Posted in Review, Travel, Visa

Mengurus Visa Jepang 2018 Single Entry di VFS JVAC

Setelah mengurus visa Schengen di TLS Contact tahun 2016, mengurus visa UK di VFS Kuningan City tahun 2017, tahun 2018 ini alhamdulillah dapet pengalaman baru lagi buat mengurus visa Jepang, kali ini di VFS Lotte Avenue.

Kalo dibandingin dengan dua visa sebelumnya, visa Jepang ini jadi keliatan gampang banget (beuh,sombongg). Formulir isian cuma dua lembar, kelengkapan dokumen ngga ribet, bikin perjanjian ngga perlu jauh-jauh hari, sampe saya sedikit lengah juga. Bikin bank statement dan ‘ngisi’ rekeningnya juga agak mepet.

Buat yang belum tau, mengurus visa jepang sekarang bukan lagi di keduataan besar Jepang di jalan Thamrin. Sejak 15 September 2017, pengurusan visa Jepang dilakukan melalui agen VFS Japan Visa Application Centre (JVAC) di Lotte Avenue Kuningan lantai 4. Buat saya ini nilai plus banget. Lebih deket dan lebih ngga ribet.

Dokumen yang diperlukan kurang lebih sama dengan visa lainnya. Untuk visa single entry bisa disiapkan :

  1. Paspor yang masih berlaku minimal 6 bulan (bahkan mereka TIDAK minta fotokopinya!)
  2. Formulir aplikasi visa single entry (bisa diunduh dari website VFS)
  3. Bukti pemesanan tiket pulang-pergi
  4. Bukti pemesanan hotel
  5. Itinerary selama di Jepang (ada formulir khusus sendiri yang bisa diunduh)
  6. Fotokopi KTP
  7. Fotokopi Kartu Keluarga (karena kami pergi bertiga)
  8. Fotokopi akta kelahiran (kalo pergi sendiri, tapi saya sertain aja)
  9. Bukti keuangan 3 bulan terakhir yang mencantumkan nama dan nomer rekening yang bersangkutan

Gampang banget kan?😁

Ngga perlu terjemahan ini itu kaya visa UK.

Isian formulirnya pun sederhana sekali. Dua lembar yang sangat menyenangkan, hehe. Untuk perjanjian penyerahan dokumen, ada dua pilihan ; bisa dengan perjanjian atau walk-in. Saya sebelumnya ngga tau kalo bisa walk-in, tapi ternyata banyak juga yang walk-in.

Counter pengurusan visanya banyak, jadi ngga usah khawatir nunggu lama. Untuk pembayarannya, sampai saat saya ke sana hanya bisa TUNAI. Saya sempat keluar lagi buat ke ATM karena saya pikir bisa debit. Harga visanya pun ngga semahal UK dan Schengen. Kemarin saya bayar Rp 1.605.000 untuk tiga orang termasuk biaya pemberitahuan via sms Rp 30.000. Lama pemrosesan visanya menurut websitenya empat hari kerja, menurut petugasnya lima hari.

Di hari keempat saya mulai gelisah ngecek email dan sms. Hari kelima ngga ada email atau sms mulai insecure. Ternyata kita bisa cek status aplikasi kita di webnya VFS. Tinggal masukin nomer referensi yang terdapat di kertas putih untuk pengambilan paspor dan nama belakangnya. Nanti akan keluar statusnya.

Waktu saya cek, hasilnya ternyata sudah ‘ready for collection’. Saya beberapa kali cek lagi email dan sms tetep ngga ada notifikasi dari VFS JVAC.

Berhubung orangnya ngga sabaran dan penasaran, besoknya langsung nyamperin dan ternyata emang udah selesai. Di akhir sebelum saya ninggalin loket saya sampein kalo saya udah bayar tambahan sekian rupiah untuk dapat notifikasi dan itu ngga ada. Bahkan email pun ngga ada. Saya ngga perlu uangnya balik, tapi mereka ngga bisa anggep lalu hal penting seperti itu. Orang berhak dapat hal yang sudah dibayar.

Visa single entry sudah duduk manis. Tinggal siap-siapnya yang bikin meringis.

Selamat liburan!

 

Review Lain tentang Tokyo trip :

Japan Airlines to Tokyo with Toddler

Prayer Rooms in Tokyo

Eating in Tokyo

Airport Transfer Ramah Koper (Paris, London, Tokyo)

Posted in Thoughts

A Best Friend Called Anxiety

Entering the third month of this year, anxiety has been accompanying me a lot. Lots of worries about many things. One solved, another one came and so on.

Residency officially ended in the end of February. Another title behind the doctor’s name is a result of a long, hard, shitty, and rocky journey for the family. Having it ended safely and well is nothing but Allah’s mercy. Waiting for announcement for a year of WKDS is one of current biggest anxieties.

Easily being anxious over something is good and bad at the same time. The good part is detailed preparations in dealing with everything is a must for me. I’ll go until the deepest root if possible. Being certain until there’s no point missing and even if there’s one or two, it’s really beyond my control.

The bad part is most of the time, things don’t go worse than what I thought. ‘Don’t Worry, Be Happy’ is not applicable for me. There’s no real happiness without proper amount of worriness.

Having lots of plans means more anxieties. But, don’t you know that having NO PLAN gives more of that feeling? It feels like you don’t have any directions where to go next, you don’t know where you’re heading to, and worse you don’t know where you will end up.

No matter how anxious it is to wait for and expecting something, it’s still better than having nothing to be waited for. Thus, “go with the flow” surely doesn’t work with me. I have to participate in deciding where the flow will go.

So, it seems being friends with anxiety is unavoidable. Quoting from Paulo Coelho :

Anxiety was born in the very same moment as mankind.

And since we will never be able to master it, we will have to learn to live with it – just as we have learned to live with storm

.

Luckily, behind the biggest anxiety, I believe a greater power is there. The One who will take care the end result according to what fits and suits us the most.

Never alone and will never be left alone.

Breathe in, breathe out.

Keep going.

Posted in Places, Review, Travel

Siesta Legian dengan Keluarga Rosihan

Awal tahun lalu dimulai dengan menghabiskan banyak waktu dan energi untuk ngatur trip keluarga saya ke UK, tahun ini dimulai untuk ngatur trip keluarga suami ke Bali.

Bapak yang baru bener-bener pensiun akhir tahun kemarin pengen semua pergi bareng-bareng. Sebenernya maunya Lombok, tapi karena bawa dua anak kecil dan Bapak juga bukan tipe yang sering jalan makanya buat latihan awal coba Bali aja dulu.

Budget udah dikasih, tanggal udah ditetapkan. Masalah pesawat ngga terlalu susah ya karena pilihan banyak banget. Tinggal pilih sesuai kebutuhan dan kenyamanan.

Nah, untuk hotel buat saya yang agak tricky. Pak Dokter sempet bersikeras untuk nginep di Air Bnb karena pengalaman berapa kali pergi dan nyaman di Air Bnb. Saya juga seneng banget di Air BnB, tapii, buat yang kali ini saya lebih milih hotel.

Kenapa?

Traveling dengan banyak orang beda sama traveling dengan sedikit orang. Di Air BnB buat saya kita punya kewajiban buat ‘meninggalkan’ rumah dalam keadaan yang cukup baik. Jadi harus dibersihkan sendiri, dijaga jangan sampe barang-barangnya rusak dan sebagainya.

Dengan skuad travel dua anak kecil yang sukanya geratak, tiga laki-laki bersaudara yang jelas bersih-bersih dan beres-beres bukan hal yang pengen dikerjakan pada saat liburan, saya dengan tegas milih hotel adalah yang paling pas.

Beberapa sempet masuk kandidat dan semuanya jelas ambil deket pantai. Daerah Legian dan Seminyak yang dipilih. Beberapa hotel sempet masuk bursa calon sampe akhirnya saya milih yang emang pas yang sesuai budget dan kebutuhan.

Selama 3 hari 2 malem di Siesta Legian, buat saya harga yang dibayar sebanding dengan apa yang didapat. Saya nyusul di hari kedua, dan di hari pertama sebelum jam dua siang, sudah bisa cek-in. Saya pesan 1 kamar Interconnecting room yang terdiri dari dua kamar dan 1 kamar superior.

Untuk ukuran hotel bintang tiga, kamarnya cukup luas, kamar mandinya bersih, ada kulkas tanpa minibar, air mineral setiap hari dapat 2 botol, harga sudah termasuk sarapan. Sarapannya pun buat saya dan keluarga suami cukup enak. Bukan yang wah banget, tapi variasinya banyak, rasa pun bisa diterima.

Kolam renang ukuran kecil tersedia, buat anak ada kolam kecil yang lebih dangkal, ada trampolin dan playground sederhana dekat kolamnya.

Kalo mau sewa mobil, parkir tersedia gratis. Mereka juga punya basement kalo yang di atas penuh. Menurut saya, kami dateng di waktu yg pas. Hotelnya ngga terlalu penuh, jadi bisa sarapan dengan tenang. Ngga ada antri atau kehabisan. Hampir semua tamu yang saya ketemu waktu sarapan adalah rombongan keluarga kecil.

Untuk 3 hari 2 malam, kamar interconnecting yang bisa diisi empat orang dewasa dan satu anak (bapak, ibu, 2 adek ipar dan 1 anaknya) dan satu kamar superior buat keluarga saya, dengan fasilitas dan kondisi kamar yang ditawarkan, kasur yang nyaman, kamar mandi yang bersih, ada coffee tea maker dan kelengkapannya, kulkas, WIFI yang oke, lokasi yang cukup baik dan sesuai kebutuhan dan keinginan, harga tiga jutaan buat saya sangat sepadan.

Hari Senin kita pulang dengan pesawat pagi, saya konfirmasi ke resepsionisnya apa bisa minta sarapan awal. Sarapan baru siap pukul tujuh sedangkan pesawat kami jam 7.20. Solusinya mereka menawarkan disiapkan breakfast box. Bisa dipilih mau nasi goreng/mie goreng atau american breakfast yang terdiri dari roti, buah dan telor rebus. Air mineral dan buah juga termasuk.

Saya pesan lima pak nasi goreng dan satu american brekafast buat saya. Buat saya cukup oke ya. Bukan yang enak banget, tapi box sarapan saya sih habis. Nasi gorengnya menurut pak dokter juga oke. Langit ikut makan nasgor sama papanya di pesawat.

Dengan breakfast box ini, jatah sarapan yang sudah dibayar ngga hilang dan buat saya itu ide yang baik sekali.

Standar saya emang ngga tinggi sih. Permintaan dari Bapak sama Ibu yang penting semua ngumpul. Fokus saya gimana dengan budget yang dikasih bisa maksimal, tanpa ngorbanin kualitas, dan semua bisa happy.

Lokasi Siesta Legian bukan di pinggir jalan besar buat saya sih lebih oke ya. Lebih aman kalo bawa anak-anak. Dari masuk belokannya juga cuma sebentar. Ke pantai bisa jalan kaki sambil cuci mata di sepanjang jalan.

Pilihan makanan di sekitar hotel lumayan, kalo saya harus dipastikan ngga ada babi. Itu aja. Ngga akan ngebahas tempat makan karena emang ngga banyak yang kita coba.

Pergi sama anak dan orangtua ekspektasi harus rendah. Selama empat hari tiga malem, tempat yang dikunjungi bisa dibilang super dikit.

Hari pertama abis cek-in ke pantai sama makan yang saya ngga tau dimana karena belom sampe. Sabtu pagi ke Bali Zoo trus jempu saya ke bandara. Malemnya makan di Warung Indonesia di sekitar hotel. Hari Minggu ke Tanah Lot trus makan di Ayam Betutu Gilimanuk dan dilanjutkan ke Krisna. Malemnya saya usul ke Jimbaran dan usulan diterima. Makan malem terakhir berakhir di Menega Cafe.

Udah. Besok paginya udah cek out. Proses cek out juga ngga ribet, tinggal ngasih kunci selesai.

Buat saya hotel di Legian secara lokasi lebih baik ya dibandingkan hotel bintang tiga sejenis yang terletak di Sunset Road. Jadi dibandingkan dengan hotel-hotel bintang tiga atau empat yang lebih bernama di Sunset Road, Siesta Legian ini jelas lebih oke. Buat saya.

Bakal balik? Kalo dari harga dan fasilitas juga kebutuhan, bisa. Tapi kalo ada budget lebih dan mau experience lebih banyak, jelas akan lebih pilih tempat lain.

Foto-foto hotel ini banyak banget kalo dicari, jadi ngga perlu saya tambah lagi. Kondisi aktual sesuai kok dengan foto yang saya liat. Kecuali playgroundnya ya. Hanya kurang terawat aja. Tapi yang lainnya apa yang dilihat itu yang didapat.

Semoga bermanfaat!

PS : ngga ada hubungannya sama hotel ini tapi karena ngga ada postinga khusus jadi di sini aja. Ngga nyangka Langit bakal ngga suka pantai. Nangis minta pulang, kaki kena pasir minta tissue. Ckckck. Harus lebih sering.

Only few things could beat the beauty and serenity of Langit Senja

Posted in Langit Senja, Maternité, Review

Konsul Tumbuh Kembang di Brawijaya Clinic Kemang

Tulisan pertama di tahun ini.

Mau sedikit cerita tentang judul di atas, dianggep review juga boleh.

Perkembangan bahasa Langit agak lambat dibanding perkembangan lainnya dan kemampuan dia menyerap bahasa Inggris berapa kali lebih cepat dibanding bahasa Indonesianya. Lagu pertama yang bisa dihafal sampai selesai itu Moon Rivernya Frank Sinatra, karena orangtuanya juga suka banget.

Di umur yang sekarang ini, berhitung, nama benda, hewan, buah, dsb, hafalan surat pendek, doa sehari-hari, dia hafal dengan cepat. Kemampuan meniru katanya cukup bagus. Cara melafal dalam bahasa Inggris lebih mantep dibanding bahasa Indonesia. Soal perbendaharaan kata insya Allah aman. Yang jadi permasalahan adalah kemampuan dia merangkai kalimat dan ekspresif dalam berbicara.

Banyak hal yang bisa jadi penyebab dia agak sulit merangkai kata. Paling pertama adalah kita yang emang kasih gadget dimana tontonan yang dia liat sehari-hari emang kebanyakan bahasa Inggris. Walaupun komunikasi di rumah hampir seluruhnya dalam bahasa Indonesia, tapi mungkin banyak kata yang lebih mudah diucapkan dalam bahasa Inggris, yang biasanya hanya punya satu suku kata.

Faktor lain bisa jadi karena di rumah juga sepi dan Langit dikelilingi oleh orang-orang yang juga ngga banyak bicara.

Kita sempat ikutin sekolah bermain waktu dia umur 1,5 taun dan kurang berhasil buat dia dan kita sebagai orangtua. Anaknya belum siap,  begitupun orangtuanya. Tiap waktunya sekolah saya kaya punya hutang. Ngga nyaman sama sekali.

Usia 2 tahun kurang 2 bulan, kita mutusin untuk konsul ke dokter tumbuh kembang. Karena di Sam Marie belum ada, DSAnya merujuk ke salah satu dokter spesialis tumbuh kembang. Ketemu pertama kali dengan dr. Bernie langsung suka, kaya pertama kali ketemu dengan DSAnya Langit.  Waktu itu di klinik Brawijaya FX Sudirman yang sekarang ternyata sudah tutup dan pindah ke UOB Plaza.

Hasil konsul yang pertama dari dr. Bernie adalah kalo Langit masih dalam ambang batas wajar. Belom perlu terapi apapun, lebih banyak diekspos dengan kata-kata dan bicara dengan orang. Setelah dari dokter, perbendaharaan katanya memang naik drastis banget. Banyak banget kata-kata baru yang keluar dan itu melegakan sekali.

Ketika hampir tiga tahun dan kita udah mulai memikirkan masuk sekolah, dengan tau kemampuan Langit dalam merangkai kata dengan kasual belum terlihat, kita akhirnya mutusin untuk konsul sekali lagi. Langit bisa merangkai dua sampe tiga kata cuma dalam bahasa formal. Bukan bahasa percakapan. Kita ngerasa ini udah waktunya ditanyakan kembali. Setelah satu taun lebih, kita ketemu dengan dr Bernie lagi. Kali ini di Brawijaya Clinic Kemang.

Buat yang tinggal di Jakarta Timur, jaraknya cukup jauh kalo ngga mau bilang jauh banget. Kalimalang-kemang itu kalo bukan karena sesuatu yang penting dan krusial, ngga akan dijalanin.

Pertama kali dateng, langsung sreg. Karena : SEPI! Saya terus terang ngga pernah bisa nyaman sama apapun jenis RS atau klinik yang lobinya aja udah rame. Kaya RSIA yang di Menteng. Ke rumah sakit atau dokter aja udah bikin gelisah, tempat yang rame bikin saya makin ngga nyaman.

Lobbynya ada beberapa sofa dan disediakan snack dan minuman dingin yang bisa diambil buat yang nunggu. Kliniknya ngga besar, cuma ada lobi utama, turun ke bawah setengah tangga ada ruang konsul dan terapi, naik dari lobi utama setengah tangga juga ada ruang konsul lainnya. Karena ini klinik, jadi praktek dokternya pun juga terbatas. Selain dokter anak, ada dokter umum, obgyn, penyakit dalam, kulit, dan gigi. Kurang lebihnya sama menunya kaya di Sam Marie Basra. Cuma kalo Sam Marie jualannya lebih ke masalah kandungan dan fertilitas, di Brawijaya Klinik Kemang lebih lengkap di bagian pediatri.

Masuk ke ruangan konsulnya, ternyata kita langsung konsul ke dua dokter sekaligus. Dr Bernie untuk masalah tumbuh kembangnya, dr. Amandeni untuk bagian rehab medik yang menentukan terapi yang sesuai untuk anak atau justru tidak memerlukan terapi.

Ruang konsulnya lebih mirip playground kecil ya. Duduknya di matras, banyak mainan, dua dokternya juga megang papan jalan buat nulis. Sekitar setengah jam ngobrol ditanya ini itu sambil Langit diobservasi.

Hasil observasinya menyatakan kalo Langit disarankan untuk ikut terapi Sensori Integrasi II. Menurut dokter rehab medik, adaptasi bagus, koordinasi tangan mata oke,komunikasi cukup baik karena dia bisa jawab apa yang ditanya, ngerti instruksi, dsb, tapi kemampuan untuk fokusnya masih kurang dan harus dilatih. Kontak matanya juga masih terlalu sebentar. Jadi, disarankan untuk boleh mulai sekolah, ketemu banyak orang sambil terapi.

Kalo saran ini saya denger setahun lalu, saya mungkin akan resisten. Denger kata terapi seakan-akan kaya ada stempel yang sangat ngga nyaman. Tapi kemarin, perasaan beda banget. Saya ngerasa siap kalo memang ada kekurangan yang harus diperbaiki dan itu bukan masalah besar. Sempet ngeri juga sama biaya yang harus dikeluarkan buat konsul dan terapi, ternyata Alhamdulillah masih sangat masuk budget sesuai kemampuan.

Langit sudah ikut terapi pertama dan cukup berhasil bertahan selama sejam di satu ruangan dengan orang asing tanpa nangis dan minta keluar. Kita bilangnya juga kalo ini kaya main di playground aja dan ngga bohong juga karena ruang terapinya emang mirip playground, hehe.

Saya suka dengan tempat dan pelayanannya selama dua kali datang ke sini. Bersih, apik, tenang, semua staffnya ramah. Cuma satu kurangnya : ngga ada tempat solat. Jadi dua kali datang, kita disiapin ruangan praktek yang kosong buat solat, wudhunya di kamar mandi.

Semoga ke depannya kalo memang memungkinkan, manajemennya juga bisa menyediakan tempat solat khusus. Agak ngga enak juga sih soalnya ngerepotin staffnya tiap kali mau solat yang mana insya Allah akan ngerepotin lagi karena jam terapinya pas waktu solat.

Dr Bernie karena memang udah ketemu dan cocok makanya bela-belain ngejar sampe Kemang, buat kita nyaman buat konsul. Ngga judgmental secara frontal, santai, ngga buru-buru mendiagnosis sesuatu. Dr Amandeni lebih tua, sudah pensiun juga dari RSCM, bagusnya dengan dua dokter seperti ini mungkin jadi lebih objektif hasil konsultasinya.

Kita mutusin untuk ambil paket terapi 10 kali, seminggu dua kali. Biaya yang dibayar lumayan juga bedanya dengan kalo bayar per datang.  Selain itu supaya lebih komit juga. Karena udah bayar di awal ya mau ngga mau harus dateng atau pasti diusahain dateng.

Untuk biaya konsulnya karena kami bayar pribadi jadi udah minta ancer-ancer via WA setelah dikonfirmasi kalo kami dapat tempat untuk konsul, yang sebelumnya waiting list. Angka ancer-ancer yang dikasih cukup lumayan dan kita spare juga kemungkinannya bisa jadi lebih dari itu.

Berdiri di kasir RS nunggu tagihan keluar emang sensasinya beda ya. Di kepala udah seliweran angka ini itu sambil ngebayangin sisa saldo. Ikhlas, tapi meringis mah ngga bisa dihindarin. Ketika CSnya nyodorin kertas di meja sambil sebut angka, kembali diingetin lagi, kalo rejeki itu selalu ghoib. Cuma perlu percaya dan usaha buat selalu cari yang halal. Hasil akhirnya, yang bener-bener sampe ke kita, bukan pake matematika akal manusia.

Karena tagihan yang dibayar setengah dari yang kita siapkan, masih bisa dipake buat melipir sedikit ke Taman Kemang mampir ke restoran yang udah lama banget pengen saya datengin tapi karena jauh belom kesampean.

Sampe rumah jam setengah 10 malam, hati dan pikiran lega karena udah dapet solusi yang aplikatif buat masalah Langit, perut lega kerena terpenuhi sama gyutan don dan soto banjar yang enak banget di Akasya Express, keadaan rekening masih dalam kondisi aman setelah mengeluarkan yang memang harus keluar.

Tentang terapi SI  ada rencana untuk nulis di postingan terpisah setelah paling ngga sudah ikut setengahnya. Mungkin ada yang perlu referensi juga nantinya.

Semoga bermanfaat buat yang sedang cari dokter dan RS buat tumbuh kembang ya!

 

Terapi Wicara dan Sensori Integrasi di Brawijaya Klinik Kemang

Posted in Langit Senja, Thoughts

2017

Several big things marked this year as a turning point year. To call this year exciting, yes, it has been a full of new adventure one.

On Motherhood

Two big milestones achieved within few months differences. Toilet training has been unlocked since the beginning of the year. Not smooth but turned out easier than I thought it would be. First day was the hardest. The rest were manageable.

The second is weaning without night terror! Langit turned three last November and she gradually stopped being breastfed days before her birthday. After so many articles about ways of  weaning, reading and hearing from here and there, weaning is about a readiness. That would be different from one mother to another. I knew very well I wasn’t ready for weaning when she turned two. Thus, breastfeeding kept going until she turned three. Then, it just happened quite smoothly. She just stopped looking for it while the mantra had been continously repeated.

Two big milestones as a mother (and for the baby of course) checked this year. Alhamdulillah.
School starts rolling in progress. We have done a trial once to a school which we think suits her well. She nailed to survive three hours alone without any dramas. We even left her for the last an hour.

But, everything is still being considered. We have another concern about her schooling and it hasn’t been clearly decided well.

On Family

The biggest loss this year happened in February when my grandma passed away. A precious chance given to be able to accompanied her on her last breath while whispering tahlil on her ear. 

A family trip across the continent happened in April. The very first time arranging a trip to the very least details because of my father. Such a great learning from budgeting, planning, and executing it. UK trip to three cities was one of this year highlights. After having An autumn in Paris, Spring in London and made the doctor set his feet on the sacred Anfield stadium was one of the best things happened this year.

Checking one of each other’s biggest dreams unlocked.

On Relationship and Personal Growth

Entering the sixth year, marriage is surely not on my most favorite list, but just like those thirteen years of piano lesson, if I were given a chance to go back, I would take the same path, with the same person. For better or worse, whatever happen in the future, no regret for this one.

This year, the relationship grows bigger than we expect. Starting from a high school-english course friends, went through lots of things before the marriage, a married couple, then we become a bussiness partner this year.

Started from a very serious pillow talk, executing plans one by one, from July to August, we bravely started one of our personal big dreams together : running our own bussiness. It’s been only several months and we keep fighting to survive. 

Running a bussiness is very far from cool, it’s a headache and sometimes I feel like resigning and give up. Through this one, I learn to tame my own fear, to face things that I prefer avoiding before, to deal with many people, to solve problems that I would never think of before, to get my ass off from my comfortable couch and do more things other than watching korean dramas, to spend and to borrow some big amount of money beyond my narrow-minded calculations, betting on this one to be succeed. 
I really hope for more strength to survive in this jungle next year.
On Residency

I am not really sure where to put residency since it wasn’t my own thing. But then, residency is never a one man show. A long hard tough and rocky residency finally meets its end this year, to be precise, this month. It started on December 2012 and met its end on the very same month five years later. Graduation is only few months away.

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.

The plans after this one are still on progress while keep asking for the best thing to be appointed for us. Wherever, whatever and whenever it will be.

A closing 

Since 2012, heading to a new year feels pretty anxious. Not knowing what the future holds, and having one or two big plans also scare me knowing it would have come with some twists too. What secures me is only by knowing there is a much bigger strength that would keep me save from any harm that I couldn’t handle, as long as I believe and don’t give up.

Wishing for another new year blessed with more patience and strength

Posted in Langit Senja, Maternité, Thoughts

Thirty Six Months

The end of breastfeeding journey.

The era of school is soon getting cool has come.

I wish nothing but your well-being to live your life until the time appointed, little girl. I won’t be forever present for you, but I hope the time when my presence exists, it matters a lot until it could cover the time during my absence.

Stay healthy and be forever happy, little girl.

An ‘I love you’ is too underrated to express how big the feeling I feel for you.

Happiest birthday to you.

Posted in Maternité, Past learning, Thoughts

Balance is A Myth

Few last months, working schedule has been a lot more hectic and juggling here and there is absolutely unavoidable. Adding another responsibility in the schedule makes other things should be put aside, like my favorite activity watching k-dramas.

In others’ glasses, I looked like having an ideal life by having my own work that I love doing it with flexible schedules (few hours for three days in a week), running a bussiness, taking care the little girl almost alone ( with the help of a half-day helper), taking care three men and house affairs, doing regular exercise, having days off on weekdays, and sufficient income to pay the bills.

I am counting my blessings above.

Now, let’s go to the other side.

With so many things in my hand, I should wake up very early in the morning than before and sleep later than I used to be. Working in the morning till mid-day, going home first to feed the little girl and flying again to another work. 

For few these months, every day in a whole week is a working day from morning till afternoon. As a newbie, running a bussiness feels like having endless working hours, dealing with customers, feeling anxiety about sales, finding solutions to any existing problems, keep thinking any possible ways to survive, and many more. It’s been ages since lazy weekend is available.

The consequences of such schedule, being tired once I got home is unavoidable and the little girl often has to pay for it. Compromising with her lunch since I have been too tired to feed her (a proper meal), allowing her to watch Gummy Bear more than the limit (what can I do?), or refusing to read her a book since I was too sleepy or I just wanted to lie down while scrolling my twitter timeline. I often compromised with her stuff but rarely did it to mine.

Even right now, while writing this, I am neglecting her main course breakfast, putting aside washing her meals utensils, and tidying up the breakfast table and other things that should be done now instead of typing this babbling just because I really want to write.

So, actually, when some people asked me how I got the balance between works and motherhood, I sneered and answered,

“Who said it was balance? It’s a mess,”

You can’t be very good in everything that you do alone all at once. Something must have been compromised for other things. When you can do things freely and leisurely outside then you must have someone to take care the house stuff and the kids at home. There’s no possible way to do everything on your own. When you spent more time outside dealing with works, it’s impossible to have the exact same amount to spend with the kids.

Quality over quantity? Hm.. I don’t think so.

I won’t write any excuses here and everything written above is purely pointed to my own nose. Everytime I feel so tired and like quitting these all, I remembered my mother. How she had been juggling harder, dealing with three little children, took turn with my father working in the evening after all day long taking care the house stuff, more she cooked everything alone from the very scratch.

I wondered how she could be still sane. Taking care one child even feels more than enough for me and fiuh, cooking is not my happy playground.

When I refered to her, balance seems to be real and exist, until I remembered how hard it had been to be her daughter, hahaha.

But, those hardships she had been given to me brought more advantages in the future than I could think of. I am forever grateful to her. Thus, I really want to keep up with her standard. She was surely neglecting some of our stuffs, she surely had her own regret, but she was never being ignorant and a quitter. Those are two things that I have too, gladly.

Knowing it’s been hard and even will be harder, quitting any of them is not an option unless if I really have to. It’s a better time management that should be done when you’re having more responsibilities, not omit one existed when you have a newer one.

Although an ideal balance is pretty impossible to achieve, being certain and believe these things are worth fighting for is enough to keep going. No greatness and grand result achieved by doing nothing. 

So, let’s keep going with such mess, shall we?

Have a nice day!

Posted in Favorite things, Places, Travel

Major Throwbacks

This month brings a lot of beautiful memories happened a year ago. Been looking at those pictures taken in the city that once had been dreaming for a long time.

Doing massive throwbacks in another platform is unavoidable. Autumn has been always the most favorite time to travel. Seven days having Autumn in Paris was one of the best trips of all time.

Looking back all those years of trying to make this happened, the failures, the emotional break-down, even the desperation to forget this dream because it felt too hard, too far. Too impossible.

It turned out the right time was just around the corner if the time had come. Unintentional action turned to be the key to unlock such big dream. Unintentional, but never a coincidence. I truly believe every single thing happen for a reason and invisible hand does exist to do something beyond an ordinary human calculation.
So, some pictures to reminisce the great time spent in the city, shall we?

Inside the Grand Mosque de Paris

The first glimpse of the lady right after stepping down from the bus
Jardin des Tuilleries in a sunny autumn
Skipping such line because of the little girl. The perks of traveling with kids.

Champ de Mars

The famous Seine
Under and inside the glass pyramid
Pont D’Iena and La Defense taken from Eiffel Carousel

Je te manque beaucoup, Paris.

I’ll be back.

Posted in Langit Senja, Maternité, Thoughts

Belajar Adil dan Sabar

Jadwal saya beberapa bulan terakhir ini bertambah dan ninggalin Langit di rumah lebih banyak jadi ngga bisa dihindari. Ngga lama sih, cuma nambah sampai jam 12 tiap hari. Tapi, tetep aja waktunya lumayan berkurang, tenaga dan kesabaran pun suka tipis. Dasarnya emang tipis sih.

Dari awal setelah melahirkan, saya sudah menetapkan kalo saya hanya akan kerja di satu institusi dan part time. Sejak 2010, udah ngga pernah mau full time. Waktu saya terlalu berharga untuk terikat penuh di satu tempat dan jadi ngga bisa melakukan hal-hal lain yang saya suka dan penting (buat saya tentunya).

Tiga tahun belakangan ini saya hanya kerja seminggu tiga kali, maksimal 3 jam. Ada satu yang cuma 2 jam. Ada yang bingung ngapain kerja kaya main-main gitu. Ngurus anak kecil sendiri, ngurus orangtua dan semua urusan rumah, lebih butuh perhatian dan tenaga karena itu prioritas saya. Kerja buat sampingan aja. Kalo saya udah terlalu cape di luar rumah, yang di rumah cuma dapet ‘sisa’ dan kalo saya cape, tingkat kesabaran saya itu jadi setipis kertas minyak paling tipis.

Masalah rejeki, saya selalu yakin insya Allah cukup dan Alhamdulillah bener selalu cukup, bahkan ngerasa lebih banyak sampe hari ini. Lebih banyak bukan sekedar nominalnya, tapi jauh lebih besar dari itu. Indikatornya : tiap malem alhamdulillah selalu tidur enak dan nyenyak.

Kembali tentang penambahan jadwal saya beberapa bulan terakhir, Langit jadi tinggal sama Mbak Wi lebih lama. Kadang saya harus dua kali keluar dalam sehari dan yang kedua kali Langit diajak karena ngga ada siapa-siapa yang bisa nungguin.

Urusan baru ini ngebuat saya sering ‘terpaksa’ bawa Langit ke tempat-tempat saya berurusan. Cukup sering. Kadang saya ngerasa bersalah juga, giliran urusan saya dia harus ikut kemana-mana, giliran di rumah dia minta baca buku, saya kebanyakan malesnya. Susah buat adil, terutama ke orang yang lebih inferior.

Udah beberapa hari saya nerima sms ada diskon lima puluh persen di playground indoor di mal komplek dan berlaku cuma sampai jumat kemarin. Udah niat mau ajak Langit karena lumayan banget diskonnya. Ngga diskon juga ga papa sih, tapi dengan diskon lebih ngerasa terpanggil buat dateng, hehe.

Jumat itu jadwal saya pagi senam trus kerja sampai jam 12. Setelah pulang saya makan siang dan di sini niat mulai goyah. Mulai terdengar suara-suara ketidakadilan ,’udalah ga usah, ntar kan hari Minggu bisa’, ‘cape banget abis senam, pengen mandi trus tidur’. Tapi suara-suara baik juga ngga mau kalah ‘kesian kali, kapan lagi, murah banget juga’, ‘jangan egois lah, giliran urusan sendiri dipaksa ikut kemana-mana, ada kesempatan kaya gini dilewatin gitu aja’. Akhirnya setelah berdebat dengan pikiran sendiri, saya langsung nyiapin…. makan.
Iya, Langit harus makan dulu.

Tadinya saya pengen mandi dulu juga tapi inget kalo saya mandi, ngantuknya makin jadi. Dan hampir yakin banget kalo saya jadi mandi, ngga bakal jadi kita pergi. Alhamdulillah ngga jadi mandi.

Selesai makanin, saya solat dan pergi.
Keluar dari lift, langsung liat playgroundnya, duh, muka senengnya kok gitu bener ya? Kaya udah nahan dan nunggu lama banget buat itu. Langsung lari masuk ke dalem.

Langit di playground ini udah familiar banget. Main dari masih harus dijagain kemana-mana sampai kemarin dia bisa naik turun semua sendiri dan saya bisa senderan sambi main hp.

Beberapa kali saya berdiri, buat videoin. Ngga nyangka ni anak bisa berani dan nekat manjat beberapa mainan yang sebelumnya dia ngga pernah coba. Selama sejam setengah kita di sana, seneng banget udah sedikit adil hari ini ke Langit yang juga terlihat super senang.

Ngajak pulang dari tempat main itu selalu jadi perkara besar. Di London trip kemarin, abis main di playground di dalem Kensington Garden, diajak pulang ngga mau, akhirnya udah sampe batas waktunya, digotong pulang, nangisnya udah kaya diapain. Bikin malu banget. Hah.

Cuma satu yang paling ampuh, diajak makan. Karena kemarin udah makan sebelum main, jadi diajak makan es krim ke toko es krim yang baru buka dan cukup rame.

Keluar dari playground, saya suruh ambil sepatunya di rak. Dia ambil lalu sepatunya ditaruh di lantai. Dia jalan ke arah tumpukan kursi warna-warni yang cukup tinggi. Dia angkat yang paling atas, dan reaksi saya,

“Udah ngapain ambil kursi, buat apa sih?”

Seperti biasa dengan nada ngga sabaran.

Dia ngga jawab dan duduk terus ambil sepatu dan langsung pake sepatunya sendiri.

Langit 1 – 0 Mama.

Saking malunya ngga bisa ngomong.

Saya perhatiin dia terbalik pake sepatunya. Saya biarin sampe selesai, apalagi dia cukup cepet pakenya. Jalan berapa langkah kayanya dia ngerasa ngga enak dan bilang, “salah, salah, tewbalik,”.

Dia balik lagi dan duduk kembali tuker sepatunya. Kali ini udah bener dan ternyata lebih susah dan lebih lama. Sampe kakinya diangkat ke muka😁

Sampe selesai tetap ngga minta tolong.

Selesai pake sepatu, leganya bukan main.
Langit 3 – 1 Mama.

Saya dapet 1 skor karena berhasil mengalahkan hawa nafsu untuk bantuin dia supaya cepet.

Anak umur tiga tahun ngajarin life skill ke ibu-ibu umur tiga puluh tahun.

  • Tunggu, lihat dulu, jangan buru-buru.
  • Melakukan sesuatu yang salah selalu lebih mudah.
  • Memperbaiki kesalahan dan melakukan sesuatu yang benar pasti selalu lebih sulit dan butuh waktu lama.

Makasi, Cipcus.

Semoga terus konsisten seperti ini ya!

Posted in Langit Senja, Maternité, Uncategorized

Thirty Four Months

It’s been quite some times after the latest update about the little girl.

She’s doing well alhamdulillah. More words to come, sentences, and many unthinkable words in English that surprised us.  She’s getting friendlier with others, and as I have more working hours since last month, she spent more time with Mbak Wi at home and it has been going better than I thought it would be.

Swimming becomes our monthly schedule and she has made good progress about that. She starts showing more courage to swim without holding on to her father and seems so eager to be in the water. This little girl also has more guts than his mother. She once tried a very high slide in the pool and kept asking for more.

School is soon to be considered after she is turning three next two months. Actually, I have been thinking to wait until next school year on July. Postpone it again? Hm, yes. Another consideration keeps coming about this. Too long to be written here.

Ah, extended breastfeeding still keeps going with less and less session. Telling her everyday, the time is almost really up. This mom is truly lazy when it comes to deal with some avoidable drama. So she chooses to keep breastfeeding instead. Sorry not sorry.

Then, keep healthy and happy, little girl!

Warming up