Posted in Places, Travel

The Loveliest Day in Seoul

After four days, yesterday was the most enjoyable day in this city. We got off early to go to Namsan Tower and it turned a visit with hiking which I disliked. But, after arrived at top, it paid off. Enjoyed the view of Seoul from above.

We continued to Itaewon. This is a moslem friendly area where almost restaurants put halal sign on their banner. We stopped by at one of the most reviewed one then went to Seoul Central Mosque for prayer.

Gangnam was the next destination. There’s nothing much to see there but we stopped by Starfield Coex Library. At the end of the day, we visited Seoul Forest. It is truly large forest between those big and tall buildings. I am so envy with these cities☹.

It was the first time we stayed late. It was a lovely day for those beautiful sceneries and good food with reasonable price.

Posted in Places, Travel

Another Day in Seoul

It took us longer to feel excited about this city. Other than few ‘less than Tokyo’ mentioned before, two that we miss the most are playground and ice cream.

Until the third day, the number of ice cream Langit finished is zero. So does playground session.

We decided to put Seoul Children’s Grand Park earlier because of this. So, after a visit to Namdaemun Market and Myeongdong, we went there.

It was quite nice one. Better because it’s free entry. Large park with picnic spots, proper playground, mini zoo, and small theme park with major ridings in small size like carousel and its friends.

Food court, mini market restaurant, and some small stallz like cotton candy and ice coffee are available. Doing some walk would be nice too while watching colorful beautiful spring colors.

So far, it’s one of the best spots in our itinerary. Or maybe because it’s one that suits us the most.

Posted in Places, Travel

Hello From Seoul

How’s Seoul so far?

Hm, slightly less than Tokyo in everything except their excellent bus service. No subway hassles.

The people are less friendly and helpful.

The attractions are less interesting and well-maintained.

The rare playground.

The map navigation is quite bad.

The food is less mouth-watering (for us).

It feels like having a less mature Tokyo.

And if I may say, Seoul is so girly. When it is a gender, it’s obviously a girl.

Cheonggyechong Stream
Insadong

Changdeokdung Palace
Gyeongbukdong Palace (view from the bus)

We also visited Bukchon Hanok Village but no proper pictures available because we were busy climbing and finding the way to the only halal food in that area.

Below are : The famous Yeuido Hangang Park

But still, been playing in dramaland for nineteen years, it’s nice to finally able to live a little part of the life from those characters on screen such as able to say ‘Anneyong Haseyo’ and ‘Khamsa Hamnida’ with the right tone to its people.

Posted in Travel

Naik Garuda Lewat Terminal Tiga (Domestik&Internasional)

Setelah 19 tahun lebih tidak menggunakan Garuda, baru di tahun ini ada kesempatan lagi naik Garuda. Alasannya pas naik tahun 2000 trauma. Selain turbulensi parah, landing take offnya ngga enak, pelayanan juga ngga segitu impresifnya

Kembalinya ke Garuda ini jelas ada pemicu yang kuat, tiket murah ke tujuan yang bukan krusial. Paling ngga buat saya. Tiket ke Bajo dan Korea semua didapat ketika GoTF 2018. Satu kerja sama dengan CIMB, satunya dengan BNI. Dua-duanya harganya cukup oke jika dibandingkan dengan maskapai lain. Ke Bajo bisa naik Lion, Batik atau Citilink, naik Garuda jelas lebih enak. Apalagi dengan harga GoTF kemarin.

Buat Seoul, sebenarnya tiket sudah beberapa kali dicari. Dulu pernah liat SQ yang menurut saya buat level SQ oke banget, cuma sayang buat ukuran jarak 7 jam penerbangan musti transit segala. Makanya ngga dibeli. Setelahnya beberapa kali pernah cek harga dengan maskapai lain lebih rendah, tapi tetap ngga dibeli juga dengan alesan yang sama, pakai transit. Kalo dulu masih suka nawar dengan harga sebagai kompromi, abis ngerasain pas ke UK dengan 2 kali transit yang melelahkan, kalo jarak pendek seperti Asia Timur dan Australia, udah paling bener adalah cari yang penerbangan langsung (dan murah tentunya).

Sebenarnya murah mahal itu tergantung value for money ya. Dengan harga yang sama, naik satu maskapai biss berarti mahal atau murah. Dan untuk tau mahal atau murah juga perlu tau berapa harga standarnya. Untuk Seoul, Garuda ini dengan harga yang saya dapat dan apa yang saya terima, udah cukup oke.

Terminal 3 domestik secara aura lebih humble dibanding internasional. Hal yang jelas sama adalah dua duanya perlu cukup waktu untuk jalan antara setelah cek in bagasi (dan imigrasi) ke gate yang ditentukan. Ada sih mobil, tapi tetap harus nunggu dan antri juga. Jadi, kalo pesawatnya berangkat dari terminal 3, jangan pernah dateng mepet. Pelan-pelan semua penerbangan internasional akan berangkat dari terminal 3 katanya.

Antara sedih dan senang karena saya suka simplenya terminal dua. Hawa tua dan sederhananya. Cuma memang begitu dibandingkan sama terminal 3, dia jadi terlihat lusuh, hehehe. Di satu sisi juga senang karena ya ini seharusnya wajah bandara utama dari ibukota Negara. Belum sekeren Changi, tapi setidaknya bisa dibandingkan dengan KLIA. Akhirnya.

Tenants di terminal intermasionalnya pun cukup oke buat saya. Setelah imigrasi akan ketemu sama Bally, Aigner, Longchamp, TUMI, cukup oke dan masih ada ruang buat peningkatan. Satu-satunya memang masalah jarak antar gate ke gate yang bisa dianggap sebagai olahraga. Apalagi kalo dateng mepet dan ngga delay. Selamat menikmati.

Waktu ke Seoul, kami dapat di gate 1 yang berarti adalah gate paling ujung sekali. Sebelummya kami sempet nunggu di lounge dulu yang ada gate 7. Kalo di terminal 2 antara gate 1-5 cuma perlu waktu 10 menit maksimal dengan kecepatan jalan normal, dari gate 7 ke 1 di terminal 3 perlu waktu hampir 2,5 kali lipatnya. Dan perubahan aura itu terjadi setelah gate, saya lupa antara 6 ke 5 atai 4 ke 3 ya.

Dibandingkan gate 10 sampai 6 (atau 3), aura gate 1 dan 2 kembali sederhana dibandingkan gate angka besar. Dari aura luxurious begitu masuk ke gate 1 dan 2 auranya jadi kaya low cost yang rapi dan sederhana. Aura high endnya berubah drastis.

Oya, di area keberangkatan yang internasional ada stroller yang bisa disewa dan dipakai sampe gate keberangkatan. Waktu itu saya pinjam sebelum gate 7 di informasi. Bisa langsung pake ngga perlu apa-apa. Playground anak yang bagus ada di gate 8 dan ada lagi yang lebih sederhana di gate 6. Lumayan buat nunggu.

Sedikit informasi ini semoga bisa membantu kalo ada yang sedang cari tahu😊

Posted in Life happens, Places, Travel

The Last Ilana Tan’s Trip : (Early) Summer in Seoul

At first, I didn’t have any intention to have trips based on Ilana Tan’s tetralogy. I started reading Ilana Tan’s tetralogy in 2009 and Summer in Seoul was the first one, the first one to be published too. I was captivated by the book. The plot is clear, enjoyable light reading and it’s something that you can repeat even after so many times. Summer in Seoul followed by Autumn in Paris, Winter in Tokyo and last one was Spring in London.

When Autumn in Paris took place in October 2016, I had no idea, I would do this four season trip. But then, life has been kind and full of surprises (good and bad) after all these times. Six months from Autumn in Paris, Spring in London granted in April 2017. It was quite surreal when I looked back how we made it to the second trip within six months. Then, after having those two, the idea of having all four came. Winter in Tokyo accomplished in early March 2018. And finally, Summer in Seoul in late April 2019.

I have been a kdrama fan for nineteen years. Surprisingly, my first time dramas were seasons related too. Autumn in My Heart (2000), Winter Sonata (2002), and Summer Scent (2003), were three of my first memorable shows from dramaland. Although it’s been a long time playing in dramaland, but visiting Seoul has never crossed my mind. The want has never been there.

Until Ilana Tan’s three previous trips accomplished. The only one left is this one and I think it would be nice having the last one as a closing. Also, following the golden rule that my late mom told me, “Finish what you have started”. Although this one sounds more like an excuse to go on another trip, but, yeah, Summer in Seoul trip planning began.

As usual, it commenced from ticket searching. Ticket searching is one of my most favorite parts in traveling. It feels like activating all my brain part and its been always testing the patience. My benchmark of ticket price is quite low. The standard from Winter in Tokyo ticket price made me set the same standard for Seoul. It should be a full board airline too.

Thus, whenever I am doing ticket searching, waiting is compulsory. The right time with the right price came eight months ago. So far, it’s the longest interval between ticket purchasing and the real trip. But, based on destination criteria, trip duration, and budget allowed, the price found was reasonable.

Summer in Seoul is indeed the lowest expectation compared to other three previous trips. For the first time too I only chose to stay for five days, while usually it’s been always seven full days. The main reason is : we tried Korean Food few times and it hasn’t suited our taste yet. Rarely fit to our liking. So, five days would be enough. Hopefully.

To dramaland to meet oppa and ahjussi we go!

Posted in Travel, Visa

Mengurus Visa Korea 2019 (dan Mengecek Progres Aplikasinya)

Satu lagi dari Mengurus Visa Series😁.

Setelah mengurus Visa Schengen di TLS Contact, Visa UK di VFSVisa Jepang di JVAC, tahun ini giliran visa Korea di Kedubes Korea.

Sementara tiga visa sebelumnya sudah melalui agen resmi yang ditunjuk, untuk visa Korea, sampai tulisan ini dibuat masih diurus melalui Kedubes Korea Selatan di Jalan Gatot Subroto. Persisnya sebelum RS Medistra.

Meskipun ngga sesimpel visa Jepang, visa Korea tingkat keribetannya masih bisa dikerjakan dengan hati senang. Jumlah aplikasi cukup 5 halaman dengan pertanyaan yang tidak merepotkan. Persyaratan juga cukup mudah dan standar, seperti :

1. Paspor yang masih berlaku minimal 8 bulan.

2. Fotokopi paspor halaman utama.

3. Fotokopi paspor yang berisi visa negara-negara OECD yang sudah pernah dikunjungi. Daftar negara OECD bisa dicari sendiri. Kasus saya,saya punya tiga visa negara OECD yang sudah pernah dikunjungi yaitu Prancis, Inggris, dan Jepang. Jadi halaman paspor yang terdapat visa Schengen, UK, dan Jepang saya lampirkan. Negara lain selain itu ngga perlu.

4. Formulir aplikasi yang bisa di download melalui situs overseas.mofa.go.kr. Karena saya baru pertama kali, jadi pilih form yang single entry.

5. Fotokopi kartu keluarga karena pergi sekeluarga.

6. Bukti keuangan. Seperti biasa, kami ngga melampirkan slip gaji. Hanya fotokopi rekening tabungan 3 bulan terakhir dan SPT. Baru visa Korea ini yang spesifik minta SPT. Saya sempat baca gimana kalo ngga melampirlan SPT, ada yang nulis harus melampirkan surat keterangan tidak punya SPT. Malah jadi ribet.

Bukan ngga mau melampirkan, tapi yang tahun ini pada saat visa mau disubmit belum selesai. Kalo nunggu selesai agak mepet waktunya karena paspor Pak Dokter mau dipake. Jadi akhirnya melampirkan SPT tahun lalu.

7. Surat keterangan kerja dalam bahasa Inggris. Untuk ini kami melampirkan SIP dan surat tugas Pak Dokter yang sudah dilengkapi translasinya. Waktu di loket petugasnya bilang ini sebenarnya harus dilengkapi sama surat pernyataan dari direktur rs yang menyatakan bahwa X adalah benar karyawan RS Y bertujuan untuk mengajukan visa Korea dalam rangka … bersama ….. pada tanggal … sampai … . Seperti yang saya ajukan sebelumnya ke tempat saya kerja di visa Schengen dan UK.

Berhubung kali ini kita pengen lebih simple, jadi supaya ngga perlu minta surat ini itu (dan ketauan mau pergi) jadi hanya melampirkan dokumen tersebut. Kata petugasnya, “Sekarang saya kasih dispensasi ya, lain kali harus pake”. Beginner’s luck. Alhamdulillah. Kemungkinan lain, bisa jadi karena di paspor juga udah tercantum tiga visa negara OECD, jadi dianggap sudah pernah lolos visa yang lebih ketat.

Udah cuma itu aja. Saya lampirin bukti booking tiket dan hotel tapi semua dikembalikan. Jadi TIDAK PERLU booking tiket dan hotel dulu buat apply visa korea.

Oya, karena kami pergi bertiga, semua dokumen di atas dibuat tiga rangkap ya. Semua ada di aplikasi masing-masing paspor.

——————————————–

Untuk submit aplikasi visa Korea ini ngga perlu janjian tanggal tertentu kaya tiga visa sebelumnya. Bisa langsung dateng, TAPI, harus perhatikan jamnya. Untuk submit aplikasi hanya bisa di hari Senin-Jumat jam 09.30-11.30 dan untuk pengambilan di jam 13.30-16.00. Lewat dari itu ngga bisa.

Seperti biasa, ngga ada visa tanpa drama. Keputusan-keputusan kecil seperti pilih jalan yang mana bisa menyebabkan yang tadinya ngga telat jadi nyaris telat. Jam 11.15 masih menghadapi macetnya Gatsu karena milih ngga naik tol cuma karena liat antrian pas masuknya panjang. Ternyata setelahnya lancar. Akhirnya travel agen tunggal yang urus visa turun dari mobil dan naik ke jembatan penyebrangan jalan kaki sampe ke lokasi. Sampe di gerbang satpam jam 11.20. Udah ngos-ngosan. Oya, kalo bawa mobil, ngga bisa parkir di halaman kedubesnya ya. Kami parkirnya di RS Medistra.

Satpamnya masih nanya ke temennya ini jam berapa, karena udah mepet akhirnya disuruh masuk dulu ke dalem buat ambil nomor antrian. Setelahnya baru keluar lagi buat bayar.

Jadi, alur normalnya adalah ketika sampai ke kedubes Korea, yang pertama dilakukan adalah melakukan pembayaran ke KEB Bank Hana yang ada di depan gerbang untuk loket submisi aplikasi. Bayarnya harus cash ya.

HARGA TERBARU VISA KOREA SINGLE ENTRY 2019 : Rp 592.000.

Udah naik 30 ribuan dari sebelumnya.

Sampai di banknya tinggal bilang ke satpam mau bayar visa,dikasih nomer antrian yang waktu itu sama sekali ngga antri, dengan tellernya tinggal bilang bayar visa buat single entry/multiple tergantung visanya. Bayar tunai setelahnya dikasih stiker kecil kaya stamp supermarket yang buat dikumpulin dapet piring itu lho. Cuma besar sedikit. Karena apply buat tiga aplikasi, bayarnya dikali tiga dan dapetnya juga tiga stiker.

Selesai semua pembayaran kembali ke gerbang masuk dan ruang submisi. Tunggu sampai nomer antrian dipanggil. Kalo apply visa melalui agen, pengecekan berkasnya bisa sambil duduk depan petugasnya, di Kedubes Korea masih gaya lama yang kaya beli karcis kereta api. Sebenernya ngga masalah kalo dokumen sudah lengkap semua. Ngga akan lama. Tapi kalo ada yang kurang itu, satu nomer bisa jadi lama banget. Apalagi kalo dalam satu nomer antrian itu submit sampai beberapa aplikasi. Selesai dicek dan semua aman, dikasih lembar putih tanda terima buat pengambilan. Selesai deh.

Visa single entry selesai dalam 6 hari kerja sedangkan multiple entry 1 hari kerja. Sambil nunggu bisa cek progress aplikasi kita via Korean Visa portal di http://www.visa.go.kr.

Di portal ini, karena kita ngga ngerti Han-Geul, di pojok kanan atas bisa pilih ‘English’ lalu nanti di sebelah kiri ada tulisan ‘Check Application Status’.

Nanti akan keluar kolom-kolom.

Pilih yang passport number (bukan application number) : isi nomor paspor TANPA spasi.

English Name : isi dengan NAMA BELAKANG baru NAMA DEPAN.

Tempat tanggal lahir tinggal pilih di kalendarnya.

Klik search baru nanti keluar statusnya apakah masih ‘under review’ atau seperti punya kami di hari kerja ke lima statusnya berubah jadi ‘approved’.

Di lembar putih untuk pengambilan yang dikasih petugas setelah kita submit aplikasi, ada tanggal minimal pengambilan. Kita tidak bisa ambil sebelum tanggal tersebut meskipun di portalnya sudah tertulis ‘approved’. Jadi, perhatikan juga tanggal di lembar putih untuk pengambilannya kalo mau ambil paspornya. Ngga akan dilayani kalo kita ambil sebelum tanggal yang tercantum.

Pengambilan paspor hanya bisa dilakukan siang hari jam 14.00-16.00. Ada yang bilang dari jam 13.30, tapi di hari saya ambil loketnya bahkan baru buka jam 14.15. Lokasi pengambilan sama persis dengan submisi aplikasi.

Kalo pas apply pake nomer antrian, pengambilan sistemnya menaruh kertas putih bukti pengambilan di keranjang merah. Tinggal nunggu dipanggil secara manual. Pake suara manusia. Suka ngga kedengeran apalagi kalo rame dan berisik kaya pas saya ambil. Petugasnya pun jadi sering mengulang-ulang manggil. Kalo satpam di bank biasanya bantu manggil ulang kalo ada nomer yang dipanggil ngga dateng-dateng, satpam di kedutaan ini cuma duduk dan memantau keadaan. Mustinya sih, bisa lebih diberdayakan ya atau kalo ngga petugasnya dilengkapi dengan pengeras suara.

Tapi,selama visanya dikabulkan, ya sudahlah ya😁

Semoga membantu!

Posted in Langit Senja, Places, Travel

Pulau Padar dan Langit Senja di Kanawa

Hari ketiga ketika bangun pagi, kapal sudah berlabuh di Pulau Padar. Alhamdulillah sampe sana cukup pagi dan belum terlalu rame. Karena lumayan banget naik ke atasnya. Untung kita berdua sama pendek nafasnya. Jadi ya emang banyak berentinya. Sambil foto, minum, ngobrol. Sementara Langit udah naik dengan cepat berkat bantuan Mas Ardi dan Mas Fauzi. Pemandangan dari atas Pulau Padar ini emang terkenal sekali dan subhanallah bagusnya. Cuma untuk sampe ke atasnya juga effortnya besar.

Setelah dari Pulau Padar, kita lanjut ke destinasi terakhir ke Pulau Kanawa. Di sini kita snorkeling ringan aja. Kayanya masih lebih bagus Pink Beach koralnya. Langit menikmati berenang dan main pasir sampe gosong di sini. Bayangin berenang jam dua siang!

Kalo ngomongin Langit selama trip ini, senyum saya terlalu lebar. Anak ini benar-benar asik kalo diajak pergi. Ngga rewel, makan apa aja, tidur dengan baik, berenang dengan hepi bahkan sangat di luar ekspektasi. Tidur di kapal dengan ombak tetep santai, naik perahu kecil ngga ada takutnya, snorkeling liat ikan di tengah laut lepas hepi banget, bahkan yang terakhir di Kanawa, udah selesai snorkeling bertiga, mau balik ke kapal pake perahu kecil, dia nyebur lagi sendiri sambil kasih makan ikan pake roti yang dibawa Mas Fauzi.

Gongnya adalah dia berenang sampe ke kapal sama Mas Ardi sementara saya naik perahu. Pak Dokter yang awalnya udah naik perahu, jadi nyebur lagi karena liat Langit beneran berenang dari dermaga sampe ke kapal. Entah disini yang gila kita orangtuanya atau gimana. Saya yang selalu main aman juga absurdnya ngebiarin. Cuma karena menurut saya cukup aman dan yah, kapan lagi bisa kaya gini, bismillah dibiarin. Ngeliat dia sampe kapal dengan muka hepi, rasanya cape tiap jumat sore nganterin dia les renang terbayar. Agak bias emang muji anak sendiri, dan bukan tentang skill berenangnya yang penting buat saya, keberanian dan percaya dirinya itu yang mahal.

Seneng juga jadi tau dia ternyata bisa menikmati matahari, gunung, pasir, dan laut kaya menikmati udara dingin dan playground bagus di Paris, London, Tokyo. Malah trip ini lebih kerasa buat dia dibanding yang sebelumnya. Snorkeling kedua dan ketiga udah ngga mau pake ban dan maunya berenang sendiri kemana-mana. Dia pikir ni kaya kolam renang sekolah kali ya. Dia juga bawa semua peralatan dan mainannya sendiri. Tas memang saya siapkan, tapi semua dia bawa dan urus sendiri. Untuk anak umur 4 tahun, dalam hal kedewasaan dan kemandirian Langit jelas di atas rata-rata. Mungkin hasil dari terbiasa traveling sejak awal juga.

Semoga masih ada rejeki buat dateng ke tempat-tempat seperti ini lagi nanti. Libur sudah selesai.

Alhamdulillah.

Berenang dari dermaga ke kapal. Beyond cool, Langit Senja!

“Anggep aja kaya naikin rumah tangga kehidupan. Berat, tapi pasti sampe,” kalimat sok bijaksana Pak Dokter yang ngga terlalu banyak bantu juga

Posted in Places, Travel

LBJ Trip : Manta, Komodo, dan Senja di Hari Kedua

Kalo dihitung dari tripnya ini adalah hari ketiga, tapi jika dihitung dari Live on Board itinerary ini adalah hari kedua.

Hari pertama dihabiskan dengan santai dan menyenangkan buat yang suka cari aman kaya saya. Tracking sedang, snorkeling ringan and menyenangkan dan sibuk foto sana sini. Apalagi pas langit senja.

Hari kedua dimulai dengan sedikit perubahan itinerary. Tadinya kami akan ke Pulau Padar dan Kanawa tapi karena ada sedikit masalah dengan kapalnya, maka itinerary hari kedua disimpan buat hari ketiga.

Tujuan pertama adalah Manta Point. Di kepala saya ini seperti nonton pertunjukkan lumba-lumba dari atas kapal, cuma bedanya ini manta. Ternyata, maksudnya adalah snorkeling di daerah rumah manta. Saya pikir, snorkeling biasa seperti kemarin, asik lah santai, ternyata lagi, kali ini di tengah laut dengan ombak yang cukup kuat dimana saya ngga bisa liat daratan dan penampakan kapal kami. Sepanjang snorkeling cuma pengen satu hal : cepet selesai.

Di tengah laut dengan ombak yang lumayan kuat, berenang pun berat, betul-betul minta dalam hati semoga semua aman. Alhamdulillah, sebuah keluarga manta dengan anggota tiga orang datang nemenin berenang beberapa waktu. Paling ngga rasa cemas dan khawatirnya dibayar lunas. Langit tetep hepi seperti biasa karena dia pikir ya ini kaya berenang biasa sambil ketemu ikan. Jadi orang dewasa emang banyak takutnya ya.

Dari Manta Point, kita menuju Taka Makasar. Ngga ada apa2 disini selain ini adalah hamparan pasir di tengah laut. Jadi cuma main pasir sebentar sambil basah2in kaki. Tapi, tetep cantiknya di atas rata-rata.

Setelah dua destinasi ini harusnya dari rute ke Pink Beach dulu, tapi kita minta Taman Nasional Komodo dulu karena ya biar ga siang bolong ke pantai lagi. Keuntungan dari privat trip yang bisa ubah itineraty senyaman mungkin. Setelah makan siang, kita lanjut ke Pulau Komodo. Lagi-lagi, ekspektasi saya rendah. Ketemu ya udah ngga ketemu alhamdulillah. Saya cukup seneng bisa liat kaya apa tempat tinggalnya, cantiknya pemandangam gunung dan lautnya, ketemu penghuninya bonus aja.

Jalan di hutan liar kami pilih medium track. Menurut rangernya, kemungkinan ketemu komodo cukup kecil dan kita berkali2 bilang ngga apa2. Cuma ranger2nya ini seperti merasa bersalah kalo kita udah sampe sini tapi ngga berhasil ketemu. Sampe mereka split jalan supaya kalo yang satu nemu di track lain bisa ngabarin.

Keliling hutan liat yang sempet diliat itu babi hutan, ayam dan rusa. Sampe di jalan pulang, eh ternyata rejekinya ada. Satu ekor komodo lagi jalan-jalan sore. Ukurannya sedang aja atau mungkin kecil ya kalo dibandingkan yang lain. Komodo yang lebih besar bisa ditemui Pulau Rinca yang mana kami ngga ambil ke sana.

Sementara rangernya terlihat bersemangat dan seneng sekali karena akhirnya ketemu, saya terutama lebih milih hati-hati karena ya tetep aja itu binatang makan daging, bukan? Sampe-sampe rangernya keliatan gemes banget karena saya ragu-ragu banget deket2 sementara dia malah sibu nyuruh maju dan bilang, ” lebih dekat lagi,bu!”.

Foto jarak dekat sama komodo bisa dicoret.

Di Pink Beach, saya ngga berenang karena badan sakit semua abis berenang pagi. Ternyata sayang ga sayang, karena Pink Beach ini ternyata asik. Dangkal, bersih, koral udah keliatan dari dekat. Tapi kalo inget badan remuk, ya udah ga papa ngga berenang. Pasir pinknya pun cantik sekali. Labuan Bajo ini cantiknya emang di atas rata-rata.

Selesai dari Pink Beach kami berlayar lagi sampe ke dekat kampung komodo dan bermalam di sana. Buang jangkar maksudnya. Tetap tidur di kapal.

Kalo tadi saya bilang Labuan Bajo cantiknya di atas rata-rata, setelah liat sunset hari ini kayanya di atas rata-rata terlalu rendah. Dari seluruh tempat, sunset hari kedua ini juaranya.

Posted in Travel

Halo dari Labuan Bajo!

Trip pertama di 2019. Kali ini menuju timur Indonesia. Menginap 2 hari di hotel plus 3 hari 2 malam di Live on Board buat keliling pulau sekitar Labuan Bajo. Ini tipe trip Pak Dokter yang emang suka segala macem naik gunung dan snorkeling. Buat yang eropa-minded kaya saya, jelas bukan tipe trip yang dinikmati, awalnya. Ternyata, tiga perempat salah. Selain itu, Langit yang awalnya saya kira bakal kurang tertarik, ternyata menikmati sekali. Memang kalo ekspektasi rendah, semuanya jadi lebih mudah😊.

Tiket dibeli karena dapet GOTF tahun lalu. Bukan dapet ya, nyari lebih tepat dan lumayan harga dan dapet cashback 2,5 juta. Sengaja pilih trip hari kerja karena yah, saya kayanya ngga mampu ikut open trip yang selalu ada di weekend. Alhamdulillah waktu kita berdua fleksibel, bisa disesuaikan jadilah kita pergi dengan privat trip dan memang keputusan yang tepat. Memang sedikit lebih mahal, tapi jelas lebih nyaman buat orang yang ngga ngerti harus ngomong apa dengan orang asing. Lagipula, setelah berurusan dengan semua kebisingan dan kelelahan hati, pikiran dan fisik selama 1,5 bulan ke belakang, liburan bareng orang ngga dikenal dengan suasana riuh adalah hal terakhir yang saya perlukan.

Setelah hari pertama dan kedua, timur Indonesia itu memang adalah satu yang terbaik dari semua hal di Indonesia. Orang, makanan, dan alam. Semuanya ramah.

Posted in Thoughts, Travel

A Throwback Thursday and 25th of October

It’s an endless talking when Paris is the subject.

Learnt the language since elementary school, had the visa stamped on the passport in 1994, but chicken pox stopped the plan. Happily spent three years studying the language after long office hours, even took the international exam in french DELF (like IELTS/TOEFL) although just passed miserably for B1 level, thinking mastering the language would take the step closer to this city.

There were times when checking the ticket price was the most enjoyable guilty pleasure. Opened several tabs from several airlines just to see how much it would be to go there.

It was a long road to finally set these feet in this city and it came with such an expensive price, literally and unliterally.

Seven days spent here was truly an exceed expectation experience. When most people had unpleasant experience with this lady, je n’ai souvient d’aucun.

The kind metro officer who taught how to use the machine to buy the bus ticket, the tall cashier at small supermarche kindly helped changing the money into coins, the old lady who friendly chatted during the queue in Monoprix, the ladies in the bus who looked at Langit nicely and played peek a boo, the unfriendly-look Louvre guard who showed us the door to skip the long queue, that tiny and chaos apartment in non-touristy Boulevard Saint Germaine found in the very last minutes before departure, the street which felt like a fashion spread where those chic and stylish Parisiens made a beautiful sight to the eyes, lovely weather and beautiful colors, I didn’t know spending seven days in a city could be this happier. Or maybe that was the price after those long waiting years.

Quoting From Elizabeth Speare, The Witch of Blackbird Pond :

“After the keen still days of September, the October sun filled the world with mellow warmth… The maple tree in front of the doorstep burned like a gigantic red torch. The oaks along the roadway glowed yellow and bronze. The fields stretched like a carpet of jewels, emerald and topaz and garnet. Everywhere she walked the color shouted and sang around her .. “In October any wonderful unexpected thing might be possible.”

There are always something about 25th October.

It was the departure date when the three big dreams were set in 2003.

It was the day of Wukuf in Arafah in 2012 when the second dreams checked.

It was the date printed on a boarding pass when the third and longest dream accomplished in 2016.

25 October is always be a reminder that dreams do come true and it would take a long journey until you arrive at the final destination.

It’s also a reminder there were no single thing as a coincidence in life. The invisible hand arranged everything to the smallest detail for all things happened in life.

But, worry not, He fulfilled all dreams without exception.