai proses aplikasi, ternyata angka setinggi itu ngga bisa dipakai. Karena apa? Karena ada satu bagian yang angkanya kurang dari standar.

Jadi, buat kerja ini, IELTS minimal 7 dan setiap bagian dari 4 bagian yang ada juga TIDAK BOLEH kurang dari 7. Jadi, hasil IELTS sebelummya terpaksa disimpen lagi.

Pilihannya adalah ngulang IELTS atau ikut tes lain bernama OET (Occupational English Test). Ini adalah tes kemampuan bahasa Inggris buat kerja. Jadi akan ada sesuai bidang pekerjaan. Kabar baiknya, tes ini lebih gampang dari IELTS. Skor yang diminta minimal B. Lebih mudah ambil ini dibanding ulang IELTS. Harga jelas lebih mahal. Kalo IELTs sekitar $200, OET sekitar dua setengah kalinya.

Kabar kurang enaknya, tes ini HANYA ada di Medan. Iya, cuma di Medan dan tidak setiap minggu kaya IELTS. Jadi, dari tanggal wawancara, hanya ada sebulan buat belajar, dan atur jadwal cuti dari Tanah Bumbu.

Di hari tesnya, ternyata cuma satu orang yang ikut. Rejekinya lagi, dapet penguji yang baik. Liat Pak Dokter kurang dimana waktu IELTS, dia berbaik hati jadi sparring partner dan nyemangatin dengan kasih tips buat naikin skor. Pak Dokter kurang skor di speaking. Jadi itu yang didrill terus.

Tidak seperti IELTS, hasil OET hanya bisa dilihat online. Nantinya employer pun hanya kita kasih nomer peserta Mereka yang akan cek hasilnya sendiri.

Alhamdulillah hasilnya bisa sesuai target. Satu hal berhasil dilewati.

Proses-proses selanjutnya saya kurang hafal urutannya. Saya akan coba tulis yang bisa diinget tanpa berurutan.

Kalo ngga salah ada beberapa proses yang berjalan paralel. Untuk hal ini, karena akan bekerja di bidang kedokteran, maka yang diperlukan adalah surat sponsor dari General Medical Council (GMC) UK. Lalu, karena bagiannya adalah Anastesi, sebelum naik ke GMC, harus ada approval dari Royal College of Anasthesia.

Untuk dapet approval itu, Pak Dokter harus kirim semua ijazah dan dokumen-dokumen anastesi yang berkaitan yang semuanya harus dalam bahasa Inggris. Setelah semua dokumen tersebut dikasih, ngga cukup buat mereka. Rekues buku kurikulum dalam bahasa Inggris yang bikin dahi berkerut.

Tapi ya itu, selalu ada kabar baik alhamdulillahnya.

Kami cukup beruntung karena Pak Dokter adalah staf di rumah sakit pendidikan. Jadi, buat minta buku kurikulum, ngga terlalu susah. Tapi, buat translasi ke bahasa Inggris, itu harus dicari sendiri, termasuk bayar sendiri. Pak dokter mutusin akan bayar semua sendiri dulu buat seluruh prosesnya dan akan ajuin proposal ke departemennya ketika seluruh proses selesai dan jelas akan jadi berangkat. Alhamdulillah kita udah ada translator yang reliable dari segi waktu dan kerjaan. Harga cukup fair.

Selama proses dengan RCOA, beberapa proses paralel juga dilakukan seperti cek identitas. Jadi, ada satu badan yang ditunjuk buat identity check ini namanyaa FCMG kalo ngga salah. Jadi prosesnya seperti interview singkat via video call sesuai waktu yang ditentukan dimana kita akan diminta untuk nunjukin identitas seperti paspor. Kalo ngga salah ngga sampe 10 menit. Hasil identity check akan langsung diberikan ke lembaga yang minta. Jadi bukan ke kita. Bayar ngga ini? Tentunya.

Ada beberapa proses juga di RCOA yang mengharuskan kita bayar beberapa hal yang semuanya dalam kurs dollar. Saya ngga inget apa aja dan ngga berniat jabarin teknisnya di sini juga. Yang jelas sampai akhirnya surat layak kerja sebagai anastesi di UK dikeluarkan oleh RCOA, perlu waktu dari Januari-Juni.

Di bulan Juni, prosesnya sudah pindah ke GMC buat mengeluarkan surat sponsorship yang diperlukan buat urus visa. Kalo liat apa yang udah dikerjakan selama 6 bulan, kirain yang ini bisa lebih cepet karena ya apalagi. Semua sudah dipenuhi.

Seperti biasa, mottonya adalah, kalo gampang, berarti ada yang salah. Kaya besarin anak aja.

Diperlukan waktu 2 bulan sampai akhirnya surat sakti itu terbit. Adaaa aja hal-hal yang sebenernya sepele banget tapi tetep menghambat proses. Sesimpel adaa satu kolom yang isinya ngga sesuai prosedur dan minta diperbaiki. Kenapa sampe 2 bulan? Orang yang berwenang kepotong cuti, orang yang biasa diminta tolong juga cuti, ada aja lah pokoknya.

Setelah surat sakti akhirnya keluar hari Senin, tanggal 6 Agustus, pas saya lagi cek email di laptop jam 5 sore, itu seperti titik dimana akhirnya saya bisa yakin kalo kami memang betul-betul akan pindah.

Ada beberapa level ship dalam kedokteran : observership dan fellowship. Kalo observership sudah cukup umum dan prosesnya juga ngga seribet ini. Jangka waktunya pun hanya sekitar 3 bulan dan kegiatan yang dilakukan hanya observe, tidak pegang pasien atau praktek, dan tidak dibayar, justru harus bayar. Jadi seperti ikut short course aja. Bisa dianggep kaya jalan-jalan selama 3 bulan juga. Sedangkan buat fellowship ini statusnya adalah pekerja. Persis seperti praktek di RS Indonesia. Ada jadwal jaganya, ada gajinya, ada bayar pajaknya dsb. Jadi, buat dapet fellowship ini juga lebih sulit karena prosesnya panjang dan berlapis-lapis.

——————————————–

Hari-hari setelah visa dikabulkan terasa cepet banget. Non-stop packing sampe tengah malem berhari-hari. Hal yang nambah kerjaan adalah kami packing bukan cuma buat pindah ke London tapi juga pindahin barang-barang yang ngga dibawa dari apartemen ke rumah ayah saya. Berhari-hari nyicil bawa barang, gotong lemari sendiri dan masih banyak lagi. Apartemen udah kaya gudang sampah besar.

Kita baru bener-bener keluar apartemen di hari keberangkatan. Berangkat tengah malem, keluar dari apartemen kosong abis asar. Sambil nunggu keberangkatan, masih ada final packing yang paling ngga menyenangkan. Kami juga beli timbangan digital buat cek berat koper yang ternyata sangat overweight jauh dari jatah yang dipunya.

Terpaksa bongkar lagi.

Keluarin yang bisa dikeluarin.

Sampe azan isya masih belom berenti packing. Akhirnya jam 8 nyerah dan mutusin buat bawa aja dulu.

Sampe bandara, counter check in Qatar lumayan penuh. Biarpun yang udah web check in pun penuh. Sampe giliran kita, ditimbang di counter lebihnya sampe 30kg.

Lemes. Padahal di rumah nimbang lebihnya juga segitu dan udah ngeluarin banyak banget. Ngga mungkin kami bayar 30kg, akhirnya di bandara, buka lagi hampir semua koper kecuali satu yang udah masuk duluan.

Boarding jam 23.40, masih bongkar koper sampe jam 23.10. Alhamdulillah sekali kita dianter sama keluarga Pak Dokter dan adik saya. Ngga kebayang kalo ngga dianterin mau diapain barang-barang yang dikeluarin☹.

Akhirnya kami cek in dan berakhir dengan overbaggage 13kg.

Waktu boarding tinggal 20 menit, sudah lelah dan ngantuk.

Saya masuk ke imigrasi dan ruang boarding setengah sedih dan lega.

Semoga semua yang sudah dikeluarkan akan kembali bawa banyak keberkahan.

Posted in Life happens, Past learning, Thoughts

Epilog : 15 Tahun Perjalanan ne

Masih dalam suasana eforia hari Minggu kemarin.

Mau cerita tentang Jessica. Salah satu murid yang diajar dari dia kelas 4 SD dan sampe sekarang dia kelas 1 SMA. Salah satu murid pertama sejak ngajar di sana. Rajin, selalu sopan, sederhana, dan punya determinasi yang tinggi. Tipe murid top student yang nilainya bagus, ketua osis, sibuk, tapi hampir ngga pernah saya inget dia ngga les piano karena ada ulangan atau kegiatan apapun.

Punya kakak tapi seperti anak tunggal karena kakak laki-lakinya di luar negeri. Papa mamanya sibuk, dan sehari-hari diurus mbaknya. Belakangan mamanya udah pensiun jadi sering anter les.

Sejak kompetisi pertama kali ada, dia udah saya ikutin. Pertama masuk di Junior B. Tiga tahun berturut-turut ikut kompetisi, tiga-tiganya pegang piala. Pertama kali juara dua, lalu harapan satu, dan tahun terkahir di kategori B juara tiga.

Tahun berikutnya pindah ke kategori C karena umur. Persaingan dan tekanannya naik jauh sekali dari B ke C. Menang di kompetisi itu kombinasi dari banyak hal. Tapi, menurut saya selalu diawali dari satu hal penting, yaitu pemilihan lagu.

Lagu yang dipilih harus ngga pasaran, jarang dimainkan tapi enak didengar, tingkat kesulitan kalau bisa sedikit di atas standar kategori yang diikuti, dan terakhir, anak yang mainin suka lagunya.

Selama tiga tahun di kategori B, alhamdulillah saya selalu pilih lagu yang pas buat dia. Milihnya pun lama karena selalu saya coba sendiri dulu dan saya bayangin kesulitan yang bakal ada pas belajar, sambil memperhitungkan kemungkinan ada orang lain yang milih lagu ini. Selama tiga tahun di kategori B, semua faktor resiko sudah dieliminasi. Ditambah penentuan akhir dimana dia bawain lagunya dengan pede dan bagus, tiga tahun berturut-turut namanya selalu disebut ketika pengumuman juara.

Tahun ke empat kompetisi saya tawarin lagi buat ikut. Lagu udah saya pilih dan siapin sejak lama. Tapi memang dari awal seperti ada yang kurang atau kaya ada yang salah aja di kompetisi tahun 2017 itu. Mungkin karena setelah tiga kali ikut dan menang, baik guru dan muridnya pun ekspektasinya juga cukup tinggi. Jadi, agak berat juga beban dari awal.

Lagu yang dipilih October Tchaikovsky. Salah satu lagu favorit saya. Lagu yang cukup bagus buat kompetisi pertama dia di kategori C yang persaingannya lebih sulit. Lagunya bagus, dia juga suka, dan ngga terlalu panjang. Lambat dan pelan. Pressure sedang, kans buat menang juga cukup besar, kalo dimainkan dengan baik.

Sampai sekitar sebulan atau dua bulan sebelum kompetisi, kita tau ada satu anak lain main lagu yang sama. Murid guru lain yang juga sering jadi juara kompetisi. Saya dan dia langsung agak pucet waktu tau tentang itu. Main lagu yang sama ngga pernah menguntungkan buat pesertanya.

Ganti lagu sempet jadi pilihan tapi liat waktu latihan dan chemistry yang harus dibangun lagi dengan lagu barunya, kita mutusin buat tetap jalan. Sambil berharap semoga saat pengambilan undian dia dapet main yang duluan.

Di hari pengambilan undian, perasaan salah yang dari awal ada makin besar. Jessica dapet yang belakangan cuma dengan jeda 1 anak. Bebannya makin besar sekali di dia.

Di hari Gladi resik, dia main bagus sekali. Saya jadi agak tenang. Apalagi setelah denger saingan yang mainin lagu yang sama. Dalem hati paling ngga punya harapan lebih.

Hari H, ketemu dia dengan baju kompetisinya yang manis, Jessica keliatan cukup nervous. Wajar sih. Seperti biasa saya nemenin dia sambil ingetin beberapa instruksi yang dia kadang-kadang salah. Waktu giliran peserta lagu yang sama maju dan main, mungkin saat itu mentalnya semakin jatuh. Anak itu main dengan bagus, manis, dan bersih sekali. Bener-bener bersih dan tepat sekali semua dinamiknya. Perasaan saya semakin ngga enak tapi tetap berusaha semangatin dia.

Ketika gilirannya maju, dia terlihat ngga nyaman sekali. Not pertama dimainkan dengan sangat ragu-ragu. Not pertama dan bar pertama itu kunci yang nentuin mood dan tempo lagu seterusnya. Seringnya, ketika itu ngga dapet, kemungkinan memperbaikinya agak sulit.

Dan, selang beberapa menit kemudian, kejadian yang paling menakutkan terjadi. Sampai hari ini masih satu-satunya di sepanjang kompetisi yang pernah ada di sekolah musik ini.

Jessica berhenti main dan keluar panggung sambil nangis dan bilang, “aku ngga bisa, aku ngga bisa,”.

Ngga bisa digambarin perasaan saya waktu itu. Sedih, kecewa, patah hati, tapi saya juga sangat ngerti besarnya beban mental yang dia harus hadepin di depan.

Ternyata patah hatinya belum selesai. Saat pengumuman pemenang, juara pertama jatuh ke anak lain dengan lagu yang sama dengan Jessica. Disini, setidaknya kita tau, saya tidak salah pilih lagu.

(Pernah dibahas lengkap di post ini)

Kita ngga banyak bahas itu setelahnya. Les pun kembali berjalan seperti biasa.

Kompetisi tahun 2018 dia menolak ikut karena alesannya sedang sibuk di sekolah. Tapi, tentu bukan cuma karena itu. Kita sama-sama tau kalo trauma dia masih besar. Saya pun ngga mau maksa.

Tahun 2018 saya bisa fokus ke satu murid baru yang cukup bagus dan saya ikutkan juga kompetisi karena liat potensinya. Alhamdulillah, seperti yang diharapkan, Nathan juara 1 di kompetisi pertamanya.

Awal tahun 2019, sudah diumunkan kompetisi akan diadakan bulan Agustus. Di awal tahun ini juga, wacana saya kemungkinan besar akan harus resign mulai mencuat. Di bulan Maret, saya mulai nanya ke dia apa mau coba ikut lagi. Saya bilang saya udah siapin lagunya. Dia bilang mau mikir dulu. Saya tegaskan ke dia kalo saya ngga mau maksa. Tapi, saya mau dia basuh dulu traumanya dua taun lalu dengan ikut lagi, main sampai selesai, ngga peduli apapun. Cukup itu. Ngga perlu mikirin menang dan yang lain. Cukup main dari awal sampai akhir, ngga peduli sejelek apa.

Bulan April dia ujian nasional dan akhirnya dia setuju ikut setelah dia selesai ujian. Saya sudah pilih dua lagu yang kontras. Satu lagu pendek 3 halaman, lambat, dan cukup terkenal, cocok sekali kalo targetnya cuma buat sekedar hilangin trauma. Satu lagu lainnya cepat, panjang 6 halaman dengan not yang banyak, dan jarang orang akan pilih dan mainkan. Bahkan mungkin jarang tau juga.

Saya bilang ke dia kalo saya sengaja kasih yang sangat kontras seperti ini. Biarpun jelas sekali yang mana preferensi saya, saya biarin dia tetap milih. Bukan sekedar milih lagu, tapi juga memilih sampai level mana yang mau dia capai. Dari situ saya bisa tentuin sikap harus seperti apa drilling dia.

Sesuai ekspektasi saya tentang dia selama ini, tentu dia pilih yang punya kesempatan lebih.

Dalam kompetisi, saya selalu punya target yang mau dicapai. Tentu sesuai kapasitas muridnya. Meskipun orang sering bilang, ikut aja yang penting pengalamannya. Latihan berani tampil dan sebagainya. Tapi, buat saya ngga. Kalo cuma itu ada konser.

Apa kalo kompetisi harus menang? Tidak. Karena menang atau kalah ada banyak hal yang di luar kontrol kita. Tapi, yang harus ditargetkan adalah, di kompetisi ada menang dan kalah, apa kita mau kalah atau menang? Tentu jawabannya jelas.

Dengan tau target, kita jadi tau harus seberapa keras usahanya untuk itu. Karena beda sekali orang yang tujuannya cuma sekedar ikut dan orang yang punya target jelas.

Saya bilang ke murid-murid saya, ikut kompetisi persiapan tidak boleh 100%. Minimal 150%. Grogi itu menurunkan kemampuan sampai 50 %, apa jadinya kalo cuma siap 100%.

Balik ke persiapan kompetisi. Selama latihan terus terang progresnya ngga terlalu bagus dan agak lambat. Saya sempet agak frustasi dan marah ke dia. Saya tanya mana komitmennya. Saya tau lagunya susah, tapi menurut saya ada saat di mana dia ngga berusaha maksimal buat latihan. Enam minggu sebelum kompetisi, masih 3 halaman yang dia belum beres. Belum hafal not, dinamik, banyak sekali bagian yang harus drilling dsb.

Di beberapa bagian bahkan ada yang saya sampai suruh dia ulang berkali-kali sampai dia bisa, baru boleh pulang. Di sebulan terakhir, saya paksa dia tutup partitur. Kalo bayangin waktu itu, betul-betul khawatir tinggal 4 minggu hafal sedikit pun belum. Enam halaman panjang.

Ngeliat ini, saya putuskan buat nambah jam lesnya di hari lain. Berlaku juga buat Nathan, yang ndilalahnya, kok mainnya juga malah jadi turun. Sempet gelisah sekali saya liat dua orang ini. Lebih gelisah lagi karena ngebayangin saya akan resign. Gelisah karena ngebayangin hari terakhir saya akan diinget seperti kegagalan.

Ngga ada gunanya pernah juara tiga kali dan juara satu tahun lalu, orang hanya akan ingat yang terakhir kali ditorehkan. Dengan Jessica, bahkan yang diingat pengamalan buruk tahun 2017. Agak patah hati saya ngebayangin kalo 15 tahun saya ngajar seperti ngga keliatan hasilnya.

Kasih jam tambahan itu sulit sekali dari sisi saya. Karena waktu terbatas. Akhirnya saya paksakan untuk kasih mereka waktu tambahan di hari di mana saya punya waktu 1 jam sembari Langit les. Jadi saya drop Langit, lalu lari ngajar 2 orang dan kembali ke jemput Langit, semua dalam waktu 1 jam.

Pernah saya tergoda sekali buat batalin. Apalagi hari tambahannya di hari saya puasa juga. Tapi, alhamdulillahnya otak dan hati cukup keras, sambil marahin diri sendiri, ” Kalo nanti hasilnya ngga bagus, lo akan nyalahin diri sendiri kenapa ngga usaha lebih padahal bisa, cuma karena capek dan lemes. Akan lebih lemes kalo nyesel belakangan,”.

Dua minggu terakhir tensi dan suara saya makin tinggi. Ngga terhitung seringnya saya scolding mereka berdua sampe pucet.

Di hari kamis sebelum kompetisi, Nathan udah ada titik terang. Tapi tidak dengan Jessica. Salah masih banyak, hafalan lumayan tapi masih suka bener-bener blank di tengah jalan, dan yang paling mengkhawatirkan nervousnya juga tinggi sekali. Tiap main pasti tiba-tiba berhenti dan panik sendiri.

Saya terus ingetin dia supaya tenang dan fokus. Ingetin dia kalo hal utama yang harus dia capai hanya main sampai selesai. Itu udah lebih dari cukup. Saya tau enam halaman itu panjang dan dia harus mainkan dengan tempo yang beda, dan notnya cukup sulit, dimana kalo dia salah bisa merembet kemana-mana, meskipun dia juga udah tau teorinya kalo salah yang harus dilakukan adalah jalan terus.

Hari Sabtu gladi resik, saya makin khawatir karena nervousnya dia terasa makin tinggi. Percobaan pertama maju di panggung, gagal total. Bahkan sampe nangis lagi. Saya dan mamanya terus nyemangatin. Di percobaan ke sekian kali saya liat ngga ada perubahan sama sekali. Semua latihannya ketutup sama tingginya nervous dia. Gladi resik awalnya cuma 10 menit. Saya minta ijin lagi ke ibunya buat latihan lagi di ruangan sampai molor jadi 1,5 jam.

Di ruangan saya suruh dia drilling halaman pertama sampe puluhan kali. Bolak balik hanya halaman pertama. Kuncinya hanya itu. Begitu halaman pertama dia aman, pede dia langsung naik drastis. Setelah dirasa cukup halaman pertama, saya suruh dia drilling 4 baris terakhir berkali-kali.

Seperti semua hal dalam hidup, ngga peduli bagaimana kita mulai, tapi yang paling penting adalah bagaimana kita selesai. Begitu juga dengan lagu.

Setelah kurang lebih setengah jam atau empat puluh menit latihan di kelas, emosinya udah lebih tenang, saya ajak dia latihan di showroom bawah pake piano grand di ruangan terbuka. Cukup berhasil. Dia udah lebih tenang, meskipun beberapa spot masih salah-salah. Secara keseluruhan aman, tapi tidak memuaskan.

Setelah dari bawah, saya ajak balik ke ruangan gladi resik. Saya minta dia main bagian yang tengah aja. Bagian yang perlu pedal dan paling aman. Saya larang buat main dari awal sampe akhir. Setelah main dari tengah saya minta dia main halaman pertama dan empat baris terakhir. Setelah itu saya cukupkan dan minta dia pulang buat istirahat.

Ngga nyangka yang awalnya niat saya cuma dateng 15 menit, berakhir jadi 2 jam. Tapi, kalo inget sekarang, saya senang karena udah milih yang benar dibanding yang mudah.

Nathan gimana? Alhamdulillah aman. Setidaknya kalo dia main seperti hari kamis dan sabtu gladi resik, setidaknya satu tempat juara udah dia amankan. (Kok pede? Iya, anaknya juga pede banget gitu mainnya).

Hari Minggu saya bangun dengan perasaaan sedikit khawatir dan banyak pasrahnya. Hari itu akan jadi penentuan bukan cuma buat murid-murid saya, tapi lebih ke diri sendiri. Akhir seperti apa yang (pantas) saya dapatkan?

Semua usaha sudah dilakukan (semaksimal dan semampu saya). Seluruh doa juga ngga berhenti dipanjatkan.

Saya dateng setelah zuhur. Waktu dateng kompetisi sudah dimulai. Biasanya saya masuk ke ruang penonton atau ruang tunggu bareng guru lain. Tapi ini, saya milih buat tunggu di luar yang sepi. Jantung kaya mau copot.

Nathan di kategori B maju duluan. Waktu saya ketemu dia, dia keliatah cukup tenang dan percaya diri yang cukup. Saya pernah ingetin dia, tidak boleh over confident karena itu yang kadang bisa buat hilang fokus. Seperti di beberapa latihannya yang salah di not terakhir.

Saya udah janji buat kali ini saya ngga akan masuk. Saya hanya akan dengar dari luar pintu. Begitu Nathan naik, yang saya bisa kerjain cuma baca Al-ikhlas setengah keras buat nutupin suara mainnya dia yang tetep lebih keras. Ngga berhenti saya doa.

Nathan main dengan bagus sekali. Bersih, powerful, dan rapi.

Seperempat beban diangkat alhamdulillah.

Jarak Nathan ke Jessica cukup jauh. Saya tetap ngga mau masuk ke dalem kursi penonton dan ruang tunggu. Waktu saya masih duduk, Jessica dan mamanya keluar. Mamanya bilang minta keluar dulu.

Saya agak tercekat liat baju yang dia pakai. Seinget saya yang paling minim standarnya dari selama ini dia ikut kompetisi. Kombinasi kaos dress softball selutut yang kalo dia duduk jadi ketarik dan agak pendek, juga sepatu wakai dengan warna senada.

Tapi ya sudah. Ngga ada gunanya meributkan masalah baju ketika ada isu yang lebih besar.

Ketika dia sudah dipanggil ke ruang tunggu, saya masih milih nunggu duduk di luar. Saya rasa waktu itu, saya dan dia punya battle masing-masing yang harus dihadapi sendiri. Dia yang harus melawan trauma dan ketakutannya. Saya yang harus mempersiapkan diri buat nerima kemungkinan terburuk di akhir perjalanan mengajar saya.

Saya masuk ke ruang tunggu ketika giliran dia tinggal 3 lagi. Waktu giliran dia tiba, seperti yang saya lakukan dengan Nathan, dia masuk ke atas panggung, saya keluar dan turun ke bawah tangga di samping. Saya terlalu nervous untuk berdiri di depan pintu seperti yang saya lakukan dengan Nathan.

Detik dia masuk, mulut saya ngga berhenti merapalkan Al-ikhlas. Saya terus baca sampai kadang saya pikir saya berdoa supaya ngga terlalu denger jelas permainan dia. Betul-betul ngga baik buat jantung.

Tentu permainannya tetap terdengar jelas. Dan sedikit tapi pasti, hati saya mulai ringan. Dia berhasil melewati halaman pertamanya dengan baik. Halaman kedua percaya diri naik. Halaman ketiga seperti yang sudah diprediksi adalah yang paling aman. Harapan saya semakin naik ketika di halaman keempat di bagian yang dia selalu miss, dimainkan dengan rapi dan bersih. Zikir saya mulai diganti senyum sambil sedikit nangis.

Halaman kelima dan ke enam, Jesssica seperti balik ke Jessica versi terbaiknya. Bagus sekali penutup yang dia mainkan.

Turun dari panggung dan keluar ruangan, kita berdua berpelukan dan dia bilang, ” aku bisa kak,”.

Ternyata selesai dia main, mama papanya pun juga langsung keluar dengan wajah sumringah sambil ngacungin jempol.

Setelah itu, saya kaya ikan yang dikembalikan ke air.

Tiga perempat dari beban saya sudah diangkat bersih.

Tinggal seperempat terakhir.

Pengumuman pemenang dimulai dari kategori B. Terus terang saya ngga terlalu khawatir. Dengan adanya 6 piala buat kategori B, Nathan hampir pasti dapat salah satunya.

Ketika sampai di pengumuman juara ketiga dan nama dia belum ada, saya agak sedikit khawatir kalo saya bisa aja salah total. Juara kedua diumumkan juga bukan dia.

Nama Nathan akhirnya disebut paling terakhir.

Seperdelapan beban saya diangkat bersih kembali. Setidaknya untuk Nathan dan orangtuanya, saya akan diingat sebagai guru yang selama 2 tahun ngajar dia, ada memori sesignifikan 2 kali kompetisi 2 kali pegang piala juara pertama.

Tiba giliran pengumuman kategori C.

Waktu itu saya ngga inget harus ngharep apa. Mau ngharep menang kok kaya ngerasa ngelunjak, tapi ngharep ga menang juga gimana, mainnya bagus dan lebih dari cukup dibanding lawan-lawannya untuk pegang satu piala.

Ada 4 juara di kategori C. Nama yang disebut pertama bukan Jessica. Masih lega saya. Saya banyak berharap di ketiga dan kedua. Ternyata di ketiga pun bukan dia. Saya mulai sedikit nelen ludah. Harapan saya tinggal sekali lagi.

Nama yang berikutnya disebut juga bukan Jessica dan saat itu saya sudah telen seperdelapan beban terakhir yang ngga bisa hilang di hari terakhir saya.

Saya ngga akan lupa momen dimana ketika MC ngumumin juara pertama.

Sampai ngga bisa kontrol suara dan air mata.

Nathan juara pertama mungkin ngga luar biasa, tapi Jessica bisa juara pertama, di hari terakhir saya, setelah semua senang sedih yang kita lewatin sama-sama selama 7 tahun, setelah kejadian luar biasa dua tahun lalu, saya terlalu bersyukur sekali dianggap pantas nerima hasil akhir sebaik ini. Dan saya benar-benar salut dan bangga sama anak ini. Bisa ngalahin ketakutannya, bisa ngalahin traumanya, dia pantes jadi juara satu. Dia naik ke panggung sambil nangis.

Tidak ada yang lebih menyenangkan dari perasaan lega bisa kasih selamat ke orang tua Jessica dengan level yang sama seperti saya memberi selamat ke orang tua Nathan.

Dengan berakhirnya kompetisi di Minggu, 25 Agustus 2019, berakhir juga perjalanan saya selama 15 tahun di sekolah ini.

Ngga berhenti saya bersyukur buat semua yang dikasih hari itu, jauh di luar dari yang saya berani bayangkan.

Alhamdulillah alhamdulillah untuk epilog ini.

Saya pamit untuk melanjutkan perjalanan.

Posted in Life happens, Past learning, Thoughts

A Beautiful Farewell

One day that deserve, thousands Alhamdulillahs, few words of gratitude.

Today’s marked the very last day after 15 years of teaching and 6 years of competitions by sending two out of two loveliest students a teacher could ask for to be a winner in their category.

To put a cherry on top, both were the first winner.

Month of practices, hard days of scolding (and of course crying), hundred times of notes drilling, endless hours of conversation in that small classroom, they truly deserved the first place. I couldn’t be more grateful to be granted with such farewell.

Participate in competition alone was brave enough. Finished playing until the end, no matter what, that took big amount of courage. To play the piece beautifully and let other enjoy the music, that’s what the first winners do.

Every small win given in my life, the thought went to the one and only person to whom I owe every good things happen in my life with her golden mantra : “Finish what you have started, no matter what it takes. The result is never up to us”.

One who pushed me to stay for 13 years of learning, in spite of my lacking in many things. One who taught that a teacher might never be rich in numbers but it’s surely one of the most rewarding jobs, if you’re doing it right.

A simple thank you and congrats are more than enough to end my long years of teaching day beautifully. After all, we always want to have a happy ending.

Now, guess I can proceed to the next big thing ahead with a lighter heart.

Posted in Langit Senja, Maternité, Thoughts

Lima Huruf J

Dari beberapa bulan lalu, ada satu huruf yang Langit susah sekali bisa biarpun (menurut kita) gampang. Di sesi belajar pertama, sampe frustrasi ngajarin 30 menit sendiri satu huruf ini kok ngga bisa-bisa. Sepele cuma karena salah madepnya. Suara dua gurunya udah naik, muridnya juga udah (mau) nangis dan emang nangis sampe sempet ngga mau sama sekali coba lagi setelahnya.

Selang beberapa hari dicoba lagi dengan iming-iming satu mainan yang udah lama dibeli (dan ngga boleh dibuka) tapi masih disimpen di lemari, dengan syarat buat 5 huruf ini dengan benar. Tetap ngga berhasil.

Kita ngga maksa lagi. Tapi ternyata anaknya tetep inget. Sering sekali tanpa disuruh dia buat sendiri di kertas dan kasih liat yang sayangnya masih salah terus. Dimana ada kertas kosong tiba-tiba buat huruf J, dan minta mainannya, yang tentu saja ngga dikasih. Pernah satu kali hampir bener semua, salah di yang terakhir, hati hampir goyah tapi alhamdulillah otaknya ngga.

Setelah lama ngga coba, hari ini, tiba-tiba dia ambil buku pelajarannya sendiri, dan nunjukin udah buat 5 huruf J (yang masih salah juga). Kali ini dia ngga mundur. Ngga berenti coba biarpun udah dibilang besok-besok lagi aja.

Di percobaan kesekian kali akhirnya 5 huruf J berhasil dibuat tanpa salah, dengan rapi. Dan juga berhasil disimpan di memori dengan baik.

Saya ngga tau siapa yang lebih seneng di sini. Mukanya hepi sekali. Apapun alesan dibaliknya, seneng sekali liat dia terus berusaha tanpa berhenti dan ngejalanin menunggu dengan baik.

Seperti yang sudah berulang kali saya tulis, menunggu itu skill wajib yang semua anak harus kuasai sejak dari kecil. Hal kecil yang dampaknya besar sekali. Ini bukan sekedar kepercayaan saya, tapi sudah terbukti di satu negara yang menjadikan menunggu sebagai salah satu kurikulum terpenting yang harus dikuasai sejak seorang anak dilahirkan. Saya sedang baca bukunya dan suka sekali dengan isinya. Mungkin karena benar-benar menggambarkan apa yang selama ini kami terapkan ke Langit.

Dari hal sekecil menulis huruf J bisa terlihat, ternyata ngga bisa itu wajar, ngga mencoba itu fatal. Sekali gagal biasa, coba sampe bisa ngga peduli berapa lama, itu juara.

Selamat menikmati hadiah menunggu!

Posted in Langit Senja, Maternité, Thoughts

Sekolah Banyak PR

Tumben (lagi) sering nulis.

Iya lagi pengen.

Empat tahun sekolah di bidang orang tua dan ibu, semakin sadar kalo jadi keduanya itu banyak sekali pra syarat yang sebaiknya terpenuhi sebelum ‘daftar’. Ngga bilang harus tapi sebaiknya.

Di sekolah ini, PRnya banyak dan ngga semuanya bisa dikerjakan (sendiri). African proverb yang bilang it takes a village to raise a child benar sekali.

Buat ngerjain semua PR di sekolah ini, akan lebih mudah kalo pra-syarat yang dibutuhkan sudah tersedia. Baik dalam bentuk mental, skill atau materi. Tanpa ada gabungan ketiganya bisa ngga PRnya selesai?

Bisa, dengan standar yang beda-beda. Tapi, seperti di sekolah pada umumnya, harus ada standar minimum yang harus terpenuhi, berlaku sama buat setiap anak. Standar kelulusan minimal 70 atau C. Menurut saya, ini yang juga harus dicapai di sekolah (jadi) orang tua.

Di buku Raising a Bébénya Pamela Druckerman, orang tua Prancis punya standar tertentu yang hal tersebut bahkan sudah dianggap seperti kurikulum nasional, yaitu menyapa orang dengan Bonjour. Itu hal wajib yang harus diajarkan dan dilakukan. Kalo anak tidak melakukan hal tersebut, itu tolak ukur yang jelas untuk mencap bahwa dia tidak mengerti sopan santun. Kasta bonjour ini jauh sekali di atas mengucapkan terima kasih dan maaf, atau tolong. Hal kecil dan sesederhana ini, ketika semua orang melakukan dan ditekankan betapa pentingnya hal tersebut, akhirnya jadi karakter bangsa. Dan, menurut saya, dari hal kebiasaan kecil ini, tumbuh juga karakter-karakter lain yang lebih besar.

Setiap rumah pasti punya hal-hal baik yang ditekankan dan saya percaya, setiap orangtua berusaha untuk ngajarin itu. Cuma memang membiasakan sesuatu itu sulit sekali. Butuh komitmen dan kesabaran yang tinggi karena hasilnya ngga pernah instan dan kadang ngga semua hal yang seharusnya diajarkan dan dicapai oleh seorang anak bisa kepegang. Bahkan untuk hal paling basic sekalipun. Setidaknya yang orang pada umumnya menganggap hal tersebut sudah seharusnya ada. Kalo itu absen dari seorang anak, jelas PR orang tua dan lingkungannya, kecuali, memang ada keterbatasan dari segi fisik atau mental dari segi medis. Tapi disini asumsinya adalah anak normal pada umumnya.

Ketika satu hal absen dari anak, hal yang ngga bisa dihindari adalah penilaian dari orang-orang. Kita semua pasti ada di dua belah pihak. Menghakimi dan dihakimi. Oke, mungkin diperhalus, menilai dan dinilai.

Seperti saya menilai anak yang sifatnya kurang menyenangkan, yang mana dampaknya bukan cuma ke dirinya sendiri tapi sampai taraf menggangu kenyamanan orang lain. Di satu titik, bahkan cenderung jahat.

Saya ngga bisa tidak menghakimi orang tuanya bahwa PR mereka cukup banyak untuk memperbaiki hal tersebut. Apalagi ketika itu sudah bersinggungan dengan dan menggangu orang lain. Saya ngga bisa tidak nanya dalam hati, emang ngga diajarin ya, emang ngga tau kalo itu salah dan sebagainya. Masa hal basic kaya gitu bisa ngga ditekankan pentingnya. Tapi, sebagai orangtua, menerima kalo kita salah, apalagi dikritik tentang cara didik anak sendiri, juga ngga kalah sulitnya.

Saya pun merasa jadi pihak yang dihakimi ketika seorang guru di kelas bilang selama di kelas, anak saya cenderung suka sibuk sendiri, susah fokus meskipun ketika ditanya dia selalu bisa jawab. Juga tentang kemampuan bersosialisasinya yang kurang. Saya ngga menyangkal semua hal tersebut karena memang benar. Gurunya mungkin juga berasumsi hal-hal tersebut ngga cukup dilatih di rumah.

Tapi, untuk hal ini saya merasa perlu menjelaskan kenapa dan apa yang sudah dilakukan tanpa bermaksud membela diri. Soal fokus saya jelaskan tentang masalah Langit dan usaha yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut dengan harapan meskipun agak sulit, tapi setidaknya gurunya tau cerita dibaliknya sehingga pemahaman tentang anak bisa lebih baik. Saya juga minta maaf karena ‘menggangu’ kenyamanan gurunya.

Saya pernah beberapa kali ada di posisi Langit dan ibu saya ngga pernah diem kalo soal ini. Salah satu yang paling saya inget ini.

Guru piano di tingkat 6 saya super galak dan saya juga bukan murid yang pinter untuk standar sekolah musik itu. Kalo orang tua lain, tiap anaknya les pasti jauh-jauh supaya ngga denger anaknya dimarahin, ibu saya milih untuk dengerin di bawah jendela. Sampai di satu titik guru saya udah ngga tahan kali ya kok saya ngga bisa-bisa menurut standarnya dia, dan bilang dengan lugas ke ibu saya,

“Saya ngga pernah punya murid sebodoh dan semalas ini”.

Lugas dan tegas. Guru itu bilang saya bodoh. Males. Kurang apa coba.

Hahahaha, pas jadi anak sih saya biasa aja ya. Ya emang ngga bisa. Udah kenyang juga dimarahin. Tapi, abis jadi ibu, saya baru kebayang gimana perasaan ibu saya diomongin gitu di depan mukanya.

Biasanya abis dimarahin guru, trus lanjut dimarahin ibu saya. Tapi di hari itu, ibu saya jawab dengan lugas,

“Ibu mungkin bener kalo bilang anak saya bodoh. Tapi, saya keberatan kalo dia dibilang malas”.

Ibu saya jelasin panjang lebar apa yang sudah dilakukan. Gimana dia setiap hari bangunin saya jam tiga pagi, bikinin susu supaya saya bisa latihan sebelum subuh dan berangkat sekolah dan saya pun emang latihan setiap hari sepagi itu karena sore abis pulang sekolah udah capek. Malem kadang latihan juga sebentar.

Ibu saya ngerasa perlu melakukan itu bukan untuk membela saya (apalagi kalo emang ga pantes dibela), tapi orang perlu tau kalo kita juga melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah tersebut dan penting sekali buat meluruskan kesalahpahaman. Dia juga minta maaf kalo saya ngerepotin.

Guru saya punya tiga murid kelas 6 yang nasibnya ditentukan di satu hari ujian, lulus lanjut atau keluar. Dia sering bilang dengan jelas, dari tiga murid kelas enamnya, cuma dua yang akan lulus. Gopas pasti lulus tanpa ke tingkat pra, Dini lulus ke tingkat pra, dan yang satu kemungkinan ngga bisa lulus dan tau siapa yang dimaksud dengan yang terakhir.

Tapi, sejak hari ibu saya bicara panjang lebar ke guru saya, sikapnya berubah. ‘Mindsetnya’ pun saya rasa berubah.

Saya masih inget itu bulan april 1998, kalo ngga salah tanggal 24 hari sabtu. Hari pengumuman kelulusan, saya ngga ikut karena sekolah siang, ibu saya pulang, dari dia di mobil muka saya udah tegang nanya gimana. Tapi dia bilang ntar tunggu masukin mobil dulu. Abis turun langsung nangis meluk saya bilang saya lulus.

Prediksi guru saya dua pertiga benar, yaitu cuma dua yang lulus dan Gopas langsung lulus tanpa lewat tingkat pra. Sepertiganya ibu saya yang menang. Karena yang lulus ke tingkat Pra bukan Dini, tapi saya.

Sampai saya lulus tingkat akhir empat tahun kemudian, meskipun udah ngga ngajar saya lagi, guru saya selalu ada di balik pintu setiap saya ujian akhir. Dia dengerin dari awal sampe akhir.

Hal kecil yang ibu saya lakukan dampaknya besar sekali. Itu yang menurut saya ngga semua orang tua punya skill dan mentalnya. Termasuk saya mungkin. Bahkan ngga semuanya tau hal-hal (penting) tersebut. Tau aja ngga, apalagi mencapai hal tersebut.

Dan itulah PR yang harus terus dikerjain. Males sih emang kadang, abis susah, hahaha.

Tapi, kalo liat taruhannya di masa depan, tetap ngerjain PR adalah hal yang paling gampang dilakukan di saat ini.

Semoga selalu diberi kesabaran dan waktu yang cukup. Amin.

Al fatihah buat ibu saya yang karena dia, saya jadi tau harus (berusaha) jadi ibu seperti apa.

Posted in Thoughts

Jittery June

It’s been only eleven days in June yet things seem escalated so quickly about the new adventure. I always remember June as the new beginning of this little family. The time when those return tickets bravely bought in June 2016, I didn’t really know that some tiny courage to click the pay button could make a big change for many years ahead.

Today seemed to be an ordinary day until, as usual, the flight radar inside my head spotted a good deal that we have been waiting for some time. We are quite tight about budget. Extremely tight until I agree to sacrifice certain important things for few million differences.

But then, it’s never been a coincidence for everything happen in this life. At least, ours. One thing always leads to another. One closed door is another way to a better opportunity. One closed door is always one way to tell us to try harder or to prevent us from the smallest misfortune.

Then, this afternoon, after some discussion and careful consideration, once again, the courage to click the pay button came and it was done. This time, the most frightening part is, it’s one way ticket without the return one.

It’s scary and crazy.

Have I said one thing always leads to another?

Done with the tickets, the next would always be about accomodation. Location choosen according to some stuff we have to take care on the first days of arrival. Again, with such tight-budget people like us, price will always be the limit. Certain features couldn’t be compromised though. After applying most important filters, it only left us with two options of accomodation. Two strict options.

I contacted the most suitable one and the reply was pretty quick. At the second reply when I explained our purpose of visit, the next reply from the host gave me a chill.

The sudden change of mood was in the air when she knew yobo is on the same field with her husband. How many certain specialist MD you could meet while searching for a place to stay in other part of the world?

The probability should be almost none. It felt exactly the same when the first time we came to Tanah Bumbu and knew that a house mate doctor who picked us was a Gorontalonese.

You just dont meet gorontalonese everywhere like you meet javanese or any other popular race.

Hope any opened doors would always be the one that leads us to the kind strangers whose help surely be needed during such time.

Posted in Thoughts

All New Cards on the Table

Ramadan and Eid have ended for days. I always love the laid back ambience of this month. After having the same pattern for years, something is different for this year Ramadan and Eid.

For the first time after more than thirty years, spending the holy month in a new place other than the old home. I thought it would be a disaster, miserable, and unsurvivable. But, since 2012, it has never been this liberating.

Everything is much simpler, less hassles, and more time to enjoy the silence. Spending most of Ramadan only with this little family suits me most. Simple dishes for sahur and minimalist style for ifthar. I have stopped coming from any ifthar gatherings other than close family since nine years ago. The only thing I crave after a whole day of fasting is a proper silence and wrapped with the comfortable sleep suit. Looked-delicious various food and chit-chat with people are the least things I need for iftar.

It surprised me I didn’t miss what I had back home that much. Maybe because it doesn’t feel that homey anymore? I thought I would be pretty sad. Fact, I feel more than fine and sufficed.

I didn’t miss the hecticness in making dishes schedule for iftar and sahur (it’s a total headache), I didn’t miss taking care of so many people with their own preference, like and dislike and schedule. Although some things taken care by Mbak Wi in the past should be done alone now, but it is still bearable enough.

Eid prayer was never spent other than at the nearby mosque at home, but this year we did the prayer at the airport mosque to catch 9 am flight to Solo. So many things changed on my plate his year.

The rest of this year probably is going to be more bumpy since another new big adventure has waited ahead. Too soon to reveal, yet it’s almost confirmed that the next few months would be physically and emotionally draining.

It’s funny how things are always scarier when they’re getting closer, although those are things that we have been praying for.

It’s always been funny everytime we are waiting the invisible hand shakes the cards and throw them on our table. The only things to do is play along and try our best to make the most of them.

So far, the cards have been pretty fair. We might not get the best cards often. We lost some rounds and manage to win in another. Losing makes the heart stronger and grateful for small winnings given.

The upcoming new cards might be one of the greatest sets that we could ever have and we hope to be able to play them well and turn those cards into more meaningful things. Hopefully.

Wise words can’t do justice of how scary the new jungle we have to face ahead.

Posted in Places, Thoughts, Travel

Tentang Seoul : (Tidak) Seramah Senyum Oppa di Drama

Sedikit uneg-uneg tentang Seoul.

Membandingkan Seoul dengan kota besar lain yang dikunjungi tahun-tahun sebelumnya adalah sesuatu hal yang tidak bisa dihindari. Dan hasilnya seperti empat buku tetralogi Ilana Tan yang menjadi tema trip ini, Summer in Seoul resmi menjadi buku dan trip yang paling kurang disukai dibandingkan yang lain.

Banyak kenyataan di lapangan selama 6 hari ini yang buat kami merasa sedikit tidak nyaman, tapi wajar. Lagi bertamu ke rumah orang lain. Tapi lagi-lagi, karena punya pembanding, jadi tolak ukur kenyamanannya seperti yang dirasakan di kota lain.

Soal makanan ngga seburuk itu tapi juga ngga semudah itu. Tiga tempat halal yang kami coba enak semua meskipun dengan harga yang buat kita yaa mahal. Soal tiga restoran akan dibahas lain kali.

Uneg-uneg ini lebih ke tentang orang-orangnya.

Baru di Seoul ini, bawa Langit ngga berdampak signifikan dalam hal-hal sederhana seperti dapet duduk di bis atau jadi ice breaker with stranger. Hampir tiap kali kami naik bis, jarang sekali ada yang menawarkan tempat duduk seperti di Paris, London, apalagi Tokyo. Ini bukannya maksudnya minta juga ya, tapi membandingkan tingkat ‘kepedulian’. Awal-awal agak kaget juga tapi lama-lama ya udah. Berdiri pun ga papa.

Bukan sekedar tentang menawarkan tempat duduk, tapi orang-orangnya jauh dari ramah. Kami yang biasanya semangat banget naik bis, di Seoul ini jadi insecure. Cara orang-orang ngeliat itu entah apa ya definisinya, tapi jauh dari kata ramah dan nerima. Bahkan di bis kalo ada tempat duduk dua dan saya milih duduk di satu yang kosong sambil pangku Langit, mereka ngga terlihat suka dan terganggu. Agak bingung sih. Entah apa karena saya pake jilbab atau memang terganggu dengan anak kecil.

Hal ini bukan cuma di anak mudanya, orangtuanya pun seperti itu. Cara mereka melihat kita itu bukan seperti yang pengen nyapa tapi kaya lagi mengamati aja dan itu kadang ngga nyaman sekali. Ngga tau dengan pengalaman orang lain gimana ya.

Bahkan Paris yang saya pikir lebih tidak ramah, karena banyaknya orang yang bilang gitu, sangat jauh lebih ramah dibandingkan Seoul. Nenek-neneknya yang selalu ajak main cilukba, petugas yang cukup ramah dsb. Setidaknya gini deh, liat saya tatapan mungkin agak mendelik, tapi begitu liat Langit, senyum hampir selalu cair. Sesuatu yang di Seoul jarang sekali kita rasain. Beberapa kali bahkan suka nengok ke dalem strollernya Langit kaya buat ngecek ni apaan. Trus ngeliatin saya/Pak Dokter lagi. Tanpa ekspresi yang berniat senyum atau apa. It feels like we annoy them quite much.

Penjual-penjualnya pun juga sebagian besar jauh dari ramah. Bahkan ada sekali yang kita pengen banget beli karena barangnya bagus dan harganya masuk akal, ahgassi penjualnya dengan terang-terangan nunjukin gesture kalo dia ngga mau kita beli apapun. Biarpun ada label harganya. Agak aneh memang.

Di playgroundnya pun anak-anaknya pun ngga setertib anak-anak Jepang. Kalo di playground Tokyo anak-anaknya malah nyuruh Langit maju duluan, di Seoul Forest misalnya, justru dia kebanyakan diselak. Bahkan sama orangtuanya. Waktu itu kami biarin Langit antri sendiri.

Tapi lagi, untuk bilang sepenuhnya ngga ramah pun juga ngga adil. Waktu pertama kali dateng, kita bayar tiga tiket buat naik airport transfer. Waktu dicek sama petugasnya di bis mereka marah kenapa Langit juga disuruh bayar. Tanpa basa basi, supirnya langsung ngeluarin uang 8000 won dari dompetnya sendiri buat ganti harga tiket Langit. Kita udah tolak tapi dia tetep maksa ngasih. Jadi kita ambil. (Alhamdulillah..).

Beberapa ahjumma dan ahjussi di Insadong, Gwangjang Market, dan rumah makan halal juga nunjukin kebaikan dengan Langit yang selalu dapet sesuatu. Tempat pinsil gratis, crackers, sampe es krim setelah makan. We’re grateful for them. Tapi memang levelnya cukup jauh dibandingkan kota lain. Jauh sekali dari Tokyo yang saya sampe binggung kok bisa ya satu negara orang-orangnya (yang kita temuin dan ada kontak) sebaik itu sama orang asing. Ketika nolong tuh beneran sampe tuntas. Bahkan ketika mereka pun ngga ngerti bahasa Inggris.

Lorong-lorong kecil Seoul pun tidak semenyenangkan dan seteratur Tokyo. Efek bagusnya, lebih aman buat dompet. Tokyo dengan toko di jalan-jalan kecil yang bahkan di tempat yang bukan buat turis itu bahaya sekali. Barang yang kita pikir ngga perlu bisa mereka buat jadi perlu dan harus beli saking lucunya.

Balik ke Seoul.

Soal bersihnya pun masih kalah ya. Masih banyak orang ngeludah juga biarpun jarang. WC pun ngga sekering, sewangi dan sebersih Tokyo. Selain itu yang paling penting, wcnya persis wc eropa aja. Ngga ada tombol-tombol canggih yang bisa pakai air kaya di Tokyo. Saya selalu bawa botol Aqua kosong.

Jelas pendapat ini sangat subyektif. Mungkin kasus saya hanya sebagian kecil aja. Kaya kasus saya dan Paris yang menyenangkan. Mungkin sebenarnya memang kami aja yang kurang cocok dengan Seoul. Hal lain juga mungkin karena faktor bahasa. Tapi, secara keseluruhan memang ramah dan menyenangkan bukan kata yang tepat untuk menggambarkan orang korea secara general.

Keputusan untuk tinggal hanya lima hari di Seoul ternyata tepat sekali. Ternyata oppa tidak seramah di drama.

Posted in Maternité, Thoughts

Teaching Patience to Find The Right One and Doing The Right Thing

Impatient is my middle name when it comes to deal with (certain) small things. I always want to do it as soon as possible. Like finishing all the chores before lazying around, unpack the luggage until it’s safely restored to its place right after arrived home from travelling (even after 17 hours flight), love rushing things to get them done as soon as possible. But, funnily, it’s not applicable for doing monthly report. I don’t know why for this one, procrastinate has always been chosen.

Being impatient also becomes my strength and weakness in parenting. Thanks to this trait, I always left my house tidily before going out every morning. No dishes left on the sink. Langit could never leave home with an empty stomach and unbathed, even when we have six am flight. But, what I haven’t been so proud is the way I am doing it.

I couldn’t stand watching her chewing the food slowly, dress herself with so many things to do in between, doh, it makes my voice raise. I walk fast and she has to catch me often. I am the type of continously babbling mother when something doesn’t suit my way.

There were few recent situations that slapped me quite much. Some situations where it is clearly shown that parents are often so selfish. And it makes me wonder, what I have been doing as a mother other than scolding and asking her to do things?

Yesterday, I needed to buy a pair of shoes. I have been looking for it for days and still havent got the right one. My small feet is quite complicated. Having 35 shoes size is not normal here and for formal shoes, it’s pretty hard to find that size. I am quite desperate about this one due to certain family wedding in few weeks, and I think I don’t have a proper shoes that go well with the attire.

Other than the size, what makes it more complicated is my other term and condition which said it should be wearable daily after the wedding. So, rather than a selop, I want a black suede high heels, high enough to look good in kain, short and comfortable enough to use daily. To make it fussier, price is limited to certain range.

Ninety percents of my formal shoes are all european brands. Gabor, Bally, and two less famous names purchased in Paris. It’s simply because they have 35 size in their catalog and such brands couldn’t be found just anywhere. Only in specific shopping centres in the south. I couldn’t wait until next week because the traffic would be so unbearable after payday. So, yesterday was non-negotiable. For me who doesn’t like shopping around, more, going far just for a pair of shoes, this one must be that important and desperate.

Things often got so twisted when you want something the most. Right after arrived there, Metro was closed for renovation until June and the only option was Sogo. But, I know Sogo didn’t offer as many choices as Metro. The first round, several pairs caught my attention, tried it,but not that convincing to bring it to the cashier.

After some considerations, I decided to cross the street and looked for some alternatives in the next shopping centre. It was funnier that the very same thing happened here. Debenhams was no longer there, Sogo wasn’t there too and said they’ve been preparing for an re-opening in few months. It was a bit sad but my spirit and hope were still high. I returned to the first mall and visited Sogo once more, hoping this time the result might be different. Because I always believe, you might miss something on the first chance. That’s why second chance is always available in my dictionary.

But, sadly, the result didn’t change at all. After spent almost three hours, I decided to drive to another nearest Sogo. Things I do for something I really want.

It was at least a good choice to go before payday because the traffic was soo nice, that really kept my spirit high, haha. In twenty minutes, I had arrived to next Sogo. What made the spirit was even higher, this Sogo was much bigger and had more options. There would be at least one pair that suited my preference. I also had bargaining my self about the price. As long as it comfortable, a bit higher from the budget would be okay, knowing it would last longer too.

The hope was slowly getting lower when after few laps of searching in almost every table and brand available, many trials this and that, the right one was still nowhere to be found. Sometimes the size,sometimes the price, or sometime when the size and the price fit, it hurt and pressed the toes umcomfortably while wearing it.

It was a bit frustrating until at certain point I told my self, “come on, just settle for less with the closest suitable one. We have spent too much time on this. Just choose one”.

But then, just like what I had told my self and also for Langit later about marriage, I can’t settle for less. It’s better to wait longer and staying without it than settle for less just because you have to do it. Even when you are desperate enough.

I left another Sogo empty handed.

Gave up? Not yet.

I decided to find women shoes corridor stores and tried to find the one in every store. Then, the wait was finally over. I found the right one in the most unexpected place. Just as precise as I really wanted.

A simple black suede with proper heels 35 size shoes. Fit my feet beautifully, meet my budget perfectly.

I wore it right after asar prayer and it didn’t hurt at all. The right shoes won’t hurt your feet. A bit tiring about the heels maybe unavoidable, but it wont give any harms.

That is just like when you’re marrying the right person on the right time.

Now, the question is : who was the most patient one in this process?

I wasn’t. Langit was.

I was surely patient since I was the one who had the urge. But Langit had no advantage at all.

She had been following me since morning, taking care some works too before shoes searching, then stopped by at my father’s house after that. We just arrived home around 8 pm. Almost twelve hours outside and no single frowning and nagging along that time.

If I were her, I would have been lying on the mall floor and nagging my parents to go home after three hours. Just like what I did during her first field trip few weeks ago. I withdrew and asked permission to leave early after survived the crowd and the noise for four hours and took her home.

I apologized to her few times yesterday when she looked tired, but she coped up with that quite well. She tried many women shoes too, played with her toys, even tried several kids shoes on the last store when I found the one. The eyes said she wanted them too but since she knew and being told that she had her new shoes recently, she didn’t nag further.

When we arrived home, she asked me quietly, “can I have some chips? Satu aja,”. She asked for some Pringles chips she got from birthday goody bag that I have kept. It was reachable enough for her to take it, and it was actually hers too, but I banned her from eating it much. One until three pieces per two or three days would be fine but not everyday. She asked me on Friday and Saturday and I said no. I couldn’t say no for what she had been through yesterday. So, permission granted.

I was busy taking care of clean laundry at rooms while she was watching and munching on the couch at the living room. After few minutes, when I was almost done with all the stuff and remembered to check her to make sure she didn’t keep eating it, I saw her just watching with the tiny piece of pringles on her hand.

She didn’t hold the tube at all. The pringles can was on the same place as I put it. It means, she just took few of those. And judging from the short interval time from asking permission until I watched her, she might really take it one single chip as she told me.

(Updated : two days later she asked me again for another chip. She said one. This time I really watched her and it still surprised me that she really took literally one then returned the tube to its original place. After that, she ate the chips little by little. But never asked for more).

I am a bit ashamed to say I am really proud of her.

Being a geographically single parent for a year, surely took so much patience and I have done it well, but compared to this little girl, my patience level is still too low.

Glad we safely and sanely passed this one year.

I wont stop being impatient after this writing for sure, but hopefully being a bit more mindful about something that deserves being fussed.

Like just what I did before finished this writing.

Scolding her for breaking another plate. Not much, just enough.

Sigh.