Posted in Life happens, Past learning, Thoughts

Epilog : 15 Tahun Perjalanan ne

Masih dalam suasana eforia hari Minggu kemarin.

Mau cerita tentang Jessica. Salah satu murid yang diajar dari dia kelas 4 SD dan sampe sekarang dia kelas 1 SMA. Salah satu murid pertama sejak ngajar di sana. Rajin, selalu sopan, sederhana, dan punya determinasi yang tinggi. Tipe murid top student yang nilainya bagus, ketua osis, sibuk, tapi hampir ngga pernah saya inget dia ngga les piano karena ada ulangan atau kegiatan apapun.

Punya kakak tapi seperti anak tunggal karena kakak laki-lakinya di luar negeri. Papa mamanya sibuk, dan sehari-hari diurus mbaknya. Belakangan mamanya udah pensiun jadi sering anter les.

Sejak kompetisi pertama kali ada, dia udah saya ikutin. Pertama masuk di Junior B. Tiga tahun berturut-turut ikut kompetisi, tiga-tiganya pegang piala. Pertama kali juara dua, lalu harapan satu, dan tahun terkahir di kategori B juara tiga.

Tahun berikutnya pindah ke kategori C karena umur. Persaingan dan tekanannya naik jauh sekali dari B ke C. Menang di kompetisi itu kombinasi dari banyak hal. Tapi, menurut saya selalu diawali dari satu hal penting, yaitu pemilihan lagu.

Lagu yang dipilih harus ngga pasaran, jarang dimainkan tapi enak didengar, tingkat kesulitan kalau bisa sedikit di atas standar kategori yang diikuti, dan terakhir, anak yang mainin suka lagunya.

Selama tiga tahun di kategori B, alhamdulillah saya selalu pilih lagu yang pas buat dia. Milihnya pun lama karena selalu saya coba sendiri dulu dan saya bayangin kesulitan yang bakal ada pas belajar, sambil memperhitungkan kemungkinan ada orang lain yang milih lagu ini. Selama tiga tahun di kategori B, semua faktor resiko sudah dieliminasi. Ditambah penentuan akhir dimana dia bawain lagunya dengan pede dan bagus, tiga tahun berturut-turut namanya selalu disebut ketika pengumuman juara.

Tahun ke empat kompetisi saya tawarin lagi buat ikut. Lagu udah saya pilih dan siapin sejak lama. Tapi memang dari awal seperti ada yang kurang atau kaya ada yang salah aja di kompetisi tahun 2017 itu. Mungkin karena setelah tiga kali ikut dan menang, baik guru dan muridnya pun ekspektasinya juga cukup tinggi. Jadi, agak berat juga beban dari awal.

Lagu yang dipilih October Tchaikovsky. Salah satu lagu favorit saya. Lagu yang cukup bagus buat kompetisi pertama dia di kategori C yang persaingannya lebih sulit. Lagunya bagus, dia juga suka, dan ngga terlalu panjang. Lambat dan pelan. Pressure sedang, kans buat menang juga cukup besar, kalo dimainkan dengan baik.

Sampai sekitar sebulan atau dua bulan sebelum kompetisi, kita tau ada satu anak lain main lagu yang sama. Murid guru lain yang juga sering jadi juara kompetisi. Saya dan dia langsung agak pucet waktu tau tentang itu. Main lagu yang sama ngga pernah menguntungkan buat pesertanya.

Ganti lagu sempet jadi pilihan tapi liat waktu latihan dan chemistry yang harus dibangun lagi dengan lagu barunya, kita mutusin buat tetap jalan. Sambil berharap semoga saat pengambilan undian dia dapet main yang duluan.

Di hari pengambilan undian, perasaan salah yang dari awal ada makin besar. Jessica dapet yang belakangan cuma dengan jeda 1 anak. Bebannya makin besar sekali di dia.

Di hari Gladi resik, dia main bagus sekali. Saya jadi agak tenang. Apalagi setelah denger saingan yang mainin lagu yang sama. Dalem hati paling ngga punya harapan lebih.

Hari H, ketemu dia dengan baju kompetisinya yang manis, Jessica keliatan cukup nervous. Wajar sih. Seperti biasa saya nemenin dia sambil ingetin beberapa instruksi yang dia kadang-kadang salah. Waktu giliran peserta lagu yang sama maju dan main, mungkin saat itu mentalnya semakin jatuh. Anak itu main dengan bagus, manis, dan bersih sekali. Bener-bener bersih dan tepat sekali semua dinamiknya. Perasaan saya semakin ngga enak tapi tetap berusaha semangatin dia.

Ketika gilirannya maju, dia terlihat ngga nyaman sekali. Not pertama dimainkan dengan sangat ragu-ragu. Not pertama dan bar pertama itu kunci yang nentuin mood dan tempo lagu seterusnya. Seringnya, ketika itu ngga dapet, kemungkinan memperbaikinya agak sulit.

Dan, selang beberapa menit kemudian, kejadian yang paling menakutkan terjadi. Sampai hari ini masih satu-satunya di sepanjang kompetisi yang pernah ada di sekolah musik ini.

Jessica berhenti main dan keluar panggung sambil nangis dan bilang, “aku ngga bisa, aku ngga bisa,”.

Ngga bisa digambarin perasaan saya waktu itu. Sedih, kecewa, patah hati, tapi saya juga sangat ngerti besarnya beban mental yang dia harus hadepin di depan.

Ternyata patah hatinya belum selesai. Saat pengumuman pemenang, juara pertama jatuh ke anak lain dengan lagu yang sama dengan Jessica. Disini, setidaknya kita tau, saya tidak salah pilih lagu.

(Pernah dibahas lengkap di post ini)

Kita ngga banyak bahas itu setelahnya. Les pun kembali berjalan seperti biasa.

Kompetisi tahun 2018 dia menolak ikut karena alesannya sedang sibuk di sekolah. Tapi, tentu bukan cuma karena itu. Kita sama-sama tau kalo trauma dia masih besar. Saya pun ngga mau maksa.

Tahun 2018 saya bisa fokus ke satu murid baru yang cukup bagus dan saya ikutkan juga kompetisi karena liat potensinya. Alhamdulillah, seperti yang diharapkan, Nathan juara 1 di kompetisi pertamanya.

Awal tahun 2019, sudah diumunkan kompetisi akan diadakan bulan Agustus. Di awal tahun ini juga, wacana saya kemungkinan besar akan harus resign mulai mencuat. Di bulan Maret, saya mulai nanya ke dia apa mau coba ikut lagi. Saya bilang saya udah siapin lagunya. Dia bilang mau mikir dulu. Saya tegaskan ke dia kalo saya ngga mau maksa. Tapi, saya mau dia basuh dulu traumanya dua taun lalu dengan ikut lagi, main sampai selesai, ngga peduli apapun. Cukup itu. Ngga perlu mikirin menang dan yang lain. Cukup main dari awal sampai akhir, ngga peduli sejelek apa.

Bulan April dia ujian nasional dan akhirnya dia setuju ikut setelah dia selesai ujian. Saya sudah pilih dua lagu yang kontras. Satu lagu pendek 3 halaman, lambat, dan cukup terkenal, cocok sekali kalo targetnya cuma buat sekedar hilangin trauma. Satu lagu lainnya cepat, panjang 6 halaman dengan not yang banyak, dan jarang orang akan pilih dan mainkan. Bahkan mungkin jarang tau juga.

Saya bilang ke dia kalo saya sengaja kasih yang sangat kontras seperti ini. Biarpun jelas sekali yang mana preferensi saya, saya biarin dia tetap milih. Bukan sekedar milih lagu, tapi juga memilih sampai level mana yang mau dia capai. Dari situ saya bisa tentuin sikap harus seperti apa drilling dia.

Sesuai ekspektasi saya tentang dia selama ini, tentu dia pilih yang punya kesempatan lebih.

Dalam kompetisi, saya selalu punya target yang mau dicapai. Tentu sesuai kapasitas muridnya. Meskipun orang sering bilang, ikut aja yang penting pengalamannya. Latihan berani tampil dan sebagainya. Tapi, buat saya ngga. Kalo cuma itu ada konser.

Apa kalo kompetisi harus menang? Tidak. Karena menang atau kalah ada banyak hal yang di luar kontrol kita. Tapi, yang harus ditargetkan adalah, di kompetisi ada menang dan kalah, apa kita mau kalah atau menang? Tentu jawabannya jelas.

Dengan tau target, kita jadi tau harus seberapa keras usahanya untuk itu. Karena beda sekali orang yang tujuannya cuma sekedar ikut dan orang yang punya target jelas.

Saya bilang ke murid-murid saya, ikut kompetisi persiapan tidak boleh 100%. Minimal 150%. Grogi itu menurunkan kemampuan sampai 50 %, apa jadinya kalo cuma siap 100%.

Balik ke persiapan kompetisi. Selama latihan terus terang progresnya ngga terlalu bagus dan agak lambat. Saya sempet agak frustasi dan marah ke dia. Saya tanya mana komitmennya. Saya tau lagunya susah, tapi menurut saya ada saat di mana dia ngga berusaha maksimal buat latihan. Enam minggu sebelum kompetisi, masih 3 halaman yang dia belum beres. Belum hafal not, dinamik, banyak sekali bagian yang harus drilling dsb.

Di beberapa bagian bahkan ada yang saya sampai suruh dia ulang berkali-kali sampai dia bisa, baru boleh pulang. Di sebulan terakhir, saya paksa dia tutup partitur. Kalo bayangin waktu itu, betul-betul khawatir tinggal 4 minggu hafal sedikit pun belum. Enam halaman panjang.

Ngeliat ini, saya putuskan buat nambah jam lesnya di hari lain. Berlaku juga buat Nathan, yang ndilalahnya, kok mainnya juga malah jadi turun. Sempet gelisah sekali saya liat dua orang ini. Lebih gelisah lagi karena ngebayangin saya akan resign. Gelisah karena ngebayangin hari terakhir saya akan diinget seperti kegagalan.

Ngga ada gunanya pernah juara tiga kali dan juara satu tahun lalu, orang hanya akan ingat yang terakhir kali ditorehkan. Dengan Jessica, bahkan yang diingat pengamalan buruk tahun 2017. Agak patah hati saya ngebayangin kalo 15 tahun saya ngajar seperti ngga keliatan hasilnya.

Kasih jam tambahan itu sulit sekali dari sisi saya. Karena waktu terbatas. Akhirnya saya paksakan untuk kasih mereka waktu tambahan di hari di mana saya punya waktu 1 jam sembari Langit les. Jadi saya drop Langit, lalu lari ngajar 2 orang dan kembali ke jemput Langit, semua dalam waktu 1 jam.

Pernah saya tergoda sekali buat batalin. Apalagi hari tambahannya di hari saya puasa juga. Tapi, alhamdulillahnya otak dan hati cukup keras, sambil marahin diri sendiri, ” Kalo nanti hasilnya ngga bagus, lo akan nyalahin diri sendiri kenapa ngga usaha lebih padahal bisa, cuma karena capek dan lemes. Akan lebih lemes kalo nyesel belakangan,”.

Dua minggu terakhir tensi dan suara saya makin tinggi. Ngga terhitung seringnya saya scolding mereka berdua sampe pucet.

Di hari kamis sebelum kompetisi, Nathan udah ada titik terang. Tapi tidak dengan Jessica. Salah masih banyak, hafalan lumayan tapi masih suka bener-bener blank di tengah jalan, dan yang paling mengkhawatirkan nervousnya juga tinggi sekali. Tiap main pasti tiba-tiba berhenti dan panik sendiri.

Saya terus ingetin dia supaya tenang dan fokus. Ingetin dia kalo hal utama yang harus dia capai hanya main sampai selesai. Itu udah lebih dari cukup. Saya tau enam halaman itu panjang dan dia harus mainkan dengan tempo yang beda, dan notnya cukup sulit, dimana kalo dia salah bisa merembet kemana-mana, meskipun dia juga udah tau teorinya kalo salah yang harus dilakukan adalah jalan terus.

Hari Sabtu gladi resik, saya makin khawatir karena nervousnya dia terasa makin tinggi. Percobaan pertama maju di panggung, gagal total. Bahkan sampe nangis lagi. Saya dan mamanya terus nyemangatin. Di percobaan ke sekian kali saya liat ngga ada perubahan sama sekali. Semua latihannya ketutup sama tingginya nervous dia. Gladi resik awalnya cuma 10 menit. Saya minta ijin lagi ke ibunya buat latihan lagi di ruangan sampai molor jadi 1,5 jam.

Di ruangan saya suruh dia drilling halaman pertama sampe puluhan kali. Bolak balik hanya halaman pertama. Kuncinya hanya itu. Begitu halaman pertama dia aman, pede dia langsung naik drastis. Setelah dirasa cukup halaman pertama, saya suruh dia drilling 4 baris terakhir berkali-kali.

Seperti semua hal dalam hidup, ngga peduli bagaimana kita mulai, tapi yang paling penting adalah bagaimana kita selesai. Begitu juga dengan lagu.

Setelah kurang lebih setengah jam atau empat puluh menit latihan di kelas, emosinya udah lebih tenang, saya ajak dia latihan di showroom bawah pake piano grand di ruangan terbuka. Cukup berhasil. Dia udah lebih tenang, meskipun beberapa spot masih salah-salah. Secara keseluruhan aman, tapi tidak memuaskan.

Setelah dari bawah, saya ajak balik ke ruangan gladi resik. Saya minta dia main bagian yang tengah aja. Bagian yang perlu pedal dan paling aman. Saya larang buat main dari awal sampe akhir. Setelah main dari tengah saya minta dia main halaman pertama dan empat baris terakhir. Setelah itu saya cukupkan dan minta dia pulang buat istirahat.

Ngga nyangka yang awalnya niat saya cuma dateng 15 menit, berakhir jadi 2 jam. Tapi, kalo inget sekarang, saya senang karena udah milih yang benar dibanding yang mudah.

Nathan gimana? Alhamdulillah aman. Setidaknya kalo dia main seperti hari kamis dan sabtu gladi resik, setidaknya satu tempat juara udah dia amankan. (Kok pede? Iya, anaknya juga pede banget gitu mainnya).

Hari Minggu saya bangun dengan perasaaan sedikit khawatir dan banyak pasrahnya. Hari itu akan jadi penentuan bukan cuma buat murid-murid saya, tapi lebih ke diri sendiri. Akhir seperti apa yang (pantas) saya dapatkan?

Semua usaha sudah dilakukan (semaksimal dan semampu saya). Seluruh doa juga ngga berhenti dipanjatkan.

Saya dateng setelah zuhur. Waktu dateng kompetisi sudah dimulai. Biasanya saya masuk ke ruang penonton atau ruang tunggu bareng guru lain. Tapi ini, saya milih buat tunggu di luar yang sepi. Jantung kaya mau copot.

Nathan di kategori B maju duluan. Waktu saya ketemu dia, dia keliatah cukup tenang dan percaya diri yang cukup. Saya pernah ingetin dia, tidak boleh over confident karena itu yang kadang bisa buat hilang fokus. Seperti di beberapa latihannya yang salah di not terakhir.

Saya udah janji buat kali ini saya ngga akan masuk. Saya hanya akan dengar dari luar pintu. Begitu Nathan naik, yang saya bisa kerjain cuma baca Al-ikhlas setengah keras buat nutupin suara mainnya dia yang tetep lebih keras. Ngga berhenti saya doa.

Nathan main dengan bagus sekali. Bersih, powerful, dan rapi.

Seperempat beban diangkat alhamdulillah.

Jarak Nathan ke Jessica cukup jauh. Saya tetap ngga mau masuk ke dalem kursi penonton dan ruang tunggu. Waktu saya masih duduk, Jessica dan mamanya keluar. Mamanya bilang minta keluar dulu.

Saya agak tercekat liat baju yang dia pakai. Seinget saya yang paling minim standarnya dari selama ini dia ikut kompetisi. Kombinasi kaos dress softball selutut yang kalo dia duduk jadi ketarik dan agak pendek, juga sepatu wakai dengan warna senada.

Tapi ya sudah. Ngga ada gunanya meributkan masalah baju ketika ada isu yang lebih besar.

Ketika dia sudah dipanggil ke ruang tunggu, saya masih milih nunggu duduk di luar. Saya rasa waktu itu, saya dan dia punya battle masing-masing yang harus dihadapi sendiri. Dia yang harus melawan trauma dan ketakutannya. Saya yang harus mempersiapkan diri buat nerima kemungkinan terburuk di akhir perjalanan mengajar saya.

Saya masuk ke ruang tunggu ketika giliran dia tinggal 3 lagi. Waktu giliran dia tiba, seperti yang saya lakukan dengan Nathan, dia masuk ke atas panggung, saya keluar dan turun ke bawah tangga di samping. Saya terlalu nervous untuk berdiri di depan pintu seperti yang saya lakukan dengan Nathan.

Detik dia masuk, mulut saya ngga berhenti merapalkan Al-ikhlas. Saya terus baca sampai kadang saya pikir saya berdoa supaya ngga terlalu denger jelas permainan dia. Betul-betul ngga baik buat jantung.

Tentu permainannya tetap terdengar jelas. Dan sedikit tapi pasti, hati saya mulai ringan. Dia berhasil melewati halaman pertamanya dengan baik. Halaman kedua percaya diri naik. Halaman ketiga seperti yang sudah diprediksi adalah yang paling aman. Harapan saya semakin naik ketika di halaman keempat di bagian yang dia selalu miss, dimainkan dengan rapi dan bersih. Zikir saya mulai diganti senyum sambil sedikit nangis.

Halaman kelima dan ke enam, Jesssica seperti balik ke Jessica versi terbaiknya. Bagus sekali penutup yang dia mainkan.

Turun dari panggung dan keluar ruangan, kita berdua berpelukan dan dia bilang, ” aku bisa kak,”.

Ternyata selesai dia main, mama papanya pun juga langsung keluar dengan wajah sumringah sambil ngacungin jempol.

Setelah itu, saya kaya ikan yang dikembalikan ke air.

Tiga perempat dari beban saya sudah diangkat bersih.

Tinggal seperempat terakhir.

Pengumuman pemenang dimulai dari kategori B. Terus terang saya ngga terlalu khawatir. Dengan adanya 6 piala buat kategori B, Nathan hampir pasti dapat salah satunya.

Ketika sampai di pengumuman juara ketiga dan nama dia belum ada, saya agak sedikit khawatir kalo saya bisa aja salah total. Juara kedua diumumkan juga bukan dia.

Nama Nathan akhirnya disebut paling terakhir.

Seperdelapan beban saya diangkat bersih kembali. Setidaknya untuk Nathan dan orangtuanya, saya akan diingat sebagai guru yang selama 2 tahun ngajar dia, ada memori sesignifikan 2 kali kompetisi 2 kali pegang piala juara pertama.

Tiba giliran pengumuman kategori C.

Waktu itu saya ngga inget harus ngharep apa. Mau ngharep menang kok kaya ngerasa ngelunjak, tapi ngharep ga menang juga gimana, mainnya bagus dan lebih dari cukup dibanding lawan-lawannya untuk pegang satu piala.

Ada 4 juara di kategori C. Nama yang disebut pertama bukan Jessica. Masih lega saya. Saya banyak berharap di ketiga dan kedua. Ternyata di ketiga pun bukan dia. Saya mulai sedikit nelen ludah. Harapan saya tinggal sekali lagi.

Nama yang berikutnya disebut juga bukan Jessica dan saat itu saya sudah telen seperdelapan beban terakhir yang ngga bisa hilang di hari terakhir saya.

Saya ngga akan lupa momen dimana ketika MC ngumumin juara pertama.

Sampai ngga bisa kontrol suara dan air mata.

Nathan juara pertama mungkin ngga luar biasa, tapi Jessica bisa juara pertama, di hari terakhir saya, setelah semua senang sedih yang kita lewatin sama-sama selama 7 tahun, setelah kejadian luar biasa dua tahun lalu, saya terlalu bersyukur sekali dianggap pantas nerima hasil akhir sebaik ini. Dan saya benar-benar salut dan bangga sama anak ini. Bisa ngalahin ketakutannya, bisa ngalahin traumanya, dia pantes jadi juara satu. Dia naik ke panggung sambil nangis.

Tidak ada yang lebih menyenangkan dari perasaan lega bisa kasih selamat ke orang tua Jessica dengan level yang sama seperti saya memberi selamat ke orang tua Nathan.

Dengan berakhirnya kompetisi di Minggu, 25 Agustus 2019, berakhir juga perjalanan saya selama 15 tahun di sekolah ini.

Ngga berhenti saya bersyukur buat semua yang dikasih hari itu, jauh di luar dari yang saya berani bayangkan.

Alhamdulillah alhamdulillah untuk epilog ini.

Saya pamit untuk melanjutkan perjalanan.

Posted in Life happens, Past learning, Thoughts

A Beautiful Farewell

One day that deserve, thousands Alhamdulillahs, few words of gratitude.

Today’s marked the very last day after 15 years of teaching and 6 years of competitions by sending two out of two loveliest students a teacher could ask for to be a winner in their category.

To put a cherry on top, both were the first winner.

Month of practices, hard days of scolding (and of course crying), hundred times of notes drilling, endless hours of conversation in that small classroom, they truly deserved the first place. I couldn’t be more grateful to be granted with such farewell.

Participate in competition alone was brave enough. Finished playing until the end, no matter what, that took big amount of courage. To play the piece beautifully and let other enjoy the music, that’s what the first winners do.

Every small win given in my life, the thought went to the one and only person to whom I owe every good things happen in my life with her golden mantra : “Finish what you have started, no matter what it takes. The result is never up to us”.

One who pushed me to stay for 13 years of learning, in spite of my lacking in many things. One who taught that a teacher might never be rich in numbers but it’s surely one of the most rewarding jobs, if you’re doing it right.

A simple thank you and congrats are more than enough to end my long years of teaching day beautifully. After all, we always want to have a happy ending.

Now, guess I can proceed to the next big thing ahead with a lighter heart.

Posted in Langit Senja, Maternité, Thoughts

Lima Huruf J

Dari beberapa bulan lalu, ada satu huruf yang Langit susah sekali bisa biarpun (menurut kita) gampang. Di sesi belajar pertama, sampe frustrasi ngajarin 30 menit sendiri satu huruf ini kok ngga bisa-bisa. Sepele cuma karena salah madepnya. Suara dua gurunya udah naik, muridnya juga udah (mau) nangis dan emang nangis sampe sempet ngga mau sama sekali coba lagi setelahnya.

Selang beberapa hari dicoba lagi dengan iming-iming satu mainan yang udah lama dibeli (dan ngga boleh dibuka) tapi masih disimpen di lemari, dengan syarat buat 5 huruf ini dengan benar. Tetap ngga berhasil.

Kita ngga maksa lagi. Tapi ternyata anaknya tetep inget. Sering sekali tanpa disuruh dia buat sendiri di kertas dan kasih liat yang sayangnya masih salah terus. Dimana ada kertas kosong tiba-tiba buat huruf J, dan minta mainannya, yang tentu saja ngga dikasih. Pernah satu kali hampir bener semua, salah di yang terakhir, hati hampir goyah tapi alhamdulillah otaknya ngga.

Setelah lama ngga coba, hari ini, tiba-tiba dia ambil buku pelajarannya sendiri, dan nunjukin udah buat 5 huruf J (yang masih salah juga). Kali ini dia ngga mundur. Ngga berenti coba biarpun udah dibilang besok-besok lagi aja.

Di percobaan kesekian kali akhirnya 5 huruf J berhasil dibuat tanpa salah, dengan rapi. Dan juga berhasil disimpan di memori dengan baik.

Saya ngga tau siapa yang lebih seneng di sini. Mukanya hepi sekali. Apapun alesan dibaliknya, seneng sekali liat dia terus berusaha tanpa berhenti dan ngejalanin menunggu dengan baik.

Seperti yang sudah berulang kali saya tulis, menunggu itu skill wajib yang semua anak harus kuasai sejak dari kecil. Hal kecil yang dampaknya besar sekali. Ini bukan sekedar kepercayaan saya, tapi sudah terbukti di satu negara yang menjadikan menunggu sebagai salah satu kurikulum terpenting yang harus dikuasai sejak seorang anak dilahirkan. Saya sedang baca bukunya dan suka sekali dengan isinya. Mungkin karena benar-benar menggambarkan apa yang selama ini kami terapkan ke Langit.

Dari hal sekecil menulis huruf J bisa terlihat, ternyata ngga bisa itu wajar, ngga mencoba itu fatal. Sekali gagal biasa, coba sampe bisa ngga peduli berapa lama, itu juara.

Selamat menikmati hadiah menunggu!

Posted in Langit Senja, Maternité

Bedak di Kasur

Hari Minggu lalu, jam lima pagi, tiba-tiba ada suara dari kamar mandi yang buat saya bangun.

Tenang, bukan (cerita) hantu kok.

Suara shower dari kamar mandi agak lama baru berhenti, disusul suara flush toilet. Setelahnya ada suara laci baju dibuka. Nunggu beberapa lama, ngga ada yang dateng ke kamar saya. Tapi ya sudah, karena lagi ngga solat, lanjut tiduran lagi bentar.

Beberapa menit kemudian bangun dan nengok ke kamar sebelah. Liat yang punya kamar udah bangun dan langsung duduk begitu liat saya dengan mata yang awas.

Saya mendekat ke tempat tidurnya dan liat ada pulau yang sudah ditaburi bedak di atasnya,

“Ngompol ya?”

“Iya, ga papa ya,ya, ya?”

Kalo ketauan reaksi pertama pasti ngomel. Ya gimana, orang selalu disuruh pipis dulu sebelum tidur dan anak ini selalu males buat pipis😔

Tapi, liat semua yang sudah dia lakukan sendiri buat mengatasi masalah yang dia buat, rasa pengen ngomel jadi kalah sama bangga (dan kasian).

Dalam keadaan seluruh rumah gelap, dia berusaha lawan rasa takutnya ke kamar mandi, ganti piyama nya dan piyama lama di taro di baskom rendeman. Setelahnya spot basahnya dia taburin bedak kaya yang biasa saya lakukan sebelum dijemur atau diganti spreinya.

Sesuatu yang saya ngga nyangka anak 4 tahun bisa kerjakan sendiri.

Ngga ada yang susah sebenernya, tapi inisiatif dia buat bertanggung jawab untuk merapikan ‘chaos’ yang sudah dia kerjakan, semampunya dia, itu priceless sekali.

Clean up our own mess is something that everyone should do. Literal mess or unliteral one.

Semoga hal kecil ini jadi modal yang baik buat hal-hal yang lebih besar di depan.

Semoga di atas semua kekurangan kecil di atas kertasnya, saya bisa menghargai kelebihan – kelebihan besar yang kasat mata.

Posted in Langit Senja, Maternité, Thoughts

Sekolah Banyak PR

Tumben (lagi) sering nulis.

Iya lagi pengen.

Empat tahun sekolah di bidang orang tua dan ibu, semakin sadar kalo jadi keduanya itu banyak sekali pra syarat yang sebaiknya terpenuhi sebelum ‘daftar’. Ngga bilang harus tapi sebaiknya.

Di sekolah ini, PRnya banyak dan ngga semuanya bisa dikerjakan (sendiri). African proverb yang bilang it takes a village to raise a child benar sekali.

Buat ngerjain semua PR di sekolah ini, akan lebih mudah kalo pra-syarat yang dibutuhkan sudah tersedia. Baik dalam bentuk mental, skill atau materi. Tanpa ada gabungan ketiganya bisa ngga PRnya selesai?

Bisa, dengan standar yang beda-beda. Tapi, seperti di sekolah pada umumnya, harus ada standar minimum yang harus terpenuhi, berlaku sama buat setiap anak. Standar kelulusan minimal 70 atau C. Menurut saya, ini yang juga harus dicapai di sekolah (jadi) orang tua.

Di buku Raising a Bébénya Pamela Druckerman, orang tua Prancis punya standar tertentu yang hal tersebut bahkan sudah dianggap seperti kurikulum nasional, yaitu menyapa orang dengan Bonjour. Itu hal wajib yang harus diajarkan dan dilakukan. Kalo anak tidak melakukan hal tersebut, itu tolak ukur yang jelas untuk mencap bahwa dia tidak mengerti sopan santun. Kasta bonjour ini jauh sekali di atas mengucapkan terima kasih dan maaf, atau tolong. Hal kecil dan sesederhana ini, ketika semua orang melakukan dan ditekankan betapa pentingnya hal tersebut, akhirnya jadi karakter bangsa. Dan, menurut saya, dari hal kebiasaan kecil ini, tumbuh juga karakter-karakter lain yang lebih besar.

Setiap rumah pasti punya hal-hal baik yang ditekankan dan saya percaya, setiap orangtua berusaha untuk ngajarin itu. Cuma memang membiasakan sesuatu itu sulit sekali. Butuh komitmen dan kesabaran yang tinggi karena hasilnya ngga pernah instan dan kadang ngga semua hal yang seharusnya diajarkan dan dicapai oleh seorang anak bisa kepegang. Bahkan untuk hal paling basic sekalipun. Setidaknya yang orang pada umumnya menganggap hal tersebut sudah seharusnya ada. Kalo itu absen dari seorang anak, jelas PR orang tua dan lingkungannya, kecuali, memang ada keterbatasan dari segi fisik atau mental dari segi medis. Tapi disini asumsinya adalah anak normal pada umumnya.

Ketika satu hal absen dari anak, hal yang ngga bisa dihindari adalah penilaian dari orang-orang. Kita semua pasti ada di dua belah pihak. Menghakimi dan dihakimi. Oke, mungkin diperhalus, menilai dan dinilai.

Seperti saya menilai anak yang sifatnya kurang menyenangkan, yang mana dampaknya bukan cuma ke dirinya sendiri tapi sampai taraf menggangu kenyamanan orang lain. Di satu titik, bahkan cenderung jahat.

Saya ngga bisa tidak menghakimi orang tuanya bahwa PR mereka cukup banyak untuk memperbaiki hal tersebut. Apalagi ketika itu sudah bersinggungan dengan dan menggangu orang lain. Saya ngga bisa tidak nanya dalam hati, emang ngga diajarin ya, emang ngga tau kalo itu salah dan sebagainya. Masa hal basic kaya gitu bisa ngga ditekankan pentingnya. Tapi, sebagai orangtua, menerima kalo kita salah, apalagi dikritik tentang cara didik anak sendiri, juga ngga kalah sulitnya.

Saya pun merasa jadi pihak yang dihakimi ketika seorang guru di kelas bilang selama di kelas, anak saya cenderung suka sibuk sendiri, susah fokus meskipun ketika ditanya dia selalu bisa jawab. Juga tentang kemampuan bersosialisasinya yang kurang. Saya ngga menyangkal semua hal tersebut karena memang benar. Gurunya mungkin juga berasumsi hal-hal tersebut ngga cukup dilatih di rumah.

Tapi, untuk hal ini saya merasa perlu menjelaskan kenapa dan apa yang sudah dilakukan tanpa bermaksud membela diri. Soal fokus saya jelaskan tentang masalah Langit dan usaha yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut dengan harapan meskipun agak sulit, tapi setidaknya gurunya tau cerita dibaliknya sehingga pemahaman tentang anak bisa lebih baik. Saya juga minta maaf karena ‘menggangu’ kenyamanan gurunya.

Saya pernah beberapa kali ada di posisi Langit dan ibu saya ngga pernah diem kalo soal ini. Salah satu yang paling saya inget ini.

Guru piano di tingkat 6 saya super galak dan saya juga bukan murid yang pinter untuk standar sekolah musik itu. Kalo orang tua lain, tiap anaknya les pasti jauh-jauh supaya ngga denger anaknya dimarahin, ibu saya milih untuk dengerin di bawah jendela. Sampai di satu titik guru saya udah ngga tahan kali ya kok saya ngga bisa-bisa menurut standarnya dia, dan bilang dengan lugas ke ibu saya,

“Saya ngga pernah punya murid sebodoh dan semalas ini”.

Lugas dan tegas. Guru itu bilang saya bodoh. Males. Kurang apa coba.

Hahahaha, pas jadi anak sih saya biasa aja ya. Ya emang ngga bisa. Udah kenyang juga dimarahin. Tapi, abis jadi ibu, saya baru kebayang gimana perasaan ibu saya diomongin gitu di depan mukanya.

Biasanya abis dimarahin guru, trus lanjut dimarahin ibu saya. Tapi di hari itu, ibu saya jawab dengan lugas,

“Ibu mungkin bener kalo bilang anak saya bodoh. Tapi, saya keberatan kalo dia dibilang malas”.

Ibu saya jelasin panjang lebar apa yang sudah dilakukan. Gimana dia setiap hari bangunin saya jam tiga pagi, bikinin susu supaya saya bisa latihan sebelum subuh dan berangkat sekolah dan saya pun emang latihan setiap hari sepagi itu karena sore abis pulang sekolah udah capek. Malem kadang latihan juga sebentar.

Ibu saya ngerasa perlu melakukan itu bukan untuk membela saya (apalagi kalo emang ga pantes dibela), tapi orang perlu tau kalo kita juga melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah tersebut dan penting sekali buat meluruskan kesalahpahaman. Dia juga minta maaf kalo saya ngerepotin.

Guru saya punya tiga murid kelas 6 yang nasibnya ditentukan di satu hari ujian, lulus lanjut atau keluar. Dia sering bilang dengan jelas, dari tiga murid kelas enamnya, cuma dua yang akan lulus. Gopas pasti lulus tanpa ke tingkat pra, Dini lulus ke tingkat pra, dan yang satu kemungkinan ngga bisa lulus dan tau siapa yang dimaksud dengan yang terakhir.

Tapi, sejak hari ibu saya bicara panjang lebar ke guru saya, sikapnya berubah. ‘Mindsetnya’ pun saya rasa berubah.

Saya masih inget itu bulan april 1998, kalo ngga salah tanggal 24 hari sabtu. Hari pengumuman kelulusan, saya ngga ikut karena sekolah siang, ibu saya pulang, dari dia di mobil muka saya udah tegang nanya gimana. Tapi dia bilang ntar tunggu masukin mobil dulu. Abis turun langsung nangis meluk saya bilang saya lulus.

Prediksi guru saya dua pertiga benar, yaitu cuma dua yang lulus dan Gopas langsung lulus tanpa lewat tingkat pra. Sepertiganya ibu saya yang menang. Karena yang lulus ke tingkat Pra bukan Dini, tapi saya.

Sampai saya lulus tingkat akhir empat tahun kemudian, meskipun udah ngga ngajar saya lagi, guru saya selalu ada di balik pintu setiap saya ujian akhir. Dia dengerin dari awal sampe akhir.

Hal kecil yang ibu saya lakukan dampaknya besar sekali. Itu yang menurut saya ngga semua orang tua punya skill dan mentalnya. Termasuk saya mungkin. Bahkan ngga semuanya tau hal-hal (penting) tersebut. Tau aja ngga, apalagi mencapai hal tersebut.

Dan itulah PR yang harus terus dikerjain. Males sih emang kadang, abis susah, hahaha.

Tapi, kalo liat taruhannya di masa depan, tetap ngerjain PR adalah hal yang paling gampang dilakukan di saat ini.

Semoga selalu diberi kesabaran dan waktu yang cukup. Amin.

Al fatihah buat ibu saya yang karena dia, saya jadi tau harus (berusaha) jadi ibu seperti apa.

Posted in Thoughts

Jittery June

It’s been only eleven days in June yet things seem escalated so quickly about the new adventure. I always remember June as the new beginning of this little family. The time when those return tickets bravely bought in June 2016, I didn’t really know that some tiny courage to click the pay button could make a big change for many years ahead.

Today seemed to be an ordinary day until, as usual, the flight radar inside my head spotted a good deal that we have been waiting for some time. We are quite tight about budget. Extremely tight until I agree to sacrifice certain important things for few million differences.

But then, it’s never been a coincidence for everything happen in this life. At least, ours. One thing always leads to another. One closed door is another way to a better opportunity. One closed door is always one way to tell us to try harder or to prevent us from the smallest misfortune.

Then, this afternoon, after some discussion and careful consideration, once again, the courage to click the pay button came and it was done. This time, the most frightening part is, it’s one way ticket without the return one.

It’s scary and crazy.

Have I said one thing always leads to another?

Done with the tickets, the next would always be about accomodation. Location choosen according to some stuff we have to take care on the first days of arrival. Again, with such tight-budget people like us, price will always be the limit. Certain features couldn’t be compromised though. After applying most important filters, it only left us with two options of accomodation. Two strict options.

I contacted the most suitable one and the reply was pretty quick. At the second reply when I explained our purpose of visit, the next reply from the host gave me a chill.

The sudden change of mood was in the air when she knew yobo is on the same field with her husband. How many certain specialist MD you could meet while searching for a place to stay in other part of the world?

The probability should be almost none. It felt exactly the same when the first time we came to Tanah Bumbu and knew that a house mate doctor who picked us was a Gorontalonese.

You just dont meet gorontalonese everywhere like you meet javanese or any other popular race.

Hope any opened doors would always be the one that leads us to the kind strangers whose help surely be needed during such time.

Posted in Thoughts

All New Cards on the Table

Ramadan and Eid have ended for days. I always love the laid back ambience of this month. After having the same pattern for years, something is different for this year Ramadan and Eid.

For the first time after more than thirty years, spending the holy month in a new place other than the old home. I thought it would be a disaster, miserable, and unsurvivable. But, since 2012, it has never been this liberating.

Everything is much simpler, less hassles, and more time to enjoy the silence. Spending most of Ramadan only with this little family suits me most. Simple dishes for sahur and minimalist style for ifthar. I have stopped coming from any ifthar gatherings other than close family since nine years ago. The only thing I crave after a whole day of fasting is a proper silence and wrapped with the comfortable sleep suit. Looked-delicious various food and chit-chat with people are the least things I need for iftar.

It surprised me I didn’t miss what I had back home that much. Maybe because it doesn’t feel that homey anymore? I thought I would be pretty sad. Fact, I feel more than fine and sufficed.

I didn’t miss the hecticness in making dishes schedule for iftar and sahur (it’s a total headache), I didn’t miss taking care of so many people with their own preference, like and dislike and schedule. Although some things taken care by Mbak Wi in the past should be done alone now, but it is still bearable enough.

Eid prayer was never spent other than at the nearby mosque at home, but this year we did the prayer at the airport mosque to catch 9 am flight to Solo. So many things changed on my plate his year.

The rest of this year probably is going to be more bumpy since another new big adventure has waited ahead. Too soon to reveal, yet it’s almost confirmed that the next few months would be physically and emotionally draining.

It’s funny how things are always scarier when they’re getting closer, although those are things that we have been praying for.

It’s always been funny everytime we are waiting the invisible hand shakes the cards and throw them on our table. The only things to do is play along and try our best to make the most of them.

So far, the cards have been pretty fair. We might not get the best cards often. We lost some rounds and manage to win in another. Losing makes the heart stronger and grateful for small winnings given.

The upcoming new cards might be one of the greatest sets that we could ever have and we hope to be able to play them well and turn those cards into more meaningful things. Hopefully.

Wise words can’t do justice of how scary the new jungle we have to face ahead.

Posted in Places, Review, Travel

Tiga Restoran Halal (yang dicoba) di Seoul

Dari beberapa kali pergi, nyusun itinerary itu buat saya paling enak berdasarkan tempat di mana kita akan makan, termasuk di Seoul. Dari lima hari, kita sempet makan di tiga restoran halal. Sebenernya rencananya empat, tapi yang terakhir pas kita kesana tutup. Padahal udah jalan jauh-jauh.

Di Seoul perlu diperhatikan juga bahwa masing2 restoran punya jam buka dan hari tutup yang berbeda. Ada yang tutup hari Senin, Selasa, Rabu atau Minggu. Ada yang baru buka jam 12, jam 11 atau bahkan jam 4 sore. Selain waktu, perlu diketahui juga, restoran korea itu ngga suka kalo kita pesen buat bareng-bareng, meskipun emang porsinya gede banget. Seperti kami, dimanapun harus pesen buat dua orang. Anak ngga dihitung tentu. Tapi ngga bisa tuh sekeluarga mesen satu doang dibagi rame-rame. Akibatnya, budget yang harus disiapin buat makan ini juga perlu diperhatikan. Karena di resto halal ini harga yang dipatok ya cukup mahal. Buat kita.

Oya, dari awal Paris sampe Seoul, kita hanya makan di luar untuk makan siang. Sarapan dan makan malem pasti di airbnb.

1. Halal Kitchen

Kalo mau ke Gyeongbokgung Palace, maka bisa sekalian ke Bukchon Hanok Village. Pas banget abis cape nanjak di Bukchon Hanok Village, bisa mampir makan siang di Halal Kitchen. Jalan di sepanjang Halal Kitchen ini suasananya enak banget. Samcheong-dong ni mirip di eropa. Banyak toko-toko, cafe dan restoran yang menarik.

Kalo berdasarkan baca-baca sebelumnya, di sini nyediain pilihan makanan khas korea kaya japchae, tteoboki, dsb. Tapi pas kita dateng, di Halal Kitchen cuma ada 2 pilihan makanan yang harganya persis sama. Bulgogi set sama samgetyang. Satu set bulgogi harganya 17.000 KRW, sedangkan samgetyang satu ekor ayam harganya 34.000 KRW.

Kenapa saya bilang sama?

Karena kalo samgetyang bisa pesen 1 porsi karena besar sedangkan kalo bulgogi set minimal 2 porsi. Jadi intinya sama aja. Di sini kita pesen bulgogi set 2 porsi. Itu besar sekali dan dimasak langsung di kompor portable di meja.

Karena kemana2 saya selalu bawa snack dalam tupperware, pasnya makan di resto gini, sisanya bisa dibawa di tempat roti langsung. Bisa buat makan malem atau sarapan. Porsi bulgoginya banyak banget. Alhamdulillah enak. (Iyalahh, mahal).

Satu porsi kalikan dua

2. Busan Jib

Restoran kedua ini letaknya di Myeongdong. Di salah satu lorong-lorong kecilnya. Yang ini terlihat lebih sederhana dan banyak pilihan mulai dari harga 8000 KRW. Tapi, yang sejenis nasi gorengnya. Berhubung udah jalan dan dateng jauh-jauh, kita selalu pilih yang bener aja. Di sini kita pilih samgetyang dan japchae.

Harganya agak aneh. Samgetyang ayam seekor dikasih harga 15.000KRW, japchae yang kaya bihun doang harganya 20.000KRW. Tetep dibeli sih, karena susah nyari japchae yang ngga sebelahan sama babi di sana. Jatohnya harga yang kita bayar sama kaya di Halal Kitchen, bahkan lebih mahal. Tapi ya sudah, yang penting berkah (dan kenyang trus bisa dibawa pulang).

Enak? Alhamdulillah enak.

3. Eid

Nah, ini salah satu yang paling populer kalo cari resto halal. Tempatnya di Itaewon. Itaewon ini pusat Islamnya di Seoul. Seoul central mosque ada di sini. Cari makanan halal di sini banyak sekali. Jadi bisa dijadiin salah satu alternatif daerah nginep. Kami ngga pilih di sini. Karena prioritas bukan gampangnya cari makan tapi fleksibilitas check in dan fasilitas.

Eid secara harga di bawah dua sebelummya, begitupun dengan rasa. Bulgoginya kalah sama Halal Kitchen. Tapi ayam yang kita pesen enak. Tersedia dalam set juga. Dapet miso soup dan side dish seperti biasa. Di sini kami bayar 23.000KRW buat semua. Masih ada sisa buat bawa pulang juga. Porsinya gede-gede buat perut kecil (saya).

Porsi nasi di ketiga tempat ini terlalu kecil buat Pak dokter tapi cukup buat saya. Selalu nambah satu porsi nasi lagi. Harga seporsi nasi juga beda-beda. Dari 1000-3000 KRW.

Hal lain yang kami perhatiin juga, di semua resto halal ini yang makan selalu orang Malaysia. Selalu ada. Di eid bahkan dari lima meja, empatnya semua orang Malaysia. Kalo di Jepang kaya ayam-ya masih banyak ketemu orang indo. Tapi di Seoul ini, hampir ngga pernah ketemu. Mungkin karena terlalu mahal? Hehe.

Di satu sisi, halal travel ini memang menjual ya. Pasarnya ada dan saya rasa akan selalu ada. Harga yang di atas rata-rata pun akan tetap bisa jualan. Jadi, tinggal rasa makanannya dan servis yang oke aja yang perlu terus dipertahankan.

Kami juga beli gimpab segitiga di sevel dan GS 25. Enak buat ganjel dengan ukuran yang pas. Biasanya pilih tuna mayo yang paling aman. Harganya antara 1000-1200 KRW.

Ternyata di Seoul kita lebih cocok sama makanannya dibanding orang-orangnya.

Posted in Places, Thoughts, Travel

Tentang Seoul : (Tidak) Seramah Senyum Oppa di Drama

Sedikit uneg-uneg tentang Seoul.

Membandingkan Seoul dengan kota besar lain yang dikunjungi tahun-tahun sebelumnya adalah sesuatu hal yang tidak bisa dihindari. Dan hasilnya seperti empat buku tetralogi Ilana Tan yang menjadi tema trip ini, Summer in Seoul resmi menjadi buku dan trip yang paling kurang disukai dibandingkan yang lain.

Banyak kenyataan di lapangan selama 6 hari ini yang buat kami merasa sedikit tidak nyaman, tapi wajar. Lagi bertamu ke rumah orang lain. Tapi lagi-lagi, karena punya pembanding, jadi tolak ukur kenyamanannya seperti yang dirasakan di kota lain.

Soal makanan ngga seburuk itu tapi juga ngga semudah itu. Tiga tempat halal yang kami coba enak semua meskipun dengan harga yang buat kita yaa mahal. Soal tiga restoran akan dibahas lain kali.

Uneg-uneg ini lebih ke tentang orang-orangnya.

Baru di Seoul ini, bawa Langit ngga berdampak signifikan dalam hal-hal sederhana seperti dapet duduk di bis atau jadi ice breaker with stranger. Hampir tiap kali kami naik bis, jarang sekali ada yang menawarkan tempat duduk seperti di Paris, London, apalagi Tokyo. Ini bukannya maksudnya minta juga ya, tapi membandingkan tingkat ‘kepedulian’. Awal-awal agak kaget juga tapi lama-lama ya udah. Berdiri pun ga papa.

Bukan sekedar tentang menawarkan tempat duduk, tapi orang-orangnya jauh dari ramah. Kami yang biasanya semangat banget naik bis, di Seoul ini jadi insecure. Cara orang-orang ngeliat itu entah apa ya definisinya, tapi jauh dari kata ramah dan nerima. Bahkan di bis kalo ada tempat duduk dua dan saya milih duduk di satu yang kosong sambil pangku Langit, mereka ngga terlihat suka dan terganggu. Agak bingung sih. Entah apa karena saya pake jilbab atau memang terganggu dengan anak kecil.

Hal ini bukan cuma di anak mudanya, orangtuanya pun seperti itu. Cara mereka melihat kita itu bukan seperti yang pengen nyapa tapi kaya lagi mengamati aja dan itu kadang ngga nyaman sekali. Ngga tau dengan pengalaman orang lain gimana ya.

Bahkan Paris yang saya pikir lebih tidak ramah, karena banyaknya orang yang bilang gitu, sangat jauh lebih ramah dibandingkan Seoul. Nenek-neneknya yang selalu ajak main cilukba, petugas yang cukup ramah dsb. Setidaknya gini deh, liat saya tatapan mungkin agak mendelik, tapi begitu liat Langit, senyum hampir selalu cair. Sesuatu yang di Seoul jarang sekali kita rasain. Beberapa kali bahkan suka nengok ke dalem strollernya Langit kaya buat ngecek ni apaan. Trus ngeliatin saya/Pak Dokter lagi. Tanpa ekspresi yang berniat senyum atau apa. It feels like we annoy them quite much.

Penjual-penjualnya pun juga sebagian besar jauh dari ramah. Bahkan ada sekali yang kita pengen banget beli karena barangnya bagus dan harganya masuk akal, ahgassi penjualnya dengan terang-terangan nunjukin gesture kalo dia ngga mau kita beli apapun. Biarpun ada label harganya. Agak aneh memang.

Di playgroundnya pun anak-anaknya pun ngga setertib anak-anak Jepang. Kalo di playground Tokyo anak-anaknya malah nyuruh Langit maju duluan, di Seoul Forest misalnya, justru dia kebanyakan diselak. Bahkan sama orangtuanya. Waktu itu kami biarin Langit antri sendiri.

Tapi lagi, untuk bilang sepenuhnya ngga ramah pun juga ngga adil. Waktu pertama kali dateng, kita bayar tiga tiket buat naik airport transfer. Waktu dicek sama petugasnya di bis mereka marah kenapa Langit juga disuruh bayar. Tanpa basa basi, supirnya langsung ngeluarin uang 8000 won dari dompetnya sendiri buat ganti harga tiket Langit. Kita udah tolak tapi dia tetep maksa ngasih. Jadi kita ambil. (Alhamdulillah..).

Beberapa ahjumma dan ahjussi di Insadong, Gwangjang Market, dan rumah makan halal juga nunjukin kebaikan dengan Langit yang selalu dapet sesuatu. Tempat pinsil gratis, crackers, sampe es krim setelah makan. We’re grateful for them. Tapi memang levelnya cukup jauh dibandingkan kota lain. Jauh sekali dari Tokyo yang saya sampe binggung kok bisa ya satu negara orang-orangnya (yang kita temuin dan ada kontak) sebaik itu sama orang asing. Ketika nolong tuh beneran sampe tuntas. Bahkan ketika mereka pun ngga ngerti bahasa Inggris.

Lorong-lorong kecil Seoul pun tidak semenyenangkan dan seteratur Tokyo. Efek bagusnya, lebih aman buat dompet. Tokyo dengan toko di jalan-jalan kecil yang bahkan di tempat yang bukan buat turis itu bahaya sekali. Barang yang kita pikir ngga perlu bisa mereka buat jadi perlu dan harus beli saking lucunya.

Balik ke Seoul.

Soal bersihnya pun masih kalah ya. Masih banyak orang ngeludah juga biarpun jarang. WC pun ngga sekering, sewangi dan sebersih Tokyo. Selain itu yang paling penting, wcnya persis wc eropa aja. Ngga ada tombol-tombol canggih yang bisa pakai air kaya di Tokyo. Saya selalu bawa botol Aqua kosong.

Jelas pendapat ini sangat subyektif. Mungkin kasus saya hanya sebagian kecil aja. Kaya kasus saya dan Paris yang menyenangkan. Mungkin sebenarnya memang kami aja yang kurang cocok dengan Seoul. Hal lain juga mungkin karena faktor bahasa. Tapi, secara keseluruhan memang ramah dan menyenangkan bukan kata yang tepat untuk menggambarkan orang korea secara general.

Keputusan untuk tinggal hanya lima hari di Seoul ternyata tepat sekali. Ternyata oppa tidak seramah di drama.

Posted in Places, Travel

The Loveliest Day in Seoul

After four days, yesterday was the most enjoyable day in this city. We got off early to go to Namsan Tower and it turned a visit with hiking which I disliked. But, after arrived at top, it paid off. Enjoyed the view of Seoul from above.

We continued to Itaewon. This is a moslem friendly area where almost restaurants put halal sign on their banner. We stopped by at one of the most reviewed one then went to Seoul Central Mosque for prayer.

Gangnam was the next destination. There’s nothing much to see there but we stopped by Starfield Coex Library. At the end of the day, we visited Seoul Forest. It is truly large forest between those big and tall buildings. I am so envy with these cities☹.

It was the first time we stayed late. It was a lovely day for those beautiful sceneries and good food with reasonable price.