Posted in Favorite things, Thoughts, Travel

Tentang Mimpi dan Haji (Bagian 2)

Lanjutan dari post ini

Sore hari sehari sebelum 9 Dzulhijjah, semua calon jamaah haji bergerak ke Arafah. Kami sudah disuruh siap-siap dari setelah zuhur dan ternyata baru benar-benar berangkat jam 5.30. Sabar adalah salah satu hal yang paling wajib dibawa dalam menjalankan rangkaian ibadah Haji ini. Sabar nunggu, sabar antri, sabar semuanya.

Sampai Arafah, kita akan ditempatkan di tenda-tenda sesuai dengan kelompok negara dan Kloter. Di dalam tenda hanya ada karpet yang bisa digunakan untuk rebahan, tentu berbagi dengan jamaah lain. Kamar mandi di Arafah cukup banyak dan masih bisa saya tolerir.

Wukuf dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai matahari terbenam. Ini seperti berdiam diri, memperbanyak doa dan zikir, tapi juga diselingi sedikit ceramah. Tiap kloter bisa berbeda-beda. Dianjurkan doa sebanyak-banyaknya ketika wukuf karena iu adalah salah satu waktu yang mustajab.

Menjelang maghrib, perjalanan dilanjutkan ke Muzdalifah. Jarak antara Arafah dan Muzdalifah cukup dekat tapi jamaah Indonesia kebanyakan naik bis yang disediakan. Banyak jamaah dari negara lain yang berjalan kaki dari Arafah ke Muzdalifah. Memang yang dicontohkan Rasulullah berjalan kaki, tapi tetap bisa disesuaikan.

Di Muzdalifah hanya bermalam, yang maksudnya adalah kita harus sampai disana sebelum tengah malam, dan lewat tengah malam, kita akan melanjutkan perjalanan ke Mina. Di Muzdalifah ini juga kita harus mengumpulkan batu yang akan digunakan untuk melempar Jumroh di Mina. 

Muzdalifah seperti lapangan besar yang berisi manusia. Buat saya, mungkin ini gambaran paling  nyata ketika nanti kita dikumpulkan di padang Mahsyar. Di bawah langit Muzdalifah, pemandangan lautan manusia ini benar-benar buat saya merinding.

Lewat tengah malam, bis-bis yang akan membawa jamaah ke Mina sudah menunggu. Di sini, seluruh jamaah berbaris menunggu gilirannya naik ke bis. Momen ini buat saya terasa seperti saat kita akan menunggu dihisab. Mungkin agak.sulit dimengerti, tapi coba bayangkan ratusan ribu (ato jutaan?) manusia dari berbagai belahan bumi, berkumpul di satu tempat, mengantri  untuk diangkut ke tujuan berikutnya, tanpa bisa kita bedakan asalnya. Di situ saya merasa kalo ini yang dimaksud semua manusia sama di hadapan Allah. Dengan pakaian ihram yang nyaris ngga berbeda, semua manusia ini benar-benar terlihat sama.

Mina merupakan hal terberat yang saya lewati selama proses ibadah haji. Ini yang akan saya jadikan alasan utama kenapa haji akan lebih baik dilakukan ketika muda.

Di Mina kita akan tinggal beberapa hari untuk melontar jumroh. Kalo wukuf dan mabit di Muzdalifah memang harus dilaksanakan sendiri, melontar jumroh adalah ibadah yang bisa diwakilkan, meskipun tetap di bermalam di Mina. Saya mewakilkan ibu saya karena kondisinya tidak memungkinkan untuk berjalan jauh.

Tempat dari tenda ke  tempat melontar jumroh cukup lumayan jauh. Mungkin sekitar enam kilo bolak balik dan itu dilakukan selama tiga kali dalam tiga hari. Waktu yang paling dianjurkan adalah setelah matahari terbit agak tinggi, sekitar jam 7-8. KBIH saya memilih untuk lebih awal karena mempertimbangkan kondisi jamaahnya yang kebanyakan orang tua yang akan sulit berdesakan dan menahan panas matahari. Kami biasanya melontar sebelum subuh.

Jika menilai hanya dari ritualnya, ngga ada sama sekali yang berat dari Haji. Wukuf hanya berdiam diri duduk dan berdoa. Mabit di Muzdalifah hanya duduk, boleh kalo mau tiduran kaya saya, pake tiker lipet di atas bebatuan, dan jangan lupa mencari batu, Mina hanya bermalam dan melontarkan batu-batu yang kita kumpulkan ke tiga tiang Jumroh. Thawaf hanya berputar mengelilingi Ka’bah, Sa’i hanya berlari kecil dan sebenernya bisa jalan juga sesuai kemampuan, Tahalul hanya menggunting rambut, yang jumlahnya ngga seberapa.

Semua ‘hanya’. Yang membuat hal-hal tersebut cukup berat adalah proses yang harus dilewati untuk melakukannya. Buat saya, pengalaman di Mina cukup menguji kesabaran.

Sejauh-jauhnya perjalanan dari tenda ke tempat Jumroh bolak balik, ngga seberapa dibanding kan apa yang harus dilewati seharian di tenda. Tenda di Mina (yang saya dapat) cukup sesak untuk dibagi dengan jumlah anggota rombongan saya. Masing-masing hanya bisa cukup rebahan dalam posisi terlentang tanpa bisa hadap kanan kiri. Tendanya ada pendingin tapi ngga berpengaruh banyak karena orangnya pun cukup banyak. Cuaca di Mina pun sangat panas. Siang bisa mencapai 45-47 derajat celcius. 

Saya selalu meletakan handuk basah di kepala saya ketika akan ambil wudhu di bawah. Selesai ambil wudhu dan balik ke tenda, handuk sudah kering. Wudhu lima menit bisa bikin handuk basah jadi kering? Tentu tidak.

Jangan bayangkan seperti wudhu di mesjid yang cuma lima menit selesai. Kalo waktu zuhur itu jam 12.00, maka di Mina sebaiknya antri wudhu itu dilakukan dari jam 11.15. Iya, 45 menit. Apalagi kalo ditambah mau buang air kecil dulu. Antri kamar mandi di Mina adalah hal yang paling menyeramkan selama ibadah haji.

Bukan sekedar antrinya, kamar mandinya pun sama menyeramkannya. Kotor, bau, buat yang jijikan dan paling cerewet sama kamar mandi kaya saya, ngga ada yang menyiksa dari ini. Lebih parah lagi, banyak juga jamaah dari negara kita yang yah… sulit juga. Antri segitu panjang, bisa-bisanya nyuci baju di dalem selama 20 menit!

Ini ngebuat yang antri pun ngga sabar, dan melakukan hal yang sama menyeramkannya. Buang air kecil di tempat wudhu. Saya rasanya tiap waktu solat pengen nangis sekali. Sampai tempat wudhunya pun bau pesing. Dan kami harus bertahan di Mina selama tiga hari. Salah satu tiga hari terpanjang di hidup saya.

Kembali ke Mekkah, saya dan rombongan memilih berisirahat dulu dan baru menyelesaikan Thawaf Ifadah dan Sa’i keesokan harinya. Setelah lima hari perjalanan, berdesak-desakan di Masjidil Haram bukan pilihan yang bagus. Kami menyelesaikan Thawaf dan Sa’i keesokan harinya setelah sholat subuh. Saya dan ibu saya memisahkan diri supaya bisa lebih santai. Kami mulai thawaf sekitar jam enam dan baru selesai  sa’i menjelang zuhur. Selama itu karena kondisi yang cukup penuh dan kondisi ibu saya yang mengharuskan kami berjalan lebih lambat dan banyak beristirahat.

Hari-hari selanjutnya adalah liburan full yang hanya diisi dengan makan, tidur, ke mesjid, belanja, jajan, ibadah lain, tidur lagi, dan seterusnya. Paling sama nyuci baju ya . 

Untuk jamaah haji DKI, Pemdanya cukup berbaik hati karena makan siang dan makan malam jamaah hajinya ditanggung. Ini tidak semua. Jamaah haji daerah lain rata-rata entah masak sendiri atau cari makan di luar. Bahkan Bekasi pun tidak dapat makan. 

Selain makan, jamaah haji DKI juga mendapat fasilitas bis khusus yang membawa kita ke Masjidil Haram dari maktab. Tinggal tunjukan kartu pengenal haji, bisa naik. Bis Indonesia juga ada tapi lebih penuh. Bis DKI ini kosong, bersih, dan nyaman. Beberapa kali petugasnya pun mau mengangkut jamaah haji darerah lain karena bisnya masih kosong. Pemberhentian bis DKI ini pun lebih strategis, yaitu di pintu utama Masjidil Haram. Sedangkan bis Indonesia lewat pintu Sa’i di bagian belakang.

Kalo urusan belanja, orang Indonesia emang ngga ada lawan. Seakan-akan uangnya ngga habis-habis,hehe. Karena sudah tiga kali kesana, saya ngga banyak belanja printilan-printilan. Saya dan ibu saya sudah tau mau beli apa dimana. Oleh-oleh parfum dan sajadah ada toko khusus langganan kami di Hilton. Harga sedikit di atas, tapi kualitas dan model jauh dari pasaran. Teman sekamar saya senang sekali waktu dibawa ke Museum. Belanjanya kalap. Bahkan balik lagi sendiri sesudahnya.
———————–

Satu hal yang agak memprihatinkan, meskipun setiap tahun jamaah Indonesia itu yang terbesar, tapi ngga sebanding sama fasilitas yang didapat. Seperti tenda waktu di Mina. Punya jamaah Indonesia itu jauh, panas, dan yah seperti yang saya ceritakan di atas. Waktu saya lewat tendanya Malaysia, duhh, enakk bangett. Deket dari tempat jumroh, dingin, luas, makannya prasmanan, dan saya yakin kamar mandinya ngga separah punya kita. Di Mekkah pun sama, Maktab jamaah Indonesia rata-rata cukup jauh. Saya untuk sampai ke Masjidil Haram kalo naik bis Indonesia harus ganti dua kali. Sedangkan maktab jamaah Malaysia, Brunei, Singapore itu semua bisa ditempuh dengan jalan kaki lima menit. Benar-benar di belakang Masjidil Haram. 

Buat saya ini penting ya. Pengennya pasti selama kurang lebih sebulan di Mekkah bisa memaksimalkan ibadah di Masjidil Haram. Kalo bisa lima waktu semua di Masjid. Bisa thawaf di antara waktu solat. Jarang yang dekat sangat membantu. Jarak maktab saya dan mesjid membuat saya ngga memungkinkan untuk solat lima waktu tiap hari.

Jadwal yang bisa saya efektifkan adalah jadi berangkat sebelum subub untuk Tahajud sekalian nunggu subuh. Setelah subuh saya thawaf sampe waktu dhuha. Setelah dhuha saya pulang untuk beres-beres, nyuci, dan istirahat. Zuhur saya lewatkan. Sebelum Ashar saya brangkat lagi untuk ashar sampai maghrib. Sambil nunggu sambil ngaji atau ngeliatin Ka’bah aja. Setelah maghrib saya pulang. Isya di rumah. Lho, ngga tanggung?

Iya emang tanggung. Tapi, saya udah dari ashar dan cukup cape kalo sampe isya. Setelah isya juga bisnya penuh sekali. Ibu saya pun udah nunggu di Maktab. Ibu saya karena sakit, lebih banyak di Maktab. Dia pasti nunggu saya makan malem. Jadi, itu semaksimal yang bisa saya usahakan dengan jarak maktab yang saya dapat.

Saya sehari-hari ke Masjid kalo ngga sama teman sekamar saya terpaksa sendiri. Supaya ngga kliatan sendiri, saya suka nguntit aja di belakang jamaah yang gerombol. Karena emang ngga nyaman terlihat sendiri disana. Tapi, kalo ngga gitu saya bisa ngga ke mesjid terus. Ketika udah sampai mesjid, udah ngga gitu masalah karena ngga terlihat. Justru sendiri lebih gampang nyelip ke depan cari tempat. Target saya itu tiap solat adalah saya mau lihat Ka’bah. Sebisa mungkin saya akan maju ke depan dimana Ka’bah terlihat dengan jelas. Rugi jauh-jauh cuma liat tembok atau orang.

Waktu shalat Jum’at adalah yang terpadat selama di Mekkah. Saya hanya ikut dua kali. Setelah yang kedua sangat trauma karena hampir kehabisan nafas berdesakan waktu keluar Jumatan. Betul-betul padat dan mengerikan. Saya hampir pingsan kalo ngga ditarik oleb seorang bapak-bapak keluar kerumunan. Berdesakan dengan jamaah Afrika yang tinggi dan besarnya berapa kali lipat saya bukan pengalaman yang menyenangkan.

Oya, memakai alas kaki yang nyaman itu wajib hukumnya kalo naik ONH biasa. Supaya kaki ngga lecet karena harus banyak jalan. Jangan sekali-kali pake sendal jepit kaya mau sholat ke mesjid dekat rumah. Pake yang sol tebel dan nyaman. Crocs dan sejenisnya ngga disarankan. Mahal dikit ngga apa. Buat ibadah juga. Kalo kaki lecet malah ngga bisa ibadah karena ngga bisa jalan. Lebih banyak ruginya.

Sampai tahun 2008-2009, waktu tunggu haji masih sekitar 3-4 tahun dari dapat nomer porsi sampai waktu berangkat, dengan ONH biasa. Kalo pake yang plus bisa tahun itu juga. Mulai 2012, waktu tunggu DKI sudah jadi … 10 tahun. Sekarang terakhir saya dengar sampai 15-16 tahun. Bahkan ONH plus pun pake waktu tunggu sekarang. Mungkin sekitar 5-7 tahun, jelas dengan biaya yang lebih mahal.

Hal ini juga jadi alasan Haji, atau daftar Haji sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Dengan waktu tunggu yang segitu lamanya, sedih bukan kalau kita punya kemudahan dari segi umur dan rejeki tapi ngga pernah sampai kesana untuk Haji. Cuti Haji di Indonesia ngga usah dipusingin, hampir pasti dikasih Haji itu sangat fleksibel dan bisa dinego.

Ketika kita udah punya 25 juta cash, bisa langsung daftar ke bank untuk buka rekening Haji dan langsung urus ke kanwil depag di domisili kita untuk dapat nomer porsi. Berangkat naik ONH plus atau biasa tetap harus dapat nomor porsi dulu. Ngga masalah ketika di antara waktu tunggu kita punya rejeki lebih mau pergi dengan ONH plus supaya berangkat lebih cepat. Juga lebih nyaman harusnya.

Dua puluh lima juta ngga sebanyak dan sesulit itu kalo memang sudah niat. Kaya harga tiket ke Eropa ngga promo naik maskapai yang bagus. Disegerakan ketika kaki masih tegak berdiri dan langkah masih kuat berlari. Urusan jadi berangkat kapan serahkan sama Yang Mengundang. Yang penting kita sudah usahakan apa yang jadi bagian kita.

Semoga hati, rejeki, umur, dan langkah kita dimudahkan untuk menggenapkan rukun Islam yang terakhir ini. 

Selamat berhaji untuk semua jamaah haji yang berangkat tahun ini. Semoga Allah mudahkan selamat sampai kembali ke tanah air dan mendapatkan haji mabrur. Amin.

Posted in Favorite things, Thoughts, Travel

Tentang Mimpi dan Haji (Bagian 1)

Beberapa tahun belakangan, traveling seakan jadi hal baru yang bisa dianggap seperti sebuah pencapaian, selain hal-hal seperti barang-barang bermerek, entah baju, sepatu, mobil, atau apapun itu. Satu kemudahan seperti harga tiket yang kadang level murahnya kebangetan bisa buat traveling jadi hal yang memungkinkan bagi banyak orang. 

Salah satu hal terbaik yang saya dapat dari orangtua saya adalah frekuensi dan kualitas bepergian yang mereka berikan buat anak-anaknya. Frekuensi yang dimaksud bukan artinya tiap liburan bepergian. Tapi, hampir semua trip keluarga yang mereka berikan, saya ingat semua dengan baik sampai puluhan taun kedepan. 

Mulai dari trip pertama ke Manchester dan beberapa kota di Inggris, road trip keliling pulau Jawa, umroh pertama dan kedua,beberapa trip kecil lain seperti waktu saya S2 pun tetap sama berkesannya. Tapi, di atas semua itu, Haji adalah yang paling berkesan.

Musim haji tahun ini sudah dimulai. Calon Haji kloter awal sudah ada yang sampai di Madinah. Biarpun ngga pergi, setelah Haji di tahun 2012, tiap musim haji saya selalu senang. Liat persiapan orang yang berangkat, liat pengalaman mereka disana lewat instagram. Ikut senang karena melihat orang-orang yang akan menjalani salah satu perjalanan terbaik di hidup mereka.

Saya ngga akan cerita panjang lebar tentang pengalaman Haji seperti disini, tapi mungkin lebih ingin berbagi pertimbangan mengapa Haji akan lebih menyenangkan dan mungkin menguntungkan jika dimasukan sebagai salah satu bucket list traveling selagi muda. 

Setelah umroh pertama waktu usia 19 tahun, saya punya tiga bucket list yang mau saya coret sebelum menikah. S2 di luar negeri, Haji, dan yang ketiga belum bisa disebut karena sedang dan hampir dicoret, jika memungkinkan.

Diantara tiga, dua teratas Alhamdulillah bisa tereksekusi di tahun yang sama. Lulus S2, Haji, dan menikah Allah kasih ketiga hal tersebut dalam waktu enam bulan. Juli, Oktober, Desember.

Persiapannya jelas ngga enam bulan. Haji dimulai ketika selang enam bulan dari umroh pertama, saya dapat kerjaan tetap. Umroh pertama itu ketika Ramadhan 2003, ketika saya semeater 1 kuliah, dan saya jatuh cinta sehabis-habisnya dengan dua kota itu. Sepulang dari sana,  saya memutuskan untuk berhijab dan punya tujuan menabung yang sangat jelas. Setelah empat tahun, selesai kuliah, saya akan pergi haji dulu insya Allah.

Ada alasan kenapa hal sekecil niat itu jadi sangat penting dalam mengerjakan apapun. Saya hanya mengucapkan hal diatas dengan lisan, trus bilang juga ke ibu saya. Tapi, ngga bener-bener tau gimana caranya bisa merealisasikan itu dalam empat tahun, selain nabung dari uang bulanan yang mungkin ngga seberapa. Kalo dengan matematikanya manusia, ngga bakal bisa juga nyampe ke jumlah yang diperlukan untuk naik Haji empat tahun lagi.

Tapi, kaya umur dan jodoh, rejeki itu emang ghaib. Enam bulan setelah umroh, saya dapat kerjaan tetap dengan gaji tiap bulan. Pendapatan saya jadi meningkat drastis. Masih kuliah tingkat 1, kebutuhan ngga banyak, ngga suka belanja juga, saya putusin untuk buka satu rekening khusus (bukan rekening haji) untuk biaya naik haji. Rekening yang cuma boleh masuk tanpa bisa keluar kecuali udah kepepet.

Empat tahun kemudian, tahun 2007, jumlahnya jelas masih jauh dari yang dibutuhkan. Buat dapet nomer porsi juga belum sampe. Tapi, jumlahnya sangat lumayan dan saya putuskan untuk pindahin itu ke rekening khusus haji di salah satu bank. Toh, untuk daftar nanti pun memang harus ada rekening haji di bank. 

Ada jeda kurang lebih 9 bulan dari saya lulus sampai saya dapet pekerjaan kedua yang saya suka dan full time. Jadi, saya punya dua pekerjaan yang dua2nya saya suka, baik pekerjaannya maupun uangnya. Enam bulan setelah melakukan dua pekerjaan senin-sabtu, saya dateng lagi ke bank, masukin sisa untuk genap 20 juta dan dapet nomer porsi.

Mendapatkan nomer porsi bukan semudah dateng ke bank ya. Setelah urusan surat-surat di bank selesai, kita harus urus sendiri ke kanwil depag di domisili kita. Saya ngurus sendiri waktu itu. 

Depag bukan terkenal dengan pelayanannya yang cepat, ramah, apalagi efisien. Saya sempat menghabiskan beberapa hari bolak balik sampai akhirnya semua dokumen beres dan saya dapat prediksi  berangkat di tahun 2012. 
Mengeksekusi mimpi itu perasaan yang benar-benar luar biasa.

Jeda antara 2008-2012 saya gunakan untuk nabung sekaligus ngerjain mimpi yang pertama. Tahun 2009, saya dikasih pekerjaan ringan dengan uang lumayan. Jadi, saya kerja senin-minggu. Cape? Jelas. Seneng? Lebih jelas. 

Bukan sekedar nabung, tapi saya secara rutin beli dolar. Tiap sampe punya uang 10juta saya langsung dateng ke ayumas, beli 1000. Bahkan sempet punya rekening dolar karena kalo disimpen sendiri lumayan (kebanyakan maksudnya? Yaa gitu deh..).

Perkiraan biaya haji di tahun 2012 adalah sekitar 37 juta. Kemungkinan turun naik bisa bervariasi. Ternyata, yang bervariasi bukan hanya biaya, tapi juga waktu berangkat. Tahun 2011, waktu saya masih sekolah, petugas depag menelpon ke rumah kalo nomer porsi saya dan ibu saya masuk ke dalam calon haji tahun itu. 

Perasaan saya benar-benar campur aduk. Segini di depan matanya tapi kok ya pas banget ada hal yang ngga bisa saya tinggalin. Kebetulan ibu saya pas juga lagi di Prancis. Ibu saya sudah naik Haji sebelumnya. Beliau memutuskan ikut lagi dengan niat memperbaiki Hajinya yang pertama. Dan mungkin karena mau nemenin saya.

Akhirnya dengan berat hati saya ajukan bahwa saya ngga bisa berangkat tahun itu dan otomatis nomer kami akan masuk tahun depan. Toh memang awalnya prediksi berangkat adalah 2012.

Saya pergi Haji dengan ONH biasa yang durasinya 40 hari, dengan ikut grup KBIH dari masjid istiqlal. Ada biaya tambahan jika kita ikut KBIH tertentu. Waktu itu biayanya sekitar 4 jutaan. 40 hari mungkin terdengar lama, tapi tidak ketika kita udah sampai sana.

40 hari itu terbagi kurang lebih 27- hari di Mekkah dan 9-10 hari di Madinah dipotong waktu perjalanan. Calon haji yang berangkat pada kloter awal akan ke Madinah dulu baru ke Mekkah. Sedangkan kloter akhir Mekkah dulu baru Madinah.

Secara kenyamanan, kloter awal lebih nyaman. Kita datang waktu masih agak sepi, baik di Mekkah maupun Madinah. Masih bisa menikmati ibadah tanpa desak-desakan. Saya pergi dapat kloter akhir. Dari 50 kloter DKI Jakarta, saya dapat kloter 49. Akhir dari yang paling akhir.

Sejak dulu saya tau, hampir ngga ada hal yang bisa saya dapat dan jalankan dengan mudah di hidup saya. Haji inipun termasuk salah satunya.

Haji diletakan sebagai rukun Islam terakhir dengan syarat bagi yang mampu dengan alasan yang sangat kuat. Butuh seluruh kesiapan baik uang, waktu, fisik, mental, dan kepasrahan yang total.

Pergi haji dengan kloter akhir artinya kita akan sampai di Mekkah dalam keadaan yang sudah sangat padat karena hanya tinggal beberapa hari menjelang wukuf. 

Perjalanan saya dimulai dari Jumat pagi masuk asrama Haji, kemudian bersiap meninggalkan asrama sabtu dini hari, menuju bandara, proses imigrasi, dan berangkat pada sabtu pagi jam enam. Perjalanan Jakarta-Jeddah sekitar 9 jam. 

Dikarenakan tujuan utama adalah Mekkah bukan Madinah, maka niat umroh dan miqotnya sudah dilaksanakan di atas pesawat. Kita tidak boleh masuk Mekkah tanpa salah satu niat melakukan umroh  atau haji. Ada batasan jarak tertentu dimana kita harus sudah berihram dan diberlakukan larangan-larangan ihram. Untuk jamaah haji Indonesia yang datang dari Jakarta, miqot ada dua piliha  yaitu ketika pesawat melewati bukit Yalam-lam atau di bandara Jeddah, sedangkan yang dari Madinah adalah di Bir Ali.

Sangat disarankan bagi perempuan untuk naik Haji dengan laki-laki yang jadi mahram, bisa suami, ayah, atau adik laki-laki. Adik ipar bukan mahram ya. Di antara semua anggota KBIH, hanya saya yang dinterogasi petugas imigrasi cukup lama. 

Kenapa?

Umur saya sih ngga muda (muda banget), tapi dengan badan kecil dan muka yang keliatan kurang meyakinkan ini (ngga sesuai umur maksudnya), petugas imigrasinya jadi meragukan apa saya cukup umur. 

Semua anggota rombongan perempuan yang tanpa didampingi laki-laki mahramnya lewat-lewat aja. Cuma saya yang setengah dibentak-bentak ditanya: where’s your husband? Saya geleng. Father? Geleng juga. Alhamduliah saya masih diberi kemampuan berpikir cepet, ketika ditanya brother, saya langsung panggil ketua rombongan saya yang emang masih muda dan belum kawin.

Waktu itu Alhamdulillah juga belum dalam ihram. Karena kalo saya terpaksa bohong, sangat ngga nyaman. Saya bilang ke petugasnya, kalo saya pergi dengan orang ini. Saya ngga bilang itu kakak saya juga. Tapi, memang benar kan saya pergi dengan ketua rombongan saya. 

Lewat imigrasi, terbitlah antri kamar mandi yang cukup melelahkan. Tapi ngga ada pilihan karena sudah harus niat Ihram dan berihram. Di bandara jeddah hanya untuk transit untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Mekkah melalui jalur darat dengan bis selama kurang lebih 3-4 jam.

Ketika kita memilih naik ONH biasa, ekspektasi kita pun harus terukur. Perjalanan dari Jeddah ke Mekkah bukan seperti perjalanan karya wisata dengan bis besar yang harum dan dingin. Rejeki saya waktu itu adalah bis kecil seperti kopaja ato metro mini. Tanpa AC, kursi sempit, dan supir yang jago ngebut.

Selain merapal kalimat talbiyah, zikir yang paling saya sering ucapkan selama disana adalah Laa Haula wala quwwata illa billah. Tiada daya saya dan kekuatan saya tanpa pertolongan Allah.

Sampai di Mekkah, jangan dibayangkan bisa langsung masuk kamar dan rebahan setelah perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan. Masih ada pembagian kamar dan pengurusan kunci dan hal-hal lain yang minimal baru bisa selesai dalam sejam. 

Satu hal yang paling disyukuri adalah mendapatkan teman sekamar yang baik dan sesuai dengan cara-cara hidup kita. Bayangkan akan tinggal bersama dalam satu kamar selama sebulan dengan orang yang ngga buat kita nyaman. 

Kisah nyata di rombongan saya, dua orang ibu-ibu paruh baya yang hampir tiap hari bermasalah sampai ketua rombongan pun harus turun tangan. Sesimpel masalah yang satu tidak bisa tidur dengan AC, yang lain harus dengan AC, lampu nyala dan mati, dsb. Salah satu dari mereka, alih-alih menghabiskan waktu ke mesjid untuk ibadah-ibadah, terpaksa menghabiskan waktu di kamar karena flu parah karena AC. Sedih bukan?

Urusan kamar beres sudah malam. Tapi, tugas belum tunai. Masih berada dalam keadaan ihram yang artinya masih harus menyelesaikan umroh. Diputuskan untuk menyelesaikan umroh malam itu juga supaya besok bisa istirahat.

Ritual umroh yang harus dilakukan adalah Thawaf, Sa’i dan Tahalul. Perjalanan dari maktab (tempat tinggal) ke Masjidil Haram cukup jauh. Karena waktu itu baru sampai dan belum bisa cari tau tentang apapun, kami serombongan jalan kaki dengan.menggunakan sisa energi yang ada. Jaraknya mungkin sekitar 3-4km ya. Cukup lumayan.

Sensasi melihat Ka’bah dengan mata kepala sendiri itu salah satu hal yang paling tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Biarpun sudah tiga kali ke tempat itu, ngga mengurangi rasa yang ada di dada. Seperti semua lelah yang sudah dijalani dua hari ke belakang tanpa istirahat yang memadai, terbayar lunas ketika tau kita sudah sampai di tujuan kita. Di pusat terkuat hati semua manusia.  

Sepenuh apapun lantai paling bawah, saya tetap memilih Thawaf di sana dibandingkan naik ke lantai-lantai di atas. Selain jarak yang juga lebih jauh, saya mau lihat Ka’bah dengan jelas tiap Thawaf. 

Saya cukup tau diri dengan ukuran badan mini ini, akan sulit bersaing dengan jamaah-jamaah haji negara lain. Jadi saya ngga pernah memaksa untuk ke tengah. Karena semakin dekat Ka’bah, arusnya semakin padat dengan tingkat berdesakan yang tinggi. Saya bisa kehilangan nafas kalo nekat. Ketika Thawaf seiring dengan perputaran kita akan terbawa arus ke tengah. Saya akan membiarkan sampai saya rasa ngga mampu lagi dan mulai keluar. 

Sa’i secara tempat lebih nyaman karena garis lurus dan berAC. Tapi secara jarak, bolak balik Shafa Marwa cukup menguras tenaga. Saya pasti akan ambil jeda untuk duduk dan minum air zam-zam di putaran ke empat.

Saya, ibu saya dan beberapa anggota rombongan menyelesaikan umroh kami pada minggu dini hari dan sampai kembali ke maktab (tetap jalan kaki) jam 3.30 pagi. Waktu itu sudah tumpul rasanya otak. Tidur pun udah ngga bisa.

Karena sudah tinggal 2-3 hari menjelang wukuf dan keadaan Masjidil Haram sudah sangat padat, kami dianjurkan untuk tinggal di maktab sampai tiba waktu wukuf. Karena jelas wukuf dan beberapa hari ke depan adalah inti dari ibadah Haji. Bahkan, pemerintah Saudi mengirimkan SMS khusus untuk menghimbau agar jamaah haji memgurangi frekuensi mengunjungi Masjidil Haram karena kepadatanya dan menganjurkan untuk fokus ke wukuf dalam berapa hari.

Sisa dua hari sebelum wukuf saya mempersiapkan semua keperluan seperti minuman, makanan ringan, baju ganti, handuk, tiker lipet. Selain Wukuf di Arafah, akan ada Mabit di Muzdalifah, lalu dilanjutkan dengan bermalam di Mina selama tiga hari dan kembali ke Mekkah untuk Thawaf, Sai, dan Tahalul. Rangkaian ini dilakukan nonstop selama kurang lebih 4-5 hari. Jadi, ini seperti trip kecil dalam 40 hari tersebut, yang merupakan inti dari semua ibadah yang dilakukan selama 40 hari. Haji yang sebenarnya akan dimulai dalam beberapa hari.

Sepertinya terlalu panjang kalo dijadiin dalam satu tulisan. Saya akan lanjut di post berikutnya di sini

Posted in Thoughts

Stormy Days

If, this one were written few days ago, the title would be ‘The Shittiest Days in Four Years’.  Then, it’s good to write this today so this blog will keep its proper language and stay polite.

 
The last one week have been the most stormy days in my four years of marriage. Something happened and it totally turned the table. Messy, broken, and seemed to be irrepairable. Maybe it wasn’t great deal for some people, but for me, it matters the world. Won’t go for any details here, of course. 

What happens in a marriage, stay between those two who are married.

I rarely talk about things related to my relationship. For no reason. Even in the real conversation with friends, I don’t talk much about it. 

For some people, this might sound a bit weird, but it happened to me. I have never been a big fan of any heart-to-heart relationship with anyone. One thing I am always bad is being in a relationship. That explains why I had no one to be called ex-boyfriend(s).

Dealing with others feeling is a heavy burden for me. The very first time someone asked me to be in a relationship with him during junior high school, then I knew, this one was surely not my thing.

I didn’t find being tangled with someone for unclear purpose was enjoyable. In my junior high school girl head and heart,I asked myself (and few of my friends),what was the purpose of having a boyfriend at this age?

To be happy? I was already.

To have some companions? I had enough.

To share your thoughts when you were happy and sad? Hm, I prefered a diary.

To experience dating? Hm, didn’t think it’s necessary and I was busy enough with my piano course and others.

My parents were surely againts this one too. At first, I thought I did it because my parents didn’t allow it. But, even until college, I still didn’t find any strong reasons for doing this, no matter how many times I received the offers and who had offered it.

Sounds like bragging a lot? I wasn’t and absolutely am not. It was uncomfortable. Totally.

I once think it might be because I hadn’t had the right person asked me yet. But, even after it happened, that wasn’t really the case. It was all on me. Relationship was just not my cup of tea.

We, le husband and I, had been through ten years of any kind of relationships form before we’re finally married. Long ten years of hardships and mostly it came from my side. I once wrote in one of the posts, we had been through every kind of relationship problems, except the religion difference. You name it, we had it.

I didn’t actually understand how I had survived those ten years. I even had one ultimate question that I had been constantly asked in my head and in my prayers, 

“These hardships that we have been through, are these the signs that we are not good for each other or these what we should take for us to be together for good?”

It was confusing though. They said if something is good for you, then Allah will make it easier. But, on the other hand, nothing good comes easy. So? 

But then, in the end, whatever we had been through, we always end up together. As if we had done each exams that have been assigned to us for our relationship and passed, then we’re allowed to proceed to the next level.

When I  finally agreed to marry le husband, it took me two full years doing lots of thinking and being in very least contact with him. I could see that my heart thought no one other than him to be together in the future, but I didn’t think it was enough to make me take a huge step such a marriage. 

For me, marriage takes and needs more of your head than your heart. I had seen enough examples what becomes of women when they used too much heart in their marriage. 

I agreed  and was brave enough to finally marry le husband by considering some qualities in him, his family, our similarities and differences, the way we view and value things, and so on. 

I assured my heart, I would regret more if I didn’t not take this chance than being hurt because I took the chance. 

————————-

During these four years, we surely have quarels, big and small fights, disagreements, and any kind of problems. We surely have our good times too. We enjoyed each other presence and absence, although sometimes it could feel a bit stuffy, especially for me. But, any problems that happened before could be solved within few days and we were okay.

Until this one ‘big’ storm hit us last week.

It turned my (our) world up and down. We had been quarelling, arguing, and fighting hard. We ‘talked’ so much until at some point I thought I couldn’t take this any longer. Lots of bad thoughts appeared inside my head, lots of bad words came from my mouth, I couldn’t think clearly for days and felt absolutely like living in the hell.

It took countless of bad and hard times until we’re able to manage to talk like two grown up adults. Talked about where we did wrong, what we should improve in the future, found any possible ways to survive for us alone,within ourselves, not only because of other things.

When I am finally able to write this here, I really hope we both learn our lessons. I hope this one was big enough for us to do some significant improvements to have  better skills in our relationship. 

I won’t pinpoint the faults to any of us (here). One might do a bigger fault than the other. But as I always believe, it takes two people to make a marriage works and it also takes two when it doesn’t work (either for a while or forever).

It makes me even more certain about what to tell to those who would go for a marriage. 

Don’t sign up for one without enough preparations, careful considerations, tons of prayers, families’ approvals, and mapping the worst risks that could happen in the future. Eventhough you felt like you did all those above, it wouldn’t go any easier during hard times. 

Once we’re in, try our best to close our eyes for any possible exit doors exist, no matter how hard it is. It was freaking hard.

We won’t last without the help from our one and only protector, Allah The Almighty. We would never be strong enough to through this without the strength given from The One who is holding every heart of every human being alive.

In more earthly and humanly words, maybe marriage is about managing our ownselves and expectation to deal with our spouse’s strength and weakness, rights and wrong, to stretch our heart bigger to let go what has happened then go on to make the wheels keep running well (enough). 

Smoothly? You wish. 

Guess, I have said these enough. Writing does help a lot.

Till then.

Posted in Maternité, Thoughts

The World Against (Y)Our Introverted-Child

It’s been quite some time I have been thinking about some matters related to the baby class we’re currently joined in. Since it’s not a review, I wouldn’t spell the name.

This class is where the parents are also participating in the class. The facilitators are child psychologists that help you to explain the activities and then they give the job for every family to do it. It is just once a week class for an hour, on weekend. It should be good one at our first expectation.

After two terms joining this class, we realize something about Langit. She is the type who can’t and actually won’t join any activities that don’t give her enough interest.While the other kids are sitting with their parents doing the activites that have been assigned to them, she makes us busy chasing her here and there. Last term, she was really interested in little broomstick around the corner. So, everytime we come to the class, she went to the back of the corner and took the broomstick.

It was surely beyond our expectation knowing our little girl is this type of student. But, worse part about this one, it is enough to make one of the so-called psychologist doesn’t (really) favour her until at the point of ‘leaving’ her behind. I realized this thing after few first weeks of the class but didn’t talk any of it to anyone. The only thing for sure, whenever Sunday came, I felt something hard on my chest,even harder when le husband is not around.

The bell rang when one day le husband threw one sentence told me that certain facilitator didn’t really like her. Ouch, it’s stung and hurt, knowing even le husband who was occasionally absent realized it too. Then, it was pretty obvious, wasn’t it?

As I was being a teacher myself twice in a school, I know this type of student is surely not teacher’s favorite. But then, it was a huge heart-breaking when this type of student is your own child. This class is not only excluding the baby, but also make us feel like an outcast parents. The judgmental look was there and said it all.

However, joining this class also gives something good for us. It’s eye opener and mind-enlighting. We become knowing our baby better and what kind of things we should improve as parents.

Long before, I know Langit is absolutely an introverted-child. She likes being with herself and doesn’t really fond of others, especially strangers’ presence. She doesn’t like to be touched by others too. Even when she and me of are being in the same room, she can play by herself.

She is an observer. She’s not the type who learn things obviously doing trial and error in front of people. She will observe first and then doing it without others knowing. Like going up and down through the stairs all by herself safely, for instance. While most of other children around her age still need assistance and guidance when they’re climbing stairs, Langit has been doing it all alone for some time and it has been okay, Alhamdulillah. Others may say I am careless. But, before that, they just have to witness how the baby is doing it.

In the future, it’s our homework to help her make things work when she should have to be in other circle but home. Being introverted is not something you should ask everyone to understand.

It’s okay to be an observer, but there will come the time when she has to sit, listen and do what she has been assigned. It’s okay if she’s not interested in something, but there are still rules that she has to obey, whether she likes it or not. It’s okay to enjoy herself alone, but there are things that she can only achieve better when she is doing it with other people.

Knowing there are some people who don’t really fond of your cute little daughter exist is surely on another level of heart-breaking. I believe, she will even have to face this kind of people alone later.

It’s not our job to make everyone love her because she is being what she is. But, it’s our job to prevent he to be intentionally unlikeable because of what she does to others and how to deal with this kind of things. She will later learn and understand these kind of people are present to give her lesson and toughen her. She just have to use her brain and heart to overcome this.

It seems that looking for a formal school in the next few years should be carefully selected from now. At least, having teachers who have the least willing to understand every students differences would be a great help to us as parents and the baby herself. How I wish to meet a teacher like the one in this article.

Well, it’s Monday though. Let’s start working (on our problems) now.
Bon Lundi!

Posted in Favorite things, Travel

About French 

Every family, every house have some cultures other than their origin which influence the members, either in the way they live, think, or do things.

In my initial family, it was french. We were exposed by lots of french things since we were kids. My late mom was once a french teacher in previously CCF, now IFI. She also had been teaching in other places like the embassy, schools, or the oil company.

My mom and my dad was a high school friends and they met once again in my mom’s workplace when my dad was learning there for his scholarship. For this part, it is pretty similar with my own story with le husband. Then, my existence also started because of something french.

Some converasations in french were often carried out in the house so it can’t be helped for us to understand some vocabularies in the language. Among us three, I have been the one who is always eager to learn languange. After spent two months in Manchester, I started learning English by myself. Reading and dictionary checking became new exciting routine for this 4th grader.

Started my french lesson for the first time while I was grade six. The teacher of course was the in-house one. But, unfortunately, having your own mom being the teacher didn’t guarantee that you would be fluent in an instant. In fact, some lessons were often cancelled due her personal excuses like fatigue or something more important needed to be attended. It was surely quite dissapointing. But, it didn’t stop me from learning. I love reading and the books about french were everywhere in the house. The big and small dictionaries were also available. So, whenever I would like to learn  I just chose one simple reading.

I had a chance to learn french properly after I graduated from college.  Signed up for a class at CCF and thanks to my mother, I learnt there for free. I studied for 2,5 years and I really enjoyed it.

Having lots of knowledge and exposed by all things about this surely made me drool a lot to visit the country. Actually, when we went to England, France and Benelux (Belgia, Netherland, Luxembourg) visas were already stamped in our passport. Unfortunately, we got chicken pox. So, the only one who went to Paris was, no one other than the french teacher.

If I am not mistaken, throughout her life, my mother had been to France for four times. She went once before she was married and thrice after. She went in 1982, 1994, 1996, and 2011.

The one in 2011 was a bit special. CCF regularly sent their employée for a month training in one of cities in France. Usually, it’s not the big city one but more to small city like Grenoble, Nantes, or Lille. My mom was chosen to go in 2010 but they had condition she had to wear off her veil. She refused.

A year later, she was chosen once more. They said she really had to go this time and she could keep wearing her veil. It was quite funny as if it chased her persistently. I was dying to join her but it was not impossible. She was so lucky even there were lots of teacher there, twice in two years in a row, she was offered such chance.

I loved the french class a lot. Really enjoyed learning there eventough the class was 7-9 pm after work, but it felt like a stress reliever for me. Like piano, which I didn’t do it because I loved it, this one also  I missed the class rarely to never. What made it more enjoyable was because I was above the other students thanks to the teacher at home, hehe.

Other than the language, french cuisines were also something we enjoy at home. My mom, unlike her daughter, was a terribly great cook. One of the best french dishes she made was the quiche  lorraine. It was so much better than any cafes have. We also enjoyed lots of french products like the jam, cheese, bread, cakes. The last time she went there,  half of souvenirs she brought were all about food like I wrote here.

Learning its language, eating its food, reading a lot about it, even once went to its independence celebration in Jakarta have made the desire for visiting this country becomes a constant stomach ache for me. I desperately want to go there. In my 20’s, I regularly bought USD for me to go there. Few times I planned to go but it seemed out of my reach. Among my three biggest dream before marriage, only this one wasn’t fulfilled. I did the other two : master degree abroad and Hajj.

After marriage, this one keeps haunting me until today. I won’t be able to sleep comfortably for a long time if I don’t keep trying for this. I have told my husband once he finishes his study, I really want to go, alone or together.

I know I will be there one day, by all means possible. I will have my pictures taken in front of La Tour Eiffel, sitting by Le Seine watching sunset, eating ice cream at Jardin du Luxembourg, strolling around in Champ Elysses, admiring Le Palace du Versailles, Musée du Louvre,and  Le Cathedral de Notredame, enjoying le soir at une cafe in a little Paris street. I will speak french in its origin country. There will come the day when I will be living like a true Parisienne for few days.

Like I have always been believe, God knows but He waits for the right time. He has been fufilled all my dreams for these 30 years. There’s no way He won’t for this one as long as I keep going for it. My turn will come, someday. Amin.

Have a good Friday!

Posted in Langit Senja, Maternité

The Twentieth Month

Woohoo! It’s just another four months to go to the complete two years of breastfeeding. When people said time flies so fast, I would say that years were surely fast, but I live it by days. Days are long.

The twenty months have been like a roller coaster ride. What To Expect The First Year has given a head up that there’s no job which more physically and emotionally taxing than parenting in the first year. Then, for the second year, I would like to add intelligently challenging after both aspect.

Her abilities in many things have been improving significantly, including in speaking. Words start coming one by one clearly. She is getting better at expressing her feeling through some actions like crying, nagging, or any kind of actions that amuse us.
Feeding has been easier and more flexible according to my standard. Currently, we have less rituals. Breakfast, lunch, and early dinner still go as usual. Snacking becomes optional. Sometimes she has it, sometimes not. And that is okay, as long as the three meals done properly. She is totally into a proper portion of meal. Rice and its companions are the key to the peaceful day and night.

She has less sleep during the day, but I don’t mind. Because by 7-7.30 pm she has gone to bed and sleep tightly until morning. During the day, when I am too tired to watch her, I just let her play alone while I am having a quick nap.

She also starts imitating several things that she sees from us like doing some praying movements, watching herself in front of mirror while wearing a hijab, putting some things to her ear as if she talks on the phone, sweeping and mopping the floor and other things. Toddler can be this amusing minus the nagging.

Things that I constantly do also have started showing its result. Like some of daily habits that I teach her for months, she starts doing it automatically. I couldn’t be more proud of her.

Then, Happy 20th, Langit Senja! Keep healthy, happy, and funny like you always be, dear. I love youu!

A rare happy smile in an outing day

Hijabi baby

Posted in Maternité, Past learning, Thoughts

My Mother, The Keeper

My mother was one the most visioner person I have ever known. Her thoughts were mostly beyond what others could see. Most of the time, everything that she said in present time, likely to be true in the future.

She liked to keep things that she thought will be useful in the future. Not a short term one but a very long time in the future. Thanks to her, I saved a lot of money from buying some important baby stuffs. These are not only something small like clothes or sheets, but things that you couldn’t buy at the same quality  even if you do have the money to buy it. These things have been kept for years neatly and nicely.


The crib has been here for more than 30 years. Me and my siblings have our pictures taken inside this crib. Not only us, some of our cousins used this crib too. Langit is lucky enough to be the first grandchild in the family so she has the chance to sleep in this legendary bed.

This rattan play yard was bought when my cousin was born 10 years ago. My mum bought it with the thought her daughters would surely need this once they had  babies themselves. See,  she was rarely wrong. Langit enjoys being inside this box a lot. It will soon being moved to my little sister’s house since she needs it more than us when her second child  is coming.


Well, this one is freshly built this afternoon. After my sister texted that she would take the rattan box by next week, I keep thinking the replacement of that box. Although it is no longer urgent to keep Langit inside a box, I like the idea of keeping her personal space where she can play and rest, both upstairs and downstairs.

I keep searching any alternatives to replace the box and thinking of buying the second one. But, most of those were above my budget. I don’t eager to spend on something that is not really urgent.

Then, the idea came. Instead of play yard or similar thing, I thought about a baby pool. A large one. But again, it’s quite weird putting a pool inside the house. It doesn’t look good for me. Until I remembered about this tent.

It has been here for 26 years. It was bought in 1994 when we stayed in Manchester for two months. We used to play it often when we were young. We really loved it. It wasn’t big so we had fights deciding who would sleep inside the tent.

The good old memories were flooding inside my mind while me and le husband built this one together. It gives warmth remembering the good old days we had and it is such a pleasure to share this happiness to Langit. She looked so happy and couldn’t help keep smiling when the tent was ready with all her toys inside. 

Unlike the current trend nowadays where people do pre-loved sales of their used things like bags, clothes, shoes, my mother often reminded us not to sell things that we have bought. It’s either you keep it or you pass it to other when you’re no longer use it. She was strongly against getting money from selling our stuff, whether when we’re in need of money or not. So, until now, we send out a box or two of unused clothes, shoes, bags, or tableware every few months and give it to our regular recipients.

Along with that kind of mindset, a good taste also follows. Those bags, shoes, clothes, cupboard, bed sheets, or whatever it is, I don’t know how she found such good quality and chic ones. She truly had good eyes. Last four years, I haven’t bought any shoes and bags. The real shoes and bags. I have been using hers. Luckily, we have the same shoes size.

Whenever I think about my mum, I can’t help being emotional thinking how lucky I am having her as my mother and how desperate I am to be as good as her to my daughter.

I had my greatest honour as a child of being able to be next to my mother on her last days. I wish to have another one as a mother. 

I wish to be remembered like I remember my mother by my child(ren). Whenever they think about me, they will be happy and proud of having me as their mother.

Way to go and hopefully I’ll get there. Amin.

Posted in Langit Senja, Maternité

Lima Beda Tentang Langit

Selama satu setengah tahun mengurus Langit (90%) sendiri, saya banyak belajar hal-hal yang selama ini saya tidak pernah terpikir bahwa seorang bayi kecil bisa melakukan hal-hal seperti yang orang dewasa lakukan. Hal-hal ini pun bahkan sering jadi pertanyaan orang-orang kenapa atau bagaimana karena memang mungkin hal-hal tersebut agak jarang ditemui pada anak seusia Langit. Dan ya itu, saya pun sebelumnya ngga terpikir tentang hal-hal ini. Oke, kata ‘hal-hal’ sudah diulang terlalu sering. Jadi, mari dielaborasi.

  1. Tidur sendiri di kamar sendiri

Umumnya, yang sering saya liat biasanya bayi yang baru lahir tidur entah bersama orang tuanya dalam satu tempat tidur atau tidur di box bayi sendiri dalam satu kamar. Sejak pertama kali Langit pulang ke rumah, dia sudah langsung tidur di boxnya sendiri di kamar sendiri. Ini banyak sekali ditanyakan orang-orang.

Emang ngga apa-apa? Ngga kesian? Kalo malem nangis kedengeran? Ngga repot bolak-balik? Mari dijawab satu-satu.

Emang ngga apa-apa?

Alhamdulillah bukan sekedar ngga apa-apa, tapi sangat menguntungkan  buat kedua belah pihak. Kebetulan dari awal memang ada dua kamar di atas.Ketika adik saya menikah dan keluar rumah, kamarnya kosong. Jadi, ketika Langit lahir, saya dan pak dokter pindah ke kamar adik saya yang lebih besar sedikit, kamar saya untuk Langit. Langit tidur dalam satu box besar, seperti ukuran tempat tidur nomer 1, tapi tinggi, berjeruji juga berkelambu, dan tidak seperti box-box jaman sekarang, box ini kokoh sekali.

Bayi kecil di boks besar

Box ini merupakan box yang sama persis seperti yang saya dan adik-adik gunakan kurang lebih 30 tahun lalu. Ibu saya penyimpan barang-barang yang baik. Box kayu jati ini masih sebagus dan sekuat 30 tahun yang lalu. Bahkan, beberapa sepupu saya pun juga tidur di box ini. Bahkan lagi, kelas berapa SD pun saya masih tidur di box ini. Enak.
Ngga kasihan?

Justru saya agak bingung kenapa harus kasihan. Oke, mungkin jawaban selanjutnya akan terdengar agak egois, tapi ini kenyataan. Tidur malam itu merupakan salah satu hal yang paling saya suka dan paling tidak suka kalo itu diganggu. Dengan tidur terpisah seperti ini, di bulan ketiga saya sudah tidur malam semaleman tanpa terbangun. Langit pun ternyata, dia ngga bisa tidur selain di boxnya sendiri. Tau dari mana? Saya pernah ajak dia tidur di kamar saya, dan gelisah bolak-balik ngga berhenti. Ketika dipindahkan di boxnya, langsung diem dan tidur. Ngga usah orang lain, Pak Dokter sendiri pun awalnya suka ngotot mau tidur bertiga. Tapi, jadinya itu membuat semua ngga bisa tidur. Jadi, ya apa untungnya. Tempat tidur saya pun bukan ukuran King atau Queen, jadi emang cuma nyaman untuk berdua. Kesimpulannya, kasihan sama sekali bukan kata yang tepat.

Kalo malam nangis kedengaran?

Jelas kedengaran. Orang kamarnya sebelahan persis, hehe.

Ngga repot-repot bolak-balik?
Awalnya iya, mungkin repot, buat orang. Buat saya ngga. Kebetulan, saya sama sekali ngga bisa nyusuin sambil tiduran. Jadi, kalo ,mau nyusuin saya ke sofa ruang tengah. malah lebih banyak lagi kan bolak-baliknya. Jadi, kalo malam nangis saya ke kamarnya, angkat, trus nyusuin di ruang tengah. Sudah selesai, taro lagi di boxnya, saya kembali ke kamar saya, tidur.

 

Buat saya, tidur sendiri ini salah satu hal terbaik dari hal parenting yang saya terapkan. Langit pun jadi tau mana yang merupakan teritori dia.

 

2. Jadwal yang (super) teratur

Saya sudah ngga bangun malam lagi sejak Langit usia tiga ke empat bulan. Tentu ada beberapa saat pengecualian. Tapi, umumnya secara keseluruhan, saya bisa tidur semaleman. Saya adalah orang yang sangat terjadwal. Meskipun saya kerja hanya seminggu tiga kali, tapi saya selalu ingin jadwal harian teratur. Sampai satu setengah tahun ini, jam 8.00 pagi, Langit sudah selesai makan jus mangga jeruk, makan nasi sepiring, mandi, dan ngemil pisang sambil main di luar.

Saya menolak untuk berkutat dengan urusan bayi nonstop karena saya mengerjakan semua sendiri. Saya mau punya waktu istirahat dan jeda antara satu hal dan hal lain. Waktu dan durasi jadi hal yang sangat penting. Sampai bulan lalu, Langit tidur masih sehari tiga kali. Pagi, siang, malam. Tapi, belakangan, mungkin udah lebih besar jadi udah lebih banyak main. Kadang dia hanya tidur pagi atau siang aja. Tapi, malam sekitar jam 19.30, dia sudah masuk kamar dan tidur. Sampai pagi. Itulah saat shift saya selesai. Karena lewat dari itu, saya juga akan jadi uring-uringan.

 

3. Makan Pedas, apa saja dan (sangat) teratur.

Ini mungkin akan agak terdengar entah sok tau atau pamer, tapi, kalo mau dilihat lebih jauh, mungkin bisa jadi tips. Alhamdulillah, sampe saya menulis ini, saya belum pernah merasakan namanya GTM atau gerakan tutup mulut. Dari awal dia tumbuh gigi sampai sekarang giginya hampir penuh, ataupun ketika sakit, makan tetap berjalan normal.

Jadi mau bilang makannya gampang?

HAHAHAHA, jelas tidak! kenapa hahahanya pakai huruf besar? karena saya jarang dapet kata gampang dalam hal apapun di hidup saya. Termasuk soal makan Langit. Awal MPASI memang agak terjekut juga karena kok cepet amat ni makannya. Tapi, seiring berjalannya waktu, pelan-pelan dia mulai ngemut, dan hal ini terjadi berbulan-bulan. Sampai saya kadang frustasi sekali. Tapi, kata ngga makan itu ngga berlaku dalam kamus saya. Jadi, saya tetap kerjakan kasih makan sehari tiga kali, dengan maksimal durasi sejam.

Biarpun makan diemut, tapi Langit sama sekali ngga pernah nolak makanan. Dia akan selalu buka mulut. Dia pun makan apapun yang disediakan dan dia sangat suka makanan berbumbu atau pedas. Saya punya satu sambel yang selalu dicampur di nasi apapun makanannya, karena emang nambah selera. Sambel bikinan rumah ya. Bukan botolan. Kalo yang dewasa, makan sambal itu dengan teri basah yang digoreng. Langit makan sambal itu dengan apapun.

Langit sudah makan seperti orang dewasa di umur 11 bulan. Jadi, saya ngga perlu masak sendiri untuk dia. Oya, di rumah kami makan masakan rumah tanpa penyedap rasa bermerek dan bukan pemakan nugget dan lain-lain. Saya belanja sendiri pasar untuk semua bahan makanan, yang masak mbak yang bantu di rumah selama 20 tahun ini. Saya terus terang agak fleksibel terhadap garam, tapi agak ketat terhadap gula.

Dia makan semua jenis ayam, ikan, daging, sayur. Beberapa ketawa waktu saya bilang bahkan pare pun dia makan. Iya, Langit makan pare dan ngga terlihat menderita. Dia hanya ngga bisa ngunyah kalau makanannya manis atau rasanya agak hambar. Telor dadar jelas bukan favorit dia.

Waktu mudik kemarin, hampir semua sepupu, tante dan keluarga Pak Dokter terheran-heran ngeliat dia makan dengan sambel seperti itu. Tapi, mungkin itu yang membuat saya ngga pernah merasakan GTM. Saya lihat anak kecil ya kaya orang dewasa aja. Semakin besar makin tau rasa. Makanan dengan rasa yang hambar atau terus berulang pasti akan buat bosan.

Langit tidak pernah makan satu rasa. Misal, Bilandango, tahu santan, terong balado, dan sambal dabu-dabu. Duh, itu enak bangettt. Dan terbukti, makannya emang cepet banget. Atau beberapa hari lalu, Rawon, labu siam, dan perkedel jagung pake sambel. Untuk Langit, dagingnya daging giling. Belum bikin sendokan baru udah mangap lagi.

Selama ini makan sambel itu, Langit ngga pernah mencret. Toh, saya ngga mungkin kasih dia semangkok. Cukup untuk beri rasa di makanannya. Cukupnya saya tentu beda dengan cukupnya orang lain. Jadi, mungkin bisa dicoba kalo pas anaknya lagi GTM.

Langit makan besar tiga kali. Pagi, siang, sore. Saya tidak mau berurusan lagi dengan makan setelah maghrib. Dokter anak saya waktu kecil selalu bilang, bayi rewel malam umumnya karena dua : lapar dan sakit. Selama dua hal itu ngga ada, dia akan tidur nyenyak.

Tapi, emang makan dari sore aja ngga kelaperan? Hm, kemarin malam Langit masuk box jam 7.15. Sampai detik ini saya nulis jam 5.45, dia belum bangun sama sekali semaleman. Kenapa? karena perutnya kenyang dan alhamdulillah sehat. Dan, ini terjadi umunya tiap malam:)

Langit makan duduk dari awal dia mulai makan dan saya ngga punya kursi makan khusus. Sekarang dia makan duduk di kursi meja makan

Awalnya pake kursi ini yang umurnya udah 26 tahun. Ngemut masih sambil senyum.

Udah bisa kabur dari kursi sebelumnya, pindah kesini. Pose tetap ngemut.

Abis bisa kabur lagi, sekarang pindah kesini, yang mana udah bisa kabur juga kalo ngga ditungguin.

Semua pakai kursi yang ada di rumah. Sayang uangnya buat beli kursi sendiri dan ngga ada yang ngasih juga. Seperti yang terlihat juga, semua dalam pose ngemut makanan-___-.

4. Belum pernah minum obat.

Sebelum melahirkan, saya ngga terbayang akan menyusui. Setelah menyusui, saya juga ngga terbayang akan menyusui sampai hari ini. Di atas semua itu, saya ngga terbayang, menyusui itu bisa membantu saya sampai usia Langit 20 bulan, dia belum pernah minum obat apapun. Jadi, sekarang mau bilang ngga pernah sakit?

Hehehe, jelas bukan. Langit jelas pernah demam, pilek, tapi memang jarang dan dia belum pernah minum obat. Kami punya sanmol di rumah dan itu isinya masih sama seperti waktu awal dibeli. Ayah Langit dokter, anaknya belum pernah minum obat.

Ketika Langit mulai terlihat kurang enak badan, hal yang langsung saya lakukan adalah menyusui lebih sering, menyodorkan air putih lebih banyak, dan memperkuat apa yang dimakan. Di hari pertama dia demam, saya akan secara suka rela bangun beberapa kali malam karena tidurnya agak terganggu dan saya akan nyusuin sesering dan selama mungkin. Biasanya, di hari kedua demam sudah turun, pilek muncul. Pilek ini yang mungkin lebih lama. Tapi, saya ngga terpikir juga untuk kasih obat karena itu akan sembuh sendirinya. Saya juga tambahkan jam kena sinar matahari paginya.

Saya sama sekali bukan anti obat. Waktu satu kali Langit pilek yang buat saya sudah agak lama, saya bawa ke dsa nya. Alhamdulillah banget DSA Langit ini bener-bener satu visi misi sama saya. Bukannya kasih resep, dia malah bilang ditingkatin aja asupannya. Boleh madu sedikit pake jeruk nipis. Duh, pokoknya anjurannya sesuai banget sama prinsip saya. DSA yang sejalan dengan kita itu sangat berharga lho. Tapi, ya benar aja, ngga berapa lama pileknya pun selesai.

Hal yang perlu digarisbawahi, poin keempat ini sangat erat kaitannya sama poinnya nomer tiga. Saya rasa nomer empat ini bisa ada banyak karena poin nomer tiga.

5. Introvert, mandiri, dan penyendiri

Langit punya 1,5 orang tua intorvert dan setengah ekstrovert. Saya introvert sampai ke tulang terdalam. Ayahnya masih setengah-setengah. Menghabiskan banyak waktu dengan saya sepertinya agak menular juga ke Langit. Dia ngga terlalu peduli kalo pas main dengan anak seusianya dan lebih suka main sendiri. Makanya, saya sekarang agak sering bawa dia keluar, ya meskipun dia lebih suka main sendiri tapi paling ngga dia lihat anak lain seusianya.

Kadang saya harus mengerjakan sesuatu dan saya ngga bisa awasin, juga ngga ada orang lain di rumah. Makanya di rumah saya punya dua play yard, di atas dan di bawah. Kalau saya sedang sibuk, atau mau mandi, saya taro dia di play yard dan dia main sendiri. Ngga nangis dan ngga keberatan. Dia tinggal pencet tombol musik, lalu dia main sambil baca atau tiduran atau ngoceh sendiri sambil nunggu saya selesai.

Karena kami tinggal di lantai dua, naik turun tangga jadi kebiasaan. Saya ngga menyadari sebelumnya, kalo Langit benar-benar memperhatikan ini. Tanpa bermaksud untuk sok tau, sekarang saya sudah bisa membiarkan dia naik turun tangga sendiri. Ini mungkin terdengar bahaya, tapi, mungkin juga harus liat dulu cara dia melakukan hal ini. Dia naik dan turun dengan sangat hati-hati. Tangga di rumah punya dua tangga datar. Mungkin juga karena sudah terbiasa, dia juga jadi tau kapan harus berhenti dan melangkah naik atau turun. Kecuali dia ngga sengaja, anak ini emang anaknya yang hati-hati. Contoh lain adalah main piano. Awalnya dia harus didudukan untuk duduk dan main piano.  Satu hari, tanpa saya liat, dia sudah duduk rapi sendiri atas kursi piano, yang kebetulan agak lebih tinggi dari piano upright pada umumnya. 

Waktu saya menyaksikan cara dia naik, saya bahkan heran sendiri bagaimana dia bisa terpikir cara-cara seperti itu. Mungkin itu ya kenapa dibilang tiga tahun pertama otak dan kemampuan bayi berkembang pesat. Mereka bahkan melakukan hal-hal yang ngga pernah dicontohkan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Kenyataannya ngga seseram gambarnya. Itu cara dia naik.

Setelah manjat, lalu dia akan nungging dulu seperti ini sebelum pindah ke posisi merangkak dan duduk rapi.

Saya hanya agak ketat soal makan yang hampir semua masih saya yang kerjakan. Hal lain seperti Langit harus taruh sendiri baju kotor di keranjang pakaian kotornya, pipis di kulset, minum dari gelas sendiri, dan hal-hal lain, saya biarkan dia melakukan sebisanya sendiri. Pada akhirnya, kita ngga akan bisa terus ada di samping anak, bukan?
 

Kalau ada orang yang bilang ibu yang urus anaknya sendiri bisa buat anak jadi manja,karena selalu ada dekat ibunya, mungkin lima hal di atas bisa jadi jawabannya. Justru dengan urus sendiri, saya jadi bisa menerapkan apa yang menurut saya penting dan baik buat saya dan Langit tanpa dicampuri orang lain.

 Okey, Langit sudah bangun. Waktunya bertugas!

 

 

Posted in Thoughts

Sunday Morning’s Babble

Silence in Sunday morning while the baby is still sleeping, breakfast checked, and nothing else to be done, always make my mind wander along to the past. Sunday morning used to be filled with lots of good cartoons on TV and fought over choosing which to be watched with my siblings. Sometimes I won, sometimes they did. Thinking about how I hated it those times back then, it is really funny knowing I really miss those things now.

The thought of the (good) old days makes my mind jump into another thing. Sibling(s) for Langit. I have constant battle in my mind about this particular thing. Mostly, you have your first child by will. You ask  and wait for it badly. But, for the next one(s), usually for some people, the will is not as strong as they have for the first one. Of course, there are exceptions where some people seem enjoying to repeat the cycles within short interval like Kate Middleton for instance. She’s currently expecting her third child after just giving birth her second this year. But then, she is Kate Middleton.

My mind is constantly changing about repeating all the cycles once again. There are times when I have firmly decided that one is more than enough for me, then the other times, the firm decision becomes as weak as jelly.

I don’t know whether we need to justify the right reason to go for second, third, and so on.  Honestly, deep inside, I am not really okay with one. But, when I looked back everything that I have been through alone, it scares me, well, pretty much. I am questioning myself whether I can be keep sane while dealing with one sometimes drained out my low level patience.

People said the first third or five years will (may)be hard, but after that, it will gradually easier and you won’t regret all those years you have been through. Well, okay.. But, my concern is how to go through those first years safely and sanely. When others worry more about money, I don’t really think about that. Money is surely important thing to raise a child well, but for that thing, I have enough confidence and trust that if we are given the next one, it will also come with its adequate sustenance. I have no doubt about that.

I worry more about time. I am in my early 30’s and I don’t know for how many years I have to raise my kids until they can do well on their own. Not having my mother around while I am being a mother makes me realise time is very limited. I am lucky enough to have her around and took as much as lesson from her during her lifetime, until I really can do well even without her presence. For every prayer I spell during shaalat, time  and health are all I ask for me so I can do the job well.

Reading the news all over the world recently makes me  want more to go for another. The world has become so much scary these days. The thought of leaving the baby alone here breaks my heart. Well, let alone the world, let’s see the nearest circle. If one day those kids are having hard times, whether with us their parents, or with others which they won’t talk about with me or their father, they will have each other back.

I have a certain limit to decide whether I will or won’t for this thing and I have told le husband about this. But then, isn’t all plan will be back to the one who decides for all affairs in our life?

That’s why I keep asking, for whatever, whenever, and whoever that Allah decides to be present in my life, He will give the best of everything according to my need. Amin.

Hence, Bonne journée à vous!

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Favorite things, Review, Travel

Flights to and From Kuala Lumpur

I had this question quite often from close relatives who would like to go to Malaysia for the first time. Most of them think about Air Asia when it comes to cheap price, which is something I don’t (really) agree.

During 1,5 years of master study there, I went back and forth from both Jakarta and Kuala Lumpur 10 times. The very first thing I did once I had the fix schedule of all lectures was searching for the cheapest flight back home. All tabs in my laptop were about all airlines websites. Did I buy it straightly?

Of course, NOT! 

I brought those fare comparison to my dream first. Even for days. I rechecked them every day for few times because the fares changed depends the time you checked it. For a stingy student like me, it was sensitive. Being hesitate whether to buy now or later. Imagining it wherever I went. Then, cursed myself when I saw the second time the price was higher. Such a true masochist.

After so many times doing like that,  I really found that some airlines were truly cheaper than Air Asia. In fact, Air Asia became my very last choice among other airlines. The ticket price only was maybe cheap, but, once you continued your booking, other cost kept piling up and at the end of your booking, voila! That will be very far from cheap.

So, here’s my preference from the most to the least :

1. Lion Air

SURPRISE!! When domestically Lion Air is known to be the master of delay, I didn’t find it for several times I fIew with them. I found Lion Air had a flight to Kuala Lumpur ( or Jakarta) accidentally. It had been a hard battle inside my mind when two airlines which I regularly used gave me an expensive total fares for my pocket. Even after several days, it didn’t change much. 
I just read a tweet several days ago saying ‘Price is the only tool that is able to make people realize they have another choice or they have to find one’. It is very true. Those airlines fares which I think too expensive made me search for other options. Then, instead of one, I found two other options. Lion air is one of them.

The best thing about Lion Air, it shows you directly the total price and with that price comes 20 kg of baggage allowance. No need to pay additional cost. It was very agreeable for me. Even more, they were truly good value for your money. I often got as cheap as IDR 350.000 one way from Jakarta to Kuala Lumpur. It costs the same like you fly to some cities in Java.

The second best thing about Lion Air is they depart from KLIA, not LCCT. It has the price of Low Cost airline, but they depart from high cost airline airport. 

Recently, as far as I know, LCCT does no longer exist. They replaced it with KLIA 2.

Third and the last, few times flying with them, I never once experienced any delays. It was very punctual and more, the aircraft was big and clean. Guess it was new.

So, for all those three reasons, Lion Air is on my top of list.

2. Malaysian Airlines

This one is one of the regular that I often use. Before knowing how much cheap the fare between two cities, I used to think MAS was very cheap. When we first went there with my mum and sister, I found IDR 750.000 was a very good deal. Only after that I found out, it became the most expensive fare I paid among all my trips.

But, surprisingly, if you are persistent enough to regulary check their website, you can find a very shocking price like I once had. I once got the ticket price from Jakarta to Kuala Lumpur at IDR 75.000. YEP, three zeros only. Not even reach 10 USD. As for the total fares, it became IDR 239.000. See, it was a very very good deal. 

Of course, MAS departs from KLIA and it has a lot of check in counters.  The aircraft might not as big as Lion as far as I remembered, the leg room was quite narrow too. One thing is an advantage from MAS, they have lots of schedules in a day. My mum once was late for check in  for 7 am departure and she couldn’t fly with her originally booked flight. Then, the check in staff simply changed it to the next flight schedule at 9 am. No additional charge, no grumpy face scolding us for being late. A very good service. Overall, it’s good.

3. Air Asia

Here’s the cheap airline which often turns out to be not cheap at all. Even start from the ticket price only, it wasn’t that cheap. You have to pay more for baggage according how many kilos that suitable for your belongings. After that, you pay for your seat, which is something that I think it’s a bit ridiculous. Do they expect us to stand up during the flight?

The aircraft is far from spacious, the seat is not really comfortable, and they depart from LCCT. Unlike KLIA, LCCT was an airport who looks like a bus terminal. Not my preference. Well, overall, it was just fair. 

4. Tiger Airways

I found this when I found Lion Air. It was pretty similar with Air Asia. You pay for your baggage and seat. The price was slightly cheaper. I only tried this once or twice maybe. I didn’t feel too comfortable with this although there was no problem at all during the flight. It also departed from LCCT.

Actually, there were other two airlines at that time, Garuda Indonesia and KLM. But, both were out of my league. Hence, I left them.

So, if anyone ever ask me which one to choose, you surely know the answer.