Posted in Review, Travel, Visa

(Pusingnya) Mengurus Visa UK-Inggris Kunjungan (Sekeluarga) Bagian II

Lanjutan dari bagian I.

Sambil menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan, bisa dimulai pembuatan akun untuk mendaftar visa Inggris di visa4uk.fco.gov.uk.

Untuk apply visa sekeluarga, hanya perlu satu akun. Akun tersebut dapat digunakan untuk mendaftarkan anggota keluarga lain ataupun orang lain. Setelah akun dibuat, log in, nanti ada pilihannya ‘apply for myself’ dan ‘apply for someone else’. Pilih yang ‘apply for myself’ untuk daftar diri sendiri, pilih yang kedua untuk mendaftarkan orang lain.

Visa Inggris memiliki kategori-kategori pertanyaan yang jauh lebih banyak dibanding visa Schengen. Perlu kesabaran dan ketelitian waktu ngisinya. Saya menyiapkan dan mengisi seluruh aplikasi online sendiri untuk saya, ayah, suami, dan anak.

Tidak perlu terburu-buru karena jawaban yang telah kita masukan bisa disimpan dan dilanjutkan lagi di lain waktu. Jawaban pun masih bisa diubah atau dihapus selama kita belum menekan pilihan ‘submit application’.

Bagian tersulit adalah diperhitungan ‘income dan expenses’. Baiknya sediakan kalkulator supaya angka yang dimasukan tepat dan logis. Selain itu, kita juga diminta memasukan angka ke dalam GBP untuk pengeluaran dan pemasukan. Misal gaji sebulan 10 juta, kita diminta untuk mengkonversi angka tersebut ke dalam GBP. Meskipun kurs berubah-ubah, saya pakai kurs tetap yang ngga terlalu tinggi dan terlalu rendah. Waktu isi saya pakai dan asumsikan kurs 1 GBP =Rp 16.500,00.

Bagian lainnya ngga ada yang terlalu sulit, hanya perlu kesabaran. Saya memeriksa satu persatu aplikasi masing-masing sampai berkali-kali, dan selalu menemukan kesalahan. Ada aja yang salah. Tanggal lahir anak pake tangga lahir saya, nama depannya anak pake nama depan saya, nomor paspor anak pake nomer paspor suami, dan masih banyak lagi. Mungkin karena siwer juga ngisi semua kolom untuk empat aplikasi. Bahkan sebelum ‘submit application’ pun, masih saya ulang lagi baca satu persatu.

Tidak seperti visa Schengen yang pembayarannya tunai di loket pada saat kita datang, visa Inggris pembayarannya online dengan kartu kredit berlogo Visa/Mastercard. Harganya pun berbeda-beda tergantung visa yang kita apply.

Saya memilih tipe visa short stay- 6months- single entry harganya USD 110. Umumnya orang memilih visa multiple entry, tapi karena kami ngga berencana kemana-mana, jadi pilih yang single entry aja. Sayang juga bayar lebih lagi, hanya berlaku enam bulan, kalo memang dikabulkan.

Satu hal yang agak buat saya sedih, Langit pun bayarnya sama. Beda sekali sama yang visa Schengen yang GRATIS untuk anak di bawah enam tahun.

Selesai dengan pembayaran, kita bisa pilih waktu penyerahan dokumen. Ada tanggal dan jam yang bisa kita pilih. Setelah itu, nanti kita akan terima email konfirmasi mengenai pembayaran dan waktu perjanjian.

Setelah semuanya sudah lengkap, tinggal diprint aplikasi dan bukti perjanjiannya. Untuk visa Schengen, satu aplikasi hanya berjumlah sekitar lima (5) lembar. Sedangkan visa UK, satu aplikasi berjumlah tiga belas (13) lembar.

Hari H penyerahan dokumen, Alhamdulillah, semua lancar dan cepat. Kami pilih di hari Jumat jam 9 pagi. Kebetulan kosong banget. Waktu masih dicek dokumen, sudah dipanggil ke counter. Prosesnya juga cepat. Petugas VFSnya pun cukup kooperatif dengan saya yang bawa anak kecil.

Oya, tidak seperti Schengen yang aplikasi satu keluarga itu bisa jadi satu bundelan yang diperiksa di satu loket bersamaan, untuk visa Inggris, satu aplikasi tetap satu loket. Bahkan punya Langit pun diperiksa di loket sendiri. Jadi, kemarin kami dapat empat nomer antrian untuk empat loket yang berbeda.

Setelah selesai dengan pengecekan dokumen di loket, kita harus menunggu untuk dipanggil ke ruang biometric untuk pengambilan sidik jari dan foto. Setelah itu selesai.

Bersyukur sekali waktu kami datang antrian cukup sepi, karena Langit susah sekali untuk difoto. Nangis keras udah kaya mau disuntik. Padahal cuma disuruh duduk buat foto. Kami sampai keluar dua kali supaya orang lain ngga nunggu lama. Akhirnya foto Langit bisa diambil dengan cara digendong di atas pundak papanya, dimana papanya dalam keadaan setengah jongkok. Sedangkan saya, dibantu oleh satu petugas lain, berdiri di depan sebelah kamera sambil mengacungkan mainan-mainan supaya dia liat ke kamera. Leganya bukan main waktu petugasnya bilang sudah dapat foto yang bisa diambil.

Visa Inggris ini jenis-jenis biayanya detil banget. Pas pembayaran jangan sampai salah pilih jenis visa yang kita mau, karena harganya juga beda. Ngga cuma jenis visa, layanannya pun juga banyak sekali.

Misal, ayah saya sudah bayar online permohonan standar USD 110. Karena akan pergi ke negara lain dalam berapa minggu, akhirnya pake layanan prioritas dan tambah bayar 2,6 juta. Jadi, kalo untuk visa standar yang selesai dalam 15 jari kerja seperti saya dikenakan biaya Rp 1.430.000, untuk ayah saya yang dijanjikan selesai dalam 3-5 hari kerja, harga visanya tambah lagi sekitar 2,5 juta. Jadi total biaya untuk visa UK prioritas sekitar 4 juta.

Selain layanan prioritas, juga ada layanan premium lounge. Jika menggunakan layanan ini, ada ruang khusus sendiri, ga perlu antri loket, juga tersedia sofa yang empuk dan makanan ringan. Kalo berkenan membayar lagi tambahan 1 juta, bisa dipilih layanan ini.

Selain layanan prioritas dan premium lounge, ad juga layanan late appointment. Jadi bisa masukin berkas di luar jam kerja. Saya lupa jamnya. Kalo ngga salah antara jam 17.00-19.00 atau 18.00-20.00. Biayanya juga kurang tau. Ini pasti akan sangat membantu kalo ada yang perlu buru-buru.

Paspor ayah saya sudah dapat diambil dalam tiga hari kerja setelah penyerahan berkas, berikut cap visa UK di halaman paspornya. Benar-benar 3 hari kerja lho. Masuk hari Jumat, Rabu sudah bisa diambil. Selasa malam sudah dapat notifikasinya. Tapi, ya memang ada harga yang cukup tinggi bukan?Sedangkan tiga paspor lainnya masih harus menunggu lebih lama lagi.

Tapi, ternyata ngga selama yang diperkirakan. 7 (tujuh) hari kerja setelah berkas masuk, (weekend tidak termasuk), email yang ditunggu pun masuk. Visa dinyatakan sudah selesai diproses dan sudah dapat diambil di VFS Global.

Hasilnya? Alhamdulillah, waktu paspornya dibuka visa uk MULTIPLE ENTRY untuk 180 hari ada di dua halaman setelah visa Schengen. Entah kenapa dikasih multiple sedangkan saya hanya piloh dan bayar untuk single entry. Seinget saya ada perbedaan beberapa dolar kalo kita pilih single dan multiple. Tapi ya sudah, Alhamdulillah juga, hehe.

Setelah dua kali mengurus dua visa eropa sendiri, menurut saya kemungkinan visa ditolak itu cukup kecil seharusnya JIKA dokumen-dokumen kita cukup jelas. Jelas pulang pergi, nginep dimana dan berapa hari. Jelas bukti keuangannya, meskipun statusnya bukan karyawan tetap. Dua kali apply untuk visa UK dan Schengen, saya ngga melampirkan slip gaji sama sekali.

Menurut saya, punya tabungan khusus yang jumlahnya cukup memadai membantu juga. Memadai disini cukup untuk biaya hidup selama liburan di negara yang akan kita apply visanya (disesuaikan juga dengan banyaknya anggota keluarga yang ikut).

Dua kali apply visa eropa, saya pakai tabungan dana darurat saya, yang alirannya lebih banyak masuk dan sedikit keluar. Aliran keluar masuk uangnya tetap terlihat wajar tiap bulan. Jadi, ketika akan apply visa, ngga terlalu repot harus pinjem dana dengan jumlah besar.

Lepas dari segala keribetan dan kerepotan (juga kemahalannya), saya ngga (akan) kapok kayanya kalo harus mengurus segala dokumen selama masih bisa diberikan kelapangan rejeki, umur, dan sehat buat jalan-jalan.

Saya selalu percaya, uang dan waktu yang dihabiskan dengan senang hati dan buat hati senang manfaatnya akan lebih besar dari apa yang dikeluarkan. Semoga ya.

Selamat pusing sebelum liburan!

Review lain tentang UK trip

Malindo Air&Qatar Airways Flights (with a toddler) to London

Virgin Trains to Manchester and Liverpool

Airport Transfer Ramah Koper (Paris, London, Tokyo)

(Frustasinya) Mengurus Visa UK Tier 5 Government Exchange (PBS Partner+Child)

Posted in Review, Travel, Visa

(Pusingnya) Mengurus Visa UK-Inggris Kunjungan (Sekeluarga) Bagian I

Banyak ya kata dalam kurungnya.

Itu kata kunci yang selalu saya cari selama berhadapan dengan pengurusan visa Inggris ini dan ngga ketemu satu pun. Seperti review-review sebelumnya dan seperti biasa, karena ngga ketemu apa yang saya cari, makanya saya tulis.

Pengurusan visa Inggris ini sudah banyak sekali yang tulis. Tetapi, umumnya adalah individu, pelajar, atau pelajar yang akan bawa keluarga. Saya perlu yang hanya untuk kunjungan jangka pendek (6 bulan), dan untuk keluarga.
Sebenernya memang hampir ngga jauh beda dari segi dokumen yang disiapkan jika pergi sendiri. Tapi, beberapa artikel saya baca, ada di dalam satu keluarga, yang lain visa dikabulkan sementara ada satu anggota yang tidak.

Hampir semua entri tentang visa Inggris yang ada di halaman pencarian, saya baca satu per satu. Beberapa entri bahkan saya baca lebih dari sekali. Saya cari dengan berbagai kata kunci. Garis besar informasinya sama, tapi banyak hal-hal kecil yang berbeda dan buat saya ini sangat membantu. Semakin banyak baca, paling ngga keyakinan saya jadi lebih kuat.

Visa ini hal kedua paling ribet setelah pencarian tiket. Berbekal pengalaman (dan kesuksesan) mengurus visa Schengen sendiri, saya (awalnya) merasa kalo Visa Inggris ini ngga jauh berbeda.

Ternyata salah.

Visa Inggris, buat saya, dua ato bahkan beberapa kalinya mengurus visa Schengen dalam berbagai hal, dalam konteks yang kurang menyenangkan. Pengalaman mengurus visa Schengen sudah pernah saya tulis di sini.

Itulah kenapa kata dalam kurung pertama itu ‘pusing’ bukan ‘gampang’.

Untuk dokumen kurang lebih yang disiapkan sama seperti Schengen. Saya akan tambahkan perbedaan dengan Schengen per dokumen dengan cetak tebal.

1.Paspor yang masih berlaku dan Fotokopinya

Paling aman itu masih berlaku 8 bulan. Halaman yang difotokopi adalah halaman depan dan yang sudah terisi dengan stempel visa lain atau cap imigrasi.

Tidak seperti Schengen, visa Inggris mempunyai layanan prioritas yang artinya paspor dapat kembali lebih cepat dari waktu standar (visa belum tentu dikabukan). Jika ingin menggunakan layanan prioritas, fotokopi paspor HARUS SEMUA HALAMAN, biarpun tidak ada isinya.

2. Paspor lama dan Fotokopi

Sertakan paspor lama dan fotokopi halaman yang ada isinya, jika memang punya paspor lama.

Pada saat penyerahan berkas, paspor lama dan paspor baru ditahan.

3. Surat Keterangan Kerja/Sekolah

Saya dan ayah saya menggunakan surat keterangan kerja. Suami saya yang masih dalam pendidikan spesialis agak sedikit berbeda.

Tidak seperti visa Schengen yang lalu, untuk visa Inggris ini, suami saya yang saat ini masih mengikuti pendidikan dokter spesialis, tidak melampirkan surat keterangan sekolah dari departemennya. Sebagai gantinya, suami saya melampirkan tiga dokumen lain :

Surat Tanda Registrasi yang berlaku selama pendidikan spesialis (fotokopi).

– Surat Izin Praktek selama mengikuti pendidikan spesialis (fotokopi dan terjemahan).

– Surat penerimaan pendidikan spesialis (fotokopi dan terjemahan).

Kenapa malah lebih banyak? Ini sama sekali bukan persyaratan. Ini lebih dikarenakan minta surat keterangan dan tanda tangan kepala departemennya lebih ‘repot’ dibandingkan dengan menyiapkan tiga dokumen tersebut. Menurut saya sih, ya lebih gampang minta surat ya. Ngga perlu ribet terjemahin juga. Tapi, Alhamdulilah ngga ada masalah dengan dokumen yang dilampirkan.

4. Bukti Keuangan

Untuk dokumen ini, seperti visa Schengen yang lalu, saya hanya melampirkan surat referensi bank dan print out rekening koran.

Karena kami pergi dengan ayah saya, dan di aplikasi ini dicantumkan bahwa ayah saya adalah sponsor utama, maka surat referensi bank dan fotokopi rekening koran sponsor utama ada di setiap aplikasi anggota keluarga. Cukup fotokopinya dan aslinya ada di dokumen sponsor utama.

Saya tadinya ngga mau mencantumkan referensi bank saya. Cuma, karena saya pikir saya pergi sekeluarga, masa ngga ada satupun bukti keuangan keluarga saya. Meskipun memang di aplikasi kami bertiga saya cantumkan bahwa ayah saya yang menanggung hampir seluruh biaya perjalanan. Saya mencantumkan satu surat referensi dan bukti rekening koran.
Untuk jumlahnya, memang ngga ada jumlah wajib. Tapi memang sebaiknya dipikirkan jumlah yang pas untuk bepergian sekeluarga selama hari yang dihabiskan disana.

Jangan sampai total biaya yang dihabiskan untuk sekeluarga lebih besar dari jumlah yang tertera di rekening koran.

Seperti halnya pada saat visa Schengen, saya (dan ayah saya) tidak melampirkan slip gaji.

5. Bukti pemesanan tiket

Ini sama seperti Schengen, tinggal print bukti jadwal penerbangan pulang pergi. Untuk ini, semua tiket sudah dibeli.

6. Bukti pemesanan akomodasi

Seperti saran-saran lain pada umumnya, untuk pengurusan visa yang membutuhkan alamat jelas dan lengkap untuk dicantumkan pada aplikasi, lebih mudah jika melakukan pemesanan terlebih dahulu di situs situs seperti booking.com atau agoda yang memiliki kebijakan free cancelation.

Yang harus diperhatikan adalah, selain kebijakan FREE CANCELATION, pastikan juga di sebelahnya juga tercantum NO PREPAYMENT NEEDED.

Belajar dari kesalahan saya, saya memilih hotel dengan kebijakan free cancelation, tapi tidak memperhatikan kalau yang saya pilih mencantumkan prepayment needed.

Jadi, ketika tagihan kartu kredit datang, ada charge berapa persen dari tarif malam pertama yang dikenakan. Seperti DP. Melayang sudah berapa ratus ribu yg berharga.

Kata Pak dokter, harga belajar buka travel😢.

Jadi sekali lagi, jangan lupa perhatikan ya. FREE CANCELATION yang NO PREPAYMENT NEEDED.

7. Dokumen pelengkap lain dengan terjemahan, jika dibutuhkan terjemahan.

Berbeda dengan Schengen yang tidak meminta terjemahan (saya urus di TLS Contact), visa Inggris menyatakan dokumen yang tidak dalam bahasa Inggris harus diterjemahkan, lebih spesifik lagi, dengan penerjemah tersumpah. Saya melampirkan :

a. Fotokopi KTP yang masih berlaku dengan terjemahan

b. Fotokopi Kartu Keluarga dengan terjemahan

c. Fotokopi Akte Kelahiran dengan terjemahan

d. Fotokopi surat nikah tanpa terjemahan karena sudah bilingual.

Buat saya, dokumen-dokumen di nomer tujuh ini yang paling menyita waktu, biaya dan drama.

Sedikit cerita (biarpun emang udah panjang), dua minggu sebelum berkas visa masuk, ayah saya bilang kalo mau pergi bulan februari dan tanya apa bisa visa Inggris diurus sebelum atau sesudah dia pergi.

Saya setengah bete dan setengah panik karena kalo sebelum pergi, mepet, sesudah pergi terlalu lama. Visa Inggris dengan layanan standar perlu waktu 15 hari kerja. Kalo sesudahnya memang masih ada waktu, tapi terlalu lama buat saya. Bikin jadi ngga bisa mastiin apa-apa.

Akhirnya diputuskan diurus sebelum pergi yang akibatnya dokumen-dokumen harus disiapkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Penerjemah tersumpah yang kami hubungi pertama adalah karena alasan tarifnya jauh lebih murah dari yang lainnya. Dengan dokumen sebanyak ini, sangat membantu sekali. Meskipun murah, saya juga ngga asal pilih. Penerjemah ini ada di daftar penerjemah tersumpah yang dikeluarkan visa4uk.

Saya kirim semua dokumen yang akan diterjemahkan via email pada hari Juma’at dan disanggupi akan selesai pada hari Rabu depannya setelah jam makan siang.Pada hari dan waktu yang sudah ditentukan, saya hubungi beliau dan tidak ada respon. Bukan hanya saya, Pak dokter pun juga ikut menghubungi. Email, telpon, sms, semua tidak ada yang dibalas.

Perjanjian visa kami pada hari Jum’at sedangkan itu sudah rabu sore. Sangat mustahil untuk bisa mendapatkan penerjemah lain yang bisa menyelesaikan dokumen sebanyak itu selama satu hari. Selain itu, biayanya pasti ngga murah dan juga kalau tiba-tiba yang pertama muncul dan bilang sudah selesai, malah nanti jadi bayar double yang ngga perlu.

Kamis pagi kami coba terus hubungi, tetap ngga ada kabar. Saya sambil terus cari info apa mungkin visa ditolak karena ngga melampirkan terjemahan ktp, kk, dan akte. Saya ngga bilang kalo diterjemahin pasti dapat yaa, tapi setidaknya dengan melengkapi selengkap-lengkapnya paling ngga menghilangkan kekhwatiran akan ditolak hanya karena ngga melampirkan dokumen terjemahan. Setengah frustasi karena hal sederhana seperti ini.

Saya ngga masalah kalo memang belum selesai, cuma minta paling tidak kasih kabar.

Akhirnya, pada Kamis pagi saya menghubungi penerjemah lain yang sangat responsif dengan harga normal hampir tiga kali yang pertama. Saya memilih satu dokumen terpenting untuk diterjemahkan dan selesai pada hari itu juga, yaitu surat penerimaan spesialis.

Selain responsif, harga penerjemah kedua ini juga progresif. Karena saya minta selesai pada hari itu juga, saya dikenakan tarif ekspress. Harga normal sudah tiga kali penerjemah pertama. Harga tarif ekspress adalah dua kali tarif normalnya.

Karena ngga punya pilihan dan ngga mau ambil resiko, saya iyakan. Dijanjikan akan selesai sekitar jam 4 atau 5 sore.

Jam 14.45, satu email masuk ke inbox suami saya.

Penerjemah pertama menyampaikan bahwa semua dokumen telah selesai dan bisa diambil.

Selang lima menit, sebuah email masuk ke inbox saya.

Penerjemah kedua menyampaikan dia sudah selesai dengan dokumen

Kesimpulannya : ada harga, ada hasil kerja dan cara kerja. Terjemahan penerjemah kedua jelas lebih bagus. Kalo penerjemah pertama minta dibayar sebelum bekerja, penerjemah kedua minta dibayar setelah selesai bekerja.

Kalo boleh milih, saya pilih ketentuan harga yang pertama dengan hasil kerja dan kecepatan yang kedua.

Alhamdulillah, pada waktunya, semua dokumen yang perlu diterjemahkan didampingi terjemahannya pada saat penyerahan berkas.

8. Pasfoto 3,5×4,5 cm

Kami cetak masing-masing dua lembar, tidak satupun foto diambil dan terpakai oleh petugas VFS Global untuk aplikasi visa. Patah hati udah cape-cape cetak foto (lumayan mahal).

Kira-kira itu dokumen yang perlu disiapkan dari pihak pemohon. Sebenernya ngga seribet itu sih, cuma emang perlu waktu. Jadi, memang akan baik sekali kalo ngurusnya ngga mepet. Kecuali memang mau ambil layanan prioritas.

Saya akan bagi dua bagian karena sudah terlalu panjang. Lanjut di bagian dua untuk aplikasi.

Posted in Langit Senja, Maternité

Day and Night Potty Trained Checked!

Finally!!

As I wrote on the previous post about Langit’s potty training, it’s quite unexpectable that a month later we could do the rest of her training. At first, I thought she might be better mastering the half day training first.

Last Sunday was the beginning when we went outside and the baby had to wear her diaper since we’re quite moving and it was quite difficult to find a proper toilet. Arrived home, had her last meal, and took a bath, the idea came up.

I thought she had been using the diaper all day long, wearing it again for the night might bring her back to the comfort zone. Well okay, not only her, me too. So, off we go without the safety belt for the first time at night.

We always have dinner before maghrib so after that we can be ready for bedtime. No baby’s stuff after maghrib is my golden rule. After maghrib is my resting time. She can’t eat and drink too much anymore after maghrib. That night, since she had been going around all day, it made her tired enough already. So, after maghrib, almost no energy left with her and she has an early night sleep.

She slept on her usual place and I put the plastic cover sheet just in case she peed during the sleep. Woke up at 4.30 as usual, all was dried. Yipppi!!

The first thing to do when she woke up was bring her to the bathroom and she peed happily. Pretty much. The next day was even easier.

It turns out that night potty training is easier than the day. As long as the fluid intake is limited before bedtime, make her last pee before climbing to the bed, accident could be avoided. It’s almost a week and she has been going through the whole night safely. Even in the day, accidents still happen sometimes.

We now can go outside without diaper if we know where she can pee comfortably or we know the length of time being outside.

In my potty training experience, I use no other helping stuff such as cloth diaper, training pants, or the small portable potty.  It works better, faster, and more efficient without those things for a lazy person like me. Simply drag the baby to the bathroom whenever she wants to pee or poo. If accidents happen,  just clean the spot and the pants, then change it to the new one.

I used a long or oversize shirt without any pants at the beginning of the training. It helped a lot reducing pants to be washed since accidents happened still quite often. It also helped the baby a lot. Why? Because when she had no pants, she was able to say when she felt the urge. When she had the pants on her, she thought and felt something was there to catch her pee or poo, so she just went on peeing and pooing there. Maybe after two weeks, she had her pants back. It also trained her to wear on and off the pants by herself.

It feels good being free from something addictive. Feels even better knowing it’s accomplished within the time limit. So we can move on to other big things.
Congrats, baby girl!

You too, my dear self. Good job.

Posted in Thoughts

Berat dan Serius

Tumben.

Pake bahasa Indonesia dan sama sekali bukan review.

Berapa hari belakangan ini ada sesuatu yang mengusik hati. Jadi sering ngomong ke diri sendiri. Gabungan antara marah, kesian, dan ngga abis pikir.

Berawal dari suatu pernyataan di salah satu media sosial yang menuliskan bahwa ngga masuk akal orang yang rela ngeluarin uang,waktu, tenaga cuma untuk melakukan suatu ritual yang satu-satunya ‘manfaat’ yang didapat atau lebih tepatnya dijanjikan adalah pahala.

Hal yang lebih absurd lagi menurut dia, yang mana balasan atau manfaat itu sama sekali ngga terlihat dan hanya bisa ‘dilihat’setelah mati. Dia menuliskan semua dalam bahasa Inggris dan dia gunakan kata ‘shit’ untuk merujuk semua hal di atas. Stupid people believe to this shit.

Hmm. 
Saya bukan tipe yang suka ngomentarin orang kecuali emang perlu dan menarik. Tapi, pernyataan seperti tadi benar-benar mengusik akal, hati, dan tangan. Akhirnya tergerak untuk komentar. 

Saya tau ini akan sensitif. Dan bener aja, jawaban dan tanggapan dari pertanyaan dan pernyataan saya dibalas dengan galak.

Sebenernya, saya ngga tertarik untuk campurin apa yang orang percaya. Makanya saya sempet telusuri dulu yang ngomong ini siapa. Diliat dari nama, punya marga batak Islam. Setau saya hampir semua batak dengan marga itu muslim.Makanya saya pengen nanya.

Saya nanya udah pernah ke tempat suci itu atau melakukan rukun yang kelima apa belum. Dia jawab sudah dan ngga tertarik untuk melakukan yang kelima. Saya bilang lagi, ngga apa-apa kalo ngga tertarik, tapi bilang menolol-nololkan orang yang percaya itu, dan dengan ‘sok taunya’ bilang yang didapat cuma pahala setelah mati, buat saya itu kurang pantes. Saya bilang bahwa dia mungkin ngga paham lebih dari sekedar itu.

Orang ini membalas dengan kerap mengulang satu kata ‘shit’ ini dan itu. Akhirnya, setelah dua kali, saya putuskan berhenti karena tau, ngga ada gunanya bicara sama yang kaya gini.

Saya jadi nanya ke diri sendiri. Kenapa musti komentar dari awal?

Sebel karena yang saya percaya diejek? Mungkin.

Saya ngga ada masalah dengan agama dan kepercayaan orang lain. Saya punya sahabat-sahabat deket non muslim dari SMA, yang beneran deket, punya murid-murid non-muslim yang saya sayang banget, dan setahun tinggal dalam satu kamar sama orang atheis yang saya suka banget karena baiknya. Semua tanpa saya peduli apa agamanya dan karena memang hubungan yang terjalin sama sekali ngga menyangkut agama.

Saya pun ngga bilang kalo yang saya percaya paling bener dan semua yang ngga percaya itu bodoh dan berhak saya cap sepertu itu. Mungkin ini yang buat saya tergerak buat nanggepin. Sebelum saya ngetik tanggepan saya, bener-bener saya pikir berulang kali, apa perlu, apa bener, apa pantes, dan sebagainya. 

Saya ngga suka juga beragumen dengan sesuatu yang ilmu saya juga ngga tinggi, lebih lagi menyangkut sesuatu yang orang masing-masing percaya. Males lah ya ngusik-ngusik yang hati orang percaya selama ngga nyakitin orang.

Saya mutuskan ngga memperpanjang karena ngeliat ngga akan menyenangkan buat diterusin. Tapi, saya pengen sekali ngeluarin yang saya pikir disini.

Buat saya, akal manusia itu terbatas. Sangat-sangat terbatas. Banyak hal yang terjadi dalam hidup saya selama tiga puluh tahun lebih itu diluar kalkulasi akal saya. Saya percaya, ada kekuatan lain yang lebih besar yang menggerakan semua hal baik  yang terjadi pada saya.

Terus hal yang buruk? Saya percaya, sesuatu yang buruk itu adalah gabungan dari kelalaian kita sendiri dan sisanya takdir. Hal tersebut ada untuk kita  belajar dan jadi orang yang lebih baik. Buat nemuin diri kita sendiri juga, bahwa ternyata kita lebih kuat dari yang kita tau. Dan setelahnya jadi manusia yang lebih berserah, lebih tau diri kalo kita ya emang bukan siapa-siapa, bukannya jadi lebih angkuh. 

Salah satu contoh, waktu hamil dan melahirkan Langit. Dari hamil itu hasil tes darah dengan d-dimer tinggi, udah minum obat untuk nurunin, suntik obat, tapi hasilnya ngga ngaruh banyak, sampe 8 bulan posisi bayi pun masih melintang, semua hal dan bukti yang bisa dilihat dengan kepala, mata dan akal manusia sudah merujuk ke oprasi sesar untuk melahirkan. Belom lagi ditambah badan kecil dan panggul sempit. Udah lah, hampir pasti sesar.

Tapi, hati saya ngga sepenuhnya nerima itu. Saya punya banyak (sekali) kekhwatiran yang buka sekedar soal materi. Kalo kebanyakan dipikir dengan akal, bisa meledak otak saya. Saya dan suami punya cukup tabungan untuk sesar pada waktu itu, biarpun suami lagi spesialis yang biaya juga ngga murah (sama sekali). Tapi, saya udah niat, punya anak itu keputusan dan tanggung jawab berdua, jadi ngga boleh ngharepin orang lain, lepas dari apa yang sedang kita hadapin.

Masih kebayang sih gundahnya saya tiap kontrol ke obgyn tiap bulan. Ngga ngerti juga itu d-dimer tinggi kenapa. Saya sih ngerasanya sehat-sehat aja ya. Saya masih kerja sampe sehari sebelum melahirkan. Kerja di dua tempat, jalan sendiri naik taksi ke yang jauh dan jalan kaki ke yang deket. Masih belanja ke pasar tradisional di bulan ke 9. Masih bisa ngerjain urusan rumah juga. Naik turun tangga juga ya biarpun berat ya dikerjain aja.

Saya sudah ngikutin semua yang dokter anjurin, obat, suntik, dan lain-lain, makan pun ngga pernah sembarangan, udah ngga kehitung berapa banyak artikel yang saya baca tentang nurunin, resiko dan akibat d-dimer tinggi. Udah nyeret kaki pergi ke RS sendiri berapa kali cuma buat cek d-dimer, ga peduli betapa takut dan bencinya saya disuntik, dan berkali-kali kok ngga turun secara signifikan. Frustasi. Tapi, itu semua hal konkrit sebatas yang akal saya bisa pikirkan dan usahakan.

Tapi, karena saya selalu percaya ada yang lebih besar dari akal sempit saya, saya kerjakan hal lain yang tentunya saya harapkan bisa meringankan sedikit beban saya. Tiap solat saya minta untuk dikasih jalan yang terbaik. Apapun yang dipilihkan, berikan yang terbaik yang mampu saya hadapi. Saya percaya banget, tanpa saya sebutkan gamblang, Allah tau semua kekhawatiran saya, tau mana yang saya lebih pilih. Maka itu, saya mintanya jalan yang terbaik, bukan minta dan ngatur sesuai yang saya mau.

Almarhum nenek saya pesan untuk baca Yasin tiap malam jumat. Saya ikutin, biarpun ya jujur aja, ngelawan rasa malas itu berat banget. Tapi, bersyukur banget ngikutin saran nenek saya, akhirnya sampai sekarang tiap malam jumat jadi rutin yang ngga boleh ditawar kecuali emang lagi haid.

Saya inget terakhir ke obgyn hari selasa, dan pas dicek, posisi bayi udah turun. Jadi tinggal tunggu waktu aja. Dua mingguan lagi karena masih minggu 37. Tapi, hari selasa dokternya ngomong gitu, rabu siang saya mulai mules. Kirain mules biasa aja. Kamis pagi makin mules. Abis zuhur, kaya ada flek sedikit. Trus nelpon rumah sakit mau daftar buat kontrol selasa depan, iseng nanya tandanya apa kalo udah harus ke rs.

Bilang mules dari kemarin tapi hilang timbul, barusan keluar flek, trus akhirnya disuruh dateng dulu cek aja. Boleh pulang lagi nanti. Setengah dua siang sampe, masuk UGD, dicek ternyata udah bukaan tiga. Kata dokter IGD tengah malam atau besok pagi kemungkinan. Dokternya juga baca hasil tes darah saya dan liat d-dimer yang tinggi dan komentar tentang lahir lewat oprasi. Saya agak shock sendiri lah kok cepet bener. Orang tadi siang niatnya cuma mau daftar kontrol dan iseng nanya.

Pindah ke ruangan jam empat kurang. Dokter obgynnya dateng dan cek udah bukaan lima. Dia bilang kemungkinan jam 9-10. Makin shock lagi kok malah tambah cepet. Jam lima kurang dicek lagi bukaan tujuh, setengah enam ketuban pecah, dicek bukaan sepuluh. 
Maghrib, kamis malam jumat, saya masuk ke ruang bersalin untuk melahirkan normal. Bukan ruang operasi. Setengah ngga percaya saya benar-benar akan melahirkan saat itu juga. Di hari jadwal rutin saya baca Yasin setiap malamnya. Di hari yang paling baik dalam Islam.

Dokter obgyn saya itu Profesor, sekaligus pemilik rumah sakit, yang pasiennya banyak. Ngga mungkin bantu saya melahirkan jadi pake dokter pengganti, yang ternyata menantunya dan juga kakak kelas suami saya. 

Saya masuk ruang bersalin jam 18.00, Langit lahir jam 19.35. Berkat sedikit kurang pinter saya ngeden jadi agak lama. Bisa lebih cepet kalo saya lebih pinter dikit😑.

Saya masuk jam setengah dua siang dan melahirkan jam setengah delapan malamnya. Enam jam. Ngga kehitung banyaknya blog orang yang saya baca nunggu bukaan naik itu bisa berhari-hari bahkan berminggu dan berujung dengan oprasi.

Saya siapkan uang dua puluh sekian juta untuk biaya melahirkan sesar dengan kamar yang nyaman sesuai paket yang ditawarkan rumah sakit. Hari ketiga saya pulang, dan berdiri di kasir, lihat tagihan. Total tagihan yang tertulis : kurang lebih hanya sepertiga dari yang kami siapkan. Semua biaya pada hari H, dokter obgyn, anak, anastesi, sampai kamar bersalin jumlahnya 0 rupiah.

Nol rupiah. Bahkan paket melahirkan normal tiga hari dengan kamar yang lebih bawah, di rumah sakit yang seoke itu ngga akan semurah itu.

Semua hal yang diatas, masih bisa cuma dipikir sama akal manusia yang dangkal? Masih bisa sekedar dibilang ya kebetulan aja dikasih cepat, gampang, dan murah.

Dengan lantang saya bilang : TIDAK.

Sungguh ngga. Ngga akan sampe dan sanggup akal kita mikir sampe sejauh itu dan bisa mengatur semua hal sedetil itu jadi kenyataan.

Makanya, kenapa saya sangat terganggu sama pernyataan orang di atas. Manusia yang cuma ngandelin otak dan ngerasa pinter sampe keblinger. Menaruh akal di atas semua. Lupa kalau matematikanya Tuhan ngga sama dengan matematikanya manusia. Apapun kepercayaan yang dianut.
Sampai bisa dengan lantang bilang (sombong buat saya), betapa bodohnya orang-orang yang percaya untuk bersusah-susah demi pahala yang juga ngga jelas didapetnya apa dan kapan.

Duh.

Pernyataan lain dari orang itu sempet muncul lagi, kali ini ini dia merujuk Al-Quran sebagai ‘the f*ck*ng book’ karena baca berita tentang hukuman rajam buat orang yang berzina di suatu negara.

Fiuh. Manusia dengan segala kepinteran otaknya. Keringetan dan kesian saya bacanya😓.

Jadi atheis atau berbeda kepercayaan sih hak asasi. Tapi mengeluarkan penyataan dan merujuk hal-hal sakral kaya gitu buat saya sampah. 

Pada akhirnya manusia emang butuh sesuatu untuk ‘dipegang’ dan ‘dipercaya’ buat jalanin hidup, apapun itu. Termasuk saya dan orang itu. 

Saya ngga akan ceramah panjang lebar. Cuma bisa dan mau berharap, semoga saya (dan keluarga saya) ngga akan pernah sampai menuhankan akal di atas segalanya. Semoga hati senantiasa dilembutkan dan dibukakan untuk melihat lebih banyak dan lebih dalam dari apa yang kedua mata tangkap. 

Beban hidup terlalu berat kalo cuma ngandelin diri sendiri yang kalo kelingking ngga sengaja kejepit pintu aja semua badan meriang.  Kita bukan apa-apa dan siapa-siapa tanpa semua yang dititipkan oleh Pemberi Hidup. Dicolek dikit juga bisa hilang kapan pun, dengan cara apapun.

Cuma selalu berharap, semoga Allah selalu ridho dalam setiap langkah sampai waktunya kembali. Sesulit atau sebahagia apapun hidup yang dijalani. 

Amin. Amin. Amin.

Posted in Langit Senja, Maternité

Full Day (Almost Night) Potty Training

Taking care this baby alone teaches me that I am not as strong as I think I am. Not strong enough to beat my anger, not strong enough to be more patient, not strong enough to beat the laziness.

Thankfully, those bad things could be covered with one good news. I am sure I am not ignorant. Despite being lazy, it won’t stop me from doing something that I think is important enough.

Potty training has been on my head for quite some times. I planned to start it after she’s turning two. But again, it takes a strong will to drag me out of the comfort zone (using diaper, I mean). Keep postponing the plan until I don’t know when. My laziness won a lot.

One Wednesday when my aunt said something about teaching the baby to pee and poo in the right place bothered me. Langit is now 27 months already. I have limit before that I want her to be potty trained before she turns 30 months.

It was a week where I had no one to be taken care of beside the baby. My father was on a trip and le husband had his shift. So, the very next day, the potty training officially began.

With this, I prepared everything like changing the lower folding mattress with tikar, covered the couch with perlak

The first day was a quite disaster, as expected. Five times cleaning the pee, and once for poo. It was Thursday and I had my fasting. Since I knew that accidents would be unavoidable, I was with my full tank of patience.

But, it didn’t make the training less tiring. Cleaning the pee and poo weren’t everything. Here, we have to teach the baby how to tell us when she felt the urge to pee and poo. So, every certain time, we put the baby on the toilet and tell her to pee. Mostly pee. No single attempt was perfectly done on the first day. 

I had a battle in the evening whether to do this directly day and night or just doing the day one first. Finally, I decided to do the day first. Like office hours 7-5. So, Langit has been without her diaper start after the morning bath and wear it after her afternoon bath until morning.

The second day was the time when I almost gave up. Haha! The second day and I had thought about giving up already, thinking the baby wasn’t ready yet. I had hold a diaper on my hand and ready to put it on. Then, the baby suddenly said,”pipis,” and I hurriedly bring her to the toilet, then..

She did it!!!!

I was too happy. She did it!! You didn’t know how a little thing like watching your baby doing pee for the first time in a proper place could make a mother being so happy.

Then, did it mean a victory?

Of course not.

On the second day, accidents still happened with less numbers. Only twice happened for pee and none for poo. None means she didn’t poo at all during the time without diaper.  

The day after the second , felt a lot easier. She’s getting better and better in telling us whenever she wants to pee. Until now, for pee, it’s been almost zero accident. Whenever she is in the toilet, she does pee happily😄.

We skip using potty. For me, it’s not an effective way for a toddler. It makes double job also for me. Cleaning the potty everytime she is doing pee or poo is burdensome.

I was doing a lot of reading related to this. Both domestic and foreign articles. One of the reasons I almost gave up on the second day was one of the articles that said if the baby wasn’t ready, it would be better to wait. A story from a mother said it took her months until the baby passed the potty training, which I found it scary.

It is obligatory to fully stay at home for the first few days of the training. Both of us stayed for the first five days. We went out for pediatrician visit on the sixth day. 

Was it with or without the safety belt?

I decided to be a bit bold by using NO DIAPER for the firsr time outside. After pediatrician visit, we stopped by the nearest mall for a quick lunch also. Then, we went home.

Result? We safely arrived at home without any accidents.

Since morning, I had arranged her fluid intake and made her pee twice or thrice. Right before we left, she did her pee quite much. Then, right after we arrived home, she did it again. I assumed she had started knowing how to hold the urge.

Until today, two weeks after the first day of training, we have been having almost a week without pee accidents anymore. Poo? We just had it yesterday. The second poo accident after one in the first day.

A surprise came this morning when I found her diaper was totally dry a whole night. Maybe, we should proceed to the night training as well. Just maybe for now. Let’s see for more evidence.

Usually, I ask her to go to the toilet around thirty minutes after she takes any drinks. Sometimes she does it and sometimes she doesn’t. For these few days, it’s been much easier because she now tells us when she feels like to do it.

An article said that potty training is a big milestone. Not only for the baby, but also the mother or parents. I totally agree with this.

I couldn’t express how happy I have been whenever she’s doing her pee on the toilet. It’s a big achievement for me. I take potty training more seriously than weaning. For me, weaning will be done naturally. Or so I believe.

So, happy 27th month without diaper, baby girl! 

Enjoy your presents 🍦🍦🍦🍦🍦!

Posted in Favorite things, Langit Senja

First Duet : Moon River

Error
This video doesn’t exist

We love the everlasting Moon River a lot. I used to play it alone and having duet with le husband, piano and guitar. 

This song is also one that being sung a lot to Langit to put her to sleep. I remembered one day, around last month, she surprised me by singing the first phrase with a perfect tune. She sang ‘Moon River’ with her own mouth along with the correct melody. 

Since then, she’s been caught several times humming the song. It makes us singing the song often. Little by little, she starts gaining more words. It’s both hilarious and heart-warming😁.

Today, I accidentally want to play this one and thought about recording it. Surprisingly, it worked. She played some random high pitch tune and it turned out to be okay. Haha. Not perfect bien sur, but I really enjoy the result. Yeah, I don’t have high standard.

Thank you for such a beautiful piece that lives through generation, Mr. Sinatra.

We apologize for the bad cover.

Posted in Past learning, Thoughts

A Greeting

To the one I owe every good things I have and I become of,

To the one whose hard works and kindnesses I could never repay,

To the one who set a standard about what, when, how, and why important things one should achieve in life,

To the one whose presence touched so many people,

To the one whose words were often hard, yet very rarely wrong,

To the one whose mind and money always went to others but herself,

To the one whose absence will always forever be mourned,

Joyeaux anniversaire, Madame Salma.

For showing us clearly and boldly how one should live and more importantly, how one wishes to return,
I could never thank you enough.
Merci beaucoup.

Bissoux,

Ta fille.

Posted in Langit Senja, Maternité

Extended Breastfeeding

After this breastfeeding journey, it turns out the breastfeeding adventure still keep going after two years. Why?

Hm, why not?

Before saying why not, I have tried several ways to wean peacefully. But, it didn’t work and it was quite understandable since I am practically at home most of the time. 

After some times, rather than trying hard to push the baby to stop breastfeeding, I chose to find some references about extended breastfeeding. The result shown, either from medical and religious perspective, there is no harm of doing extended breastfeesding and it is allowed to do so, as long as both mother and baby are having no objection to that.

My sister in law whose daughter is at the same age with Langit has succesfully done with weaning, with some dramas. Facing the crying, tantrum for several days to a week. I don’t think I could go through such thing, for the sake of my sanity. I don’t have any stuntmans available daily to cover me dealing with such things and days of unnecessary dramas. 

Or, am I just lazy? Well, maybe. Don’t mind to be called lazy since it is not wrong too😌

Thus, with these references and experience, I decide to let this weaning process be done naturally. She actually doesn’t do this much anymore. No longer doing it while we’re going out, even several nights she goes to sleep without breastfeeding. 

On the 27th month, her verbal skill has been improved so much. Counting in bahasa and English, one to ten in bahasa, one to twenty in English, naming things and colors, remembering family names, singing her favorite children songs, and surprisingly singing one she heard often from her parents like Frank Sinatra’s Moon River. Grandpa Sinatra must be very proud.

She’s on the way for a complete Al-fatihah and parents pray which she constantly asked being recited after shalat.

These two years, I have been given almost all ideal things in this motherhood jungle. Vaginal birth with IMD, with a very quick process, a complete breastfeeding without having any single drop of formula until now, feeding the baby with home-cooked meal and not once (yet) she’s having any instant baby food, a baby who eats well and doesn’t let me experience even once, the thing called GTM.

I have a freedom to choose being a stay at home mother with a flexible part-time job, with a workplace within walking distance, a healthy baby who,until I write this post, hasn’t once tasted any medecines, even for fever or cough. Too much to be counted all blessing we have for these years. 

When you’ve been given so much more than what you need, it should go without saying to return the favour more than what you asked for.

Two years is the time asked for in breastfeeding. I hope doing the extended breastfeeding also extend the blessing and all goodness for the baby’s physical and mental health in the future, as well as mine. Amin.

Happy (extended) breastfeeding!

Posted in Thoughts

Farewell Lessons

It’s unavoidable having a very noisy mind after witnessing a death, specially for the loved ones. It makes me recall lots of things I went through in the past.

I was taught the importance of having goals in life since a very young age. Being in the top five, went to good public schools, went to places I wanted the most, those were mostly measurable. Somehow, the goals have been rarely tangible. I have least interest in things.

A crucial moment which happened five years ago made me or force me having a new goal in life. The pain of missing the chance to say goodbye to my other grandmother lasted for a quite long time. Being thousand miles away during the final meeting with one I love so dearly was very torturing. Worse, I could do nothing to delay the farewell.

From then, I told myself, being present for those who matter a lot for me, in health and sick, happy and sad, life and death should be the guide how I will live my life forward.

The next big thing after my grandma’s death was my mum’s. I was so beyond lucky to finish my master degree when her sickness started. Even luckier that I had no permanent jobs at that time since I was in the middle of preparing for hajj departure and the wedding. 

In the middle of those big event preparation hassles, I still managed to accompany my mum to her doctor appointments, drove her here and there. As she would go hajj with me too, so it was double hassles.

I was with her on her last months, days, minutes, and the final breath. Though it made me become the most heart-broken, yet I felt that I was, am, and will always be the richest. I had the most memories, the greatest honour to be able the one who sent her off. Even after five years, tears couldn’t help falling reading those previous posts above.

It was painful for sure. But, I would still choose it than having none to be treasured. It’s soothing knowing I did my best to be with her during her final and hardest battle.

The chance came to me once again last Friday. When all things told me that it would be my grandmother last moments in the world, I was really grateful that I insisted to stay overnight with her, even more, stay right next to her ear to recite what most important she needed and wanted to hear for the last breath.

I had the honour too once again having my turn when she had her final breath. I kept accompanying her until we’re done with her funeral. 

Lots of her relatives from other towns came to her funeral. They made time to catch the earliest flight possible to send their last respect to her. From Palembang, Surabaya, and Banjarmasin, they put money or other things aside so they wouldn’t miss her farewell.

It makes me more certain about one thing. I am getting more and more assured that time is the most precious thing that a human could have in life.

We don’t give our most valuable things to just anyone. Such precious thing like time should be given to those who deserve it most. 

I want and choose to give this particular thing to ones who really matter to me. I find joy in staying more at home, taking care of my dad and others. Instead of making money but having less time, I choose making lots of time and having less money. Though it’s not always been easy, yet it’s satisfying.

I choose not to work on Thursday and Friday since two years ago. I want to have a peaceful sunnah fasting and having time for reading yassin leisurely after maghrib and breakfasting. I wouldn’t be able to do that if I am being tired from work. I want to have one special time, time when pray is being granted the most to be sent to those people I love.

I hope to keep this value for a very long time and want Langit to acquire a good understanding about this. 

82 years of living that my grandma had might sound so long. But, as we reach the end, really, life is indeed too short. Those years were just gone in a blink of an eye. It is a good reminder for us to choose wisely what and who really matter in our life.

Everyone choose differents battle to be fighting for in their life. Not all battle could be won and whether we like it or not, there will be battles that we lose. Choose well which one we want to win and with that comes ones that we have to lose.

I decided mine already and will keep going with that until the end. All things I live my life with, I am hoping for a happy ending to go through the hardest last battle in life.

At last, it reminds me about one important thing in life :

It doesn’t matter how you start, it matters a lot how you finish.