Posted in Thoughts

Jittery June

It’s been only eleven days in June yet things seem escalated so quickly about the new adventure. I always remember June as the new beginning of this little family. The time when those return tickets bravely bought in June 2016, I didn’t really know that some tiny courage to click the pay button could make a big change for many years ahead.

Today seemed to be an ordinary day until, as usual, the flight radar inside my head spotted a good deal that we have been waiting for some time. We are quite tight about budget. Extremely tight until I agree to sacrifice certain important things for few million differences.

But then, it’s never been a coincidence for everything happen in this life. At least, ours. One thing always leads to another. One closed door is another way to a better opportunity. One closed door is always one way to tell us to try harder or to prevent us from the smallest misfortune.

Then, this afternoon, after some discussion and careful consideration, once again, the courage to click the pay button came and it was done. This time, the most frightening part is, it’s one way ticket without the return one.

It’s scary and crazy.

Have I said one thing always leads to another?

Done with the tickets, the next would always be about accomodation. Location choosen according to some stuff we have to take care on the first days of arrival. Again, with such tight-budget people like us, price will always be the limit. Certain features couldn’t be compromised though. After applying most important filters, it only left us with two options of accomodation. Two strict options.

I contacted the most suitable one and the reply was pretty quick. At the second reply when I explained our purpose of visit, the next reply from the host gave me a chill.

The sudden change of mood was in the air when she knew yobo is on the same field with her husband. How many certain specialist MD you could meet while searching for a place to stay in other part of the world?

The probability should be almost none. It felt exactly the same when the first time we came to Tanah Bumbu and knew that a house mate doctor who picked us was a Gorontalonese.

You just dont meet gorontalonese everywhere like you meet javanese or any other popular race.

Hope any opened doors would always be the one that leads us to the kind strangers whose help surely be needed during such time.

Posted in Thoughts

All New Cards on the Table

Ramadan and Eid have ended for days. I always love the laid back ambience of this month. After having the same pattern for years, something is different for this year Ramadan and Eid.

For the first time after more than thirty years, spending the holy month in a new place other than the old home. I thought it would be a disaster, miserable, and unsurvivable. But, since 2012, it has never been this liberating.

Everything is much simpler, less hassles, and more time to enjoy the silence. Spending most of Ramadan only with this little family suits me most. Simple dishes for sahur and minimalist style for ifthar. I have stopped coming from any ifthar gatherings other than close family since nine years ago. The only thing I crave after a whole day of fasting is a proper silence and wrapped with the comfortable sleep suit. Looked-delicious various food and chit-chat with people are the least things I need for iftar.

It surprised me I didn’t miss what I had back home that much. Maybe because it doesn’t feel that homey anymore? I thought I would be pretty sad. Fact, I feel more than fine and sufficed.

I didn’t miss the hecticness in making dishes schedule for iftar and sahur (it’s a total headache), I didn’t miss taking care of so many people with their own preference, like and dislike and schedule. Although some things taken care by Mbak Wi in the past should be done alone now, but it is still bearable enough.

Eid prayer was never spent other than at the nearby mosque at home, but this year we did the prayer at the airport mosque to catch 9 am flight to Solo. So many things changed on my plate his year.

The rest of this year probably is going to be more bumpy since another new big adventure has waited ahead. Too soon to reveal, yet it’s almost confirmed that the next few months would be physically and emotionally draining.

It’s funny how things are always scarier when they’re getting closer, although those are things that we have been praying for.

It’s always been funny everytime we are waiting the invisible hand shakes the cards and throw them on our table. The only things to do is play along and try our best to make the most of them.

So far, the cards have been pretty fair. We might not get the best cards often. We lost some rounds and manage to win in another. Losing makes the heart stronger and grateful for small winnings given.

The upcoming new cards might be one of the greatest sets that we could ever have and we hope to be able to play them well and turn those cards into more meaningful things. Hopefully.

Wise words can’t do justice of how scary the new jungle we have to face ahead.

Posted in Places, Review, Travel

Tiga Restoran Halal (yang dicoba) di Seoul

Dari beberapa kali pergi, nyusun itinerary itu buat saya paling enak berdasarkan tempat di mana kita akan makan, termasuk di Seoul. Dari lima hari, kita sempet makan di tiga restoran halal. Sebenernya rencananya empat, tapi yang terakhir pas kita kesana tutup. Padahal udah jalan jauh-jauh.

Di Seoul perlu diperhatikan juga bahwa masing2 restoran punya jam buka dan hari tutup yang berbeda. Ada yang tutup hari Senin, Selasa, Rabu atau Minggu. Ada yang baru buka jam 12, jam 11 atau bahkan jam 4 sore. Selain waktu, perlu diketahui juga, restoran korea itu ngga suka kalo kita pesen buat bareng-bareng, meskipun emang porsinya gede banget. Seperti kami, dimanapun harus pesen buat dua orang. Anak ngga dihitung tentu. Tapi ngga bisa tuh sekeluarga mesen satu doang dibagi rame-rame. Akibatnya, budget yang harus disiapin buat makan ini juga perlu diperhatikan. Karena di resto halal ini harga yang dipatok ya cukup mahal. Buat kita.

Oya, dari awal Paris sampe Seoul, kita hanya makan di luar untuk makan siang. Sarapan dan makan malem pasti di airbnb.

1. Halal Kitchen

Kalo mau ke Gyeongbokgung Palace, maka bisa sekalian ke Bukchon Hanok Village. Pas banget abis cape nanjak di Bukchon Hanok Village, bisa mampir makan siang di Halal Kitchen. Jalan di sepanjang Halal Kitchen ini suasananya enak banget. Samcheong-dong ni mirip di eropa. Banyak toko-toko, cafe dan restoran yang menarik.

Kalo berdasarkan baca-baca sebelumnya, di sini nyediain pilihan makanan khas korea kaya japchae, tteoboki, dsb. Tapi pas kita dateng, di Halal Kitchen cuma ada 2 pilihan makanan yang harganya persis sama. Bulgogi set sama samgetyang. Satu set bulgogi harganya 17.000 KRW, sedangkan samgetyang satu ekor ayam harganya 34.000 KRW.

Kenapa saya bilang sama?

Karena kalo samgetyang bisa pesen 1 porsi karena besar sedangkan kalo bulgogi set minimal 2 porsi. Jadi intinya sama aja. Di sini kita pesen bulgogi set 2 porsi. Itu besar sekali dan dimasak langsung di kompor portable di meja.

Karena kemana2 saya selalu bawa snack dalam tupperware, pasnya makan di resto gini, sisanya bisa dibawa di tempat roti langsung. Bisa buat makan malem atau sarapan. Porsi bulgoginya banyak banget. Alhamdulillah enak. (Iyalahh, mahal).

Satu porsi kalikan dua

2. Busan Jib

Restoran kedua ini letaknya di Myeongdong. Di salah satu lorong-lorong kecilnya. Yang ini terlihat lebih sederhana dan banyak pilihan mulai dari harga 8000 KRW. Tapi, yang sejenis nasi gorengnya. Berhubung udah jalan dan dateng jauh-jauh, kita selalu pilih yang bener aja. Di sini kita pilih samgetyang dan japchae.

Harganya agak aneh. Samgetyang ayam seekor dikasih harga 15.000KRW, japchae yang kaya bihun doang harganya 20.000KRW. Tetep dibeli sih, karena susah nyari japchae yang ngga sebelahan sama babi di sana. Jatohnya harga yang kita bayar sama kaya di Halal Kitchen, bahkan lebih mahal. Tapi ya sudah, yang penting berkah (dan kenyang trus bisa dibawa pulang).

Enak? Alhamdulillah enak.

3. Eid

Nah, ini salah satu yang paling populer kalo cari resto halal. Tempatnya di Itaewon. Itaewon ini pusat Islamnya di Seoul. Seoul central mosque ada di sini. Cari makanan halal di sini banyak sekali. Jadi bisa dijadiin salah satu alternatif daerah nginep. Kami ngga pilih di sini. Karena prioritas bukan gampangnya cari makan tapi fleksibilitas check in dan fasilitas.

Eid secara harga di bawah dua sebelummya, begitupun dengan rasa. Bulgoginya kalah sama Halal Kitchen. Tapi ayam yang kita pesen enak. Tersedia dalam set juga. Dapet miso soup dan side dish seperti biasa. Di sini kami bayar 23.000KRW buat semua. Masih ada sisa buat bawa pulang juga. Porsinya gede-gede buat perut kecil (saya).

Porsi nasi di ketiga tempat ini terlalu kecil buat Pak dokter tapi cukup buat saya. Selalu nambah satu porsi nasi lagi. Harga seporsi nasi juga beda-beda. Dari 1000-3000 KRW.

Hal lain yang kami perhatiin juga, di semua resto halal ini yang makan selalu orang Malaysia. Selalu ada. Di eid bahkan dari lima meja, empatnya semua orang Malaysia. Kalo di Jepang kaya ayam-ya masih banyak ketemu orang indo. Tapi di Seoul ini, hampir ngga pernah ketemu. Mungkin karena terlalu mahal? Hehe.

Di satu sisi, halal travel ini memang menjual ya. Pasarnya ada dan saya rasa akan selalu ada. Harga yang di atas rata-rata pun akan tetap bisa jualan. Jadi, tinggal rasa makanannya dan servis yang oke aja yang perlu terus dipertahankan.

Kami juga beli gimpab segitiga di sevel dan GS 25. Enak buat ganjel dengan ukuran yang pas. Biasanya pilih tuna mayo yang paling aman. Harganya antara 1000-1200 KRW.

Ternyata di Seoul kita lebih cocok sama makanannya dibanding orang-orangnya.

Posted in Places, Thoughts, Travel

Tentang Seoul : (Tidak) Seramah Senyum Oppa di Drama

Sedikit uneg-uneg tentang Seoul.

Membandingkan Seoul dengan kota besar lain yang dikunjungi tahun-tahun sebelumnya adalah sesuatu hal yang tidak bisa dihindari. Dan hasilnya seperti empat buku tetralogi Ilana Tan yang menjadi tema trip ini, Summer in Seoul resmi menjadi buku dan trip yang paling kurang disukai dibandingkan yang lain.

Banyak kenyataan di lapangan selama 6 hari ini yang buat kami merasa sedikit tidak nyaman, tapi wajar. Lagi bertamu ke rumah orang lain. Tapi lagi-lagi, karena punya pembanding, jadi tolak ukur kenyamanannya seperti yang dirasakan di kota lain.

Soal makanan ngga seburuk itu tapi juga ngga semudah itu. Tiga tempat halal yang kami coba enak semua meskipun dengan harga yang buat kita yaa mahal. Soal tiga restoran akan dibahas lain kali.

Uneg-uneg ini lebih ke tentang orang-orangnya.

Baru di Seoul ini, bawa Langit ngga berdampak signifikan dalam hal-hal sederhana seperti dapet duduk di bis atau jadi ice breaker with stranger. Hampir tiap kali kami naik bis, jarang sekali ada yang menawarkan tempat duduk seperti di Paris, London, apalagi Tokyo. Ini bukannya maksudnya minta juga ya, tapi membandingkan tingkat ‘kepedulian’. Awal-awal agak kaget juga tapi lama-lama ya udah. Berdiri pun ga papa.

Bukan sekedar tentang menawarkan tempat duduk, tapi orang-orangnya jauh dari ramah. Kami yang biasanya semangat banget naik bis, di Seoul ini jadi insecure. Cara orang-orang ngeliat itu entah apa ya definisinya, tapi jauh dari kata ramah dan nerima. Bahkan di bis kalo ada tempat duduk dua dan saya milih duduk di satu yang kosong sambil pangku Langit, mereka ngga terlihat suka dan terganggu. Agak bingung sih. Entah apa karena saya pake jilbab atau memang terganggu dengan anak kecil.

Hal ini bukan cuma di anak mudanya, orangtuanya pun seperti itu. Cara mereka melihat kita itu bukan seperti yang pengen nyapa tapi kaya lagi mengamati aja dan itu kadang ngga nyaman sekali. Ngga tau dengan pengalaman orang lain gimana ya.

Bahkan Paris yang saya pikir lebih tidak ramah, karena banyaknya orang yang bilang gitu, sangat jauh lebih ramah dibandingkan Seoul. Nenek-neneknya yang selalu ajak main cilukba, petugas yang cukup ramah dsb. Setidaknya gini deh, liat saya tatapan mungkin agak mendelik, tapi begitu liat Langit, senyum hampir selalu cair. Sesuatu yang di Seoul jarang sekali kita rasain. Beberapa kali bahkan suka nengok ke dalem strollernya Langit kaya buat ngecek ni apaan. Trus ngeliatin saya/Pak Dokter lagi. Tanpa ekspresi yang berniat senyum atau apa. It feels like we annoy them quite much.

Penjual-penjualnya pun juga sebagian besar jauh dari ramah. Bahkan ada sekali yang kita pengen banget beli karena barangnya bagus dan harganya masuk akal, ahgassi penjualnya dengan terang-terangan nunjukin gesture kalo dia ngga mau kita beli apapun. Biarpun ada label harganya. Agak aneh memang.

Di playgroundnya pun anak-anaknya pun ngga setertib anak-anak Jepang. Kalo di playground Tokyo anak-anaknya malah nyuruh Langit maju duluan, di Seoul Forest misalnya, justru dia kebanyakan diselak. Bahkan sama orangtuanya. Waktu itu kami biarin Langit antri sendiri.

Tapi lagi, untuk bilang sepenuhnya ngga ramah pun juga ngga adil. Waktu pertama kali dateng, kita bayar tiga tiket buat naik airport transfer. Waktu dicek sama petugasnya di bis mereka marah kenapa Langit juga disuruh bayar. Tanpa basa basi, supirnya langsung ngeluarin uang 8000 won dari dompetnya sendiri buat ganti harga tiket Langit. Kita udah tolak tapi dia tetep maksa ngasih. Jadi kita ambil. (Alhamdulillah..).

Beberapa ahjumma dan ahjussi di Insadong, Gwangjang Market, dan rumah makan halal juga nunjukin kebaikan dengan Langit yang selalu dapet sesuatu. Tempat pinsil gratis, crackers, sampe es krim setelah makan. We’re grateful for them. Tapi memang levelnya cukup jauh dibandingkan kota lain. Jauh sekali dari Tokyo yang saya sampe binggung kok bisa ya satu negara orang-orangnya (yang kita temuin dan ada kontak) sebaik itu sama orang asing. Ketika nolong tuh beneran sampe tuntas. Bahkan ketika mereka pun ngga ngerti bahasa Inggris.

Lorong-lorong kecil Seoul pun tidak semenyenangkan dan seteratur Tokyo. Efek bagusnya, lebih aman buat dompet. Tokyo dengan toko di jalan-jalan kecil yang bahkan di tempat yang bukan buat turis itu bahaya sekali. Barang yang kita pikir ngga perlu bisa mereka buat jadi perlu dan harus beli saking lucunya.

Balik ke Seoul.

Soal bersihnya pun masih kalah ya. Masih banyak orang ngeludah juga biarpun jarang. WC pun ngga sekering, sewangi dan sebersih Tokyo. Selain itu yang paling penting, wcnya persis wc eropa aja. Ngga ada tombol-tombol canggih yang bisa pakai air kaya di Tokyo. Saya selalu bawa botol Aqua kosong.

Jelas pendapat ini sangat subyektif. Mungkin kasus saya hanya sebagian kecil aja. Kaya kasus saya dan Paris yang menyenangkan. Mungkin sebenarnya memang kami aja yang kurang cocok dengan Seoul. Hal lain juga mungkin karena faktor bahasa. Tapi, secara keseluruhan memang ramah dan menyenangkan bukan kata yang tepat untuk menggambarkan orang korea secara general.

Keputusan untuk tinggal hanya lima hari di Seoul ternyata tepat sekali. Ternyata oppa tidak seramah di drama.

Posted in Places, Travel

The Loveliest Day in Seoul

After four days, yesterday was the most enjoyable day in this city. We got off early to go to Namsan Tower and it turned a visit with hiking which I disliked. But, after arrived at top, it paid off. Enjoyed the view of Seoul from above.

We continued to Itaewon. This is a moslem friendly area where almost restaurants put halal sign on their banner. We stopped by at one of the most reviewed one then went to Seoul Central Mosque for prayer.

Gangnam was the next destination. There’s nothing much to see there but we stopped by Starfield Coex Library. At the end of the day, we visited Seoul Forest. It is truly large forest between those big and tall buildings. I am so envy with these cities☹.

It was the first time we stayed late. It was a lovely day for those beautiful sceneries and good food with reasonable price.

Posted in Places, Travel

Another Day in Seoul

It took us longer to feel excited about this city. Other than few ‘less than Tokyo’ mentioned before, two that we miss the most are playground and ice cream.

Until the third day, the number of ice cream Langit finished is zero. So does playground session.

We decided to put Seoul Children’s Grand Park earlier because of this. So, after a visit to Namdaemun Market and Myeongdong, we went there.

It was quite nice one. Better because it’s free entry. Large park with picnic spots, proper playground, mini zoo, and small theme park with major ridings in small size like carousel and its friends.

Food court, mini market restaurant, and some small stallz like cotton candy and ice coffee are available. Doing some walk would be nice too while watching colorful beautiful spring colors.

So far, it’s one of the best spots in our itinerary. Or maybe because it’s one that suits us the most.

Posted in Places, Travel

Hello From Seoul

How’s Seoul so far?

Hm, slightly less than Tokyo in everything except their excellent bus service. No subway hassles.

The people are less friendly and helpful.

The attractions are less interesting and well-maintained.

The rare playground.

The map navigation is quite bad.

The food is less mouth-watering (for us).

It feels like having a less mature Tokyo.

And if I may say, Seoul is so girly. When it is a gender, it’s obviously a girl.

Cheonggyechong Stream
Insadong

Changdeokdung Palace
Gyeongbukdong Palace (view from the bus)

We also visited Bukchon Hanok Village but no proper pictures available because we were busy climbing and finding the way to the only halal food in that area.

Below are : The famous Yeuido Hangang Park

But still, been playing in dramaland for nineteen years, it’s nice to finally able to live a little part of the life from those characters on screen such as able to say ‘Anneyong Haseyo’ and ‘Khamsa Hamnida’ with the right tone to its people.

Posted in Travel

Naik Garuda Lewat Terminal Tiga (Domestik&Internasional)

Setelah 19 tahun lebih tidak menggunakan Garuda, baru di tahun ini ada kesempatan lagi naik Garuda. Alasannya pas naik tahun 2000 trauma. Selain turbulensi parah, landing take offnya ngga enak, pelayanan juga ngga segitu impresifnya

Kembalinya ke Garuda ini jelas ada pemicu yang kuat, tiket murah ke tujuan yang bukan krusial. Paling ngga buat saya. Tiket ke Bajo dan Korea semua didapat ketika GoTF 2018. Satu kerja sama dengan CIMB, satunya dengan BNI. Dua-duanya harganya cukup oke jika dibandingkan dengan maskapai lain. Ke Bajo bisa naik Lion, Batik atau Citilink, naik Garuda jelas lebih enak. Apalagi dengan harga GoTF kemarin.

Buat Seoul, sebenarnya tiket sudah beberapa kali dicari. Dulu pernah liat SQ yang menurut saya buat level SQ oke banget, cuma sayang buat ukuran jarak 7 jam penerbangan musti transit segala. Makanya ngga dibeli. Setelahnya beberapa kali pernah cek harga dengan maskapai lain lebih rendah, tapi tetap ngga dibeli juga dengan alesan yang sama, pakai transit. Kalo dulu masih suka nawar dengan harga sebagai kompromi, abis ngerasain pas ke UK dengan 2 kali transit yang melelahkan, kalo jarak pendek seperti Asia Timur dan Australia, udah paling bener adalah cari yang penerbangan langsung (dan murah tentunya).

Sebenarnya murah mahal itu tergantung value for money ya. Dengan harga yang sama, naik satu maskapai biss berarti mahal atau murah. Dan untuk tau mahal atau murah juga perlu tau berapa harga standarnya. Untuk Seoul, Garuda ini dengan harga yang saya dapat dan apa yang saya terima, udah cukup oke.

Terminal 3 domestik secara aura lebih humble dibanding internasional. Hal yang jelas sama adalah dua duanya perlu cukup waktu untuk jalan antara setelah cek in bagasi (dan imigrasi) ke gate yang ditentukan. Ada sih mobil, tapi tetap harus nunggu dan antri juga. Jadi, kalo pesawatnya berangkat dari terminal 3, jangan pernah dateng mepet. Pelan-pelan semua penerbangan internasional akan berangkat dari terminal 3 katanya.

Antara sedih dan senang karena saya suka simplenya terminal dua. Hawa tua dan sederhananya. Cuma memang begitu dibandingkan sama terminal 3, dia jadi terlihat lusuh, hehehe. Di satu sisi juga senang karena ya ini seharusnya wajah bandara utama dari ibukota Negara. Belum sekeren Changi, tapi setidaknya bisa dibandingkan dengan KLIA. Akhirnya.

Tenants di terminal intermasionalnya pun cukup oke buat saya. Setelah imigrasi akan ketemu sama Bally, Aigner, Longchamp, TUMI, cukup oke dan masih ada ruang buat peningkatan. Satu-satunya memang masalah jarak antar gate ke gate yang bisa dianggap sebagai olahraga. Apalagi kalo dateng mepet dan ngga delay. Selamat menikmati.

Waktu ke Seoul, kami dapat di gate 1 yang berarti adalah gate paling ujung sekali. Sebelummya kami sempet nunggu di lounge dulu yang ada gate 7. Kalo di terminal 2 antara gate 1-5 cuma perlu waktu 10 menit maksimal dengan kecepatan jalan normal, dari gate 7 ke 1 di terminal 3 perlu waktu hampir 2,5 kali lipatnya. Dan perubahan aura itu terjadi setelah gate, saya lupa antara 6 ke 5 atai 4 ke 3 ya.

Dibandingkan gate 10 sampai 6 (atau 3), aura gate 1 dan 2 kembali sederhana dibandingkan gate angka besar. Dari aura luxurious begitu masuk ke gate 1 dan 2 auranya jadi kaya low cost yang rapi dan sederhana. Aura high endnya berubah drastis.

Oya, di area keberangkatan yang internasional ada stroller yang bisa disewa dan dipakai sampe gate keberangkatan. Waktu itu saya pinjam sebelum gate 7 di informasi. Bisa langsung pake ngga perlu apa-apa. Playground anak yang bagus ada di gate 8 dan ada lagi yang lebih sederhana di gate 6. Lumayan buat nunggu.

Sedikit informasi ini semoga bisa membantu kalo ada yang sedang cari tahu😊

Posted in Life happens, Places, Travel

The Last Ilana Tan’s Trip : (Early) Summer in Seoul

At first, I didn’t have any intention to have trips based on Ilana Tan’s tetralogy. I started reading Ilana Tan’s tetralogy in 2009 and Summer in Seoul was the first one, the first one to be published too. I was captivated by the book. The plot is clear, enjoyable light reading and it’s something that you can repeat even after so many times. Summer in Seoul followed by Autumn in Paris, Winter in Tokyo and last one was Spring in London.

When Autumn in Paris took place in October 2016, I had no idea, I would do this four season trip. But then, life has been kind and full of surprises (good and bad) after all these times. Six months from Autumn in Paris, Spring in London granted in April 2017. It was quite surreal when I looked back how we made it to the second trip within six months. Then, after having those two, the idea of having all four came. Winter in Tokyo accomplished in early March 2018. And finally, Summer in Seoul in late April 2019.

I have been a kdrama fan for nineteen years. Surprisingly, my first time dramas were seasons related too. Autumn in My Heart (2000), Winter Sonata (2002), and Summer Scent (2003), were three of my first memorable shows from dramaland. Although it’s been a long time playing in dramaland, but visiting Seoul has never crossed my mind. The want has never been there.

Until Ilana Tan’s three previous trips accomplished. The only one left is this one and I think it would be nice having the last one as a closing. Also, following the golden rule that my late mom told me, “Finish what you have started”. Although this one sounds more like an excuse to go on another trip, but, yeah, Summer in Seoul trip planning began.

As usual, it commenced from ticket searching. Ticket searching is one of my most favorite parts in traveling. It feels like activating all my brain part and its been always testing the patience. My benchmark of ticket price is quite low. The standard from Winter in Tokyo ticket price made me set the same standard for Seoul. It should be a full board airline too.

Thus, whenever I am doing ticket searching, waiting is compulsory. The right time with the right price came eight months ago. So far, it’s the longest interval between ticket purchasing and the real trip. But, based on destination criteria, trip duration, and budget allowed, the price found was reasonable.

Summer in Seoul is indeed the lowest expectation compared to other three previous trips. For the first time too I only chose to stay for five days, while usually it’s been always seven full days. The main reason is : we tried Korean Food few times and it hasn’t suited our taste yet. Rarely fit to our liking. So, five days would be enough. Hopefully.

To dramaland to meet oppa and ahjussi we go!

Posted in Travel, Visa

Mengurus Visa Korea 2019 (dan Mengecek Progres Aplikasinya)

Satu lagi dari Mengurus Visa Series😁.

Setelah mengurus Visa Schengen di TLS Contact, Visa UK di VFSVisa Jepang di JVAC, tahun ini giliran visa Korea di Kedubes Korea.

Sementara tiga visa sebelumnya sudah melalui agen resmi yang ditunjuk, untuk visa Korea, sampai tulisan ini dibuat masih diurus melalui Kedubes Korea Selatan di Jalan Gatot Subroto. Persisnya sebelum RS Medistra.

Meskipun ngga sesimpel visa Jepang, visa Korea tingkat keribetannya masih bisa dikerjakan dengan hati senang. Jumlah aplikasi cukup 5 halaman dengan pertanyaan yang tidak merepotkan. Persyaratan juga cukup mudah dan standar, seperti :

1. Paspor yang masih berlaku minimal 8 bulan.

2. Fotokopi paspor halaman utama.

3. Fotokopi paspor yang berisi visa negara-negara OECD yang sudah pernah dikunjungi. Daftar negara OECD bisa dicari sendiri. Kasus saya,saya punya tiga visa negara OECD yang sudah pernah dikunjungi yaitu Prancis, Inggris, dan Jepang. Jadi halaman paspor yang terdapat visa Schengen, UK, dan Jepang saya lampirkan. Negara lain selain itu ngga perlu.

4. Formulir aplikasi yang bisa di download melalui situs overseas.mofa.go.kr. Karena saya baru pertama kali, jadi pilih form yang single entry.

5. Fotokopi kartu keluarga karena pergi sekeluarga.

6. Bukti keuangan. Seperti biasa, kami ngga melampirkan slip gaji. Hanya fotokopi rekening tabungan 3 bulan terakhir dan SPT. Baru visa Korea ini yang spesifik minta SPT. Saya sempat baca gimana kalo ngga melampirlan SPT, ada yang nulis harus melampirkan surat keterangan tidak punya SPT. Malah jadi ribet.

Bukan ngga mau melampirkan, tapi yang tahun ini pada saat visa mau disubmit belum selesai. Kalo nunggu selesai agak mepet waktunya karena paspor Pak Dokter mau dipake. Jadi akhirnya melampirkan SPT tahun lalu.

7. Surat keterangan kerja dalam bahasa Inggris. Untuk ini kami melampirkan SIP dan surat tugas Pak Dokter yang sudah dilengkapi translasinya. Waktu di loket petugasnya bilang ini sebenarnya harus dilengkapi sama surat pernyataan dari direktur rs yang menyatakan bahwa X adalah benar karyawan RS Y bertujuan untuk mengajukan visa Korea dalam rangka … bersama ….. pada tanggal … sampai … . Seperti yang saya ajukan sebelumnya ke tempat saya kerja di visa Schengen dan UK.

Berhubung kali ini kita pengen lebih simple, jadi supaya ngga perlu minta surat ini itu (dan ketauan mau pergi) jadi hanya melampirkan dokumen tersebut. Kata petugasnya, “Sekarang saya kasih dispensasi ya, lain kali harus pake”. Beginner’s luck. Alhamdulillah. Kemungkinan lain, bisa jadi karena di paspor juga udah tercantum tiga visa negara OECD, jadi dianggap sudah pernah lolos visa yang lebih ketat.

Udah cuma itu aja. Saya lampirin bukti booking tiket dan hotel tapi semua dikembalikan. Jadi TIDAK PERLU booking tiket dan hotel dulu buat apply visa korea.

Oya, karena kami pergi bertiga, semua dokumen di atas dibuat tiga rangkap ya. Semua ada di aplikasi masing-masing paspor.

——————————————–

Untuk submit aplikasi visa Korea ini ngga perlu janjian tanggal tertentu kaya tiga visa sebelumnya. Bisa langsung dateng, TAPI, harus perhatikan jamnya. Untuk submit aplikasi hanya bisa di hari Senin-Jumat jam 09.30-11.30 dan untuk pengambilan di jam 13.30-16.00. Lewat dari itu ngga bisa.

Seperti biasa, ngga ada visa tanpa drama. Keputusan-keputusan kecil seperti pilih jalan yang mana bisa menyebabkan yang tadinya ngga telat jadi nyaris telat. Jam 11.15 masih menghadapi macetnya Gatsu karena milih ngga naik tol cuma karena liat antrian pas masuknya panjang. Ternyata setelahnya lancar. Akhirnya travel agen tunggal yang urus visa turun dari mobil dan naik ke jembatan penyebrangan jalan kaki sampe ke lokasi. Sampe di gerbang satpam jam 11.20. Udah ngos-ngosan. Oya, kalo bawa mobil, ngga bisa parkir di halaman kedubesnya ya. Kami parkirnya di RS Medistra.

Satpamnya masih nanya ke temennya ini jam berapa, karena udah mepet akhirnya disuruh masuk dulu ke dalem buat ambil nomor antrian. Setelahnya baru keluar lagi buat bayar.

Jadi, alur normalnya adalah ketika sampai ke kedubes Korea, yang pertama dilakukan adalah melakukan pembayaran ke KEB Bank Hana yang ada di depan gerbang untuk loket submisi aplikasi. Bayarnya harus cash ya.

HARGA TERBARU VISA KOREA SINGLE ENTRY 2019 : Rp 592.000.

Udah naik 30 ribuan dari sebelumnya.

Sampai di banknya tinggal bilang ke satpam mau bayar visa,dikasih nomer antrian yang waktu itu sama sekali ngga antri, dengan tellernya tinggal bilang bayar visa buat single entry/multiple tergantung visanya. Bayar tunai setelahnya dikasih stiker kecil kaya stamp supermarket yang buat dikumpulin dapet piring itu lho. Cuma besar sedikit. Karena apply buat tiga aplikasi, bayarnya dikali tiga dan dapetnya juga tiga stiker.

Selesai semua pembayaran kembali ke gerbang masuk dan ruang submisi. Tunggu sampai nomer antrian dipanggil. Kalo apply visa melalui agen, pengecekan berkasnya bisa sambil duduk depan petugasnya, di Kedubes Korea masih gaya lama yang kaya beli karcis kereta api. Sebenernya ngga masalah kalo dokumen sudah lengkap semua. Ngga akan lama. Tapi kalo ada yang kurang itu, satu nomer bisa jadi lama banget. Apalagi kalo dalam satu nomer antrian itu submit sampai beberapa aplikasi. Selesai dicek dan semua aman, dikasih lembar putih tanda terima buat pengambilan. Selesai deh.

Visa single entry selesai dalam 6 hari kerja sedangkan multiple entry 1 hari kerja. Sambil nunggu bisa cek progress aplikasi kita via Korean Visa portal di http://www.visa.go.kr.

Di portal ini, karena kita ngga ngerti Han-Geul, di pojok kanan atas bisa pilih ‘English’ lalu nanti di sebelah kiri ada tulisan ‘Check Application Status’.

Nanti akan keluar kolom-kolom.

Pilih yang passport number (bukan application number) : isi nomor paspor TANPA spasi.

English Name : isi dengan NAMA BELAKANG baru NAMA DEPAN.

Tempat tanggal lahir tinggal pilih di kalendarnya.

Klik search baru nanti keluar statusnya apakah masih ‘under review’ atau seperti punya kami di hari kerja ke lima statusnya berubah jadi ‘approved’.

Di lembar putih untuk pengambilan yang dikasih petugas setelah kita submit aplikasi, ada tanggal minimal pengambilan. Kita tidak bisa ambil sebelum tanggal tersebut meskipun di portalnya sudah tertulis ‘approved’. Jadi, perhatikan juga tanggal di lembar putih untuk pengambilannya kalo mau ambil paspornya. Ngga akan dilayani kalo kita ambil sebelum tanggal yang tercantum.

Pengambilan paspor hanya bisa dilakukan siang hari jam 14.00-16.00. Ada yang bilang dari jam 13.30, tapi di hari saya ambil loketnya bahkan baru buka jam 14.15. Lokasi pengambilan sama persis dengan submisi aplikasi.

Kalo pas apply pake nomer antrian, pengambilan sistemnya menaruh kertas putih bukti pengambilan di keranjang merah. Tinggal nunggu dipanggil secara manual. Pake suara manusia. Suka ngga kedengeran apalagi kalo rame dan berisik kaya pas saya ambil. Petugasnya pun jadi sering mengulang-ulang manggil. Kalo satpam di bank biasanya bantu manggil ulang kalo ada nomer yang dipanggil ngga dateng-dateng, satpam di kedutaan ini cuma duduk dan memantau keadaan. Mustinya sih, bisa lebih diberdayakan ya atau kalo ngga petugasnya dilengkapi dengan pengeras suara.

Tapi,selama visanya dikabulkan, ya sudahlah ya😁

Semoga membantu!